''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Farez melepaskan sabuk pengamannya, lalu menoleh padaku sejenak. "Tunggu di sini sebentar. Jangan ke mana-mana," ucapnya dengan nada yang tak membantah.
Aku hanya melihatnya turun dari mobil. Siluet tubuhnya tertelan kegelapan taman sebelum ia menghilang di balik deretan pepohonan menuju sebuah minimarket kecil yang lampunya berpijar di kejauhan.
Kini aku benar-benar sendirian di dalam kabin mobil yang hening. Bau parfum sandalwood miliknya masih tertinggal, merasuk ke dalam indra penciumanku, memberikan rasa aman yang ironisnya sangat kubenci namun kubutuhkan. Aku menyandarkan kepala pada sandaran kursi, membiarkan mataku yang bengkak menatap kosong ke arah dasbor.
Pikiranku kembali melayang pada Bagaskara. Bagaimana dia dengan bangganya memamerkan "istana" yang dibangun Ayah untuk mereka. Rasa sakit itu belum hilang, ia hanya sedang bersembunyi, menunggu waktu yang tepat untuk meledak kembali.
Beberapa menit kemudian, pintu mobil terbuka. Farez kembali dengan napas yang sedikit memburu. Ia membawa satu botol air mineral dingin dan sebuah kotak tisu. Tanpa suara, ia membuka tutup botol itu terlebih dahulu sebelum menyodorkannya padaku.
"Minum dulu. Kamu butuh ini," katanya pelan.
Aku menerimanya, membiarkan dinginnya botol menyentuh telapak tanganku yang masih terasa kebas. Aku meneguk air itu perlahan, merasakan kesegarannya mengalir melewati tenggorokanku yang kering karena terlalu lama menangis.
Farez tidak langsung menyalakan mesin. Ia mengambil selembar tisu, lalu bergerak ragu seolah ingin menghapus sisa air mata di pipiku, namun ia mengurungkan niatnya. Ia memilih meletakkan kotak tisu itu di pangkuanku.
"Aku tahu tempat ini tidak akan menghapus apa yang kamu lihat di butik tadi," ucap Farez, suaranya kini terdengar lebih berani meski tetap rendah. "Tapi setidaknya, di sini tidak ada foto siapa pun. Tidak ada sejarah yang harus kamu tanggung."
Aku menunduk, meremas botol plastik di tanganku hingga menimbulkan suara gemeretak kecil. "Kenapa kamu nggak tanya apa-apa, Rez? Kenapa kamu nggak tanya kenapa aku bisa sehancur itu hanya karena sebuah butik?"
Farez menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan taman. "Karena aku sudah tahu jawabannya sejak lima tahun lalu, Na. Kamu tidak butuh ditanya hal-hal yang sudah sangat menyakitimu. Kamu hanya butuh seseorang yang tahu kalau kamu tidak sedang baik-baik saja."
Kalimatnya sederhana, tapi sanggup membuat dinding pertahananku yang baru saja ingin kubangun kembali, runtuh lagi. Dia tahu. Selama ini dia tahu beban yang kupikul, namun dia memilih untuk tetap berdiri di jarak yang aman, menungguku siap untuk bersandar.
"Pulanglah, Rez," bisikku akhirnya. "Ibu pasti mencari."
Farez mengangguk. Ia menyalakan mesin mobil, namun sebelum ia mulai menjalankan kendali, ia menoleh padaku sekali lagi.
"Aku akan mengantarmu sampai depan rumah. Jika kamu butuh aku bicara pada Ibumu, aku akan melakukannya. Tapi jika kamu ingin aku segera pergi agar dia tidak curiga, aku juga akan melakukannya. Apapun yang membuatmu merasa aman, akan kulakukan."
Malam itu, di bawah temaram lampu taman, aku menyadari bahwa Farez bukan sekadar kerikil yang membuatku tersandung. Dia adalah satu-satunya orang yang rela berlutut di atas aspal kotor hanya untuk memastikan kakiku tidak lagi berdarah karena masa lalu.
