Andriana sallasya (32) seorang ketua detektif terkenal di New york yang sudah banyak memecahkan kasus pembunuhan yang janggal dan sulit di pecahkan hingga sering kali orang memanggilnya dengan sebutan detektif "G" yang berarti genius. Selain pintar menangani kasus dia juga pintar dalam menyembunyikan identitas nya termasuk masa lalu kelam yang membuat dirinya kini menjadi detektif.
Regan nathaniel (34) seorang pengusaha dan anak sulung dari seorang konglomerat. Ia menjadi sosok tertutup setelah istrinya andriana sallasya meninggalkannya 10 tahun lalu membawa penyesalan dan keterlambatan di hatinya menyadari bahwa dia mencintai andriana.
Sampai akhirnya Andriana mendapatkan tugas untuk ke indonesia dan itulah awal dari semua kasus rahasia terbongkar termasuk jati diri Red sun ax yang selama ini menghantuinya?
pertemuan yang tidak di inginkan Andriana terjadi di sana. Mempertemukan dirinya dengan Regan nathaniel yang masih menyandang status sebagai suaminya.
Dan bagaimana cara Regan untuk menahan Riana agar tetap berada di sisinya? Dengan sifat Riana yang kini sudah berubah 180° dari Riana yang dulu ia kenal.
⚠PLAGIAT DILARANG MENDEKAT!!
First publish: 29-5-2019
Ikuti kisahnya!
Typo bertebaran.
Cover By Rziyyh_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ressa ♡, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
"Apa ada di antara kalian yang bernama detektif G?" Tanya komandan itu tersebut.
Karna tidak juga ada yang membuka mulut, komandan itu kembali angkat bicara.
"Di dalam amplop ini korban menuliskan surat kepada detektif G dan korban bilang detektif G ada di sini tapi jika tidak, maka kami akan membawa amplop ini untuk di jadikan barang bukti." Lanjutnya.
"Apa Sebenarnya isi amplop tersebut? kenapa mereka mencari ku." Batin Riana.
"Yasudah kalau tidak ada kami permisi, kalian semua juga pulang." Pamit nya.
Komandan itu berjalan melewati Riana yang masih diam sambil memejamkan matanya, dia harus bisa. Riana membuka matanya lalu menatap kearah Regan. Baru saja dia ingin mengakuinya tapi suara pintu menghentikan nya.
Brak..
Pintu terbuka kencang oleh seorang pria dan wanita dengan nafas tersenggal-senggal. Keduanya orang tersebut menatap Riana kemudian berjalan kearah komandan tadi.
"Saya," Ucap pria itu.
Membuat semua orang melihat kearahnya. Termasuk Regan yang menatap nya dengan pandangan sulit di artikan. Dia merasa pernah melihat pria itu tapi dimana? Ah ya di rumah Ruby saat Riana pingsan.
Komandan itu dan tim nya memandang Henry dan Ruby bergantian. "Kau?" tunjuk komandan itu kepada Henry.
Untuk sesaat Riana menghela nafasnya. Untung Henry dan Ruby datang di waktu yang tapat. Tapi tunggu! Dari mana mereka tau aku ada di sini?.
"Ya saya. Saya detektif G yang kalian cari, sekarang berikan amplop itu." Jelas Henry di samping Riana membuat Regan menghampirinya.
"Apa buktinya jika memang kau detektif G?" Tanya polisi itu.
"Ini," Henry menyodorkan lencana nya serta kartu tanda pengenalnya. Riana menatap Ruby dan Henry bergantian.
"Kau dari ke polisian New york. Tapi kenapa bisa ada di sini?" Tanya Regan dingin.
"Itu bukan urusan mu, cepat berikan amplop itu." Ucap Henry acuh.
Komandan itu menatap Henry ragu-ragu. Sedangkan Riana sudah bingung harus apa jadi dia hanya diam saja.
"Komandan tenang saja, dia teman ku dan memang benar dia sedang ada bertugas di sini." Ucapan Ruby membuat Riana dan Henry menghela nafasnya.
"Baiklah. Aku serahkan ini pada mu," Ucap Komandan tersebut lalu memberikan amplop itu.
"Sayang kita pulang sekarang, ya?" Ucap Regan datar.
Riana menatap Ruby seakan meminta pertolongan.
