Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Luka Yang Terus Datang.
Shafiya hanya bisa menangis di bawah pohon rindang, sungguh dendam yang menyelimuti suaminya itu atas kematian kekasihnya, benar-benar gelap mata sampai menghancurkan keluarganya, bukan hanya menyiksa dirinya dengan pernikahan yang toxic, tetapi juga melibatkan keluarganya, hubungan saudara yang benar-benar dihancurkan.
"Ya Allah, bagaimana lagi hamba harus menghadapi semua ini? Apa hamba masih harus bertahan dengan semua ini? Tetapi ini tunggu sangat menyiksa. Ini bener-bener sangat menyakitkan? Kak Kanaya mengapa harus berpengaruh dengan semua omongannya," batin Shafiya menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Hatinya benar-benar hancur dan terluka akibat perbuatan suaminya yang semena-mena dan semakin menjadi-jadi terhadapnya tanpa belas kasihan sama sekali.
*****
Shafiya akhirnya mendapatkan alamat Kanaya yang tinggal di salah satu Apartemen. Shafiya memencet tersebut dan tidak lama penghuni rumah keluar. Shafiya merasa lega karena orang yang dia cari benar-benar pemilik rumah itu.
"Kak...." ucap Shafiya.
"Shafiya, kenapa kamu ada di sini?" tanya Kanaya.
"Kak, Shafiya mendapat kabar dari Umi bahwa Kakak pergi dari rumah, Kakak juga ingin mengakhiri pernikahan Kakak dengan Kak Willi. Kak semuanya masih bisa dibicarakan baik-baik, jika akan melakukan semua ini karena semua perkataan Shafiya, maka Shafiya minta maaf," ucap Shafiya memegang tangan Kanaya.
Kanaya bisa merasakan dinginnya tangan adik iparnya itu.
"Shafiya, jika kamu ingin mendengar semua penjelasannya, maka kamu tanya saja kepada kedua orang tua kamu. Hubungan Kakak sudah selesai dengan keluarga kamu dan kakak juga sudah mengajukan surat perceraian terhadap Willi," ucap Kanaya membuat Shafiya semakin terkejut dengan mata melotot.
"Kakak tega melakukan semua itu?" tanya Shafiya.
"Kenapa tidak? Kakak selama ini sudah bertahan dalam pernikahan kami, Kakak menunggunya bebas dari penjara dan pada nyatanya sampai saat ini hukumannya tidak berkurang, apa Kakak harus menunggunya 5 tahun lagi? Shafiya batas kesabaran seorang istri itu ada, jangan kamu mengatakan saya tega, karena selama ini saya sudah mengorbankan diri saya kepada keluarga kamu dan juga Kakak kamu!" tegas Kanaya.
"Tetapi kami memberikan semua kepada Kakak. Kami menanggung sungguh beban keluarga Kakak dan berikan apapun yang kamu," sahut Shafiya.
"Ternyata benar, keluarga Ahmad Thoriq adalah keluarga yang suka mengungkit dan tidak pernah ikhlas. Memang selama saya menjadi istri Wili saya tidak pernah kekurangan apapun, bahkan saya masih tetap menjadi wanita yang dihormati ketika dia berada di penjara. Tetapi pengabdian saya kepada keluarga kamu saya rasa sudah cukup dan apa yang kalian berikan adalah upah yang kami memang harus saya dapatkan," tegas Kanaya.
"Jadi sekarang kamu pergilah dari sini dan jangan pernah mengganggu saya. Saya tidak membutuhkan keluarga kamu lagi, saya akan menikah dengan laki-laki lain setelah surat perceraian Saya keluar dari pengadilan!" tegas Kanaya.
"Dengan Arash? dengan pria yang sedang beristri dan tak lain adalah suami saya sendiri!" tegas Shafiya memang sudah tahu jika Kanaya sampai seperti itu karena ada janji yang diucapkan Arash kepadanya.
"Benar! Arash akan menikah dengan saya, dia menerima saya apa adanya, dia memberikan saya pengacara untuk mempercepat perceraian saya dan setelah itu kami akan menikah," jawab Kanaya dengan santai membuat Shafiya geleng-geleng kepala sungguh tidak tahu wanita seperti apa yang dihadapi saat ini.
"Kakak hanya terjebak dalam tipu muslihat Arash, Kakak pikir dia benar-benar tulus kepada Kakak? dia laki-laki jahat, manipulatif ngetik dan hanya memanfaatkan kakak untuk menghancurkan keluarga kita!" tegas Shafiya.
