Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Jalan yang Terbuka
Asap hitam perlahan menghilang, terbawa oleh angin sore yang mulai bertiup. Kota Benteng Hijau yang tadi gemuruh oleh perang, dentingan pedang, dan teriakan nyawa, kini kembali hening. Namun keheningan ini bukanlah keheningan kematian, melainkan keheningan setelah badai berlalu—hening yang sarat dengan luka, tapi juga napas lega yang begitu panjang.
Fengyin masih duduk bersandar di tiang batu besar yang retak. Tubuhnya terasa remuk, setiap otot berteriak kesakitan, setiap gerakan saja terasa menyiksa. Darah yang mengalir di sudut bibirnya sudah dibersihkan oleh Yuelan menggunakan kain basah, tapi warna pucat pasi masih melekat kuat di wajahnya, dan matanya terlihat begitu lelah, sehabis menempuh perjalanan ribuan li.
"Berat..." bisik Fengyin pelan, matanya menatap tangan kirinya yang masih gemetar hebat. Gemetar bukan karena takut, tapi karena sisa ketegangan dan kekuatan yang dipaksakan keluar. "Jauh lebih berat dari yang kubayangkan. Xie Wuyou... dia berada di dimensi yang berbeda."
Yuelan duduk tepat di sampingnya, tidak melepaskan genggaman tangan temannya sedikitpun. Tangannya hangat, mengalirkan energi air yang menenangkan, mencoba meredakan rasa nyeri di dalam tubuh Fengyin.
"Tapi kau bertahan, Fengyin. Kau tidak jatuh. Bahkan saat melawan... saat melawan dia." Suara Yuelan tercekat saat menyebut nama itu. Bayangan sosok pria berbaju ungu itu masih begitu menakutkan, masih terasa dingin menusuk sampai ke tulang sumsum. "Kau membuatnya mundur. Kau membuatnya harus mengakui kekuatanmu."
"Kita menang, bukan?!" seru suara bersemangat dari samping.
Itu adalah Tao, salah satu murid Cānglóng Pài yang wajahnya penuh luka gores dan memar, tapi matanya berbinar-binar penuh semangat. "Mereka lari! Pasukan Sekte Naga Hitam lari! Kita berhasil mengusir mereka dari kota ini!"
Beberapa murid lain yang mendengarnya pun bersorak pelan, meski suara itu terdengar serak dan lelah. Kemenangan itu nyata. Mereka berhasil mempertahankan nyawa, mereka berhasil menggagalkan rencana pembantaian di desa-desa.
"Untuk saat ini," tiba-tiba suara berat itu terdengar, memotong suasana euforia yang mulai muncul.
Semua menoleh.
Master Wei Chenghao berjalan mendekat. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari biasanya, ada noda darah di jubah birunya, dan bahunya tampak menanggung beban yang begitu berat. Namun posturnya tetap tegak, bagaikan pohon tua yang tak mau tumbang diterpa badai. Dia menatap ke arah gerbang kota yang kosong, ke arah di mana debu bekas langkah kaki pasukan musuh masih mengambang tipis.
"Mereka mundur bukan karena kalah habis-habisan, dan bukan karena takut pada kalian," kata Master Wei perlahan, suaranya berat dan tenang. "Mereka mundur karena perintah. Kaisar memanggil mereka kembali. Itu memberi kita waktu... waktu yang sangat berharga. Tapi percayalah, waktu itu tidak banyak. Sangat sedikit."
Fengyin mengangguk perlahan. Dia mengerti lebih dari siapa pun. Kemenangan ini adalah kemenangan yang pahit. Mereka selamat, tapi luka yang didapat sangat dalam. Dan musuh terbesar mereka, Xie Wuyou, masih hidup, bahkan mungkin kini memandang Fengyin sebagai ancaman nyata, bukan lagi mainan.
"Kumpulkan yang lain," perintah Master Wei pada murid-muridnya. "Rawat yang terluka dengan segera. Ambil persediaan makanan dan obat yang bisa diselamatkan dari markas ini. Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Sekte Naga Hitam mungkin akan menyadari kesalahan mereka dan kembali kapan saja."
Malam itu, di aula utama bekas markas musuh yang kini mereka duduki, suasana terasa campur aduk. Ada rasa lega, ada rasa sakit karena kehilangan kawan yang gugur, tapi juga ada tekad baru yang tumbuh subur di hati setiap orang.
Setelah semua luka diobati dan situasi mulai terkendali, Fengyin, Yuelan, Ye Xiang, dan Master Wei berkumpul di ruangan paling dalam, tempat yang paling sunyi. Cahaya lilin menerangi wajah-wajah mereka yang tertutup bayangan, membuat suasana terasa semakin sakral dan menentukan.
"Jadi..." Ye Xiang memecahkan keheningan, sambil membersihkan bilah pisau lipatnya dengan kain halus. "Apa rencana selanjutnya? Kembali merayap ke gunung? Bersembunyi di balik kabut lagi sampai mereka lupa wajah kita?"