"Emm.. Regan kau ikut kami ke rumah ku. Aku harus memintai mu keterangan lebih lanjut." Ujar Ruby sambil menatap Riana dan Regan bergantian.
"Aku sudah memberi keterangan oleh polisi tadi, kau bisa tanyai mereka mengenai keterangan ku." Jawab Regan dingin.
"Tolong Regan kali ini saja. Pembunuhan ini di lakukan oleh pembunuh yang sudah lama kami cari, jika aku bertanya kepada mereka tentang keterangan mu yang ada mereka malah ikut menjadi sasaran pembunuh tersebut." Jelas Ruby membuat Regan bingung.
"Kenapa begitu? Bukan nya jika mereka tau akan lebih bagus untuk kau menangkap pembunuh itu."
"Kau salah justru jika mereka mengetahuinya yang ada pembunuh itu ikut menjadikan mereka sasaran nya. Karna pembunuh itu selalu tau gerak-gerik kita." Sela Henry sambil menatap Regan dan Riana bergantian.
"Oke. Aku akan ke rumah mu tapi setelah aku mengantar Riana."
"Tidak aku akan ikut dengan mu." Ujar Riana.
"Baiklah."
----
Di rumah Ruby. Usai Regan memberikan semua keterangan. Henry mengeluarkan amplop putih itu, kemudian membacakan nya di depan mereka semua.
"Untuk detektif G. Perkenalkan nama ku Marissa henna, aku sebenarnya adalah saksi dari pembunuhan detektif Martha. Saat itu aku baru pulang kerja dari gedung tempat ku bekerja, biasanya aku memarkirkan mobil ku di besmen gendung tapi karna hari itu semua tempat penuh jadi aku memarkirkan mobilku di gedung satunya. Malam nya aku pulang kerja aku mendengar suara tembakan dan tanpa sengaja aku mengikuti arah suara tersebut dan aku melihat kau sedang bertarung dengan Red sun ax, di situ aku hanya bisa bersembunyi karna aku takut. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan hingga akhirnya ku lihat kau bangkit dan menyerang Red sun ax hingga mata nya terluka dan saat dia kabur, tanpa sengaja dia menjatuhkan lencana milik detektif Martha dan dari situ aku mulai merasa tak aman. Aku merasa setiap gerak-gerik ku di perhatikan oleh seseorang, hingga aku memutuskan untuk mengembalikan lencana milik detektif Martha tapi sayang nya saat aku ke kepolisian mereka bilang kau sedang bertugas di indonesia, karna aku tidak percaya dengan orang lain selain mu jadi aku putuskan untuk ke indonesia." Henry menghentikan bacaannya sambil menatap Riana dan Ruby bergantia sedangkan Regan hanya menyimak.
"Apa mungkin lencana di pesawat itu milik Martha, mengingat aku pernah bertemu dengan nya di peswat saat di toilet." Gumam Riana. Ya marissa adalah wanita yang sempat menyelanya saat ingin ke toilet.
"Sesampainya aku di indonesia, aku meminta bantuan kepada teman ku di ke polisian New york untuk memberitau dimana kau tinggal, setelah tau dimana tempat tinggal mu. Karna ku fikir hidup ku tidak lama lagi jadi ku putuskan untuk membuat surat ini supaya jika aku di mati aku masih bisa memberikan bukti dengan surat ini paling tidak pembunuh itu bisa di beri hukuman seberat-beratnya. Bye the way aku tau dia Red sun ax dari terror yang selama ini ku dapat." Lanjut Henry
Tangan Riana mengepal sempura saat Henry selesai membaca, Henry dan Ruby menatap Riana dengan lelah. Sedangkan Regan, ia masih berperang dengan pikiran nya.
"Malang sekali nasib wanita itu. Kurasa benar apa yang kau bilang.. Bahwa pembunuh itu mengawasi gerak-gerik target nya," Sahut Regan datar.
Henry dan Ruby hanya mengangguk.
"Ruby bisa kita bicara." Ajak Riana di angguki oleh Ruby.
"Jangan lama, honey. Leon sudah menunggu di rumah." Ucap Regan hanya di balas dengusan oleh Riana.
Riana mengikuti Ruby dari belangkang. Saat kedua wanita itu sudah tidak terlihat. Henry mulai membuka suara.
"Tampak nya kau sangat mencintai istri mu, ya?"
Regan menoleh kearah sahabat istri nya itu. "Ya, Memang kenapa?" Tanya Regan dingin.
