Istriku terlalu boros, sementara selingkuhan ku sangat cantik dan pandai menabung, tapi ku tak sangka istriku berubah sangat drastis tanpa uang dariku. apakah dia memiliki simpanan yang menopang hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 20
Hari-hari berlalu Beni kembali pada aktivitasnya seperti biasa untuk jadi petani di ladangnya yang tidak begitu jauh dari rumah, berangkat pagi pulang sore.
Pagi ini Beni berencana mengantar Soraya untuk periksa kandungan di puskesmas.
"Sayang kita ke rumah sakit yang di pusat kota ya, di sana peralatan lengkap dan di jelaskan langsung sama dokter kandungan." pinta Soraya berseri-seri.
Beni menghela napas pendek, "Hufff."
"Puskesmas saja yang gratis, kamu ada BPJS kan." jawabnya tegas tidak mau di bantah.
"Ini anak pertama kita loh, kenapa kamu tidak peduli." marah Soraya.
"Kalau kamu mau di rumah sakit pusat kota, kamu membayarnya sendiri, jangan nyusahin." sungut Beni.
"Sania saja tidak pernah menyusahkan ku, bahkan dia punya banyak uang." kata Beni.
Membuat Soraya seketika naik pitam. Menatap suaminya dengan tajam, wajahnya mengeras, dadanya naik turun ada bom yang siap meledak.
"Jangan bandingkan saya dengan wanita jalang itu, dia itu sama dengan adikmu!" teriak Soraya.
Plak!
Satu tamparan keras, membuatnya terhuyung, hening...
"Apa kau bilang, aku ini jalang?, apa bedanya dengan mu Soraya kamu itu juga pelakor!" teriak Fara dengan lantang.
Fara mendengar semuanya, bahkan dia sakit hati ketika di katai jalang, padahal Soraya sama saja dengan dirinya, bedanya dia di nikahi sementara dirinya tidak.
"Sekali lagi kau mengataiku jalang, saya akan membuatmu menderita di rumah ini." ucap Fara dengan rendah penuh intimidasi.
Beni tidak bereaksi apa pun, bahkan tidak berani menenangkan Soraya, Fara adalah adaiknya yang dia takuti.
"Mas, adikmu memukul ku, kau tidak bereaksi?" tanya Sorya.
Beni hanya diam seribu bahasa, "ayo Ke puskesmas sekarang, sebelum penuh antrian." kata Beni.
"Saya tidak mau!"
Soraya langsung membuka pakaiannya, kembali memakai pakaian rumahan, perutnya yang sudah nampak membesar itu tidak dia pedulikan.
"Jangan menyesal kalau kau kehilangan anakmu." Ancam Soraya.
"Kamu mau apa lagi, kamu sendiri yang salah." kata Beni tidak kawatir sedikit pun.
Melihat hal itu Soraya semakin geram, berencana ingin menguasai Beni sepenuhnya, kenyataan dia sendiri yang kewalahan menghadapi sikap Beni yang sulit di tebak.
Mau tidak mau Soraya mengalah, bukan untuk ke puskesmas, dia keluar rumah berniat pergi ke rumah orang tuanya, dia tidak sanggup hidup dengan keluarga Beni.
"Mau kemana kamu?" tanya Beni.
"Bukan urusan mu, saya tidak sudi punya suami seperti kamu itu." ucap Soraya sambil mengambil tas selempang di atas meja rias.
Beni hanya melihat, tanpa berniat mengejarnya, "pergilah, agar gampang saya menikah kembali dengan Sania." katanya lirih.
Beni duduk di ranjang mereka, pikirannya di penuhi bayangan Sania yang semakin cantik, dan Royal, buktinya dia mau mengembalikan uang mahar serta uang nafkahnya selama ini. Senyum licik muncul di bibirnya.
Beni bersiul tanpa menunggu lama ia juga keluar kamar, satu tujuan yang akan dia tuju, pasti wanita yang selama ini di campakkan.
"Mau kemana kamu?" tanya ibunya.
Beni tersenyum, tidak menjawab hanya mencium tangan ibunya. "Doa kan saya ya bu, agar berhasil."
Sambil melangkah pergi, Sumarni bersungut-sungut tidak seorang diri, melihat punggung putranya menghilang di balik pintu.
"Kenapa pagi ini ada tiga orang gila."
Sumarni menggelengkan kepalanya, bukan di usia nya yang semakin tua mendapatkan kewarasan, malah ikutan stres seperti anak-anak dan menantunya.
Setelah berkendara tiga puluh menit Beni akhirnya sampai juga, di tempat yang dia yakini tempat kerja mantan istrinya.
"Hallo." Sapa Beni pada kasir yang berjaga saat itu Ana.
"Saya mau bertemu dengan Sania." kata Beni sambil tersenyum.
Ana sedikit geli melihat Beni tersenyum, "maaf Pak bu Sania lagi tidak ada di tempat."
