NovelToon NovelToon
Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:712
Nilai: 5
Nama Author: Agung Noviar

Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 SEMUA WARGA BELTRUM

Zeta melangkah perlahan menyusuri jalanan utama Beltrum. Matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga kemerahan yang memantul di antara puing-puing bangunan. Ajaibnya, suasana tidak sesuram yang ia bayangkan. Suara sapu lidi yang bergesekan dengan jalanan, dentuman palu yang memperbaiki pintu, hingga tawa kecil warga yang saling membantu membersihkan sisa-sisa reruntuhan memenuhi udara.

"Hebat ya mereka..." gumam Zeta pelan. Ia berhenti sejenak, memperhatikan sekelompok warga yang bergotong-royong mengangkat sebuah balok kayu besar. "Padahal baru aja serangan fulnox itu, tapi mereka langsung bergerak merapikan isi kota. Semangat mereka benar-benar hebat."

Zeta menghela napas panjang, namun suara perutnya yang keroncongan tiba-tiba merusak suasana puitis itu. Ia memegangi perutnya yang terasa melilit.

"Aduh... lapar banget. Dari siang cuma makan debu di hutan sama apel satu biji terus dihantam Minotaur, lalu disembur red dragon. Kira-kira ada kedai yang buka tidak ya?" Zeta menoleh ke kanan dan ke kiri dengan wajah memelas beharap ada kedai yang buka

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya bertubuh kekar dengan apron yang masih kotor berteriak dari kejauhan. "Hei! Anak muda dari dunia lain!"

Zeta tersentak dan menoleh. Ia mengenali wajah itu pria yang tadi pagi hampir melemparnya dengan makian karena menuduhnya sebagai mata-mata. Pria itu berlari kecil menghampiri Zeta dengan wajah yang tampak sangat menyesal.

"Ah, Paman yang tadi pagi..." gumam Zeta waspada.

Begitu sampai di depan Zeta, pria itu langsung membungkukkan badannya dalam-dalam. "Maafkan aku! Maafkan aku, anak muda! Kami benar-benar tidak tahu kalau Anda adalah ksatria yang dipanggil oleh Putri Stella!" serunya dengan nada penuh penyesalan.

Warga di sekitar sempat menoleh, membuat Zeta merasa sedikit canggung.

"Seharusnya kami lebih bersabar dan mendengar penjelasanmu. Aku benar-benar merasa malu... Aku siap menerima hukuman apa pun darimu sebagai bayarannya. Katakan saja, kau ingin aku melakukan apa?" lanjut sang paman tanpa berani mengangkat wajahnya.

Zeta tertegun sejenak. Di dunianya yang lama, orang-orang dewasa jarang meminta maaf pada anak muda seserius ini, apalagi soal harga diri. Namun, melihat punggung paman itu yang gemetar, sisi oportunis Zeta yang kelaparan tiba-tiba berbisik pelan.

‘Wah, kebetulan banget nih,’ batin Zeta sambil menahan senyum nakalnya. ‘Aku lapar banget. Apa aku minta makan gratis saja ya? Hehehe. Tapi jangan terlihat kalau aku sangat haus makan, jaga image sedikit, Zeta!’

Zeta berdeham, berusaha memasang wajah setenang mungkin. "Sudah, sudah... tidak apa-apa, Paman. Berdirilah. Hehehe, ini semua hanya salah paham kok. Aku tidak memasukkannya ke dalam hati."

Paman itu mengangkat wajahnya, namun matanya masih memancarkan rasa bersalah yang besar. "Tapi aku harus mendapat hukuman! Jika tidak, aku tidak akan bisa tidur tenang. Tolong, mintalah sesuatu dariku!"

Zeta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aduh, beneran deh, aku tidak membenci Paman. Kesalah pahaman itu hal biasa dalam situasi darurat tadi pagi." Zeta pura-pura berpikir sejenak sebelum melanjutkan, "Oya, omong-omong... apa ada kedai yang buka? Aku ingin makan karena dari siang tadi belum sempat menyentuh makanan sama sekali."

Mata paman itu seketika berbinar, seolah baru saja diberikan kunci surga.

"Terima kasih sudah memaafkan saya! Kalau soal makan, jangan cari tempat lain! Aku akan mentraktirmu di kedaiku sepuasnya!" seru paman itu dengan semangat membara. "Kebetulan aku baru saja mau membukanya kembali. Para petualang dan veteran yang lain pasti akan datang untuk menenangkan pikiran mereka di sana. Mari, ikutlah denganku!"

Zeta mengepalkan tangannya di balik saku jaketnya, merayakan kemenangan kecilnya. ‘Hehehe, berhasil! Makan gratis!’

"Baiklah kalau begitu, Paman. Terima kasih banyak!" jawab Zeta dengan senyum lebar yang tulus.

Sambil berjalan berdampingan menuju kedai, suasana antara Zeta dan sang paman menjadi lebih santai. Zeta yang sedari tadi penasaran dengan sosok putri Stella gimana ia bersama masyarakat akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Paman, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Zeta pelan.

"Tentu saja. Tanyalah apa saja," jawab paman itu dengan ramah.