"Tidak. Hanya saja seperti nya kau tidak terlalu tau banyak tentang istri mu."
"Apa maksud mu bicara seperti itu?"
"Kau suami nya tapi ku lihat kau seakan tidak penasaran dengan kehidupan nya selama 10 tahun ini, bukan nya seharusnya jika kau mencintainya kau lebih tau mengenai dia." Ucap Henry setelah itu melengos pergi dari hadapannya.
Sedangkan Regan dia masih berusaha mencerna ucapan sahabat istrinya itu. Apa maksudnya dengan dirinya yang tak mengenal Riana? Apa ada yang di sembunyikan Riana darinya.
----
"Dari mana kau tau bahwa aku ada di di sana?" Tanya Riana sambil melipat kedua tangan nya di dada.
Ruby mendesah pelan."Tunangan Andre dia teman lama ku."
"Alice maksud mu?"
"Ya dia mengundang ku ke pesta pertunangan nya dan aku mengajak Henry. Tapi kita telat, aku dan Henry datang saat pembunuhan itu sudah terjadi."
"Tapi syukurlah mereka tidak curiga dengan mu," Tambah Ruby melirik Riana.
"Dimana Harry?" Tanya Riana yang tersadara bahwa Harry tidak ada.
"Dia sedang menjemput David di bandara."
"Aku minta kerja sama mu, kita sudah sedikit lebih dekat dengan Red sun ax." Ujar Riana.
"Apa kau tak merasa kasihan dengan Marissa, dia korban di sini, Rin!" Ucap Ruby dengan suara meninggi.
Riana mendesah pelan sambil menurunkan kedua tangan nya di dada. "Aku tau, By." Lirihnya
"Lalu kenapa kau justru bersikap biasa saja, huh.. Kau tidak berpikir bagaimana nasib keluarganya!?"
"Apa aku harus mengekspresikan rasa sedih ku. Aku tidak punya waktu untuk bersedih lagi. Karna sekaramg yang ku pikirkan hanya menangkap Red sun ax tapi jika bisa aku akan membunuhnya!" Desis Riana.
"Kau bodoh. Red sun ax mengincar mu, Riana. Dia membunuh Marissa karna mu." Tajam Ruby. Ia kesal dengan sahabatnya yang keras kepala.
"Ya aku tau, lalu aku harus apa hah!" Bentak Riana.
Ruby memalingkan wajahnya."Lepaskan kasus ini, kau tidak perlu menangkap Red sun ax. Biar ini menjadi urusan ku." Ujar Ruby.
"Kau ini kenapa si hah!!" Teriak Riana. Ia tak habis pikir dengan sahabatnya.
"Aku tidak mau kau berakhir mati seperti Marissa dan Martha. Jika kau mati siapa yang akan merawat Leon hah.. Pernakah sekali saja kau pikirkan anak mu, dia membutuhkan mu, Rin!"
"Sekarang kau bukan lagi seorang detektif tapi kau juga seorang ibu. Jangan egois, pikirkan kembali apa yang akan terjadi jika kau terus berurusan dengan Red sun ax. Mungkin bukan nyawa mu saja yang terancam tapi juga nyawa Leon dan keluarga mu." Usai mengatakan itu Ruby pergi.
Riana terdiam mendengar penuturan Ruby, jujur dia memang tidak selalu ada untuk Leon. Dalam hati Riana membenarkan apa yang di katakan Ruby kepadanya. Mungkin dia memang seorang detektif hebat tapi sudahkan dia menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Sedangkan dulu saat Leon baru berumur 5 tahun dia sudah sering menitipkan anak nya dengan alasan kerja.
Dan tanpa Riana sadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka. Orang itu bersembunyi di balik jendela yang menghadap langsung ke taman belakang. Tatapan nya memandang Riana dengan raut wajah sulit di mengerti.
TBC.
tapi karna cerita aku, aku smpai donwlod aplikasi ini, cuman mau baca lanjutannya aja🤣
kerasa parah feel-nya
kalo ada kata kerja nya yaitu: love, maka He nya ngga pake is, karena love nya jadi loves.
mengernyitkan dahi.
kalo mengernyitkan dahi ada di KBBI
saya baca di kamus besar bahasa Indonesia, menyerit artinya menyisir rambut dgn serit (serit itu sisir kutu rambut)