NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Kegelapan

Cahaya pagi yang masuk ke kamar utama Skyrosia tidak lagi terasa menyakitkan. Demam hebat yang membakar Elysianne semalam telah surut, meninggalkan tubuhnya dalam keadaan lemas namun dipenuhi oleh sensasi baru yang aneh. Pengaruh Darah Putih dan permata merah di lehernya telah menyatu sempurna dengan nadinya, menciptakan ketergantungan biologis yang absolut.

Elysianne tidak lagi mencoba lari. Sebaliknya, saat ia merasakan gerakan Cyprian yang hendak bangkit dari ranjang, jemari pucatnya justru mencengkeram jubah sutra sang Lord Demon dengan erat.

"Jangan... jangan pergi," bisik Elysianne, suaranya serak dan manja. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Cyprian, menghirup aroma kegelapan yang kini menjadi satu-satunya "oksigen" bagi jiwanya.

Cyprian terpaku. Melihat dewi yang dulu begitu dingin dan agung kini meringkuk di pelukannya seperti kucing kecil yang rapuh, memicu gelombang obsesi yang jauh lebih gelap di hatinya. Ia kembali berbaring, membiarkan sayap hitamnya menyelimuti tubuh mungil Elysianne.

"Aku di sini, Duchess," gumam Cyprian, mengelus rambut hitam legam istrinya dengan tatapan yang nyaris gila akan pemujaan. "Kau tidak akan pernah sendirian lagi."

Sore harinya, Cyprian membawa Elysianne ke balkon tinggi yang menghadap ke lembah Skyrosia yang kelam. Ia berdiri di belakang Elysianne, melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu, sementara tangannya membimbing tangan kanan Elysianne untuk terulur ke depan.

"Tutup matamu," perintah Cyprian lembut di telinganya. "Rasakan aliran darah putihku yang berdenyut di dalam nadimu. Cari sisa kekuatan cahayamu yang dulu, lalu biarkan kegelapanku mewarnainya."

Elysianne memejamkan mata. Di dalam kegelapan batinnya, ia melihat pendar emas redup sisa-sisa Astraea. Namun, saat ia mencoba menyentuhnya, energi merah dari choker di lehernya menerjang pendar itu, membungkusnya, dan mengubah warnanya menjadi Ungu Pekat yang Nyaris Hitam.

"Sekarang, lepaskan," desis Cyprian.

Wush!

Dari telapak tangan Elysianne, meledaklah gelombang Cahaya Hitam yang pekat. Energi itu tidak menyinari, melainkan "memakan" cahaya di sekitarnya. Cahaya itu melesat ke arah sebuah patung batu di kejauhan dan seketika menghancurkannya menjadi debu tanpa suara.

Elysianne terengah-engah, tubuhnya sedikit limbung karena ledakan kekuatan itu. Cyprian segera menangkapnya, menahan beban tubuhnya agar tetap tegak.

"Bagus sekali," puji Cyprian, menciumi bahu Elysianne yang terbuka. "Cahaya itu tidak lagi memurnikan, Elysianne. Cahaya itu sekarang menghancurkan. Kau adalah senjataku yang paling indah."

Elysianne menatap tangannya sendiri yang masih mengeluarkan sisa-sisa asap ungu kehitaman. Ada rasa ngeri yang muncul sesaat, namun rasa haus akan pujian dan perlindungan Cyprian jauh lebih besar. Ia berbalik dan melingkarkan tangannya di leher Cyprian, menatap mata merah ruby suaminya dengan tatapan yang kini sepenuhnya tunduk.

"Ajari aku lagi, My Lord," bisik Elysianne, bibirnya menyentuh rahang Cyprian. "Buatlah aku menjadi monster yang sama dengannmu."

Cyprian menyeringai, sebuah ekspresi kemenangan yang mutlak. Ia tahu, Kayangan telah kehilangan dewi mereka selamanya. Yang tersisa kini hanyalah Ratu Kegelapan yang terlahir dari obsesi dan darah putihnya.

