NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Keesokan paginya, udara terasa sedikit lembap sisa hujan semalam. Setelah bersiap-siap, Aletta berjalan keluar gerbang kosan untuk membeli sarapan di lapak penjual gorengan yang biasa ada di depan sana.

Di sana sudah banyak orang yang mengantri membeli pisang goreng, bakwan, dan tahu isi yang masih hangat dan renyah.

Saat sedang menunggu giliran, Aletta melihat ada sosok Ibu ibu yang juga sedang membeli gorengan tidak jauh darinya, ibu ibu yang tinggal tidak jauh dari kosan mereka dan sering lewat di depan sana. Aletta menyapanya dengan sopan, dan ibu itu pun membalas sapaan itu ramah.

Namun, saat mereka berdua menunggu pesanan masing-masing, ibu tersebut perlahan mendekat ke arah Aletta dengan nada bicara yang pelan seolah takut didengar orang lain. Wajahnya tampak serius dan agak berhati-hati.

"Ehm... Neng, boleh bicara sebentar?" tanyanya pelan.

"Boleh dong, ada apa ya, buk?" jawab Aletta bingung.

Ibu tersebut melihat ke kiri dan ke kanan sekilas, lalu melanjutkan bicaranya, "Begini, Neng ... Sebenarnya saya mau kasih tahu kamu informasi yang beredar di sekitar sini. Katanya pemilik kosan sudah mengeluarkan aturan tegas mulai sekarang dilarang keras membawa laki-laki masuk ke dalam area kosan, apalagi sampai menginap, apalagi menjelang waktu Maghrib. Katanya tetangga sekitar banyak yang protes dan merasa terganggu, jadi aturannya jadi sangat ketat. Kamu dan teman-temanmu harus hati-hati ya, jangan sampai ketahuan atau kena teguran nanti," jelas Ibu tersebut panjang lebar.

Mata Aletta terbelalak kaget mendengar kabar itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Ia langsung teringat kejadian semalam saat Diego, Arga, dan Gery terpaksa menginap karena keadaan darurat. Ternyata hal itu sudah menjadi pembicaraan dan dilarang keras.

"Wah, beneran begitu, buk? Makasih banget udah kasih tahu saya duluan. Saya bakal hati-hati dan mengingatkan teman-teman yang lain," kata Aletta dengan nada cemas.

"Iya, hati-hati ya. Saya cuma mau mengingatkan aja supaya kalian nggak kena masalah," jawab ibu tersebut sebelum akhirnya berpamitan dan pergi membawa bungkusannya.

Sepulangnya dari membeli gorengan, wajah Aletta yang tadinya ceria perlahan berubah menjadi murung dan serius. Dia masuk ke dalam kamar dan duduk diam di tepi tempat tidur.

Pikirannya terus berputar memikirkan kabar yang baru saja dia dengar dari Ibu tersebut. Dia merasa khawatir dan gelisah. Dia takut kalau kejadian semalam itu sudah diketahui oleh pemilik kosan atau tetangga, dan takut kalau teman-temannya akan ditegur atau bahkan dimarahi.

Namun, entah kenapa, Aletta merasa berat hati untuk menceritakan kabar itu kepada teman-temannya yang lain. Dia takut kalau memberitahu mereka, suasana hati mereka akan rusak dan jadi cemas sepertinya.

Dia juga takut mereka akan merasa bersalah atau takut. Dia berpikir, Mungkin lebih baik gue simpan dulu berita ini sendirian. Biar gue saja yang memikirkannya, asal teman-teman tetap bisa tenang dan ceria seperti biasa.

Sejak saat itu, Aletta jadi sering terlihat melamun. Saat makan, saat istirahat, atau saat sedang mengobrol, pikirannya sering melayang entah ke mana. Kadang teman-temannya bertanya, "Al, kok melamun terus sih? Ada apa?" Tapi Aletta hanya tersenyum tipis dan menjawab, "Nggak apa-apa kok, cuma capek aja habis tidur kurang nyenyak semalam." Dia terus menyimpan kekhawatirannya itu sendirian di dalam hati, memendam gosip dan aturan keras itu tanpa sepengetahuan siapa pun.

Siang harinya, saat matahari mulai bersinar terik dan teriknya mulai menyengat, Aletta keluar kamar hendak mengambil air di halaman belakang. Baru saja dia melangkah keluar pintu, matanya terbelalak kaget melihat pemandangan di hadapannya.