Mobil putih pemberian Ibu ini berhenti tepat di depan pagar rumah. Farez mematikan mesin, namun jemarinya masih terdiam di atas kemudi, seolah enggan melepaskan kendali yang baru saja ia ambil untuk menjagaku. Suasana di dalam kabin menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungku yang mulai kembali beraturan meski masih terasa berat.
Aku tidak menoleh padanya. Aku hanya menatap lurus ke arah pintu rumah yang tertutup rapat.
"Terima kasih, Rez. Kamu bisa pulang sekarang," ucapku pelan namun tegas.
Farez menoleh, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kekhawatiran yang masih tertinggal di sana. "Rana, kamu yakin—"
"Aku nggak apa-apa. Tolong, Rez... pulanglah. Aku butuh waktu sendiri," potongku, kali ini aku menoleh dan menatapnya dengan pandangan memohon.
Farez menghela napas panjang, lalu mengangguk kecil. Ia keluar dari mobil, menyerahkan kunci kepadaku melalui jendela yang terbuka, dan memastikan aku sudah memegang kunci itu dengan aman. "Masuklah. Aku akan pesan taksi online dari depan sini."
Aku tidak menunggu lebih lama. Aku keluar dari mobil, mengunci pintunya dengan tangan gemetar, dan setengah berlari menuju pintu rumah. Aku tidak sanggup menoleh ke belakang untuk melihatnya berdiri sendirian di bawah lampu jalan demi menungguku masuk. Begitu kunci berputar dan pintu terbuka, aku langsung menutupnya rapat-rapat.
Di ruang tengah, Ibu sedang duduk tenang di bawah lampu meja, fokus memasang payet pada sehelai kebaya pesanan pelanggan. Suasana rumah yang begitu tenang dan aroma melati dari pengharum ruangan seketika meruntuhkan sisa-sira pertahananku.
"Rana? Kamu sudah pul—"
Ibu belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat ia melihat wajahku. Sebelum Ibu sempat berdiri, aku sudah lebih dulu menghambur ke arahnya. Aku menjatuhkan diriku ke lantai, berlutut dan memeluk pinggang Ibu dengan sangat erat. Aku menyembunyikan wajahku di pangkuannya, tempat paling aman yang pernah kupunya di dunia ini.
"Ibu..." suaraku pecah, berubah menjadi raungan yang menyayat.
Tangis yang tadi sempat kuredam di depan Farez, kini meledak tanpa kendali. Aku menangis sesenggukan, membasahi kain jahitan di pangkuan Ibu dengan air mata yang panas. Tubuhku terguncang hebat. Bayangan butik mewah milik Ayah, foto Bagaskara, dan segala kebohongan yang baru saja kubedah di kepalaku terasa seperti racun yang ingin kubuang habis malam ini.
Ibu tidak bertanya satu patah kata pun. Beliau segera meletakkan pekerjaannya, lalu melingkarkan lengannya yang hangat di bahuku. Jemarinya yang mulai berkerut karena usia mengusap rambutku dengan gerakan yang sangat lembut—gerakan yang selalu bisa menenangkanku sejak aku masih balita.
"Tumpahkan semuanya, Sayang. Ibu di sini. Ibu nggak ke mana-mana," bisik Ibu lirih.
Aku semakin mengeratkan pelukanku, terisak hingga dadaku terasa perih. Aku menangis untuk pengkhianatan Ayah yang begitu nyata, aku menangis karena merasa terhina oleh kemewahan yang ia bangun untuk keluarga "satunya", dan aku menangis karena menyadari betapa jahatnya takdir yang membawaku kembali ke lubang luka yang sama.
Malam itu, di ruang tengah yang sunyi, hanya ada suara tangisanku yang memuakkan dan doa-doa bisu yang dipanjatkan Ibu. Aku memeluk Ibu seolah-olah jika aku melepaskannya, aku akan hilang ditelan kegelapan masa lalu. Dan Ibu tetap diam, menjadi tiang yang kokoh saat dunia yang kubangun selama lima tahun ini baru saja runtuh berkeping-keping.