NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 19 — Jeritan dari Rumah Sakit Jiwa

Malam di rumah sakit jiwa selalu terdengar lebih sunyi dari seharusnya—sunyi yang berdenyut. Jam dinding berdetak terlalu keras, lampu-lampu lorong berdengung rendah, dan setiap pintu menyimpan napas yang tidak pernah benar-benar tidur.

Aluna terbangun dengan tarikan napas tajam.

Dadanya naik turun cepat, seolah ia baru saja muncul dari air yang dalam. Kamar itu gelap, hanya cahaya koridor yang menyelinap lewat celah pintu. Bros kupu-kupu perak masih tersemat di bajunya. Tangannya mencengkeramnya, refleks, seperti anak kecil yang berpegangan pada jimat.

“Mas…”

Suara itu keluar tanpa ia sadari. Kecil, serak, tapi nyata.

Detik berikutnya, sesuatu menghantam dadanya—bukan sakit, melainkan kehilangan. Kehampaan yang tiba-tiba, mutlak. Aluna duduk tegak, mata membelalak, napasnya tercekat.

“DIMAS!”

Jeritannya memecah lorong.

Perawat yang berjaga tersentak. Langkah-langkah berlari. Pintu kamar dibuka tergesa. “Aluna? Tenang, Aluna—”

“DIMAS!” Aluna berteriak lagi, suaranya pecah. Ia meronta dari ranjang, air mata mengalir deras. “Mas pulang! Mas pulang!”

Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri, membuat bunyi tok… tok… tok—cepat, tak beraturan—seperti tembakan yang saling susul. “Sakit… sakit…” gumamnya, panik. “Darah… lantai…”

Perawat mencoba memegang bahunya. Aluna menepis, ketakutan berubah menjadi teror yang hidup. “Jangan kunci!” teriaknya. “Jangan kunci pintu!”

Di kamar sebelah, Digo terjaga. Jeritan itu menembus dinding, menembus tulang. Ia meraih roda kursinya, mendorong kuat-kuat hingga kursi berderit. Jantungnya berdegup tak wajar.

“Aluna!” panggilnya.

Sania muncul di lorong, wajahnya pucat. “Pak Digo, mohon tetap di kamar—”

“Tidak,” potong Digo. “Ada apa?”

Belum ada jawaban. Jeritan Aluna berubah menjadi tangis yang memanggil satu nama berulang-ulang. Nama yang membuat udara terasa lebih dingin.

Digo mendorong kursinya ke depan pintu kamar Aluna. Pintu setengah terbuka. Ia melihat adiknya meringkuk di lantai, perawat berusaha menenangkan. Wajah Aluna basah oleh air mata, rambutnya menempel di pipi.

“Alun,” suara Digo bergetar. “Aku di sini.”

Aluna menoleh. Tatapannya liar, lalu—untuk sesaat—jernih. “Bang,” katanya, putus asa. “Mas jatuh.”

Digo membeku. “Apa?”

“Mas jatuh,” ulang Aluna, menangis. “Darahnya hangat. Tangannya dingin.”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada jeritan. Digo menggenggam roda kursinya, jemarinya memutih. “Itu mimpi,” katanya cepat, lebih kepada dirinya sendiri. “Cuma mimpi.”

Aluna menggeleng keras. “Tidak. Dia pergi.”

Sania menelan ludah. Ia menatap jam di pergelangan tangannya, lalu ke arah lorong. Seolah menunggu sesuatu yang ia tak ingin datang.

Detik-detik berlalu seperti benang yang ditarik terlalu kencang. Aluna kini duduk di ranjang, napasnya tersengal, masih memanggil nama Dimas dengan suara yang makin lirih, makin patah. Digo berada di ambang pintu, tak berani masuk, tak sanggup mundur.

Ponsel Sania bergetar.

Ia mengangkatnya, melangkah menjauh setengah, menutup mikrofon dengan telapak tangan. Wajahnya berubah—tegang, lalu jatuh.

“Pak Digo…” katanya pelan, setelah panggilan itu berakhir.

Digo mengangkat kepala. Ia tahu. Tubuhnya tahu sebelum kata-kata diucapkan. “Tidak,” katanya cepat. “Jangan katakan.”

Sania menghela napas, air mata menggenang. “Terjadi baku tembak. Dimas—”

“Tidak,” ulang Digo, lebih keras. “Kau salah.”

Sania menunduk. “Kami baru menerima kabar resmi.”

Digo memejamkan mata. Dunia seolah terlepas dari porosnya. Suara jeritan Aluna kini berubah menjadi isak yang tersendat—ia seperti mendengar kabar itu dari udara.

“Mas pulang,” bisik Aluna lagi, memeluk dirinya sendiri. “Mas janji.”

Digo mendorong kursinya masuk, berlutut sejajar dengan ranjang—sejauh kursi rodanya memungkinkan. Ia meraih tangan Aluna. Tangan itu dingin dan gemetar.

“Alun,” katanya, suaranya hancur. “Mas… melakukan yang terbaik.”

Aluna menatapnya lama. Lalu—untuk pertama kalinya sejak dua puluh tahun—ia berhenti bernyanyi. Tangisnya mereda menjadi diam yang mengerikan. Mata itu kosong, tapi bukan kosong gila—kosong karena patah.

Di lorong, lampu berdengung. Di luar, malam terus berjalan seolah tidak ada yang runtuh.

Di dalam rumah sakit jiwa, satu jeritan telah selesai.

Yang tersisa hanyalah kehilangan—dan dua jiwa yang harus belajar bernapas tanpa orang yang selama ini menjadi jangkar mereka.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!