Halaman rumah dan jalan masuk ke kosan itu terlihat sangat berantakan dan kotor. Sampah-sampah plastik, bungkus makanan bekas, tisu bekas, dan sisa-sisa kemasan makanan berserakan di mana-mana.

Ada yang di bawah pohon, ada yang nyangkut di pagar, bahkan ada yang terapung di genangan air sisa hujan kemarin. Pemandangan itu sangat menyedihkan dan membuat hati siapa saja yang melihatnya jadi kesal.

Ya Tuhan... Kok bisa jadi kotor begini ya? Pasti sisa-sisa kemarin pas kita ngeliwet ramai-ramai. Kita sibuk dan panik pas kejadian Oca kesurupan sampai lupa membereskan semuanya dengan benar, batin Aletta merasa bersalah dan sedih melihat halaman yang indah jadi berantakan seperti itu.

Segera saja, Aletta memanggil teman-temannya yang lain. "Teman-teman! Coba kalian lihat ke halaman sini... Kok jadi kotor dan penuh sampah begini ya?"

Semua gadis itu segera berhamburan keluar dan sama kagetnya dengan Aletta. Wajah mereka yang tadinya ceria langsung berubah menjadi sedih dan menyesal.

"Aduh... Maaf ya semuanya. Kemarin kita sibuk dan panik banget sampai lupa bersih-bersih dengan benar. Jadi begini jadinya," kata Cika menunduk malu.

"Sudah nggak usah saling menyalahkan. Sekarang kita kerjasama membersihkannya ya, biar halaman ini bersih dan indah lagi kayak biasanya," kata Widi dengan bijak.

Tanpa menunggu lama, mereka semua segera beraksi. Mereka mengambil sapu, pengki, kantong sampah, dan ember. Mulai dari Widi, Cika, Marina, Silvia, Luna, Oca, hingga Aletta, semuanya bekerja sama dengan rajin dan semangat. Mereka menyapu daun kering, memungut sampah plastik, mengumpulkan sisa makanan, dan membersihkan genangan air yang kotor.

Suasana halaman jadi riuh dengan suara sapuan dan obrolan mereka. Meski panas dan lelah, mereka saling bercanda dan saling membantu, sehingga pekerjaan berat itu terasa jadi lebih ringan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, halaman yang tadinya berantakan sudah kembali bersih, rapi, dan segar kembali.

Setelah lelah bekerja dan badan mereka terasa lengket bercampur keringat, mereka pun bersiap untuk mandi dan membersihkan diri. Namun, kejadian mengerikan semalam masih sangat membekas di hati mereka semua. Rasa takut dan khawatir masih terasa jelas.

Akhirnya, mereka sepakat untuk mandi secara berpasangan-berpasangan. Tidak ada yang berani masuk ke kamar mandi sendirian, karena bayangan suara tangisan dan kejadian aneh semalam masih terus terbayang di kepala mereka.

"Kita mandi berdua aja ya? Aku masih takut banget kalau sendirian," pinta Oca dengan suara lirih.

"Iya, aku juga takut banget. Yuk, aku sama kamu aja ya, Oca," jawab Luna segera merangkul bahu temannya itu.

Begitu pun dengan yang lain Silvia dan Marina berdua, Widi dan Cika berdua, dan Aletta berpasangan dengan yang lain.

Di dalam kamar mandi, mereka tidak saling meninggalkan, selalu berbicara atau bernyanyi kecil agar suasana terasa aman dan tidak menakutkan. Mereka merasa jauh lebih tenang dan nyaman saat berdekatan dan saling menemani.

Malam harinya, setelah semua kegiatan selesai dan suasana di kosan mulai hening dan tenang kembali, Aletta duduk di tepi tempat tidur sambil memegang ponselnya erat-erat. Pikirannya kembali kacau mengingat semua kejadian hari ini kabar larangan dari ibu tersebut, rasa khawatir yang dia pendam sendiri, kejadian sampah berserakan, hingga rasa takut yang masih ada.

Dia sangat ingin sekali mengeluarkan semua beban di hatinya, dan satu-satunya orang yang dia percaya dan ingin dia ajak bicara saat itu adalah Jonathan, pacarnya yang sudah lama tidak dia temui dan jarang berkomunikasi.

