Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Undangan Misterius
Ada jenis kelelahan yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan tidur. Jenis kelelahan yang meresap ke dalam tulang sumsummu, membuat setiap tarikan napas terasa seperti mengangkat beban seberat puluhan kilogram.
Aku berdiri di depan wastafel kamar mandiku, membiarkan keran air dingin menyala tanpa henti. Aku menangkupkan kedua tangan, menampung air itu, lalu membasuh wajahku berulang kali hingga kulitku terasa kebas.
Saat aku mendongak menatap cermin, wanita yang membalas tatapanku tampak seperti orang asing. Lingkaran hitam di bawah mataku semakin pekat, menyerupai memar. Bibirku pecah-pecah karena terlalu sering digigit saat menahan cemas. Namun, yang paling menakutkan adalah sorot mataku sendiri. Ada kekosongan di sana, sebuah keputusasaan yang lahir ketika fondasi duniamu runtuh tak bersisa.
Aku mematikan keran air. Suara gemericik itu berhenti, menyisakan keheningan apartemen yang terasa menekan gendang telinga.
Aku berjalan menyeret langkah menuju meja makan kecil di ruang tengah. Di atas meja kayu itu, tergeletak map hitam yang kucuri dari brankas ayahku kemarin. Dokumen pembunuhan. Perintah eksekusi untuk keluarga Arlan.
Hanya dengan melihat sampul plastiknya saja, perutku kembali mual. Darmawan Salim, pria yang darahnya mengalir di nadiku, adalah monster yang merancang neraka bagi Arlan.
Sementara Arlan... pria yang memiliki tawa hangat dan memakaikan jasnya ke bahuku di bawah hujan... adalah sang Joker. Pembunuh tanpa wajah yang mematahkan tulang dan membakar musuh-musuhnya hidup-hidup.
Dua sisi mata koin yang berlumuran darah. Dan aku terjebak tepat di tengah-tengahnya, memegang lencana kepolisian yang kini terasa lebih seperti lelucon murahan daripada simbol keadilan.
Aku menarik kursi dan duduk, menyandarkan kepalaku ke lipatan tangan di atas meja. Aku belum memejamkan mata sejak dari markas kepolisian. Otakku menolak untuk mati. Jika aku tidur, bayangan tatapan kosong Arlan yang diceritakan Bima, sang tentara bayaran, akan kembali menghantuiku. Jika aku tidur, aku akan melihat wajah ayahku yang tersenyum saat menandatangani surat pembunuhan.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu depan apartemenku.
Tok. Tok.
Hanya dua ketukan. Sangat pelan, nyaris seperti suara ranting pohon yang bergesekan dengan kaca jendela. Tapi di lantai lima belas gedung apartemen ini, tidak ada pohon.
Otot bahuku menegang seketika. Rasa kantuk yang tadinya menggantung di pelupuk mataku menguap tanpa sisa. Insting bertahan hidupku langsung mengambil alih kemudi.
Siapa yang datang ke apartemenku pada pukul tujuh pagi?
Bram tidak pernah mengunjungiku tanpa menelepon lebih dulu. Dan petugas keamanan lobi selalu menghubungi interkom jika ada kurir paket yang naik.
Aku bangkit dari kursi tanpa mengeluarkan suara gesekan sedikit pun. Tangan kananku meluncur mulus ke pinggang belakang, menarik pistol Glock-19 dari sarungnya. Aku mematikan kunci pengamannya dengan ibu jari. Klik.
Dengan langkah mengendap-endap seperti kucing, aku mendekati pintu utama. Aku merapatkan tubuhku ke dinding di samping pintu, menahan napas, lalu mengintip melalui lubang intip (peephole) kecil dari kaca cembung.
Lorong apartemen di luar sana kosong melompong. Lampu neon lorong berkedip pelan. Tidak ada siapa-siapa.
Aku menunggu selama tiga puluh detik penuh, mendengarkan dengan saksama. Tidak ada suara langkah kaki yang menjauh, tidak ada suara pintu lift yang terbuka atau tertutup. Keheningan yang ada di luar sana terasa tidak wajar.
Dengan tangan kiri yang sedikit berkeringat, aku memutar grendel pintu, lalu menarik gagangnya dalam satu sentakan cepat. Aku melangkah keluar, menodongkan senjataku ke arah kanan dan kiri lorong.