.

.

.

Malam itu, aula utama Skyrosia terasa lebih dingin dari biasanya. Obor-obor dinding menyala dengan api biru yang gelisah, melemparkan bayangan panjang yang menari-nari di atas lantai marmer hitam. Di tengah ruangan, seorang prajurit langit—mata-mata yang dikirim Aetherion—berlutut dengan tangan terantai sihir. Tubuhnya memancarkan sisa-sisa cahaya emas yang kini meredup, kontras dengan kegelapan yang mengepungnya.

Cyprian duduk di takhta kebesarannya, satu sayap hitamnya tersampir megah di sandaran kursi. Di sampingnya, Elysianne berdiri. Gaun hitam sutranya menyapu lantai, dan choker di lehernya berdenyut merah pekat, menandakan keterikatan batinnya yang sedang memuncak pada sang Lord Demon.

"Lihat dia, Elysianne," suara Cyprian berat dan bergema. Ia meraih tangan halus istrinya, membimbingnya maju selangkah. "Dia datang untuk mencurimu. Dia ingin membawamu kembali ke tempat yang menganggapmu sebagai beban."

Mata-mata itu mendongak, matanya membelalak melihat sosok yang dulu ia sembah sebagai dewi suci. "Goddess... apa yang mereka lakukan padamu? Rambutmu... matamu..."

Elysianne terdiam. Nama 'Goddess' terasa seperti gema dari dunia lain yang tidak lagi ia kenali. Ia menatap pria itu dengan mata ungu jernih yang kini mulai diselimuti kabut gelap. Rasa haus akan energi Cyprian membuatnya merasa gelisah, dan hanya perintah suaminya yang bisa menenangkan denyut di lehernya.

"Hancurkan dia," perintah Cyprian dingin. "Tunjukkan pada mereka bahwa cahaya tidak lagi memiliki tempat di sini."

Elysianne mengangkat tangannya perlahan. Jemarinya gemetar sesaat, namun saat Cyprian merapatkan tubuhnya di belakang punggung Elysianne—memberikan kehangatan iblis yang ia butuhkan—ketakutan itu lenyap.

Elysianne memfokuskan seluruh kebencian dan ketergantungannya pada satu titik di telapak tangannya. Darah Putih di nadinya mendidih.

Wush!

Pusaran Cahaya Hitam meledak dari tangannya. Energi itu tidak menyambar seperti petir, melainkan merambat seperti asap pekat yang melahap oksigen. Saat cahaya hitam itu menyentuh sang mata-mata, teriakan kesakitan pecah. Cahaya emas prajurit itu tidak mati begitu saja; ia terinfeksi dan berubah menjadi abu kelabu yang dingin.

Dalam hitungan detik, yang tersisa di tengah aula hanyalah tumpukan debu dan rantai yang terjatuh.

Elysianne terengah-engah, tubuhnya sedikit lemas setelah melepaskan kekuatan sebesar itu. Ia segera berbalik dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Cyprian, mencari perlindungan seolah baru saja melakukan sesuatu yang hebat.

"Aku... aku melakukannya, My Lord," bisik Elysianne, suaranya manja dan mencari pengakuan.

Cyprian menyeringai puas. Ia mengangkat dagu Elysianne, menatap mata ungu istrinya yang kini memiliki bintik-bintik merah di pupilnya—tanda bahwa jiwanya telah sepenuhnya menyatu dengan kegelapan Skyrosia.

"Kau melakukannya dengan sempurna, Duchess," ucap Cyprian sambil mendaratkan ciuman dalam di bibir Elysianne yang kini berasa seperti maut. "Sekarang, tidak akan ada lagi yang berani menyebutmu dewi. Kau adalah kegelapanku. Milikku seutuhnya."

------

gk sanggup up banyak-banyak~

1
Thinker Bell ><
Keep up the good work for myself.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!