Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..
Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?
Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 21: "PILIHAN YANG MEMBAGI"
*****
Lampu taman yang redup menerangi halaman belakang yang sepi. Raisa berdiri di tengah rerumputan yang rapi, kedua tangannya menggenggam ujung roknya dengan kuat. Wajahnya yang biasanya lembut kini penuh dengan amarah dan kecewa yang sudah menumpuk lama.
Rio berdiri beberapa langkah di depannya, wajahnya penuh dengan keraguan dan rasa bersalah. Dia baru saja menemukan Raisa di sini setelah mencari ke seluruh rumah—setelah kejadian dengan Reza beberapa hari yang lalu, ketegangan antara mereka semakin memuncak.
“Kenapa kamu selalu seperti ini, Kak Rio?” mulai Raisa dengan suara yang penuh dengan emosi. “Selalu menyuruh aku mengerti situasimu, selalu bilang aku harus memahami bahwa kamu punya Ratna dan Bara. Tapi apakah kamu pernah sekali pun memikirkan situasiku?”
Rio ingin menjawab namun kata-kata terjepit di tenggorokannya. Dia hanya bisa berdiri diam sambil melihat matanya yang berkaca-kaca namun penuh dengan ketegasan.
“Kamu bilang kamu mencintaiku,” lanjut Raisa dengan nada yang semakin tinggi. “Kamu yang pertama kali menyatakan perasaanmu padaku, kamu yang pertama kali menyentuh dan menciumku. Aku merasa seperti aku punya tempat di hatimu, seperti kita bisa bersama suatu hari nanti.”
Dia mengambil langkah maju mendekati Rio, matanya menyala dengan amarah. “Aku mengorbankan banyak hal untukmu, Kak Rio. Aku menyembunyikan perasaanku dari kakakku, aku menahan rasa sakit hati setiap kali melihat kamu bersama dia, aku bahkan rela menjadi rahasia yang tidak bisa diungkapkan. Dan kamu? Kamu hanya terus menyuruh aku mengerti dan memahami tanpa pernah berpikir bagaimana rasanya berada di posisiku!”
Akhirnya, amarah yang sudah lama terkubur pun meledak. Dengan suara yang penuh dengan tekad, Raisa berkata, “Sekarang giliran aku yang meminta kamu memilih, Kak Rio. Antara aku… atau Ratna dan Bara. Pilihlah salah satunya!”
Ada keheningan yang menusuk setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya. Raisa menatap Rio dengan pandangan yang penuh harapan—meskipun di dalam hatinya dia merasa takut akan jawaban yang akan keluar, namun dia masih mengharapkan bahwa Rio akan memilihnya setelah semua yang telah mereka lalui bersama.
Rio berdiri diam selama beberapa detik, matanya menatap jauh ke arah langit yang penuh bintang. Kemudian dia perlahan melihat ke arah Raisa, wajahnya penuh dengan kesedihan yang mendalam.
“Ras… aku tidak bisa memilihmu,” ucap Rio dengan suara yang lembut namun tegas. “Ratna adalah istriku—perempuan yang telah berjuang mati-matian untuk aku dan untuk anak kita. Bara adalah putraku yang masih sangat kecil dan membutuhkan ayahnya. Mereka adalah keluarga ku yang sah, mereka adalah tanggung jawab ku yang tidak bisa kuhiraukan.”
Raisa merasa seperti dunia nya runtuh mendengar kata-kata itu. Matanya membesar dengan kejutan, dan air mata yang sudah menumpuk lama akhirnya menetes deras di wajahnya.
“Jadi semua yang kamu katakan padaku hanyalah omong kosong saja?” tanya Raisa dengan suara yang bergetar. “Kamu hanya mempermainkan perasaanku saja bukan? Jika kamu tidak benar-benar ingin memilihku, mengapa kamu harus menyatakan cintamu padaku pada awalnya?”
“Tidak pernah ada niat untuk mempermainkanmu, Ras,” jawab Rio dengan suara yang penuh dengan rasa bersalah. “Aku benar-benar mencintaimu, tapi cinta itu tidak selalu bisa menjadi prioritas. Aku punya tanggung jawab yang tidak bisa kuhindari. Aku berharap kamu bisa mengerti posisiku ini.”
“Mengerti? Bagaimana aku bisa mengerti, Kak Rio?” teriak Raisa dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Jika dulu kamu tidak pernah menyatakan cinta padaku, jika kamu tidak pernah menyentuh dan merayu aku dengan kata-kata manismu—mungkin aku tidak akan sampai di titik ini! Mungkin aku masih bisa melihatmu sebagai kakak suami kakakku yang baik dan penuh perhatian, bukan sebagai pria yang telah merusak hidupku!”
Setiap kata yang keluar dari mulut Raisa seperti menusuk hati Rio. Dia ingin menjelaskan lebih jauh, ingin mengatakan bahwa cintanya padanya sungguh tulus, namun dia tahu bahwa tidak ada kata-kata yang bisa menghilangkan rasa sakit yang telah dia berikan pada gadis muda itu.
“Aku tidak punya kata-kata untuk meminta maaf yang cukup besar, Ras,” ucap Rio dengan suara yang hampir tak terdengar. “Aku tahu bahwa aku telah menyakiti kamu secara sangat dalam. Semoga suatu hari nanti kamu bisa menemukan orang yang benar-benar layak untukmu—orang yang bisa mencintaimu dengan terbuka dan tidak perlu menyembunyikannya seperti aku.”
Raisa hanya bisa menangis terisak-isak mendengar kata-kata itu. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak akan pernah bisa melupakan apa yang telah kita alami bersama, Kak Rio. Tapi dari sekarang ini, aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku tidak bisa terus hidup dengan menyembunyikan rahasia yang menyakitkan ini.”
Dia mengambil langkah mundur, mata masih menatap Rio dengan campuran cinta dan kebencian. “Aku akan pergi dari rumah ini. Aku akan mencari tempat tinggal baru dan fokus pada kuliah serta masa depanku sendiri. Semoga kamu bahagia dengan keluarga mu, Kak Rio. Karena itu adalah pilihan yang kamu buat sendiri.”
Setelah itu, Raisa berbalik dan berlari masuk ke rumah tanpa melihat ke belakang. Rio berdiri sendirian di taman belakang, tubuhnya terasa lemah dan hati nya seperti hancur berkeping-keping. Dia tahu bahwa dia telah membuat pilihan yang benar secara moral, namun itu tidak menghilangkan rasa sakit yang dia rasakan karena harus kehilangan Raisa dari hidupnya.
Di dalam rumah, Ratna yang telah mendengar sebagian percakapan mereka berdiri di pintu belakang. Matanya juga penuh dengan air mata saat dia menyadari kebenaran yang selama ini dia tidak curigai sama sekali. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini, namun satu hal yang dia tahu—kebahagiaan keluarga nya yang dia anggap kokoh ternyata berdiri di atas fondasi yang rapuh dan penuh dengan rahasia.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...