Dengan tangan sedikit gemetar, dia mulai mengetik pesan panjang lebar untuk Jonathan, menceritakan segalanya dari awal sampai akhir dengan jujur dan terbuka.

Dia menceritakan tentang aturan ketat kosan yang baru dia dengar, tentang rasa khawatirnya yang dia simpan sendiri, tentang kekacauan sampah di halaman, hingga rasa takut yang masih dia rasakan karena kejadian aneh semalam.

Dia menuliskan semuanya dengan perasaan yang jujur, seolah-olah Jonathan ada di hadapannya dan sedang mendengarkannya bicara.

"Jonathan... Aku bingung dan takut banget rasanya. Banyak hal yang terjadi belakangan ini, dan rasanya berat banget kalau harus aku pendam sendiri. Aku kangen banget sama kamu, aku pengen ada kamu di sini buat nenangin aku... Kamu sehat kan di sana? Kapan kita bisa ngobrol lama kayak dulu lagi?" tulis Aletta di akhir pesannya dengan hati yang sangat rindu dan sedih.

Setelah mengirim pesan itu, Aletta menatap layar ponselnya berharap ada balasan secepatnya. Namun, dia sadar bahwa di asrama Jonathan tidak selalu ada sinyal atau ponselnya mungkin masih disita.

Dia hanya bisa berdoa dan menunggu dengan sabar, berharap setidaknya membaca pesan itu bisa membuatnya merasa sedikit lebih tenang dan dihargai.

Setelah pesan panjang itu terkirim, Aletta meletakkan ponselnya di atas bantal, lalu memeluk kedua lututnya erat-erat. Matanya terus menatap layar ponsel yang redup, berharap ada tanda balasan yang muncul secepatnya.

Namun, detik demi detik berlalu, menit berganti jam, layar ponsel itu tetap diam dan tidak berubah sama sekali. Tidak ada balasan masuk, tidak ada panggilan, bahkan tidak ada tanda bahwa pesannya sudah dibaca.

Hati Aletta perlahan terasa perih dan kecewa. Pikiran buruk mulai bermunculan lagi di kepalanya, menambah beban yang sudah dia rasakan sejak pagi tadi.

Apakah dia tidak peduli padaku? Apakah dia sibuk sekali sampai tidak sempat membalas pesanku? Atau memang benar ponselnya masih disita dan dia sama sekali tidak bisa melihat pesan ini? batinnya bertanya-tanya dengan rasa sedih yang mendalam.

Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri seperti biasa, mencoba meyakinkan hatinya bahwa Jonathan pasti baik-baik saja dan pasti akan menghubunginya jika sudah bisa.

Dia mengingat kembali alasan yang selalu dia pegang teguh aturan asrama yang ketat, ponsel yang disita, dan hanya boleh dipakai saat hari libur saja.

Aletta menghela napas panjang dan mencoba tersenyum sendiri. Aku harus sabar. Aku harus percaya padanya. Dia pacarku, dia orang baik, dia pasti ingat padaku. Dia cuma belum punya kesempatan saja, gumamnya pelan.

Namun, meskipun dia mencoba berpikir positif, rasa kesepian dan berat hati itu tetap sulit dihilangkan. Rasanya sangat ingin sekali mendengar suara Jonathan saat itu juga, ingin didengarkan dan ditenangkan seperti dulu. Tapi apa daya, dia hanya bisa diam dan menunggu.

Karena merasa gelisah dan tidak bisa tidur, Aletta memutuskan untuk keluar kamar sebentar dan duduk di teras depan kosan. Udara malam yang sejuk dan angin yang berhembus lembut sedikit banyak membuat perasaannya menjadi lebih tenang.

Di sana, dia melihat Silvia dan Widi yang sedang duduk berdua sambil mengobrol pelan, sepertinya mereka juga belum mengantuk.

Melihat Aletta keluar dengan wajah yang tampak murung dan lesu, Silvia segera melambaikan tangan memanggilnya.

"Al! Sini duduk sama kami. Kenapa belum tidur? Masih takut sendirian di kamar ya?" tanya Silvia lembut saat Aletta duduk di samping mereka.

Aletta tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak sepenuhnya takut sih... Cuma rasanya susah tidur aja. Pikiran gue melayang terus ke mana-mana," jawabnya lirih.