Bersih.
Aku menurunkan laras pistolku perlahan, membuang napas kasar. Paranoiaku mungkin sudah mencapai tingkat yang berbahaya.
Namun, saat aku menunduk untuk melangkah kembali ke dalam, ujung sepatu ketsku menyentuh sesuatu di atas keset bertuliskan Welcome.
Sebuah amplop tebal berwarna hitam legam.
Tidak ada prangko. Tidak ada nama pengirim. Hanya namaku, "Elara", yang ditulis tangan menggunakan tinta perak di bagian depannya. Guratan hurufnya tajam, tegak, dan sangat rapi.
Aku berjongkok, mengamati amplop itu dengan saksama. Aku tidak langsung menyentuhnya. Di dunia divisi pembunuhan, benda tanpa nama yang diletakkan di depan pintu bisa saja berisi racun sentuh atau serbuk antraks. Menggunakan lengan bajuku untuk melapisi jari, aku memungut amplop itu. Benda itu terasa lebih berat dari sekadar kertas.
Aku membawa amplop itu masuk, mengunci pintu kembali dengan tiga lapis keamanan.
Aku meletakkan amplop hitam itu di atas meja dapur. Menggunakan pisau buah, aku merobek bagian atasnya dengan hati-hati.
Sesuatu yang keras dan terbuat dari logam meluncur keluar, berdenting pelan saat membentur permukaan meja kaca.
Sebuah kunci tua berbahan kuningan. Bentuknya sangat klasik, jenis kunci bergerigi besar yang biasanya digunakan untuk membuka gembok gudang atau pintu besi kuno. Sebagian permukaannya sudah terkelupas dan berkarat, meninggalkan bau logam asam di udara.
Selain kunci itu, selembar kertas karton hitam jatuh menyusul.
Aku mengambil kertas itu. Tulisannya singkat, kembali menggunakan tinta perak yang sama.
Keadilan tidak akan pernah bisa ditegakkan di ruang sidang yang terang benderang. Jika kau ingin melihat sisa-sisa kebohongan yang coba mereka kubur, datanglah sendiri malam ini pukul 20.00. Bawa lencanamu, tapi tinggalkan aturanmu.
Di bagian bawah pesan itu, tertera sebuah alamat koordinat GPS. Bukan nama jalan atau gedung, melainkan hanya deretan angka lintang dan bujur.
Tidak ada gambar wajah badut tersenyum di kertas ini. Tidak ada logo Vanguard Group. Pesan ini sama sekali tidak memiliki identitas.
Pikiranku berpacu liar. Siapa yang mengirimnya?
Arlan? Tidak. Arlan menggunakan kartu serat karbon kelas atas, bukan amplop kertas biasa. Gaya komunikasi Arlan adalah teater dan ilusi. Pesan ini terlalu langsung, terlalu mentah.
Apakah ini jebakan dari ayahku? Darmawan Salim mungkin sudah menyadari bahwa dokumen di brankasnya hilang. Ia tahu bahwa tidak ada orang lain di dunia ini yang berani memasuki ruang kerjanya selain aku. Mengirim pembunuh bayaran untuk membungkam anak kandungnya sendiri dalam sebuah "kecelakaan" di gudang kosong terdengar seperti sesuatu yang sangat mungkin dilakukan oleh pria itu untuk menyelamatkan kulitnya.
Atau... mungkinkah ini dari Jenderal Sudiro? Pria tua yang kini sedang lari dari kejaran pasukan ayahku dan kehilangan semua uangnya. Mungkin ia mencoba memancingku untuk dijadikan sandera, sebuah alat tawar-menawar untuk melawan Vanguard.
Mataku tertuju pada kunci kuningan tua itu. Bau karatnya seolah menempel di rongga hidungku.
Setiap sel di tubuhku berteriak untuk membawa amplop ini ke laboratorium forensik kepolisian. Bram bisa melacak jenis tinta perak itu, mencari sidik jari laten, atau memeriksa rekaman CCTV jalanan di luar gedung apartemenku.
Tapi aku teringat pada wajah ayahku. Aku teringat pada fakta bahwa institusi tempatku bekerja telah disusupi oleh tangan-tangan kotor Vanguard Group. Jika aku melibatkan kepolisian, ayahku akan tahu setiap langkahku. Aku akan buta sebelum pertarungan dimulai.
