NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 19

Dua bulan setelah pernikahan kak Toni di kampung istrinya, aku kembali masuk kerja lagi. Dua hari aku ijin tidak berangkat untuk ikut membantu di pernikahan kakakku sendiri.

Dan sekarang kakakku dan istrinya ikut memboyong tinggal di rumah. Bukan lagi ngekos seperti biasanya.

Kakaknya masih kerja jadi kuli sapu. Seminggu yang lalu, dia bilang mau cari kerja yang lain. Karena gaji tukang sapu katanya masih kurang. Apalagi dia harus menabung untuk biaya lahiran juga. Dan aku paham soal itu.

"Kenapa man?" Tanya kak Aldi yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.

Aku memang sedang melamun. Pikiranku berada di rumah setelah tadi aku ditegur subuh-subuh oleh ibu. Saat itu aku sedang mencuci bajuku dan ibu. Yang biasanya aku juga mencuci punya kak Toni juga tapi tidak aku lakukan. Alasannya simpel, karena kakakku sudah punya istri. Yang mana itu tugas istrinya kan untuk mencuci baju suaminya. Tapi ibu menegurku, kenapa tidak sekalian dicuci juga. Dan berujung aku diomelin oleh ibuku sendiri perkara itu. Kakakku malah minta di laundry kalau aku tidak mau mencucinya.

Kak aldi menepuk pundakku. "Ditanyain dari tadi malah bengong aja."

Aku terkekeh. Walaupun sudah berbulan-bulan aku kerja dengan kak Aldi tapi rasa canggung itu masih ada sampai sekarang.

"Ga papa kak." Aku tersenyum. Berusaha menutupi rasa canggung ku.

"Kakakmu lagi? Bukannya lagi bahagia masa-masa pengantin baru ya?"

Aku tak terlalu suka bercerita soal masalah keluargaku. Tapi kadang kak Aldi mendesak dan mulutku ini seperti berbicara sendiri untuk menjawab.

Aku menggeleng lagi. "Ga ada kak." Aku mengalihkan pembicaraan soalku. Aku menunjukan laporan stok kemarin dan meminta kak Aldi untuk mengurus stok yang sudah kosong.

Kak Aldi mendesah pelan. "Ya sudah, sini biar aku catat yang sudah kosong."

Aku bergeser. Mempersilahkan kak Aldi untuk berada di depan layar komputer. Tangannya sibuk menggulir-gulir layar dengan keyboard. Tangannya yang sebelah lagi sibuk mencatat dengan kertas kosong yang kuberi.

Aku bernafas lega. Rasanya tidak enak sekali kalau orang lain harus tau soal keluarga ku. Malu tentu saja.

"Aku mau nempelin harga-harga ini ya kak." Aku memilih untuk menghindar dari kak Aldi sebelum pertanyaan lain keluar dari mulutnya setelah pekerjaan nya selesai.

Kak Aldi ini tipe orang yang sepertinya sedikit kepo urusan orang lain. Banyak omong seperti perempuan. Bahkan aku yang perempuan saja lebih irit bicara. Apalagi jika sudah bertemu dengan pelanggan yang satu frekuensi atau yang sudah sering berbelanja, pasti lama melayaninya. Tapi ada untungnya juga menurutku. Bekerja dengan orang seperti kak Aldi tidak sesepi itu. Ada saja bahan untuk diobrolkan. Dan aku sesekali menanggapi.

Walaupun kak Aldi banyak omong, tapi dia juga tegas terhadap kerjaan. Jika ada masalah pasti dia yang jadi di depan. Entah karena dia senior atau memang dia bertanggung jawab terhadap kerjaannya yang terpenting bekerja dengan kak Aldi membuatku merasa nyaman. Dia lebih mirip kakak daripada senior dalam kerja.

Aku sedang menempeli harga-harga di rak sesuai dengan jenisnya. Merapikan kembali barang yang berantakan juga sambil sesekali aku lap rak nya.

Sampai saku celana yang kukenakan bergetar. Aku tak langsung mengambilnya. Aku menyelesaikan pekerjaanku sampai selesai. Aku berjalan ke arah kasir lagi. Terlihat kak Aldi sedang melayani satu pelanggan yang memang langganan belanja pagi-pagi. Hampir setiap hari laki-laki yang sebagai tukang donat di samping toko belanja bahannya disini.