"Menurut Paman, Putri Stella itu orang yang bagaimana? Apa Paman setuju jika suatu saat nanti dia menjadi penerus Raja?"

Paman itu terdiam sejenak, matanya menatap ke arah langit sore seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. Ia tersenyum tipis. "Putri Stella, ya? Terkadang, aku tidak melihatnya sebagai seorang putri."

Zeta menghentikan langkahnya sebentar, dahinya berkerut. "Bukan sebagai putri? Maksud Paman?"

"Iya, bukan sekadar bangsawan tinggi," paman itu melanjutkan. "Karena jika melihat Putri Stella, aku sudah anggap dia seperti anak ku sendiri. Dia benar-benar tulus dan tegas. Berbeda dari stereotip putri kerajaan iblis atau bangsawan kuat lainnya, dia suka berbaur dengan masyarakat. Tertawa bersama, makan bersama di pinggir jalan, bahkan dia sangat memperhatikan kesehatan rakyat kecil."

Paman itu menghela napas haru. "Kami semua menganggapnya seperti keluarga. Itulah sebabnya tadi semua warga sangat ketakutan dan sedih saat ia bertarung melawan Fulnox. Kami tidak takut mati karena fulnox, kami takut kehilangan dia."

Zeta menyimak setiap kata dengan saksama. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Mendengar pengakuan jujur dari rakyat kecil seperti paman ini membuat pandangan Zeta terhadap Stella berubah total.

"Terima kasih, Paman. Dia benar-benar hebat, ya..." gumam Zeta.

Dalam diamnya, Zeta membatin,'Ternyata permintaan dia untuk membawa kedamaian dan mengalahkan Zetobia adalah permintaan yang tulus. Dia tidak sepenuhnya salah memanggilku ke sini dengan paksa.

Zeta tersenyum pahit mengingat memori kelamnya. 'Mungkin ini takdir. Doa tulus Stella kepada Dewa untuk melindungi rakyatnya telah menarikku ke sini. Aku janji, Putri... aku akan berusaha semaksimal mungkin.'

Paman kedai itu melirik Zeta yang tersenyum sendiri, lalu menyenggol lengannya jahil. "Apa kamu tertarik dengan Putri Stella? Dia sangat cantik, lho!"

"Eh?! Tidak, tidakkk! Aku hanya kagum dengan tekadnya saja!" seru Zeta dengan wajah yang mendadak memerah.

"Hahaha! Dasar anak muda, jangan malu-malu begitu!" Paman itu tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Zeta yang panik.

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan kedai. Di sana, ternyata sudah berkumpul banyak veteran perang dan petualang. Begitu melihat Zeta, suasana yang tadinya bising mendadak hening. Serempak, mereka semua membungkukkan badan.

"Ksatria Dunia Lain! Maafkan kami semua! Tadi pagi kami sempat mengusir dan menghinamu!" teriak mereka kompak.

Zeta tertegun, lalu tersenyum kecil. "Hahaha, sudah, sudah. Aku sudah memaafkan paman pemilik kedai ini, itu berarti aku sudah memaafkan kalian semua."

Mendengar itu, para pria berotot dan petualang tangguh itu justru terharu. "Huhuhuuu... Terima kasih, Ksatria! Kalau begitu, hari ini kami semua yang akan mentraktirmu! Mari kita rayakan kemenangan kita atas Fulnox!"

Di dalam kedai, suasana pecah oleh kegembiraan. Zeta duduk di tengah-tengah mereka, menyantap makanan yang dihidangkan dengan sangat lahap. Suara denting gelas, tawa keras para veteran, dan aroma masakan yang menggugah selera memenuhi ruangan.

Zeta tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu para petualang yang berebut makanan. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di dunia ini, rasa kesepian yang ia rasakan di halaman istana tadi menguap. Di sudut kota yang hancur ini, Zeta menemukan kehangatan yang selama ini ia cari.

1
T28J
udah lama saya gak baca si Zeta 🙏
Pak Heru2025
lanjut thor
T28J
karena keren saya kasih anda /Rose//Rose//Rose/
Frando Wijaya
oh? cerita yg menarik...tpi nanti aja gw baca...krn ada novel lain yg gw blom baca
Zetavia: yeeyyy makasih kakk 😍😍
total 1 replies
Pak Heru2025
💪 lanjut min
Zetavia: siappp kakkk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut
Zetavia: okee kakk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut min
Alia Chans
semangat thort👈
Zetavia: makasih kakk
total 1 replies
Juun
kerjasama airon sama lytia keren hebattt
Juun
😍😍😍😍
Wawan
Semangat ✍️
T28J
kereeen 👍
Juun
wahh gilaaaaaaa asik bangettt
Zetavia: terima kasih 💪🙏😍
total 1 replies
Juun
keren dah
Juun
kalo di buat anime bagus loh ini
Juun
asikk bangettttt makin penasaran😍
Juun
suka banget biasanya pahlawan lawan raja iblis ini beda🤣
T28J
Zeta ... Zeta 🤣
T28J
mampir kemari,
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍
Zetavia: terima kasih kak boleh tuhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!