NovelToon NovelToon
Cara Hidup Di Masa Kiamat

Cara Hidup Di Masa Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:332
Nilai: 5
Nama Author: Lloomi

Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.

​Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.

​Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?

Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inti Monster

Tiga sosok terlibat pertarungan sengit dibawah cakrawala yang hancur, cahayanya menyinari tanah dibawah dengan enggan, menunjukkan jalan dari pertarungan.

Clank..

Tongkat bisbol Adam berbenturan dengan ekor makhluk reptil itu, menciptakan penyok baru di permukaannya.

Namun Adam tak berhenti menyerang, dia tak bisa memberikan makhluk ini kesempatan untuk membalas.

Dengan sekuat tenaga Adam berusaha memojokkan reptil itu ke sudut, di sisinya Rifana melakukan hit and run dengan linggisnya.

Permukaan besi dingin terus dibenturkan ke tubuh makhluk itu, menciptakan luka-luka kecil di seluruh tempat.

Rifana terus melakukannya, setiap kali makhluk itu teralihkan oleh Adam, linggis besinya akan datang sekali lagi untuk mengucapkan salam hangat pada reptil itu.

Pukulan demi pukulan dilontarkan olehnya.

Ziva menyaksikan pertarungan itu tanpa daya, meskipun dia ingin membantu, dirinya tak bisa.

Akurasinya yang buruk membuatnya khawatir tak akan membantu, batu yang ditembakkan olehnya mungkin saja akan meleset dan mendarat di kepala salah satu pria itu, jadi dia memilih untuk bersembunyi dan menyaksikan dari sisi.

... Setelah bertarung sekuat tenaga, keringat dan darah tumpah ke lantai menciptakan aroma tengik yang mencekik.

Darah hijau reptil itu tumpah di aspal yang dingin, menggenang layaknya air hujan.

Bahkan luka kecil dapat membawa kematian, jika jumlahnya cukup.

Dengan tubuh babak belur yang dipenuhi luka, reptil itu terhuyung mundur saat kekuatannya terkuras. Tubuhnya gemetar, menatap dua manusia di hadapannya dengan kebencian.

Adam dan Rifana pun tak jauh berbeda, mereka terengah-engah setelah periode berulang yang terjadi.

Taktik hit and run yang mereka gunakan terbilang sangat ampuh, ditambah dengan tingkat kecerdasan makhluk itu yang rendah, mereka dapat melukainya berkali-kali.

Namun, ada satu masalah.

Stamina.

Mereka kelelahan, kaki Rifana bahkan sudah mulai menunjukan gejala penyakit lamanya. Membuat gerakannya mulai melambat beberapa detik.

Ini menyebabkan beban kerja Adam yang bertambah, dengan damage dealer yang melambat, dia perlu menjaga perhatian makhluk itu setiap saat.

Adam terus menyerang reptil yang telah sama kelelahannya seperti dirinya.

Tanpa sadar, terlalu fokus pada menyerang Adam tak melihat serangan itu datang.

Ekor tajam diselundupkan melewati titik butanya, Rifana tak sempat melakukan apapun, nafasnya masih tercekat di tenggorokannya saat dia berlari maju.

Dengan gerakan cepat, bilah tajam di ekor itu menyayat luka besar di dada Adam. Semburat darah merah keluar, dengan cepat membasahi ekor itu.

Makhluk itu menarik kembali ekornya dan berinisiatif untuk mundur.

Tenaganya telah terkuras habis.

Rifana tak berhenti saat Adam jatuh kedalam pelukan aspal yang dingin. Dengan linggis di tangannya, dia mengejar makhluk itu.

Dorongan kekuatan yang luar biasa, menyelimuti dirinya dalam sekejap. Adrenalinnya telah dipicu, meningkatkan refleks dan kekuatannya secara signifikan.

Rasa nyeri dan lelah yang dirasakannya hilang, digantikan dengan kesemutan luar biasa yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

Dengan gerakannya yang meningkat, Rifana berhasil menyusul reptil itu dan mengayunkan linggisnya sekali lagi.

Di tengah pelariannya, makhluk itu sepertinya tak menyadari adanya seseorang yang mengejarnya.

Langkahnya yang tertatih diteruskan diantara keempat kakinya, dan itulah saat bongkahan besi dingin mengecup tepat di otaknya.

'Kena kau!'

Bugh..

Pukulan itu mengenai tepat di tengkoraknya, memberikan kerusakan signifikan pada makhluk itu, yang kini diam tak bergerak.

Pukulan terakhir Rifana, mengerahkan seluruh kekuatan adrenalinnya hingga habis, dengan pertaruhan kecil kematian instan untuk makhluk itu.

Dan dia berhasil.

Reptil itu terkapar tanpa nyawa dibawah kakinya, notifikasi sistem muncul secara tiba-tiba memverifikasi pembunuhan yang dilakukannya.

Dengan suara robotik yang garing, panel yang familiar muncul.

[Anda telah membunuh: Keturunan Abomination Crocodile]

[Progress misi meningkat!]