Beni sedikit bingung, mendengar Ana menyebut nama Sania dengan formal, tapi Kebingungan nya itu dia sembunyikan.
"Dia kemana?" tanya nya sambil celingukan mencari sosok Sania.
"Bu Sania lagi ke suatu tempat bersama pak Arya." kata Ana.
Mendengar jawaban Ana seketika rasa cemburu itu mencubit hatinya, "apakah dia sudah menemukan penggantiku, ini tidak bisa." gumam nya dalam hati.
"Kenapa karyawan kalian bebas, sesuka hatinya." berangnya dengan suara meninggi.
Semua orang makan melihat kearahnya, "siapa sih tetiak-teriak tidak punya etika." kata seorang pelanggan.
"Diam kamu!" Bentak Beni.
Wajahnya memerah, amarah dan cemburu datang berasamaan, dia tidak ikhlas jika Sania dekat dengan orang lain.
"Idih, di sini tempat makan, bukan cari sensasi." timpal seorang wanita yang duduk dekat kasir.
Beni semakin geram, ternyata banyak orang yang mengolok-olok nya sedari tadi, bahkan terang-terangan menertawai nya.
"Kalian tidak tau saya!" urat lehernya menonjol, "saya ini juragan sayur."
Semua orang terdiam saling pandang, "ohh juragan toh, kirain CEO." kata mereka hampir serempak.
Di iringi tawa ejekan serempak, bahkan sampai ada yang terbahak-bahak.
Membuat Beni hampir kalap, dia hentakan sepatu kets yang di pakainya ke lantai dan berjalan keluar dengan napas yang memburu.
Masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu dengan keras, giginya beradu.
"Awas saja kamu Sania, beraninya kamu dekat dengan pria bajingan itu." ucapnya sambil mencengkam setir mobilnya.
Beni tidak langsung pulang, memantau rumah makan yang makin ramai, dia berharap Sania segera muncul, namun nihil.
Kata karyawan itu berputar di kepalanya, "Bu Sania." panggilan itu terlalu formal untuk seorang karyawan.
"Siapa kau Sania, apa yang kau sembunyikan dariku." batinnya lirih.
Beni akhirnya menyerah, pulang ke rumah setelah menunggu Sania berjam-jam, sepanjang jalan pikiran nya terlintas nama Sania.
"Apakah benar selama ini jadi pemulung, atau ibu hanya berbohong, tapi dari foto itu memang Sania lagi jadi seorang pemulung. Atau dia pura-pura."
Pikirannya saling sambung dari awal menika sampai bertemu Soraya dan bercerai dengan Sania, pikirannya cukup rumit saat ini.
Sesampainya di rumah keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa, langsung berteriak memanggil ibunya.
"Ibu...!"
Sumarni yang lagi tidur siang langsung terbangun mendengar suara Beni memanggilnya dengan cukup keras.
"Ibu, kamu kenapa bohong sama aku soal Sania."
Beni langsung menodong ibunya dengan pertanyaan, membuat Sumarni kebingungan.
"Berbohong soal apa?" tanya Sumarni.
Beni tidak langsung menjawab, tapi meremas rambutnya sendiri, "Sania itu orang kaya bu."
Mendengar jawaban anaknya Sumarni tertawa terpingkal-pingkal, "kamu kesambet apa?"
"Benaran loh... "
"Saya tidak percaya Beni, kamu ini kenapa sih, kalau dia kaya tidak mungkin kerja sama orang lain, logika di pake." ucap Sumarni panjang lebar.
Beni merasa percuma bicara sama ibunya, tapi kata-kata ibunya ada benarnya juga. Pikirannya kembali bercabang.
"Daripada kamu mikirin Sania, mendingan kamu cari pekerjaan untuk dapat uang." ucap Sumarni membuyarkan lamunannya.
"Saya memutuskan jadi tengkulak saja, agar saya bisa promosi sama Sania, bahwa saya sudah punya banyak uang." kata Beni dalam hati.
sesuatu untuk puyuh mu...
ngeles aja...dasar Casanova
kok genre nya jadi horor yaa 🥹🥹🫣
km bkal ketemu dg jodoh mu yg pas Dan di waktu yg pas juga ,,
masa jeruk makan jeruuuk 🤭🤭🤭🤣🤣🤣,,
makiin seruuu cerita ny😁😁
meuli Tempe , endog , cengek , minyak goreng jeung beas oge geus sabaraha ,, ni di titah jeung sabulaneun ,, di fikir pamajikan maneh makan angin unggal Poe ,, 😒😒😒😒
aku sekali nongkrong sama temen bisa habis ratusan ribu,ini seratus untuk sebulan, gila aja lu
uweeeek ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
kk suka salah sebut nama tokoh🤭🤭🙏🙏 ,,
semangat trus ya kak nulis ny 😁
ad yx model laki2 kayak kerupuk begini ,, 😒😒😒😒