Master Wei tidak langsung menjawab. Dia menatap api lilin yang bergoyang-goyang, seolah sedang membaca masa depan di dalam nyala api itu. Akhirnya, dia menggeleng pelan.
"Tidak. Waktu untuk bersembunyi sudah hampir habis. Pintu itu sudah tertutup. Sekarang, jalan lain yang harus dibuka."
Dia menatap Fengyin tepat di mata. Tatapan itu dalam, penuh makna.
"Fengyin... apa kau masih ingat apa yang kukatakan tentang Tiānzé Zhě? Yang Dipilih Tuhan?"
Fengyin mengangkat wajahnya. Matanya yang tadi lelah kini kembali menampakkan seberkas cahaya. "Ya. Kau bilang... aku bukan satu-satunya."
"Benar," kata Master Wei dengan nada yang sangat serius, seolah sedang menurunkan warisan turun-temurun. "Jingjie Universal bukanlah kekuatan yang muncul hanya pada satu orang di satu masa. Di kitab kuno Cānglóng Pài tertulis: Saat dunia akan runtuh, Langit akan mengirimkan lima bintang untuk menyeimbangkan dunia. Mereka adalah perwujudan dari elemen-elemen primordial."
"Di masa lalu, saat iblis bangkit atau tiran berkuasa, mereka tidak pernah datang sendirian. Mereka muncul bersama-sama, atau tersebar, namun takdir akan mempertemukan mereka. Masing-masing membawa kekuatan, masing-masing membawa peran. Dan hanya ketika mereka bersatu... barulah kekuatan sejati yang bisa mengubah takdir akan muncul."
Mata Yuelan membelalak lebar, tangannya menutup mulutnya pelan. "Maksud Shifu... ada orang lain seperti Fengyin di luar sana? Di seluruh daratan ini?"
"Sangat mungkin," jawab Master Wei tegas. "Mereka mungkin tersebar di ujung utara, selatan, timur, dan barat Huanjiang. Beberapa mungkin sudah menyadari takdirnya dan sedang berjuang diam-diam. Banyak lagi yang mungkin masih hidup sebagai petani, pedagang, atau pengembara, tidak tahu bahwa kekuatan besar tertidur di dalam diri mereka. Atau... yang paling menyedihkan, beberapa mungkin sudah ditangkap, dibunuh, atau kekuatannya disedot oleh Kaisar Xuancheng untuk ritualnya."
Fengyin terdiam. Pikirannya berputar kencang. Selama dua tahun ini, dia merasa sendirian. Dia merasa beban dunia ada di pundaknya sendiri. Balas dendamnya adalah urusan pribadi. Perlindungannya adalah untuk orang-orang kecil di sekitarnya.
Tapi sekarang... dia sadar. Ini lebih besar dari itu. Ini bukan hanya perang Fengyin melawan Kaisar. Ini adalah perang antara kehendak langit melawan keserakahan manusia.
"Jadi..." Fengyin perlahan mencoba berdiri. Yuelan segera menopang lengannya. Tubuhnya masih nyeri luar biasa, tapi kakinya berhasil menopang berat badannya. "Kita tidak bisa tinggal diam di sini. Jika mereka ada di luar sana... kita harus mencari mereka."
"Kita harus pergi," kata Fengyin, suaranya terdengar lebih dewasa dari usianya yang sepuluh tahun. "Kita harus keluar dari gunung ini. Menjelajahi daratan yang luas ini. Mencari mereka yang memiliki takdir sama. Mencari semua orang yang mau melawan kezaliman, yang ingin membebaskan dunia dari cengkeraman darah ini."
"Tapi..." Yuelan ragu sejenak, matanya menatap sekeliling ruangan, lalu kembali ke wajah Master Wei. "Bagaimana dengan Cānglóng Pài? Bagaimana dengan desa-desa? Jika kita pergi, siapa yang akan menjaga tempat ini?"
"Cānglóng Pài akan tetap menjadi akar," potong Master Wei dengan tegas. "Tempat ini akan tetap menjadi markas, menjadi tempat berlindung, menjadi benteng terakhir di wilayah ini. Aku tidak pergi. Aku akan tinggal di sini. Aku akan melatih murid-murid yang tersisa, aku akan memperkuat pertahanan, aku akan menjadi mata dan telinga kalian saat kalian jauh di luar sana."
Dia menatap Yuelan dengan tatapan lembut namun tegas.
"Tapi kau, Yuelan... kau harus pergi bersamanya. Kekuatan Air dan kekuatan Angin adalah pasangan alam. Kalian melengkapi satu sama lain. Kau bukan hanya temannya, kau adalah keseimbangannya. Kau yang akan menjaga agar api di dalam dadanya tidak membakar dirinya sendiri."
Yuelan mengangguk kuat, air mata hampir menetes tapi dia menahannya. "Aku janji, Shifu. Aku tidak akan pernah meninggalkan sisinya. Ke mana angin pergi, ke sana air akan mengalir."
