NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 21 Jarak yang Tidak Profesional

Pagi di apartemen Gavin Mahendra terasa… terlalu sepi.

Tidak ada suara Rania mengeluh soal meeting pagi.

Tidak ada komentar nyebelin seperti:

“Direktur dingin ternyata makan roti tawar juga ya.”

Tidak ada.

Dan anehnya—

Gavin mulai membencinya.

Pukul enam lewat empat puluh dua menit.

Ia baru keluar dari ruang kerja kecil di dekat dapur saat langkah seseorang terdengar.

Rania.

Sudah rapi.

Kemeja cream.

Celana bahan hitam.

Tas kerja sudah tersampir di bahu.

Terlalu siap.

Terlalu cepat.

Gavin mengernyit kecil.

“Kamu pagi banget.”

“Oh.”

Rania berhenti sepersekian detik.

Nada suaranya tetap sopan.

“Ada meeting.”

Lagi.

Nada formal itu.

Sialnya—

Gavin mulai sadar ia tidak suka.

“Kita berangkat lima belas menit lagi,” katanya sambil menuang kopi.

Biasanya—

Rania akan protes.

Atau bilang ia mau beli sarapan dulu.

Hari ini?

Perempuan itu malah mengambil kunci mobil.

“Saya bawa mobil sendiri.”

Apa?

Gavin berhenti bergerak.

“Kamu apa?”

“Saya bawa mobil sendiri hari ini.”

Natural.

Terlalu natural.

Seolah itu keputusan kecil.

Padahal—

tidak.

Karena selama ini—

mereka selalu berangkat bersama.

Diam beberapa detik.

“Kok mendadak?”

“Lebih praktis.”

Gavin diam beberapa detik.

Tidak masuk akal.

Karena selama ini—

mereka selalu berangkat bersama.

“Kamu ada masalah sama saya?”

Rania mengangkat alis kecil.

“Nggak.”

Jeda.

“Atau kamu lagi ngindarin saya?”

Rania tertawa kecil.

Terlalu kecil.

Terlalu dibuat biasa.

“Nggak segitunya.”

Lalu berjalan ke arah pintu.

“Duluan ya.”

Pintu tertutup.

Pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini—

apartemen terasa terlalu kosong.

___

Di parkiran kantor—

Kevin nyaris menjatuhkan kopi.

“…Bro.”

Gavin baru keluar mobil.

Sendiri.

Kevin berkedip dua kali.

“Mana Bu Rania?”

Tatapan Gavin langsung dingin.

“Kerjaan kamu sudah selesai?”

Kevin menyipit.

“Oh gila.”

Dia menatap mobil sekali lagi.

“Lo beneran kena masalah rumah tangga.”

“Keluar dari hidup saya.”

“Lo beneran habis bikin dosa ya?”

Gavin diam.

Masalahnya—

dia juga tidak tahu.

Yang ia tahu cuma satu:

Rania berubah.

Dan ia tidak suka.

Sama sekali.

Pukul sembilan lewat lima menit.

Lantai marketing.

Rania sedang sibuk membaca revisi campaign saat suara heboh muncul.

Nisa.

Tentu saja.

“BU.”

“Tidak.”

“Tapi—”

“Tidak.”

“PAK GAVIN DATANG KE LANTAI KITA.”

Apa?

Rania langsung menoleh refleks.

Dan benar.

Di ujung ruangan—

Gavin Mahendra berdiri.

Sangat mencolok.

Tatapan pria itu lurus.

Ke arahnya.

Oh tidak.

Tidak.

Jangan di sini.

Jangan sekarang.

Nisa berbisik dramatis.

“Wah.”

Tika ikut muncul.

“Fix dijemput.”

Rania langsung berdiri.

Cepat.

Terlalu cepat.

“Ada apa, Pak?”

Formal.

Lagi.

Gavin diam sepersekian detik.

Jelas menangkap perubahan itu.

Lalu mengangkat paper bag kecil.

“Kamu lupa sarapan.”

Apa?

Sunyi.

Satu divisi mendadak terlalu diam.

Karena Gavin Mahendra—

Calon direktur paling dingin satu gedung—

baru saja datang ke lantai marketing.

Bawa sarapan.

Untuk istrinya.

“Ini.”

Rania membeku.

“…Saya bisa beli sendiri.”

Gavin menyipit sedikit.

“Kamu belum makan.”

“Sudah.”

“Kopi doang bukan makan.”

Kurang ajar.

Dia tahu?

Gavin mengembuskan napas kecil.

“Nisa.”

Nisa refleks tegap.

“Pak?!”

“Tolong pastiin dia makan.”

Nisa:

“…SAYA?”

“Kalau nggak, dia maag.”

Apa?

Rania langsung menoleh cepat.

Dia—

ingat?

Tentang lambungnya?

Tentang dia yang tidak suka pedas?

Tentang kebiasaan kopi pagi?

Oh Tuhan.

Jangan begini.

Jangan perhatian begini.

