Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip murahan
Hana mengucek matanya dan mendudukkan tubuhnya bersandar pada kepala ranjang.
Ia mengedarkan pandangan sembari mengumpulkan kesadaran.
"Astaga! Lagi-lagi aku tertidur di sini."
Hana bergegas keluar namun perhatiannya teralihkan dengan koper yang sudah tak ada di dekat pintu seperti yang ia letakkan semalam. Itu bukti bahwa Luca telah pergi.
Hana menggerutu terhadap dirinya lagi-lagi ia teledor tidur sembarangan.
Entah mengapa ketika dengan Luca ia sangat mudah tertidur, majikannya itu pasti mengira yang tidak-tidak tentang dirinya.
Sebuah catatan kecil tertempel di kulkas, Hana membacanya.
"Apa denganku kau begitu nyaman?"
Hana berdecak pelan, Luca merasa menang kali ini.
Ia membuang catatan tersebut ke tempat sampah lalu masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap bekerja.
"Hei."
Hana menoleh ketika suara perempuan seperti memanggilnya saat ia akan turun ke lantai bawah.
"Anda memanggil saya, Nona?"
"Tentu, siapa lagi yang ada di sini selain kau."
Wajah cantik milik Helen seperti tertutupi dengan raut garangnya. Hana merasa sepasang tunangan ini sangat cocok karena sifat mereka yang sama.
"Ada apa, Nona?"
"Kau ada hubungan apa dengan tunanganku?"
"Tuan Luca? Beliau adalah bos saya, Nona."
"Selain itu?"
"Tidak ada."
"Kau berbohong?"
"Silakan anda tanyakan pada asisten tuan Luca.
Orang tersebut pasti sangat tahu orang-orang yang dekat dengan tuan Luca."
Helen terlihat kesal dengan jawaban Hana yang menurutnya lancang.
"Cih! Tukang nyapu tapi sok perintah!"
Helen mengeluarkan beberapa kalimat makian sebelum meninggalkan Hana yang bingung.
"Apa orang-orang di sini terbiasa memaki?" Hana menggelengkan kepala lalu melanjutkan turun ke lantai bawah membawa alat kebersihannya.
"Hei, lihat tukang sapu kita. Gayanya seperti gadis polos ternyata seorang pelacur! Haha." Ucap seorang karyawan berambut ikal yang sedang bersama beberapa karyawan tim manajemen.
Kebetulan saat itu sedang ramai di kantin perusahaan sedang makan siang.
Sontak seluruh pasang mata melihat ke arah Hana dan teman seprofesi yang sedang mengantre makan siang.
"Apa kau bilang?"
"Yang mana?"
"Itu! Yang bernama Hana! Gadis muda sok polos itu!" Sontak orang-orang menatap ke arahnya yang kebingungan.
"Apa itu benar, Na?" Bisik rekan kerjanya yang berada di belakang.
"Tidak. Aku pun baru tahu jika ada gosip seperti ini."
Rekannya mengangguk.
"Biarkan saja, Na. Ayo kita makan." Hana mengangguk mengikuti rekannya menuju meja yang kosong.
"Wah! Sangat tidak etis jika ada yang bekerja seperti itu di sini." Ucap salah satu karyawan yang bersikap gemulai.
"Kau tahu dari mana?" Tanya perempuan yang rambutnya di style cantik.
"Aku pernah melihatnya keluar-masuk apartemen elite. Jelas tak mungkin dirinya orang kaya dilihat dari penampilannya sehari-hari yang seperti gembel." Jelas si penyebar fitnah.
"Itu belum membuktikan apa-apa, hanya asumsimu saja. Bisa berujung fitnah." Ucap perempuan yang satunya lagi.
Si penyebar fitnah terlihat panik, lalu mengatakan sesuatu yang ia karang untuk dipercaya oleh orang lain.
"Dia pernah keluar dari unit apartemen dengan seorang pria tua jelek dan gendut, mereka bermesraan. Aku memang tak memiliki foto atau video. Tapi aku bersumpah, aku melihatnya!"
Hana yang jengah mendengar ucapan si penyebar fitnah, melangkah mendekatinya.
"Permisi"
"Apa kau?" Perempuan ikal tersebut menatap jijik Hana yang berdiri di depannya.
"Anda harusnya berhati-hati ketika memberikan sebuah berita. Jika anda berbohong itu sama saja mencelakakan diri anda sendiri. Dan jika itu benar, itu bukan urusan anda." Hana berdiri tegap menatap tajam. Telinganya cukup panas mendengar gosip tentangnya kali ini.
"Jadi itu benar kan? Kau mau menyangkalnya? Hahah" sungguh, melihat wajah perempuan ini membuat Hana kesal.
Sesuai dengan wajah menyebalkannya juga sifat yang mendukung.