Aku menatap pantulan wajahku yang kuyu di permukaan kaca meja. Jika aku tidak pergi, aku mungkin akan kehilangan satu-satunya petunjuk untuk memecah kebuntuan ini. Aku tidak bisa terus lari dari kenyataan. Aku harus mengakhiri siklus berdarah ini, apa pun harganya.
Aku mengambil kunci kuningan itu, menggenggamnya erat-erat hingga geriginya yang tajam menusuk telapak tanganku. Rasa sakit kecil itu membantuku memfokuskan pikiran.
Aku akan datang. Dan aku akan datang sendiri.
Sore berganti malam dengan sangat cepat. Langit Jakarta kembali meneteskan gerimis tipis yang menyebalkan, membuat jalanan memantulkan cahaya lampu kota seperti cermin retak.
Aku telah mengganti pakaianku dengan sesuatu yang lebih taktis. Jaket denim hitam tebal, kaus gelap yang menyerap keringat, dan celana kargo yang memungkinkanku bergerak bebas. Sepatu bot kulitku telah kuikat kencang.
Aku memastikan ponsel cerdasku dalam keadaan mati total dan kutinggalkan di laci apartemen. Aku tidak ingin sinyal GPS-ku dilacak oleh Vanguard. Sebagai gantinya, aku hanya membawa sebuah ponsel prabayar murah sekali pakai yang kubeli di minimarket tadi siang.
Aku memeriksa magasin pistol Glock-19 milikku. Lima belas butir peluru penuh. Aku menyisipkan satu magasin cadangan di saku kiriku, lalu menyelipkan sebilah pisau taktis lipat di balik sabukku. Aku bukan lagi sekadar detektif yang mencari bukti untuk pengadilan. Malam ini, aku bersiap untuk perang.
Aku mengetikkan koordinat dari surat itu ke perangkat navigasi offline di mobilku. Layar menunjukkan sebuah titik terpencil di ujung utara Jakarta, dekat dengan garis pantai perbatasan kawasan industri Marunda. Jauh dari permukiman warga, jauh dari jangkauan patroli kepolisian rutin.
Perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam akibat kemacetan parah sisa jam pulang kerja.
Semakin mendekati koordinat tujuan, pemandangan kota yang modern perlahan menghilang, digantikan oleh infrastruktur yang membusuk. Jalan aspal yang mulus berubah menjadi jalan beton berlubang-lubang yang digenangi air lumpur setinggi mata kaki. Tidak ada lampu jalan yang menyala di area ini. Aku harus mengandalkan lampu jauh mobilku untuk membelah kegelapan.
Di sebelah kiri dan kananku, berdiri deretan pabrik-pabrik tua yang atapnya sudah ambruk, ditumbuhi ilalang liar yang tingginya mencapai pinggang orang dewasa. Bau air laut yang amis bercampur dengan aroma busuk dari limbah kimia yang mengendap bertahun-tahun di tanah. Tempat ini terasa seperti kuburan beton.
Titik koordinat di layarku berhenti berkedip. Aku sudah tiba.
Aku mematikan lampu utama mobil, lalu menepikan kendaraanku ke balik semak-semak lebat sekitar lima puluh meter dari titik tujuan agar tidak terlalu mencolok.
Aku keluar dari mobil tanpa membanting pintu. Udara malam yang lembap langsung mencekik paru-paruku. Suara jangkrik dan katak dari balik ilalang terdengar nyaring, namun anehnya, suara alam itu tidak memberikan ketenangan, melainkan menambah kengerian suasana.
Aku menarik ritsleting jaket hingga ke leher, mencabut pistol dari sarungnya, dan mulai berjalan kaki menyusuri jalanan berlumpur.
Di ujung jalan buntu, berdiri sebuah struktur bangunan yang masif. Sebuah gudang raksasa peninggalan era kolonial atau pabrik zaman orde baru. Dinding bata merahnya sudah tertutup lumut hitam dan jelaga. Atap seng gelombangnya banyak yang berlubang. Di bagian atas pintu masuk utama yang terbuat dari besi geser raksasa, terdapat angka '14' yang pudar dilukis dengan cat putih yang mengelupas.