Aku membuka layar ponselku. Ada satu notif pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Tak ada nama disana.

Aku membukanya dengan rasa penasaran. Katanya formal. Seperti dulu aku dapat dari manager toko ini. Isinya dari pihak bank, dua bulan belum nunggak setoran.

Aku heran, kenapa bisa pihak bank punya nomornya? Apa kakaknya yang memberi? Apa karena pihak bank sudah mencoba menghubungi kakaknya tapi tak ada respon makanya mencoba menghubungi nya?

Aku membalas pesan dengan hormat. Dan akan menyampaikan pesan ini ke kakaknya. Nanti, di rumah saja. Aku tidak mau meneruskannya sekarang karena kakaknya juga pasti sedang kerja dan dia tidak membawa ponsel.

Aku kembali memasukkan ponselku karena antrian yang lumayan panjang di depan kasir sudah menunggu untuk aku layani. Kak aldi menyerahkan kasir kepadaku. Sedangkan dia akan kedepan untuk membantu bongkaran barang kiriman hari ini.

Aku berusaha melayani dengan cekatan sambil tetap teliti menatap layar dan juga belanjaan yang berada di keranjang. Kata kak Aldi saat mengasir harus berhati-hati. Jika salah satu saja maka nanti laporannya juga akan selisih. Dan selisih itulah yang akan kami ganti nantinya.

"Terimakasih." Pelanggan terakhir di jam ini selesai. Toko mulai lengang kembali. Memang biasanya hanya di jam tertentu saja toko akan ramai pembeli. Dan kak Aldi mengajariku untuk bisa memanfaatkan waktu luang semaksimal mungkin sebelum nantinya dikerubut pembeli. Aku patuh dan aku mengingat itu semua.

"Kamu dulu apa aku dulu yang istirahat buat makan?" Kak aldi sudah selesai mengangkut kontainer-kontainer itu ke dalam gudang.

"Kakak aja dulu. Aku lagi ga sholat." Ucapku apa adanya pada kak Aldi.

Urusan makan bisa sambil menjaga kasir pikirku. Kak Aldi mengangguk lalu dia segera ke belakang untuk urusannya.

Kurasa siang ini akan turun hujan. Batinku sambil menyuapkan nasi yang kubeli pagi tadi dijalan saat berangkat kerja. Awan mendung menyelimuti desa ini.

Diluar, sebuah mobil sedan hitam yang berkilau berhenti tepat di halaman toko yang luas. Seorang pria, ah lebih tepatnya laki-laki yang mungkin usianya masih pertengahan umur dua puluh tahunan itu keluar dengan mengenakan setelan jas hitam dengan celana bahan di kaki jenjangnya. Tak lupa di kerah kemejanya terdapat dasi yang terlilit rapi disana.

Kupikir orang kantor pemilik toko ini. Jadi saat dia melangkah masuk, aku memberi hormat dengan membungkukkan badanku. Senyum ramahku ku kembangkan se-ramah mungkin.

Dia hanya melirikku sebentar. Lalu masuk mengitari rak-rak seperti mencari sesuatu.

Apa orang audit lagi? Tapi rapi sekali pakaian nya? Batinku masih bertanya-tanya. Kak aldi masih betah dengan urusannya. Sedangkan aku sudah deg-degan setengah mati ditinggal sendirian oleh seniorku. Harus berhadapan dengan wajah dingin dan tegas yang masih terus berpindah-pindah rak.

Saat dia dibagian minuman, bagian belakang aku sedikit bisa bernafas. Nafas yang dari tadi seperti tertahan di tenggorokan ku. Keringat dingin mulai muncul, padahal pendingin ruangan sudah di stel dingin agar makanan tak cepat rusak.

Aku mengambil minuman yang berada di bawah kakiku. Meminumnya sambil terus mengawasi laki-laki itu. Aku tak berani menyapa kesana. Jadi aku tetap mematung di tempatku. Menunggu sampai tinjauan yang ada dipikiran ku selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!