NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 - Perhatian Diam-Diam

Hari-hari di rumah keluarga Wijaya tetap berjalan rapi di permukaan, seolah tidak ada yang berubah. Aktivitas berlangsung seperti biasa, para pelayan bekerja sesuai tugas, dan setiap anggota keluarga menjalani rutinitas masing-masing tanpa gangguan yang terlihat. Namun di balik keteraturan itu, ada sesuatu yang perlahan bergeser, seperti arah angin yang berubah tanpa suara dan tanpa tanda yang jelas.

Alyssa tetap menjalani harinya dengan pola yang sama, tetapi sikapnya tidak lagi seperti sebelumnya. Ia bangun lebih awal dari semua orang, bersiap dengan tenang, lalu turun tanpa menunggu siapa pun. Ia tidak lagi mencoba menyesuaikan diri dengan percakapan di meja makan, tidak pula berusaha mencari tempat di tengah keluarga itu, karena ia sudah mengerti bahwa kehadirannya tidak benar-benar dianggap.

Ia tetap datang ke meja makan setiap pagi, duduk dengan rapi, dan menyelesaikan sarapannya tanpa banyak bicara. Jika ada yang bertanya, ia menjawab seperlunya, tetapi selebihnya ia memilih diam dan menjaga jarak. Bukan karena tidak mampu berbaur, melainkan karena ia sudah tidak melihat alasan untuk melakukannya.

Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia berada di dapur membantu menyiapkan sarapan. Tangannya bergerak teratur memotong buah, menyusun piring, dan memastikan semuanya rapi sebelum dibawa keluar. Beberapa pelayan memperhatikannya, sebagian dengan ekspresi datar, sebagian lagi dengan tatapan yang sulit diartikan.

Seorang pelayan wanita yang lebih tua berdiri tidak jauh darinya, mengamati dengan jelas tanpa berusaha menyembunyikan sikapnya. Ia menghela napas pendek, lalu berkata dengan suara rendah yang cukup terdengar oleh orang di sekitarnya.

“Tidak usah sok rajin. Kalau memang bagian dari keluarga, tidak perlu kerja seperti ini.”

Alyssa tidak menghentikan pekerjaannya. Pisau di tangannya tetap bergerak memotong buah dengan ukuran yang sama rata, seolah kata-kata itu tidak cukup penting untuk membuatnya bereaksi.

Pelayan itu kembali bersuara, kali ini dengan nada yang lebih tajam.

“Lagipula percuma saja. Mau berusaha seperti apa pun, posisi tetap tidak berubah.”

Beberapa pelayan lain saling melirik, tetapi tidak ada yang berani menegur. Suasana dapur menjadi sedikit kaku, menunggu reaksi yang mungkin akan muncul.

Alyssa meletakkan pisau dengan tenang, lalu mengangkat piring yang sudah selesai ia siapkan. Ia tidak terburu-buru, tidak pula terlihat terganggu, seolah ia sudah terbiasa dengan situasi seperti itu.

“Saya tahu,” jawabnya pelan.

Nada suaranya datar, tidak menunjukkan perlawanan, tetapi juga tidak mengandung kelemahan. Ia hanya menyatakan sesuatu yang sudah ia pahami tanpa perlu dijelaskan lagi.

Pelayan itu terlihat sedikit terkejut karena tidak mendapatkan reaksi yang ia harapkan. Ia mengerutkan kening, seolah tidak puas, tetapi tidak melanjutkan ucapannya.

Alyssa berjalan keluar dari dapur tanpa menoleh lagi, meninggalkan suasana yang terasa canggung. Langkahnya stabil dan teratur, tidak lebih cepat dan tidak lebih lambat, seakan tidak ada yang perlu ia pikirkan dari percakapan tadi.

Di lorong yang tidak jauh dari dapur, seseorang berdiri dalam diam. Daren tidak seharusnya berada di sana pada jam seperti itu, tetapi dalam beberapa hari terakhir ia sering berada di tempat-tempat yang tidak biasa, seolah tanpa alasan yang jelas.

Ia melihat semuanya sejak awal, mendengar setiap kata yang diucapkan, dan memperhatikan bagaimana Alyssa menanggapinya tanpa perubahan ekspresi. Ada sesuatu yang terasa mengganggu di dalam dirinya, tetapi ia tidak langsung bergerak atau menunjukkan reaksi.