"Jika kamu tidak mendapatkan kebahagiaan atas pernikahan kamu dengan Arash, kamu tidak perlu menjelekkannya di hadapan saya. Bagi saya dia laki-laki bertanggung jawab, yang semua yang kamu katakan tidak benar, jangan menilainya terlalu buruk," tegas Kanaya benar-benar sudah dibutakan oleh Arash.
"Shafiya, kamu seharusnya bersih bersyukur, ketika Arash meminta kepada saya apakah dia perlu menceraikan kamu atau tidak, maka saya meminta untuk tidak menceraikan kamu karena saya kasihan kepada kamu, kamu baru saja menikah dan harus dicerai," lanjut Kanaya.
"Astagfirullah..... Kak, cukup, jangan tertipu dengan semua omongannya, dia tidak sebaik itu dan kata harus tahu jika selama ini Arash memiliki rencana untuk menghancurkan keluarga kita, dia bahkan sengaja menikah dengan Shafiya hanya karena....."
"Siapa tamu yang datang Kanaya...." Shafiya tidak melanjut kalimatnya ketika mendengar suara yang tidak asing itu.
Jantungnya berdebar begitu kencang, tiba-tiba Arash muncul dari balik Kanaya. Hal itu membuat Shafiya benar-benar terkejut dengan mata melotot, suaminya itu bahkan tidak menggunakan pakaian dan hanya menggunakan celana.
"Astagfirullah......" lirih Shafiya dengan air mata yang jatuh sungguh tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Kamu lagi," sahut Arash dengan santai.
"Hahhhhh, kenapa kerjaan kamu itu hanya mengganggu kesenangan orang lain saja? Shafiya apa kamu tidak bisa untuk tidak mengganggu kebahagiaan orang lain," ucap Arash menghela nafas.
"Kamu bersama dengan Kak, Kanaya di apartemen ini?" tanya Shafiya menekan suaranya menatap tajam suaminya itu.
"Arash yang memberikan tempat tinggal ini kepadaku, jadi seperti apa yang aku katakan dia laki-laki bertanggung jawab," jawab Kanaya.
"Hah!"
Shafiya sampai tersenyum getir mendengar pengakuan dari Kanaya.
"Sudahlah sebaiknya pergi dari sini dan jangan mengganggu kami, kamu lakukan saja apa yang aku perintahkan kepada kamu untuk mempersiapkan kamar pengantin untukku dan Kanaya," lanjut Arash.
"Bajingan!" umpat Shafiya.
"Shafiya jangan mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu, jadilah contoh istri pertama yang baik dan bukan menjadi istri yang pembangkang!" tegas Arash.
"Baiklah, aku ingin melihat benarkah kalian akan menikah? Benarkah kamu punya nyali untuk menikah dengannya, aku tunggu dia datang ke kamar yang kamu inginkan dan aku juga menunggu bagaimana caranya kamu mengatakan kepada orang tuaku jika kamu menikahi iparmu sendiri!" tegas Shafiya.
"Jangan menantangku Shafiya, tantangan yang kamu berikan adalah ide untukku, kamu tidak akan tahan jika menghadapinya dengan jarak waktu yang berdekatan," ucap Arash.
"Kalian berdua benar-benar bukan manusia, kalian jahat!" umpat Shafiya memilih pergi dari hadapan kedua orang tersebut.
Shafiya merasa percuma membujuk Kanaya, Shafiya merasa tidak ada gunanya, kedua orang tersebut benar-benar sudah dirasuki iblis dan apalagi Arash yang dipenuhi dengan dendam.
Kanaya memilih untuk pergi, kembali membawa luka yang begitu parah, luka yang tidak pernah sembuh dan kembali lagi menyapanya.
******
Malam ini Kanaya sampai di kediaman kedua orang tuanya, matanya tampak sembab, sejak pagi banyak kali cobaan yang dia hadapi, rasa sakit yang tidak berhenti, dan belum lagi melihat suaminya berada di dalam satu kamar bersama dengan wanita lain.
Kanaya kedinginan semua luka itu sendirian, dia sudah berusaha untuk mencari solusi, tetapi yang dihadapi adalah laki-laki yang penuh dengan dendam. Kanaya menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.
Kanaya melihat dirinya di cermin ponselnya, Kanaya merapikan sedikit penampilannya dan juga memberi bedak pada wajahnya agar tidak terlihat sembab karena seharian menangis.
"Kenapa Umi tiba-tiba saja menyuruhku untuk pulang," ucap Kanaya.
Dia memang mendapat telepon untuk menyuruhnya datang ke kediaman kedua orang tuanya. Shafiya tidak banyak berpikir ah kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah itu setelah merasa keadaannya jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Bersambung......