Kematian Arin yang tidak disangka malah menimbulkan petaka. Padahal keluarga dan semua teman sahabat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba mereka mendapatkan teror dari makhluk yang mengaku roh dari Arin. Ikuti kisahnya . Banyak rahasia tersembunyi di balik apa yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🌹Ossy😘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Rama terbangun malam itu. Dia berasa ingin buang air kecil. Rama keluar kamar dan menuju kamar mandi. Namun ada keanehan yang dia rasakan. Rama seperti melihat bayangan orang berdiri di depan pintu kamar mandi. Lampu dapur memang tidak begitu terang jika malam hari. Lampu yang redup kadang menciptakan sesuatu seperti ilusi kita pikirkan. Mungkin karena itu Rama seperti melihat bayangan.
Namun ketika sudah dekat, Rama melihat Ran yang terlihat ketakutan. Wajahnya sangat pucat dan berkeringat. Rama mencoba memanggil, namun Ran hanya diam tidak menyahut. Rama semakin mendekati pada Ran. Dan tiba-tiba tubuh Ran terhuyung dan jatuh pingsan dalam pelukannya.
" Kak Raaan..."
Rama berteriak. Dia sangat terkejut ketika Ran jatuh pingsan. Rama hampir jatuh juga karena terkejut sehingga tubuhnya tidak seimbang ketika tubuh Ran jatuh menimpa tubuhnya. Untung saja Rama sigap sehingga tubuh Ran tidak sampai jatuh ke lantai.
"Ayah..." Rama berteriak memanggil sang Ayah. Dia merasa takut terjadi sesuatu pada Ran.
" Ada apa Ram, malam-malam berteriak-teriak. "
Ternyata Ayah belum tidur, dan dia sangat terkejut ketika mendengar teriakkan Rama . Dengan tergopoh-gopoh Yanto mendekati Rama.
" Kak Ran pingsan. Tolong ini Rama tidak kuat."
" Astaghfirullah.. Kenapa dengan Ran, Rama.."
" Angkat dulu ayah, ini berat. Bantu Rama dulu."
Mereka berdua mengangkat tubuh Ran ke kamar. Mereka taruh tubuh Ran diatas tempat tidur.
" Ada apa sih malam-malam ramai sekali.." Bunda ikut terbangun juga. Bunda baru saja bisa terpejam setelah tadi berbincang banyak sama sang suami. Namun karena suara teriakan Rama yang begitu kencang, bunda jadi ikut terbangun juga.
" Cari minyak kayu putih Ram.."
Rama segera mencari di meja Ran dan dia langsung bisa menemukannya. Dengan segera bunda mengolesi tangan dan kaki Ran yang dingin itu dengan minyak kayu putih. Tak lupa bunda juga mendekatkan minyak itu ke hidung Ran agar Ran segera tersadar.
Ran menggeliat. Dia membuka matanya perlahan. Wajahnya masih pucat. Dia memandang ke sekeliling ruangan. Ran masih bingung. Dimana sekarang dia berada. Setelah sejenak terdiam, Ran mulai memahami situasi.
" Bunda.. Hiks... Hiks.. Hiks.." pecahlah tangisan Ran ketika melihat bunda dan Ayah , Ran langsung menangis tersedu. Dia bangkit dan memeluk bunda. Ran menangis dalam pelukan bunda. Ran merasa sangat takut.
" Ada apa Ran. Hm.. Katakan ada apa." Bunda mengusap punggung Ran dengan perlahan dan penuh kasih sayang. Bunda yakin Ran pasti mengalami kejadian yang menyeramkan. Melihat keadaan Ran, bunda yakin sekali dengan pemikirannya itu.
Ran melepas pelukannya. Dia memandang bunda. Kemudian melihat ke arah Ayah dan juga Rama secara bergantian. Ran menjadi bingung. Haruskah dia bercerita? Ran hanya takut melukai kedua orang yang sangat dia sayangi seperti orang tua kandungnya sendiri.
" Bilang saja kak, ada apa yang sebenarnya, kenapa kakak bisa pingsan di depan kamar mandi." Rama tahu keraguan yang Ran perlihatkan. Rama ingin Ran bercerita dan mengatakan yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Ran memandang satu persatu mereka yang ada disana sekali lagi. Dia ingin memastikan kalau apa yang dia alami, pantas untuk diceritakan.
Ayah dan bunda mengangguk, memberi kekuatan pada Ran untuk bercerita. Ran menarik nafas panjang dan berat. Apa dia tega menceritakan apa yang dia alami selama ini. Namun dia tidak bisa menanggung semuanya sendirian. Sungguh Ran tidak sekuat itu. Berkali-kali mengalami kejadian yang menyeramkan membuat, jiwanya sedikit terganggu. Rasa takut berlebihan sering dia rasakan di kala sendirian di malam hari.
"Ran, jangan ragu, katakan saja. " Bunda mengusap lengan Ran memberi keyakinan pada Ran untuk mengungkapkan semua yang dia rasakan.
Ran mengangguk. Dia minum air yang disodorkan Rama padanya terlebih dahulu. Setelah itu dia pegang gelas itu dengan erat , menyalurkan rasa ragu yang masih ada dalam hatinya. Ran hanya tidak ingin ayah dan bunda terluka dan bersedih.