Daren menunggu hingga Alyssa benar-benar menghilang di ujung lorong, baru kemudian ia melangkah masuk ke dapur. Para pelayan yang sebelumnya masih berbisik langsung terdiam begitu melihatnya, dan sikap mereka berubah seketika menjadi lebih rapi dan berhati-hati.

“Pak Daren,” sapa salah satu dari mereka dengan suara gugup.

Daren tidak langsung menjawab. Tatapannya menyapu ruangan secara perlahan, lalu berhenti pada pelayan wanita yang tadi berbicara. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya membuat suasana menjadi lebih tegang.

“Siapa yang memberi kalian izin untuk berbicara seperti itu,” ucapnya dengan nada rendah.

Pelayan itu menunduk, jelas tidak menyangka akan dipanggil secara langsung.

“Saya hanya…”

“Tidak perlu menjelaskan.”

Kalimat itu dipotong dengan tenang, tetapi cukup tegas untuk menghentikan apa pun yang ingin ia katakan.

Daren melangkah sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa menekan. Ia tidak meninggikan suara, tetapi cara ia berbicara membuat setiap kata terasa lebih berat.

“Kerjakan tugas kalian. Itu saja.”

Pelayan itu mengangguk cepat, tidak berani membalas.

“Iya, Pak.”

Daren menatapnya beberapa detik lagi, memastikan tidak ada yang berani menyanggah, lalu berbalik dan keluar dari dapur. Tidak ada yang berbicara setelah itu, dan suasana yang tersisa terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Di sisi lain rumah, Alyssa kembali ke kamarnya setelah sarapan selesai. Tidak ada yang memanggilnya, dan tidak ada pula yang mencarinya, tetapi hal itu tidak lagi memengaruhi perasaannya seperti dulu.

Ia duduk di kursi dekat jendela, membuka buku catatan yang sudah beberapa hari ini ia gunakan. Halaman-halaman di dalamnya mulai terisi dengan rencana sederhana, berupa langkah-langkah kecil yang ia susun sendiri dengan hati-hati.

Ia menuliskan kemampuan yang bisa ia pelajari, peluang yang mungkin ia coba, serta cara untuk mendapatkan penghasilan tanpa bergantung pada siapa pun di rumah itu. Pikirannya terarah dan tenang, tidak terburu-buru, tetapi jelas memiliki tujuan.

Ia sedang menuliskan sesuatu ketika suara ketukan pelan terdengar dari pintu.

“Masuk,” katanya singkat.

Seorang pelayan muda membuka pintu dengan ragu, lalu berdiri di ambang dengan sikap hati-hati.

“Nona Alyssa, Ibu memanggil Anda ke ruang tamu.”

Alyssa menutup bukunya perlahan, lalu berdiri tanpa menunjukkan keberatan.

“Baik.”

Perjalanan menuju ruang tamu tidak terasa berbeda, tetapi begitu ia masuk, suasana di dalam ruangan langsung terasa lebih berat. Ibu Daren duduk di sofa dengan ekspresi yang tidak ramah, sementara Cassandra berada di sampingnya dengan sikap santai yang terlihat disengaja.

“Kamu datang juga,” ujar ibu mertuanya tanpa menyembunyikan nada tidak puas.

“Iya,” jawab Alyssa singkat.

“Kemarin ada tamu penting, dan kamu tidak muncul sama sekali.”

Alyssa menatapnya dengan tenang sebelum menjawab.

“Saya tidak diberi tahu.”

Cassandra tersenyum tipis, lalu menyela dengan nada halus yang terdengar lebih tajam dari yang seharusnya.

“Tidak semua hal harus diberitahu. Sebagai istri, kamu seharusnya peka.”

Alyssa tidak menanggapi kalimat itu. Ia tetap berdiri dengan posisi yang sama, tidak membela diri, tetapi juga tidak menunjukkan penyesalan.

Ibu Daren menghela napas panjang, jelas tidak puas dengan sikap tersebut.

“Kamu benar-benar tidak mengerti posisi.”

Alyssa menatapnya tanpa ragu.

“Kalau begitu, beri tahu saya apa yang harus saya lakukan.”

Nada suaranya tetap datar, tidak menantang, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan menebak-nebak.

Ibu Daren terlihat sedikit terdiam, seolah tidak mengantisipasi jawaban seperti itu.

“Mulai sekarang, setiap ada tamu, kamu yang akan melayani.”

Alyssa mengangguk tanpa keberatan.

“Baik.”

“Dan jangan sampai ada kesalahan.”