Karena makin begini—

makin susah menjaga jarak.

Dan itu berbahaya.

Sangat berbahaya.

Pukul satu siang.

Rania sengaja makan siang lebih cepat.

Sendiri.

Strategi sederhana:

Menghindari Gavin.

Karena kalau terus begini—

ia takut mulai berharap.

Dan berharap pada hubungan kontrak—

kedengarannya seperti keputusan buruk seumur hidup.

Namun—

baru saja ia membuka bekal yang dibawakan Gavin pagi tadi—

kursi di depannya ditarik.

Rania membeku.

Tentu saja.

Gavin.

Masih dengan jas kerja.

Masih terlalu tenang.

“Kamu sibuk banget beberapa hari ini.”

Rania mengangkat kepala pelan. “Kerjaan.”

Gavin diam sebentar.

“Kamu sebenarnya kenapa?”

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

“Saya sedang makan siang.”

“Kamu biasanya ngajak debat dulu.”

Rania terdiam.

Dia bahkan sadar kebiasaan itu.

"Saya sibuk.”

“Kamu bohong lagi.”

Sunyi.

Parah.

Rania menggenggam sendok sedikit lebih erat.

Karena masalahnya—

dia benar.

Dan itu menyebalkan.

“Saya cuma pengen profesional.”

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Gavin diam.

Tatapannya berubah sedikit.

“…Profesional?”

“Iya.”

Gavin menatap tepat pada mata Rania.

“Kalau kita lagi pura-pura jatuh cinta di depan satu perusahaan.”

Jeda.

“Agak telat buat profesional.”

Sial.

Sial.

Sial.

Rania langsung berdiri.

“Aku ada meeting.”

Namun—

pergelangan tangannya tertahan.

Pelan.

Tidak keras.

Tapi cukup membuatnya berhenti.

Jantungnya langsung tidak profesional lagi.

“Rania.”

Pelan.

Rendah.

Dan entah kenapa—

itu cukup membuat langkahnya berhenti.

Dan justru itu lebih berbahaya.

“Apa saya bikin salah?”

Pertanyaan itu terlalu tulus.

Terlalu langsung.

Dan mendadak—

Rania ingin menyerah.

Ingin bilang:

Masalahnya bukan kamu.

Masalahnya aku mulai terlalu suka.

Tapi tentu saja—

tidak bisa.

Karena itu terlalu memalukan.

Terlalu berbahaya.

Jadi ia cuma menarik tangan pelan.

“Nggak ada.”

Lalu pergi.

Meninggalkan Gavin—

untuk pertama kalinya—

benar-benar bingung.

Sore hari.

Pukul enam lewat tiga menit.

Hujan lagi.

Tentu saja.

Seolah semesta suka drama.

Rania keluar lobby.

Karena hari ini—

ia membawa mobil sendiri.

Lebih aman.

Lebih sehat.

Lebih—

Suara seseorang yang terlalu familiar di telinganya terdengar.

“Kamu serius?”

Sial.

Gavin berdiri di dekat pintu lobby.

Tangan menyilang.

Tatapan lurus.

Jelas sudah menunggu.

“Kamu bawa mobil sendiri?”

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Kamu memang bisa.”

Jeda.

“Tapi kenapa harus?”

Hujan turun lebih deras.

Rania menggenggam ponsel lebih erat.

Karena cara Gavin melihatnya sekarang—

terlalu intens.

Terlalu seperti seseorang—

yang benar-benar ingin tahu alasan.

“Aku cuma pengen sendiri.”

Kalimat itu lebih jujur dari yang ia maksud.

Dan sesuatu di wajah Gavin berubah sedikit.

Tipis.

Nyaris tidak terlihat.

Tapi ada.

Seperti kecewa kecil.

“…Oke.”

Oh.

Rania tidak siap untuk itu.

Karena biasanya Gavin akan memaksa.

Nyebelin.

Dominan.

Tapi kali ini—

tidak.

Ia hanya mengangguk kecil.

“Saya biarkan kamu hari ini.”

Jeda.

“Tapi besok kita ngobrol.”

Nada suaranya terlalu tenang.

Terlalu pasti.

Lalu—

Gavin membuka payung.

Berjalan keluar duluan.

Sendirian.

Dan anehnya—

melihat punggung pria itu pergi—

justru membuat dada Rania terasa jauh lebih sesak.

Karena untuk pertama kalinya—

menjaga jarak ternyata tidak terasa melegakan.

Justru terasa lebih sesak.

Dan itu…

masalah besar.

Karena besok—

mereka harus bicara.

Dan Rania tidak yakin—

dirinya siap mendengar apa pun yang Gavin mau katakan.

Biasanya Gavin akan memaksa.

Menyebalkan.

Dominan.

Tapi hari ini—

dia memilih pergi.

Dan anehnya—

itu jauh lebih menyakitkan.

Karena untuk pertama kalinya—

Rania sadar:

mungkin menjaga jarak bukan cuma menyakiti dirinya.

Tapi juga Gavin.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!