"Tolong buktikan bahwa saya memang seorang pelacur seperti yang anda katakan. Saya akan memberi anda uang jika anda berhasil."
"Heh! Aku tak minat dengan uang harammu itu!"
"Jadi, apa keuntungan anda menyebarkan berita bohong? Jika anda mendapatkan uang tentu itu juga uang haram hasil memfitnah orang."
"Apa?! Siapa kau beraninya menceramahiku? Urus urusanmu sendiri!"
"Maka lakukan juga untuk dirimu!" Hana menyiram kuah kari ke wajah si penyebar fitnah tersebut. Sekarang ia sudah tak peduli jika harus dipecat akibat perbuatannya ini.
"KYAAAAA!!!" SIALAN KAU DEKIL!" ia ingin membalas perbuatan Hana namun, ia dicegah oleh teman-temannya.
Gadis itu pergi begitu saja keluar dari kantin. Kini, rasa laparnya sudah hilang.
Sontak hari itu langsung heboh dengan kejadian saat makan siang hingga terdengar ke telinga Luca.
"Apa? Dia diganggu?"
"Benar, selama dia bekerja di perusahaan anda, dia selalu diganggu. Namun, kali ini fatal. Orang tersebut berani memfitnah Nona Hana menjual diri. Orang tersebut merujuk kepada anda, tuan."
"Apa?! Dia mengataiku pria tua jelek dan gendut?" Jelas wajah Luca tak terima mendengar keterangan dari asisten pribadinya.
Ruby hanya diam tanpa menjawab, tak ingin membuat majikannya bertambah marah.
"Beri hadiah pada orang tersebut."
"Ya, tuan?" Ruby mencoba mengulang bahwa ia tak salah mendengar.
"Aku ingin dia merasakan akibat tak melihat dengan jelas ketampananku."
"Baik, tuan."
Luca marah bukan hanya karena Hana difitnah, namun ia juga marah disebut sebagai pria tua yang gendut dan jelek.
"Apa mata orang itu buta? Hingga tak bisa membedakan pria muda yang tampan dengan... Ugh, sialan!" Gerutu Luca mengepalkan tangannya.
Tiga hari berlalu sejak kejadian di kantin, Hana menebalkan telinga dan membutakan matanya terhadap sikap para pekerja di perusahaan.
Ia hanya fokus untuk bekerja, menerima gaji dan pulang. Tujuannya hanya satu, semua hutang lunas!
"Hana, kau sudah dengar beritanya?"
"Kali ini apa lagi?" Setiap pekan pasti ada saja gosip panas yang beredar di kalangan karyawan perusahaan.
"Joy diberhentikan karena kasus penggelapan uang."
"Apa?"
"Ya, tapi Joy melawan ia mengaku tak melakukannya, dan ia resmi dipecat."
"Benarkah?" Hana sudah tidak peduli dengan orang itu.
"Sepertinya dia terkena karma karena telah memfitnahmu, Na."
"Entahlah." Hana mengedikkan bahu merespon ucapan rekan kerjanya.
Hana pulang dengan berjalan kaki karena jarak dari kantor ke apartemen hanya memakan waktu 30 menit dengan berjalan kaki.
Dirinya masih memiliki waktu sekitar satu jam sebelum sampai di apartemen milik Luca.
Langkahnya memasuki kedai sup yang ramai dikunjungi pembeli, ia rela mengantre karena sup di kedai tersebut sangat enak sejak kedai dibuka.
"Hei, lihatlah berita terbaru. Aktor ternama terciduk menginap di hotel bintang lima dengan salah satu cucu pemilik pabrik E." Hana yang tak sengaja mendengar percakapan itu memilih ikut melebarkan telinga agar tak bosan mengantre.
"Aku tahu perempuan ini, dia sering keluar masuk perusahaan B dan dia adalah tunangan CEO di perusahaan itu!"
"Waah.. berita yang menggemparkan di kalangan petinggi."
"Bagaimana kau tahu bahwa perempuan itu tunangannya? Bukankah perjodohan mereka sangat private?"
"Apa kau lupa mulut para bawahannya tidak private? Hahaha" mereka bertiga tertawa keras hingga membuat beberapa orang yang mengantre melihat ke belakang.
Hana diam membisu ketika mendengar info dari orang yang ada di depannya.
"Pasti tuan sangat kecewa mendengar hal itu." Langkah gontai Hana membawanya ke apartemen dengan menenteng sup yang berhasil ia beli.
"Lelahnyaa, tapi aku harus semangat. Saat nanti aku berumur 25 tahun aku akan menjadi perempuan yang mandiri tanpa hutang." Gumamnya memberi semangat pada diri sendiri.
Selama 4hari Hana hanya sendirian di apartemen, sesekali ia menghubungi Ruby untuk suatu keperluan, dengan sigap suruhan Luca tersebut melayani seperti majikannya.