" Ran... jangan takut. Kita lebih senang jika kamu jujur, berkatalah yang sebenarnya." Bunda menyentuh bahu Ran dan menatap Ran dengan lembut.
" Ayah.. Bunda..." Ran berhenti sejenak. Kembali dia tarik nafas panjang. Dadanya terasa sesak.
" Lanjutkan nak.. "Ayah mengambil kursi dan menaruhnya mendekati di mana Ran duduk.
" Sebelumnya Ran minta maaf. Kalau nanti cerita Ran melukai hati ayah dan bunda.." Ran memandang ayah dan bunda bergantian dengan sedih.
Ayah dan bunda saling pandang dan kemudian keduanya mengangguk mantab.
" Katakan saja Ran, kita berdua sudah siap mendengarkan semua cerita kamu."
Kembali Ran mengambil nafas panjang. Jantung nya berdebar sangat cepat. Dia harus sanggup bercerita tentang hal yang dia alami selama ini. Ran sudah tidak sanggup menanggungnya sendiri.
" Beberapa hari ini Ran mengalami hal yang aneh,.. " Ran berhenti sejenak. Dia menunduk dalam-dalam. Tidak berani memandang ayah dan bunda.
" Aneh.. maksudnya aneh bagaimana Kak.." Rama menyela ucapan Ran.
" Ran beberapa kali diganggu dengan suara-suara aneh .." Ran berhenti lagi. Dia sedang mencari kata-kata yang pantas untuk menceritakan semuanya. Supaya tidak menyakiti hati ayah dan bunda.
" Contohnya seperti apa Ran.. " Bunda memandang Ran, bunda sedang menduga apa yang sebenarnya Ran alami.
" Beberapa kali ada yang memanggil nama Ran, saat Ran di dapur dan tadi juga.." Ran meremas jemarinya. Masih terbayang bagaimana rasanya saat dia mengalami kejadian tersebut.
" Jadi, tidak hanya sekali. Pantas belakangan kamu terlihat aneh kalau sedang di dapur." Ayah memandang Ran iba.
" Terus apalagi Ran, cerita sama kita. Ceritakan semua kejadian yang kamu alami. Jangan kamu pendam sendiri. " Bunda menatap Ran dengan sedih. Anak gadis yang selalu menggetarkan jiwanya itu sedang mengalami hal yang menyeramkan dan dia hadapi sendirian, seandainya tidak ketahuan Rama tadi.
" Beberapa kali pula Ran melihat penampakan..."
" Penampakan seperti apa... katakan Ran.. Katakan.."
Bunda sudah tidak sabar mendengarkan kelanjutan cerita Ran. Bunda terlihat sedih. Bunda sangat takut jika apa yang dia dengar benar adanya. Penampakan arwah penasaran dari putrinya.
Ran memandang bunda dengan sendu. Apa yang dia takutkan kini dia saksikan langsung. Bunda yang sudah Ran anggap seperti bunda kandung itu terlihat sedih. Ran tidak tega meneruskan ceritanya.
" Ran , lanjutkan cerita kamu. Penampakan seperti apa yang kamu alami selama ini.." Ayah juga merasa penasaran dengan cerita Ran.
" Penampakan perempuan cantik yang selalu memanggil nama Ran dengan muka sedih..." Ran semakin menunduk. Airmata mulai menetes di pipinya. Bukan hanya karena rasa takut. Namun juga rasa sedih yang mendalam. Ran hanya tidak pernah menyangka hal ini terjadi. Walaupun dalam diri Ran ada keyakinan kuat bahwa kejadian tersebut karena ada sangkut pautnya dengan seseorang yang sedang dengan sengaja ini membuat keluarga Arin dalam keterpurukan.
" Ran... Apa... Apa..apa perempuan cantik itu menyerupai Arin..." Bunda bertanya dengan jantung yang berdetak kencang. Ketakutan dengan kenyataan yang tidak ingin dia dengar sangat menakutkan baginya.
Ran mengangguk. Bunda terlihat lemas. Tubuh bunda meluruh. Untung saja bunda duduk di atas pembaringan. Sehingga tubuh bunda tidak sampai jatuh ke lantai.
" Bunda ... Maafkan Ran. Ran tidak bermaksud menyakiti bunda. " Ran sudah sangat ketakutan melihat keadaan bunda. Ran segera memeluk bunda dengan berlinang airmata.
" Bukan salah kamu nak. Bunda tidak pernah menyalahkan kamu. Hiks..hiks.. Hiks." Bunda menangis. Suasana di dalam kamar menjadi sangat sendu.
" Bunda... Bunda ingat apa yang ayah ucapkan. Tidak ada arwah orang mati yang akan menampakkan wujudnya kecuali itu syaiton. Bunda tidak boleh seperti ini.."
Ayah mendekati bunda dan mengusap bahu bunda dengan penuh rasa khawatir. Inilah hal yang ayah takutkan. Hati seorang wanita akan lemah jika sudah tentang anak-anaknya.