Alyssa tidak menambahkan apa pun. Ia hanya menunduk sedikit sebagai tanda bahwa ia mengerti, lalu menunggu beberapa detik sebelum akhirnya keluar dari ruangan.

Di lorong, langkahnya kembali seperti biasa, stabil dan tanpa tergesa. Di ujung koridor, Daren berdiri seolah sudah berada di sana sejak tadi, dan keberadaannya tidak mengejutkan Alyssa meskipun mereka tidak saling mencari.

“Ada yang ingin dibicarakan,” tanya Alyssa dengan nada tenang.

Daren menatapnya beberapa saat, seolah mempertimbangkan sesuatu.

“Tidak.”

Alyssa mengangguk, tidak terlihat kecewa atau penasaran.

“Kalau begitu, saya permisi.”

Ia berjalan melewati Daren tanpa berhenti, tanpa menoleh kembali, dan tanpa menunggu apa pun. Daren tetap berdiri di tempatnya, menoleh sedikit mengikuti langkah Alyssa yang semakin menjauh, tetapi tidak memanggilnya.

Sore harinya, dapur kembali menjadi tempat kejadian kecil yang tidak diharapkan. Salah satu pelayan menjatuhkan air tepat di lantai saat Alyssa lewat, dan gerakan itu terlihat terlalu disengaja untuk disebut kebetulan.

“Aduh, hati-hati, Nona,” ucapnya dengan nada yang tidak sepenuhnya tulus.

Alyssa berhenti tepat sebelum air itu mengenai gaunnya. Ia menatap lantai yang basah, lalu mengangkat pandangan ke arah pelayan tersebut tanpa perubahan ekspresi.

“Bersihkan.”

Suaranya singkat dan jelas, tidak memberi ruang untuk bercanda.

Pelayan itu tampak kesal, tetapi belum sempat membalas ketika suara lain terdengar dari belakang.

“Kalau tidak bisa bekerja dengan benar, keluar saja dari sini.”

Semua orang langsung menoleh, dan suasana berubah dalam sekejap. Daren berdiri di pintu dapur dengan ekspresi yang tidak menunjukkan emosi, tetapi cukup untuk membuat semua orang menahan napas.

Pelayan itu langsung pucat.

“Saya tidak sengaja, Pak.”

“Kalau begitu, pastikan tidak terulang.”

Nada suaranya tetap rendah, tetapi tidak memberi kesempatan untuk berdebat.

“Iya, Pak.”

Daren tidak mengatakan apa pun lagi. Ia berbalik dan pergi, meninggalkan suasana yang masih terasa tegang.

Alyssa berdiri beberapa detik di tempatnya, lalu melangkah melewati lantai yang mulai dibersihkan. Ia tidak melihat ke belakang dan tidak mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, seolah itu bukan sesuatu yang perlu ia pikirkan.

Malam hari, rumah kembali tenang seperti biasanya. Alyssa duduk di balkon kamarnya, membiarkan angin malam menyentuh wajahnya sambil menatap langit yang gelap.

Beberapa hal memang terasa sedikit berbeda, tetapi ia tidak mencoba mencari arti di baliknya. Ia memilih untuk tetap pada rencananya sendiri, karena baginya, bergantung pada perubahan orang lain bukanlah pilihan yang aman.

Di sisi lain rumah, Daren berdiri di ruang kerjanya dengan lampu yang masih menyala. Dokumen di meja tidak tersentuh, dan pikirannya terus kembali pada kejadian-kejadian kecil yang terjadi sepanjang hari.

Ia mengingat kata-kata pelayan, sikap ibunya, dan cara Alyssa menghadapi semuanya tanpa bantuan siapa pun. Ada sesuatu yang tidak ia sukai dari semua itu, dan tanpa ia sadari, ia sudah mulai ikut campur meskipun tidak secara terang-terangan.

Daren menghela napas pelan, menyadari bahwa perhatiannya sudah berubah arah. Ia tidak mengumumkan apa pun, tidak juga menjelaskan, tetapi tindakannya mulai menunjukkan hal yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.

Di balkon, Alyssa menutup matanya sejenak, membiarkan pikirannya kosong tanpa beban yang tidak perlu. Ia tidak tahu bahwa perlahan, tanpa suara, seseorang mulai berdiri di sisi yang sama dengannya.

Baginya, semuanya masih sama seperti sebelumnya. Ia masih sendiri, dan justru karena itulah ia tetap bisa berdiri tanpa bergantung pada siapa pun.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!