"Wah, wah... jadi ini perjalanan mencari pahlawan legendaris ya?" tanya Ye Xiang sambil tersenyum miring, lalu dia menyandarkan punggungnya ke dinding batu. "Suaranya epik sekali. Tapi kalau kalian pikir bisa jalan-jalan tanpa pemandu yang handal dan tahu seluk-beluk jalanan... kalian salah besar."
Dia berdiri, menepuk debu di bajunya.
"Dunia luar itu luas, bocah-bocah. Penuh bandit, pemburu hadiah, dan mata-mata Kaisar. Kalian butuh seseorang yang tahu jalan tikus, tahu siapa yang bisa dipercaya, dan yang paling penting... tahu di mana ada uang dan informasi. Jadi... aku ikut."
Fengyin menatap kedua temannya itu. Teman pertamanya, Yuelan, yang setia. Dan Ye Xiang, sang pedagang misterius yang kini memilih menjadi sekutunya.
Beban di pundaknya terasa masih berat, sangat berat. Tapi entah mengapa, langit di atas kepalanya terasa tidak lagi sesak sebelumnya. Karena sekarang... dia tidak sendirian lagi.
Keesokan harinya, matahari terbit lebih cerah dari sebelumnya. Sinarnya menembus celah-celah bangunan yang rusak, menyinari puing-puing pertempuran, seolah memberi harapan baru bahwa kehidupan akan terus berjalan.
Di gerbang luar Kota Benteng Hijau, sebuah perpisahan sederhana namun mengharukan terjadi.
Murid-murid Cānglóng Pài berdiri berbaris rapi. Tidak ada tangisan, tidak ada isak tangis yang pecah. Hanya rasa hormat yang dalam. Mereka tahu, orang-orang yang akan pergi ini membawa harapan mereka. Membawa masa depan mereka.
Fengyin melangkah maju, lalu berbalik. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membungkuk sempurna di hadapan pria yang telah menjadi guru, ayah, dan pelindung baginya selama dua tahun ini.
"Terima kasih, Shifu. Terima kasih untuk segalanya. Untuk kehidupan kedua ini, untuk ilmu, untuk perlindungan..." Suara Fengyin terdengar parau. "Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku janji akan kembali. Suatu hari nanti... kita akan berjuang berdampingan lagi, tapi kali ini... sebagai pemenang."
Master Wei Chenghao menatap muridnya itu. Di matanya terselip kebanggaan yang tak terucap. Dia maju selangkah, menepuk bahu Fengyin pelan tapi mantap.
"Jadilah kuat, anakku. Tapi ingatlah selalu pesan Shifu... Kekuatan tanpa hati hanyalah kehancuran. Jangan biarkan angin kemarahan membawamu terbang terlalu tinggi hingga kau lupa cara turun. Dan jangan biarkan bayangan dendam menutupi cahaya yang seharusnya kau bawa."
"Aku ingat, Shifu," jawab Fengyin tegas.
Master Wei kemudian menoleh ke Yuelan. "Kau juga, Yuelan. Jadilah air yang tenang, tapi juga menjadi ombak yang menghancurkan batu karang saat waktunya tiba. Jaga dia baik-baik."
"Siap, Shifu!" jawab Yuelan dengan suara bergetar menahan tangis, lalu dia memeluk guru nya sebentar, sebelum kembali berdiri di samping Fengyin.
"Dan kau, Xiang," Master Wei menatap pedagang itu. "Aku serahkan nyawa mereka padamu. Jangan kau jual demi keuntungan, hah?"
Ye Xiang tertawa kecil, lalu menunduk hormat dengan gaya khasnya. "Tenang saja, Tuan Guru. Nyawa mereka sekarang adalah aset investasi terbaikku. Aku akan menjaganya sampai harganya melambung tinggi!"
Suasana yang tadinya haru sedikit mencair karena candaan Ye Xiang.
Akhirnya, saatnya tiba.
Fengyin, Yuelan, dan Ye Xiang melangkah maju. Mereka tidak menoleh ke belakang lagi. Mereka terus berjalan, menyusuri jalan setapak yang menurun meninggalkan benteng kota, menuju jalan utama yang membentang luas menuju cakrawala.
Jalan di depan mereka terbuka lebar. Tidak ada batas. Tidak ada dinding.
Angin berhembus kencang dari arah depan, menerbangkan jubah dan rambut mereka. Angin itu terasa berbeda. Angin itu membawa bau dunia yang luas, bau petualangan, bau bahaya, tapi juga bau kebebasan.
Fengyin mengangkat wajahnya, menatap langit biru yang luas tanpa batas.
"Pertarungan di sini sudah usai. Tapi perjalanan kita yang sebenarnya... baru saja dimulai."
Di suatu tempat di luar sana, di kerajaan-kerajaan yang jauh, di pegunungan yang tinggi, atau di lautan yang luas, ada orang lain seperti dirinya. Ada yang lain yang dipilih langit.
Dan Fengyin akan menemukan mereka.
Satu per satu.
Mereka berjalan terus, semakin jauh, hingga sosok mereka mengecil dan akhirnya hilang ditelan cakrawala biru, menyatu dengan alam, menuju takdir yang belum tertulis.
[ Bersambung... ]