" Bunda sudah yuk, kita ke kamar saja. Kita istirahat. Sudah dini hari dan Kalian berdua, Rama dan Ran kalian juga tidur. "
Bunda menggeleng. Bunda masih sesenggukan. Dadanya terasa sangat sesak mendengarkan cerita Ran. Dan Ran mengetahui itu. Untung saja Ran tidak menceritakan secara detail semua yang dia alami. Dan jika itu dia lakukan pasti bunda akan merasa semakin tersakiti.
" Rama sebaiknya kamu kembali ke kamar dan istirahat. Besok kamu sekolah kan." Rama mengangguk. Namun dia belum beranjak. Wajahnya terlihat menahan sesuatu. Seperti amarah yang sedang dia tahan.
"Ayo bunda kita kembali ke kamar. Biarkan Ran juga istirahat. "
Bunda masih diam. Bunda mengusap pipi Ran dengan lembut. Seperti ada perasaan bersalah di hati bunda pada Ran.
" Maafkan Arin ya Ran. Dia telah membuat kamu takut.."
" Bunda...." Ayah berkata sedikit keras. Bukan marah namun dia tidak suka dengan ucapan bunda. Seolah bunda membenarkan bahwa Arin yang menjadi biang keladi semua ini.
" Beberapa kali sudah ayah katakan, ini bukan salah Arin. Ini hanya ada orang yang sedang bermain-main dengan kita."
Ayah terlihat sangat geram. Wajahnya memerah. Ayah merasa sangat terluka dan tidak bisa menerima semua yang terjadi. Ayah sudah bertekad akan segera menyelidiki latar belakang dari semua kejadian ini.
Bunda semakin terlihat bersedih. Ada juga rasa takut, melihat kemarahan sang suami, Pikiran bunda sangat kalut saat memikirkan semua kejadian yang dialami oleh Ran. Rasa sedih dan tidak terima mendengar cerita yang menjelekkan nama sang putri tentu akan membuat seorang ibu menjadi terluka.
Tiba-tiba...
Braaaak.. Cieeet.. Braak..
Suara jendela kamar Arin seperti terbuka dan tertutup sendiri dengan keras. Semua menoleh ke arah jendela. Wajah Arin sudah pucat. Demikian juga dengan bunda. Sedangkan ayah terlihat marah.
Ayah berjalan menuju jendela. Dan kemudian membukanya untuk melihat apa yang ada diluar. Di luar hanya ada gelap dan sepi. Namun sejurus kemudian ayah terlihat menyipitkan mata seperti sedang memperhatikan sesuatu. Ayah seperti melihat sesuatu di kejauhan sana.
Dengan tergesa ayah berlari ke arah depan. Kemudian membuka pintu dengan cepat dan berlari keluar seperti sedang mengejar sesuatu.
Ran dan bunda saling pandang sedangkan Rama segera menyusul ayah.
"Ada apa yah.. Apa yang ayah lihat..?" Rama menyusul ayah dengan segera. Dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ayah masih berada di halaman rumah. Pandangan matanya berkeliling melihat ke segala arah. Seperti mencari sesuatu. Namun sepertinya ayah kehilangan apa yang dia cari.
" Ayah melihat apa.."
Rama masih penasaran dengan apa yang ayah cari.
" Ayah ada apa sih.."
Bunda dan Ran ternyata juga menyusul Ayah ke depan rumah. Pandangan mata mereka ikut berkeliling melihat ke segala arah berharap bisa menemukan apa yang mereka cari. Namun mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Yang nampak di kejauhan hanya bayangan pohon dan juga rumah tetangga sekitar mereka.
Namun mereka tidak tahu jika di sudut rumah seorang warga, ada sepasang mata yang sedang mengawasi rumah keluarga Arin. Dengan tatapan penuh dendam orang tersebut menatap tajam ke arah ayah.
" Ini baru awal Yanto.. Tunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tunggu kejutan dari ku.. Hahahaha.. Hahaha."
Ayah terkejut. Ayah mendengar tawa itu. Tatapan ayah melihat tepat dimana orang tersebut berada.
Namun sejurus kemudian suasana kembali sepi, sunyi. Ayah hanya terdiam memandang ke arah suara tadi. Sepertinya ayah mengetahui sesuatu. Seperti ayah mengenali tawa itu.
" Baiklah kalau ini yang kamu mau. Tunggu aku. Akan aku hadapi semuanya. Kamu jual aku beli.." Ucap ayah sambil mengepalkan tangan.
" Ayah..."
Bunda, Rama dan Ran memandang Ayah dengan penuh rasa ingin tahu. Namun ketika menyadari semua orang memandang ke arahnya ayah cuma tersenyum penuh arti.
Siapa kah dia? Mungkin kah ayah sudah menemukan titik terang?
Bersambung
Terima kasih Telah mampir. Love buat kalian semua ❤️❤️❤️
bakalan cerita ga ni si Ran😵😵
eh eta penunggu pohon jambunya mulai nongolin diiri yaa 🙈🙈hiii ko seremm🏃♀🏃♀
terimakasih sudah menghadirkan cerita ini sukses terus oyys.
di tunggu novel berikutnya