Kata-kata dibalik layar itu memberikan ketenangan yang tak terduga pada Rifana.

Dia telah mengerahkan segalanya dan akhirnya berhasil.

Tubuhnya gemetar, adrenalinnya berakhir lebih cepat menyebabkan serangan rasa sakit melumuri tubuhnya.

Rifana jatuh ke tanah, namun berbeda dengan sebelumnya.

Dia tidak pingsan.

Tubuhnya kehilangan tenaga untuk bergerak, berbaring di tengah jalan memandang cakrawala yang runtuh.

Tepat setelah semuanya berakhir, Ziva melompat keluar dan langsung menghampiri kakaknya yang terluka.

Dia mengeluarkan kotak P3K dari tasnya dan mengambil tindakan penyelamatan sederhana yang diketahuinya.

Sesekali dia memandang Rifana, namun kembali fokus setelah pria itu menatapnya balik.

'Yah.. Rawatlah kakak lu dulu' Rifana bergumam dalam hati, kondisinya tak separah pria itu jadi lebih baik fokuskan penyembuhan padanya saat ini.

Tubuhnya hanya kehabisan tenaga setelah pacuan adrenalin yang ekstrim.

Dan ditengah keheningan dunia, tiga sosok itu berhasil melakukan bagiannya masing-masing.

...

Ziva langsung menghampiri Rifana setelah selesai dengan Adam, dia hendak melakukan sesuatu.

Namun Rifana menghentikannya.

Dia menunjuk ke arah mayat makhluk itu, dan pisau di tasnya.

Tenaganya hanya tersisa sedikit setelah istirahat singkat, dan dia menghabiskannya lagi dengan mudah.

"Bedah, itu." Ucapnya serak, dua kata itu kembali mengosongkan tenaganya.

Rifana hanya kembali dan menatap langit.

Ziva mengangguk "Baiklah" Dia tak bertanya lebih jauh, karena sebelumnya Rifana telah memberitahu mereka.

Untuk menjadi seorang Superhuman, seseorang harus mendapatkan inti monster, dan dia harus melakukan semuanya sendiri sekarang.

Ziva sebelumnya berpikir, jika dunia ini akan menjadi seperti game dimana item akan drop setelah suatu entitas dibunuh.

Namun dia salah besar.

Rifana meluruskan pikiran Ziva sebelumnya.

Tak ada yang namanya drop item secara ajaib.

Meskipun Rifana mengatakan dia tak yakin sebelumnya, dia menyimpulkannya berdasarkan fakta yang dianalisisnya.

Jika item akan drop di setiap kematian entitas, mungkin jalanan akan dipenuhi item saat ini! Lagipula tak mungkin seekor kadal yang menyeret mayat mengantongi sebuah item.

Ziva perlahan mendekat ke mayat yang dibanjiri darah hijau itu dengan sebilah pisau di tangannya.

Satu hal pasti yang diketahui Rifana.

Inti monster hanya bisa didapatkan jika seseorang membedah mayat mutan, atau begitulah normalnya.

Informasi ini diketahui Rifana saat menjelajah di chat global untuk pertama kalinya, dan dia membagikan informasi ini pada Adam dan Ziva.

Dengan tangan yang gemetar, Ziva menusukkan pisau itu ke kulit makhluk itu.

Namun gerakannya terhenti saat rasa mual menyerangnya.

Membuat Ziva muntah secara naluriah.

Dia bahkan tak pernah melukai hewan sebelumnya, dan saat ini dia memotong sesuatu yang nampak seperti salah satunya.

Itu membuatnya sakit dan memuntahkan makanan di perutnya.

Ziva masih belum terbiasa dengan semua darah ini.

Dia mengusap mulutnya dan kembali ke pekerjaannya.

Tangannya dengan hati-hati memotong daging keras bersisik itu, dimulai dari bagian terlunak tubuhnya yaitu bagian perut.

Setelah membuat sayatan, dia menarik pisau itu. Menciptakan luka besar yang terbuka, membuat organ dalam tumpah keluar.

Ziva menutup matanya 'Gak ada' Dia membalikan mayat itu mencoba menghilangkan pemandangan mengerikan.

Tangannya kini dicat hijau, pisaunya menelusuri seluruh tubuh itu hingga sampai di satu tempat.

Kepala!

Pisau ditusukkan dengan keras, namun tak bergeming sama sekali.

Dia perlu cara lain.

Namun Ziva ingat sesuatu.

'Disini ya?' Dia melihat kembali kepala reptil itu, mencari titik yang dipukul keras oleh Rifana sebelumnya.

Dan benar saja, di bagian kanan kepalanya, Ziva dapat menyentuh daging itu tanpa hambatan.

Dia menusukan pisau, mengungkap tengkorak yang hancur menjadi serpihan.

Lengannya bergerak dengan cepat, dan benar saja.

Di tengah otak makhluk itu.

Sesuatu berbantuk bola seukuran kelereng ditempatkan dengan rapi.

Ziva tersenyum saat melihatnya.

'Inti monster!'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!