Widi menatap wajah Aletta dengan tatapan menyelidik namun penuh perhatian. "Al, sebenarnya ada apa sih dengan loh hari ini? Sejak pagi tadi loh kelihatan banget ada yang tidak beres."

"Loh sering melamun, senyum loh jarang banget keluar, dan kalau diajak ngobrol jawabnya seadanya aja. Ada masalah apa sebenarnya? Ceritain sama kami, biar kami bantu pikirin atau setidaknya mendengarkan," bujuk Widi dengan nada lembut namun tegas, karena memang Widi itu sepupu jauhnya Aletta yang tidak terlalu akrab dengan nya.

Jantung Aletta berdegup kencang mendengar pertanyaan itu. Ingin sekali rasanya ia menceritakan kabar yang didengarnya dari ibu ibu pagi tadi, tentang larangan keras membawa laki-laki dan ketakutannya kalau mereka semua akan kena masalah.

Tapi bibirnya terasa berat untuk membuka mulutnya. Dia takut kalau dia bicara, teman-temannya akan panik, takut, dan suasana bahagia mereka akan rusak. Dia ingin menjadi gadis yang kuat dan bisa menanggung bebannya sendiri agar teman-temannya tetap tenang dan aman.

Aletta menarik napas panjang sebelum menjawab perlahan, "Sebenarnya... nggak ada masalah yang serius kok, teman-teman. Gue cuma... cuma kangen rumah aja. Kangen Ibu, kangen suasana rumah, dan... kangen seseorang. Rasanya berat banget kadang harus jauh dari orang-orang yang kita sayang dan jarang bisa ketemu atau ngobrol. Itu aja sih yang bikin pikiran gue jadi kacau dan susah tenang," jawabnya dengan hati-hati, hanya menceritakan sebagian isi hatinya tanpa menyebutkan kabar dari ibu tersebut sama sekali.

Silvia dan Widi saling berpandangan, lalu mereka berdua secara bersamaan merangkul bahu Aletta dengan erat dan hangat.

"Ya ampun, Al... Loh harusnya bilang dari tadi kalau loh lagi rindu berat. Kami mengerti banget perasaan loh. Jauh dari rumah dan orang tersayang itu memang berat sekali rasanya. Tapi ingat ya, di sini loh nggak sendirian. Ada kami semua, ada kami sebagai teman, sebagai saudara. Kalau loh kangen atau sedih, cerita aja sama kami, nangis aja kalau perlu. Jangan dipendam sendirian, nanti malah makin berat rasanya," kata Silvia dengan nada lembut dan penuh kasih sayang.

"Iya bener kata Silvia. Anggap kosan ini rumah loh sendiri, anggap kami saudara loh sendiri. Kami di sini buat saling menguatkan, kan? Jadi jangan sungkan lagi ya. Loh gadis yang kuat banget, tapi orang kuat pun butuh tempat untuk bersandar dan bercerita," tambah Widi menimpali dengan tulus.

Mendengar kata-kata manis dan perhatian itu, hati Aletta terasa sangat haru dan hangat. Air matanya kembali menetes, tapi kali ini bukan karena sedih atau takut, melainkan karena ia merasa sangat beruntung dan bahagia memiliki teman-teman sebaik dan perhatian mereka. Ia menangis sejenak di bahu kedua sahabatnya itu, meluapkan semua rasa rindu, rasa takut, dan beban berat yang selama ini ia simpan sendiri.

"Makasih ya teman-teman... Makasih banyak. Rasanya lega banget rasanya didengar dan diperhatikan begitu. Gue sayang banget sama kalian," ucap Aletta di sela-sela isak tangisnya.

"Kami juga sayang banget sama loh, Al. Sudah ya, jangan menangis lagi. Kita harus saling jaga dan saling bahagia di sini," hibur Silvia sambil mengelus punggung Aletta dengan lembut.

Mereka bertiga duduk bersama di teras sampai cukup larut malam, saling berbagi cerita dan perasaan, membuat suasana yang tadinya sepi dan mencekam menjadi hangat dan damai. Perlahan, rasa takut akibat kejadian semalam pun mulai hilang dari hati mereka, digantikan oleh rasa aman karena kebersamaan yang erat itu.

~be to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!