Tidak ada mobil lain yang terparkir. Tidak ada cahaya yang keluar dari celah-celah bangunan. Tempat ini terlihat benar-benar mati.
Aku berjalan mendekati pintu besi geser utama. Digembok dengan rantai baja tebal yang sudah berkarat menyatu dengan besinya. Kunci kuninganku tidak akan muat di sana.
Aku menyusuri dinding samping gudang, merayap dalam kegelapan, meraba dinding bata yang dingin dan basah. Di sisi kanan bangunan, tersembunyi di balik tumpukan palet kayu busuk, aku menemukan sebuah pintu baja kecil yang diperuntukkan bagi akses karyawan.
Ada sebuah lubang kunci kuno di bawah gagang pintunya yang berdebu.
Aku mengambil kunci kuningan dari sakuku. Tanganku sedikit licin oleh keringat dingin. Aku memasukkan kunci itu ke dalam lubangnya. Pas.
Aku memutarnya ke kanan. Terdengar suara krek yang sangat keras dan berat, seolah mekanisme kunci itu menolak untuk dibangunkan setelah tertidur puluhan tahun.
Aku menarik gagang pintunya. Engsel baja yang kekurangan pelumas berderit ngilu, memecah kesunyian malam dengan suara lengkingan yang membuat bulu kudukku berdiri tegak.
Bau udara pengap, debu basi, dan bau jamur langsung menyeruak keluar dari dalam kegelapan gudang, menampar wajahku. Bau tempat yang sudah lama ditinggalkan oleh kehidupan.
Aku menyalakan senter taktis kecil yang terpasang di bawah laras pistolku. Sorotan cahaya putih yang tajam membelah kegelapan pekat di dalam. Ribuan partikel debu menari-nari dalam sorotan cahaya itu, terlihat seperti badai salju mikroskopis.
Aku melangkah masuk, merasakan lantai semen yang tidak rata di bawah sol sepatu botku. Aku menutup pintu baja di belakangku tanpa menguncinya kembali, berjaga-jaga jika aku harus berlari keluar dengan cepat.
Ruangan di dalam gudang ini luar biasa luas. Langit-langitnya sangat tinggi, ditopang oleh pilar-pilar besi penyangga yang diselimuti sarang laba-laba tebal. Di beberapa titik, tetesan air hujan dari atap yang bocor jatuh ke lantai, menciptakan suara gema tik... tik... tik... yang ritmis dan mengganggu konsetrasi.
Aku melangkah perlahan, menyapu setiap sudut ruangan dengan cahaya senter dan moncong senjataku. Kanan. Kiri. Bersih.
Gudang ini tidak sepenuhnya kosong. Di sebelah kiri, terdapat tumpukan drum-drum besi berkarat yang entah apa isinya. Di sebelah kanan, ada sisa-sisa konveyor sabuk mesin yang sudah hancur.
Aku terus masuk lebih dalam. Suara detak jantungku di telingaku sendiri terasa lebih bising daripada suara tetesan air.
Tiba-tiba, cahayaku menangkap sesuatu di tengah-tengah ruangan luas tersebut.
Langkahku terhenti seketika. Jari telunjukku menegang di atas pelatuk.
Sekitar dua puluh meter di depanku, tepat di tengah area yang kosong, terdapat sebuah kursi kayu tua. Kursi itu berdiri sendirian.
Dan di atas kursi itu, ada sesuatu yang diletakkan dengan sengaja. Sebuah kotak berukuran sedang.
Bukan itu yang membuat napasku tertahan. Di belakang kursi itu, menggantung sebuah lampu sorot industri dengan kabel tebal menjulur ke atas kegelapan langit-langit.
Seolah merespons kehadiranku, lampu sorot itu tiba-tiba menyala dengan bunyi KTAK yang sangat nyaring.
Cahaya putih kekuningan yang luar biasa terang menyorot lurus ke bawah, menerangi kursi kayu dan kotak di atasnya seperti sebuah panggung teater yang sunyi.
Aku memicingkan mata, mundur satu langkah, mencari perlindungan di balik pilar besi terdekat. Jika ada lampu yang menyala, berarti ada aliran listrik. Jika ada aliran listrik, berarti ada seseorang yang baru saja menekan sakelarnya.
