Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Ruangan itu masih dipenuhi keheningan. Liora masih berada di pangkuan Saga.
Namun kali ini..
napasnya mulai tidak teratur. Sudah terlalu lama.
Terlalu dekat. Sangat dekat , Bahkan saga mulai berani memainkan tangannya di punggung liora.
Dan perasaan canggung itu…
semakin menekan.
“Saga… aku mau ke kamar,” ucapnya pelan.
Tangannya mulai mendorong dada pria itu. Mencoba memberi jarak.
Namun..
tidak berhasil. Tangan Saga masih menahan pinggangnya.
Tidak bergerak.
“Sebentar.”
Jawabannya singkat. Namun cukup membuat Liora gelisah.
“Udah lama…” suaranya mulai terdengar memohon.
Matanya menunduk. Tidak berani menatap. Namun tubuhnya jelas ingin menjauh.
Saga diam. Tatapannya turun ke wajah Liora.
Memperhatikan.
Setiap gerakan kecil. Setiap napas yang tidak tenang.
Dan entah kenapa..itu justru membuat sesuatu dalam dirinya semakin kuat.
Keinginan.
Untuk menahan. Untuk memiliki. Untuk tidak akan pernah melepaskan.
“Saga… aku capek,” Liora mencoba lagi.
Kali ini suaranya lebih lirih.
Namun.
alih-alih melepas. tangan Saga justru mengangkat dagunya.
Memaksanya menatap.
DEG.
Liora terdiam. Matanya langsung bertemu dengan tatapan itu.
Dalam.
Tajam.
Dan sangat sulit dibaca.
“S-Saga…”
Suaranya bergetar. Namun ia tidak sempat berkata lebih jauh.
Karena.
dalam satu gerakan. Saga menariknya lebih dekat.
Dan..
mencium.
CUP.
DEG!
Liora membeku. Matanya membesar. Tubuhnya kaku.
Ciuman itu tiba-tiba.
Tanpa izin. Tanpa peringatan. Dan membuat pikirannya kosong.
Sedangkan saga terus memagut bibir liora dengan menyesap nya dalam. Disela- sela ciumannya saga mulai memasukkan tangannya dalam baju liora. Dan m*r*m*a salah satu payudara liora.
" Ahk...S-saga.." Remasan saga begitu kuat.
Bibir saga terus melumat bibir liora , tak membiarkan nya terlepas , meski liora sudah memukul- mukul bahu dan dada saga.
" Hmmph.....ah..."
Ciuman dan remasan saga terus berlanjut...
Hingga liora menggigit bibir saga dan terluka mengeluarkan sedikit darah..
" hah....hah...Kamu selalu memaksa..." Kata-kata liora terputus-putus karna napasnya masih tersegal.
Saga tersenyum kecil dan mengusap bibirnya yang berdarah..
Lalu menatap liora lagi.. Mendekatkan kembali wajahnya.
Beberapa detik.
ia tidak bergerak.
Namun. rasa tidak nyaman itu datang.
Cepat.
Kuat.
Dan langsung ia mendorong.
“JANGAN!”
Tangannya menekan dada Saga.
Keras. Kali ini ia benar-benar melawan.
Saga sedikit tersentak. Bukan karena dorongan itu kuat
tapi karena…
penolakan itu nyata. Liora langsung bangkit. Napasnya tidak beraturan.
Matanya berkaca-kaca. Wajahnya memerah.
Bukan hanya karena malu. tapi karena campuran takut dan marah.
“Aku gak mau!”
Suaranya gemetar.
Namun tegas.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menolak.
Tanpa ragu.
Tanpa takut. Saga menatapnya. Diam. Tatapannya sedikit berubah.
Lebih gelap.
Namun juga… tertahan. Liora mundur.
Selangkah.
Dua langkah.
Lalu.
ia berbalik. Dan berlari. Menuju kamar.
BRAAK!
Pintu tertutup keras. Menggema di ruangan.
Hening.
Saga masih duduk di sofa.
Tidak bergerak. Tatapannya kosong sesaat.
Lalu perlahan..
berubah.
Lebih dalam.
Lebih gelap..Namun bukan amarah yang meledak. Lebih seperti sesuatu yang… tertahan.
Tangannya terangkat. Menyentuh bibirnya sendiri.
Diam. Seolah memikirkan sesuatu.
***
Di dalam kamar, Liora bersandar di pintu.
Napasnya terengah. Tangannya gemetar. Air mata mulai jatuh.
“Kenapa rasanya begini.…”
bisiknya pelan. sambil memegang dadanya yang tak karuan dan memeluk dirinya sendiri.
Masih bisa merasakan kejadian tadi.
Dan perasaannya.
kacau.
Takut.
Marah. Malu.
Bingung. Semua bercampur jadi satu.
Ia tidak mengerti.
Kenapa pria itu.
yang kadang terasa melindungi.bisa tiba-tiba berubah seperti itu. Ia lupa saga memang pemaksa.
***
Malam itu. untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu jarak kembali tercipta.
Bukan karena keadaan.
Tapi karena batas yang akhirnya dilanggar.
Dan keduanya sama-sama diam. Dengan pikiran masing-masing.
Yang semakin rumit.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung................................