Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanah air yang asing
Angin dingin yang berembus di perbatasan Jerman-Belanda terasa berbeda bagi Clara Marine. Bau tanah basah, padang rumput yang luas, dan kincir angin yang berdiri tegak di kejauhan adalah pemandangan yang seharusnya membawa kehangatan di hatinya. Ini adalah negeri tempat ia tumbuh besar, tempat ia pernah merasa aman di bawah perlindungan ibunya sebelum semuanya berubah menjadi kompetisi bisnis yang haus darah.
Namun, kepulangan kali ini tidak membawa kelegaan. Clara menatap keluar jendela mobil Audi hitam yang melaju tenang melewati pos pemeriksaan yang sepi.
"Kau merindukan tempat ini?" suara Nikolai Brine memecah lamunannya.
Clara tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada hamparan bunga tulip yang belum mekar di balik pagar pembatas. "Aku merindukan udaranya, Nikolai. Tapi aku tidak merindukan apa yang ada di dalamnya. Kemewahan, pengkhianatan, dan tembok tinggi rumah keluarga Marine. Aku hanya ingin menjadi orang biasa, seperti saat aku di Jakarta."
Nikolai menggenggam tangan Clara, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan wanita itu. "Kau tidak akan pernah bisa menjadi orang biasa lagi, Clara. Bukan karena kau seorang Marine, tapi karena kau adalah wanitaku. Dunia tidak akan membiarkanmu tenang, jadi satu-satunya cara adalah dengan menguasai dunia itu."
Clara menghela napas panjang. "Itulah bedanya kita. Kau ingin menguasai dunia, aku hanya ingin dunia membiarkanku pergi."
Infiltrasi dalam Kesunyian
Nikolai tidak membawa Clara ke hotel atau tempat umum lainnya. Ia memiliki sebuah rumah aman di pinggiran Utrecht, sebuah gudang tua yang direnovasi menjadi tempat tinggal mewah namun tersembunyi. Di sana, peralatan komunikasi canggih sudah terpasang, siap untuk memantau setiap pergerakan Silas di Amsterdam yang hanya berjarak singkat dari sana.
"Kita akan menyerang besok malam," Nikolai menjelaskan sambil membentangkan denah Katedral Oude Kerk, tempat Silas akan mengadakan upacara peringatan kematian Clara. "Silas ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia adalah pewaris tunggal yang berduka. Dia mengundang seluruh rekan bisnis, politisi, dan pers."
Clara melihat foto Silas di layar monitor. Kakaknya itu tampak sedang meninjau persiapan di katedral, mengenakan jas hitam dengan ekspresi yang sangat meyakinkan sebagai seorang kakak yang kehilangan.
"Dia akan menggunakan momen ini untuk menandatangani dokumen pengalihan aset secara simbolis," lanjut Nikolai. "Saat itulah kita masuk. Kita tidak hanya akan membongkar kebohongannya, kita akan mengambil apa yang menjadi hakmu."
"Aku tidak menginginkan harta itu, Nikolai," potong Clara. "Ambil saja untukmu jika kau mau. Aku hanya ingin dia mengakui apa yang dia lakukan pada Ayah dan padaku."
Nikolai berdiri dan berjalan mendekati Clara. Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh posesif. "Harta itu adalah senjatamu, Clara. Tanpa harta itu, kau tidak punya kekuatan untuk melindungi dirimu sendiri. Aku akan mengambilnya untukmu, dan kau akan menggunakannya untuk memastikan tidak ada lagi orang seperti Silas yang bisa menyentuhmu."
Firasat Sang Kakak
Di pusat kota Amsterdam, di dalam gedung pencakar langit Marine Logistics, Silas Marine berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap ke kanal. Meskipun semua rencananya berjalan sempurna, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Perasaan tidak tenang yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika.
"Julian belum bisa dihubungi?" tanya Silas pada kepala keamanannya.
"Belum, Tuan. Sinyal terakhirnya ada di Rusia, sebelum dacha milik Boris terbakar habis. Kami berasumsi dia sedang dalam perjalanan pulang atau..."
"Atau dia sudah mati," potong Silas dingin. "Nikolai Brine tidak akan membiarkan Julian hidup jika dia tahu tentang pengkhianatan itu. Tapi yang membuatku khawatir adalah jasad Clara. Kenapa tim pembersih tidak menemukan satu pun sisa tubuhnya?"
"Ledakan itu sangat besar, Tuan. Mungkin saja—"
"Tidak ada mungkin dalam bisnis ini!" bentak Silas. "Perketat keamanan di Katedral besok. Aku tidak mau ada satu pun orang asing yang masuk tanpa pemeriksaan biometrik. Jika Nikolai masih hidup, dia pasti akan datang ke sana. Dan jika dia datang, pastikan dia dan siapa pun yang bersamanya tidak pernah keluar hidup-hidup."
Silas menatap pantulan dirinya di kaca. Ia merasa sudah memenangkan perang ini, namun bayangan kembarannya, Clara, seolah terus mengikutinya di sudut matanya. Ia tidak tahu bahwa saat ini, Clara sedang berada sangat dekat, sedang dipersiapkan oleh seorang pria yang cintanya telah berubah menjadi obsesi mematikan untuk meruntuhkan singgasana yang ia bangun di atas kebohongan.
Malam itu, di Utrecht, Nikolai tidak membiarkan Clara tidur jauh darinya. Ia memeluk Clara erat-erat di atas tempat tidur, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Clara akan melarikan diri kembali ke kesederhanaan yang sangat ia rindukan.
"Besok adalah akhirnya, Clara," bisik Nikolai di kegelapan malam.
"Atau awal dari sesuatu yang lebih buruk," jawab Clara pelan.
Nikolai tidak menjawab. Ia hanya mencium pundak Clara, menandai wilayahnya sekali lagi. Baginya, Belanda bukan lagi negeri yang dirindukan Clara; itu adalah medan perang tempat ia akan membuktikan bahwa apa yang sudah ia miliki tidak akan pernah bisa direbut oleh siapa pun, bahkan oleh takdir sekalipun.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...