Aska seorang CEO tampan, dan juga cerdas. Sifatnya yang dingin dan juga datar membuat dia susah di dekati, apalagi sama yang namanya wanita.
Aska juga tidak pernah tersenyum, kecuali sama keluarga dan sahabat terdekatnya.
Akankah ada yang wanita yang bisa mendekati dan membuat dia tersenyum?
Yuk langsung kepo in.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 21
Kanaya sudah bersiap mengantarkan ayahnya ke rumah sakit. Walaupun dia merasa kesal, karena acara jalan-jalannya tertunda gara-gara mengantarkan sang ayah.
" Yah, buruan dong "
" Sebentar Nak"
" Ck.." berdecak kesal.
Sang Ayah pun keluar dari kamarnya. Kanaya berjalan lebih dulu ke luar rumahnya, di susul sang Ayah di belakang.
Taxi sudah menunggu di depan rumah. Ya sebelumnya Kanay sudah memesan taxi melalui aplikasi yang ada di ponselnya.
Kanaya dan ayahnya masuk kedalam taxi. Setelah mereka berdua masuk, sopir pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit mereka sampai di depan rumah sakit terbesar di kota itu. Kanaya dan ayahnya turun dari raxi, setelah membayar ongkos taxi, Kanaya dan sang ayah masuk kedalam rumah sakit.
Kanaya langsung menuju ruangan dokter spesialis jantung. Karena ayahnya rutin tiap bulan pergi kontrol, jadi Kayana sudah tau ruangannya.
Sesampainya di depan ruangan dokter spesialis jantung. Kanaya langsung mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok.
Tok.
Tok.
" Masuk"
Setelah mendengar suara dari dalam ruangan itu. Kanaya dan sang ayah masuk kedalam ruangan itu.
Tampaklah dokter tampan yang berumur sekitar 30 an duduk di kursi kebesarannya. Dokter itu tersenyum pada ayah Kanaya.
" Selamat datang Pak Afsari, silakan duduk"
Kayana dan ayahnya duduk di kursi di depan meja sang dokter.
" Tumben nggak diantarkan sama Fira Pak?" tanya sang dokter.
" Fira lagi kerja Dok" jawab Afsari.
Dokter mulai memeriksa Pak Afsari. Kanaya ikut memperhatikan layar monitor yang menampilkan gambar jantung sang ayah. Walaupun tidak mengerti tulisan yang muncul di layar itu.
Setelah 20 menit, akhirnya pemeriksaan pun selesai. Dokter duduk kembali, diikuti sama Kanaya dan sang ayah.
" Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Kanaya.
" Hasilnya cukup baik dari bulan kemarin" jawab sang dokter.
" Alhamdulillah" ucap Afsari.
" Tapi bapak harus rutin meminum obat yang saya berikan"
" Pasti Dok"
Dokter memberikan resep pada Kanaya, resep itu harus di tebus di loket obat yang ada di rumah sakit itu. Setelah urusan mereka selesai Kanaya dan sang ayah pamit undur diri.
" Terima kasih Dok, untuk bantuannya" ucap Pak Afsari.
" Sama-sama Pak"
Dokter tampan itu mengantarkan pak Afsari dan Kanaya ke depan pintu. Kanaya dan Afsari pergi meninggalkan ruangan dokter tampan itu.
Kanaya memesan taxi melalui aplikasi yang ada di ponselnya. Tak berapa lama taxi yang di tunggu pun datang.
" Ayah pulang duluan ya" kata Kanaya.
" Kamu mau kemana Naya?"
" Aku mau ke kampus dulu Yah" jawab Kanaya bohong.
Kanaya memberikan uang kepada sang ayah untuk membayar ongkos taxi nanti. Taxi pun pergi meninggalkan rumah sakit.
" Akhirnya terbebas juga dari pak tua itu" kata Kanaya setelah taxi yang membawa sang ayah sudah menjauh.
Kanaya akan pergi ke salon untuk melakukan perawatan, karena besok kekasih hatinya akan pulang dari luar kota. Dia memesan taxi kembali melalui aplikasi yang ada di ponselnya.
🍃🍃🍃
Aska baru akan duduk di kursi kebesarannya, tiba-tiba harus pergi, karena kliennya minta bertemu di sana. Mau tak mau Aska harus datang ke sana.
" Coba kalau dia bukan klien yang penting, ogah banget gue mau ke sana" gerutu Aska setelah masuk kedalam lift.
" Sabar, lagipula kita ke sana untuk menandatangani kontrak besar" kata Rendy.
" Hhhmm"
Ting
Pintu lift terbuka, Aska dan Rendy keluar dari lift. Mereka berdua berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Sesampainya di parkiran Aska dan Rendy langsung masuk kedalam mobil.
Mobil melaju meninggalkan perusahaan. Rendy melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena mereka tidak mau terlambat menemui klien penting itu.
Mereka pun sampai di salah satu mall terbesar di kota itu. Lebih tepatnya mall itu milik keluarga Aska. Mereka berdua berjalan memasuki mall.