"Keluarlah!" teriakku. Suaraku menggema berulang-ulang memantul di dinding beton gudang. "Polisi! Jangan bergerak dari posisimu dan tunjukkan tanganmu!"
Tidak ada jawaban. Hanya gema suaraku yang perlahan menghilang ditelan suara tetesan air.
Aku menunggu selama dua menit penuh. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada bayangan yang bergerak di pinggiran cahaya. Aku sedang sendirian, atau aku sedang diawasi oleh seseorang yang sangat ahli menyembunyikan napasnya.
Sambil terus menjaga laras senjataku terangkat, aku melangkah keluar dari balik pilar. Aku mendekati kursi kayu di tengah sorotan lampu itu dengan gerakan menyamping, memastikan tidak ada orang yang bisa menyergapku dari belakang.
Saat aku berdiri dua meter dari kursi tersebut, mataku akhirnya bisa melihat dengan jelas benda apa yang ada di atasnya.
Sebuah kotak penyimpanan berkas berbahan logam. Tutupnya terbuka separuh.
Aku melangkah lebih dekat. Tangan kiriku dengan hati-hati menyingkap tutup logam itu.
Di dalam kotak tersebut, terdapat belasan tumpukan dokumen yang sudah sangat menguning. Ada juga beberapa kaset pita rekaman suara kuno, dan puluhan lembar foto polaroid yang berserakan.
Aku menyorotkan senterku ke foto polaroid yang paling atas.
Perutku langsung melilit hebat seolah baru saja ditinju.
Itu adalah foto hitam putih yang menampilkan seorang pria berseragam kepolisian. Ia masih muda, mungkin sekitar akhir dua puluhan. Pria itu sedang tersenyum lebar ke arah kamera, merangkul seorang wanita cantik yang sedang menggendong bayi perempuan di pelukannya.
Pria muda berseragam itu adalah foto mendiang ayah angkatku. Detektif senior yang tewas dalam baku tembak belasan tahun lalu, orang yang menginspirasiku untuk masuk ke akademi kepolisian, dan satu-satunya sosok yang benar-benar kucintai sebelum Darmawan Salim mengadopsiku.
Tapi yang membuat lututku lemas bukanlah wajah ayah angkatku.
Di sudut foto tersebut, di bagian belakang bayangan pria Berseragam itu, terdapat bercak merah. Bukan noda darah yang mengering, melainkan sebuah stempel tinta merah yang masih baru.
Stempel bergambar badut tersenyum.
Aku tersentak mundur, menjatuhkan kotak itu. Kaset-kaset pita dan puluhan foto lainnya tumpah berserakan ke lantai semen.
Mataku membelalak lebar, menatap puluhan wajah yang ada di dalam foto-foto tersebut. Beberapa adalah wajah yang kukenali—polisi, jaksa, politisi. Dan di setiap foto itu, terdapat stempel badut merah yang sama. Semuanya ditandai.
Udara di dalam gudang ini tiba-tiba terasa sangat membekukan. Bau debu dan karat seolah menekan tenggorokanku, mencekik sisa-sisa logikaku.
Jika surat undangan hitam tadi bukanlah dari ayahku atau Jenderal Sudiro... jika undangan ini datang dari sang Joker untuk memamerkan rahasia terdalam tentang masa lalu keluargaku yang sebenarnya...
Sebuah suara derit besi yang sangat panjang dan memekakkan telinga tiba-tiba memecah keheningan dari arah belakangku.
Aku berputar cepat, menodongkan pistolku dengan kedua belah tangan.
Pintu baja kecil yang kugunakan untuk masuk tadi... pintu yang kubiarkan terbuka... baru saja dibanting tertutup oleh sesuatu dari luar. Terdengar bunyi dentang besi tebal yang digeser. Seseorang baru saja mengunci pintu itu dari luar. Menyekapku di dalam kuburan beton ini.
Gudang raksasa ini kembali tenggelam dalam keheningan yang mematikan, hanya diterangi oleh satu lampu panggung yang menyorot kursi tua di depanku.
Jantungku berdebar sangat keras hingga kepalaku berdenyut. Aku menelan ludah, menatap kegelapan pekat yang mengelilingiku di luar lingkaran cahaya lampu.
Siapa yang mengundangku ke gudang ini?