Para pengunjung mall terpesona melihat ketampanan Aska dan Rendy. Tapi mereka berdua tidak menghiraukan tatapan mereka. Karena mereka sudah biasa mendapatkan tatapan seperti itu.
Mereka berdua memasuki salah satu restoran yang ada di mall itu. Aska dan Rendy langsung menuju ruangan VVIP. Ya kedatangan mereka sudah di tunggu.
" Maaf terlambat tuan" ucap Aska setelah duduk di kursi yang ada di sana.
" Tidak apa-apa, saya juga baru sampai"
Tanpa membuang waktu, mereka mulai membicarakan tentang kerja sama yang akan mereka lakukan.
Rendy memberikan dokumen proposal yang sudah dia bawa dari kantor tadi pada tuan Mars. Mars membaca isi dokumen itu dengan sangat teliti, karena bisa fatal kalau dia bisa tidak teliti dalam membacanya.
Setelah membaca berulang-ulang isi proposal kerjasamanya, akhirnya Mars memberikan tanda tangannya di atas dokumen itu. Kemudian di lanjutkan sama Aska, memberikan tanda tangannya di sana.
" Terima kasih tuan Mars, karena sudah memilih perusahaan kami untuk bekerja sama"
" Sama-sama, semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar"
Aska dan Mars pun berjabat tangan atas keberhasilan kerjasama mereka. Kedua perusahaan itu berharap kerjasama ini memberikan keuntungan yang besar.
Asisten Mars membisikkan sesuatu pada Mars. Kemudian Mars menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
" Maaf tuan Aska menemani anda makan dan mengobrol, soalnya saya sudah harus berangkat" kata Mars.
" Tidak masalah tuan, mungkin kita bisa makan dan mengobrol lain waktu"
" Terima kasih atas pengertian anda, saya permisi dulu"
" Silakan tuan"
Mars dan asistennya pergi meninggalkan ruangan VVIP itu. Tak berselang lama Mars pergi, Aska dan Rendy pun pergi meninggalkan ruangan itu.
" Gue nggak menyangka tuan Mars akan tertarik dengan proposal kita" kata Rendy.
" Karena dia bisa melihat keuntungan yang besar, makanya di setuju" kata Aska.
Karena keasyikan ngomong, Rendy tidak sengaja menabrak seorang wanita yang baru keluar dari salon.
" Aww"
" Sorry, nona saya tidak sengaja"
" Makanya jalan itu pake mata"
" Sekali lagi maaf nona"
Wanita itu tidak menghiraukan Rendy. Dia terpesona melihat cowok yang ada di sebelah Rendy.
Gila!, ini kan cowok tampan yang gue jumpa di kampus kemarin.
" Apa kamu masih ingat saya?" tanya cewek itu pada Aska.
Aska mengeyitkan alisnya, mendengar pertanyaan dari wanita itu. Karena dia tidak ingat pernah bertemu dengan gadis itu. Lagi pula dia tidak punya waktu mengingat hal yang tidak penting.
Rendy melirik sahabat sekaligus bosnya itu. Aska hanya mengangkat bahunya tanda tidak tau.
" Kamu sudah melupakan aku tampan?" tanya wanita itu lagi.
" Maaf, saya tidak mengerti maksud anda. Lagi pula saya tidak kenal anda" kata Aska.
" Kita pernah bertemu di kampus xx" kata wanita itu lagi.
Aska mencoba mengingat kejadian waktu terakhir dia datang ke kampus xx. Aska teringat cewek yang coba merayunya.
Ck.. ternyata dia cewek ondel-ondel itu.
" Maaf saya tidak ingat" kata Aska berlalu pergi meninggalkan wanita itu.
" Sekali lagi maaf nona, saya pergi dulu" kata Rendy.
Cewek itu kaget, karena sudah dua kali dia di tolak sama Aska. Dia tidak menyangka ada cowok yang bisa menolak pesonanya.
Gue pasti akan mendapatkan Lo, cowok tampan.
Rendy susah payah mengejar Aska. Ya langkah kaki Aska sangat panjang dan juga cepat. Setelah bersusah payah, akhirnya Rendy bisa mengejar sahabatnya itu.
" Bro, tungguin gue napa?"
" Makanya jalan itu yang cepat, jangan kayak siput"
" Lo beneran nggak kenal tu cewek?" tanya Rendy setelah mereka sampai di parkiran.
" Hhhmm"
" Jawab yang benar dong, jangan hhmm doang"
" Gue nggak kenal"
" Terus kenapa cewek tadi bilang pernah bertemu sama Lo"
" Mana gue tau. Lagi pula gue nggak pengen kenal sama cewek yang berpakaian kurang bahan seperti itu. Cepat jalan" kata Aska.
Rendy tidak mau bertanya lagi, dia tau mood Aska tidak baik. Rendy melajukan mobilnya meninggalkan mall terbesar itu.
To be continue..
Happy Reading 😚😚