NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Rumahhantu
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Malam aneh yang tak diundang akhirnya berlalu. Pelan tapi jelas, cahaya keemasan mulai menyusup di antara celah dedaunan. Kabut putih tipis pun mulai naik, tersapu oleh hangatnya sinar pagi yang dinanti.

"Akhirnya... pagi juga," gumam Herman, suaranya datar menatap langit yang mulai biru. "Kita dapat melanjutkan usaha pencarian jalan keluar segera."

"Jangan terlalu senang bodoh," balas Sulaiman tiba-tiba, sambil tangannya menggosok gergajinya yang masih berlumuran darah kental. "Hutan ini tidak punya hati. Tetap waspada."

Mereka lalu bangkit melanjutkan perjalanan. Matahari naik semakin tinggi, panasnya menyengat kulit hingga melepuh. Namun setidaknya, cahaya ini membuat mereka merasa sedikit lebih aman. Gelap adalah kerajaan setan, terang adalah wilayah manusia. Demikian yang mereka pikirkan.

Sekitar satu jam berjalan, suasana terasa... normal. Terlalu normal. Burung berkicau, serangga berdengung. Dedaunan seakan menyapa.

Tapi tiba-tiba...

Cahaya itu mati.

Bukan karena awan mendung. Langit biru cerah di atas kepala mereka perlahan berubah menjadi oranye gelap, lalu ungu pekat, dan akhirnya HITAM LEGAM dalam hitungan detik. Seperti seseorang mematikan saklar utama alam semesta.

"APA-APAN INI?!" teriak Deri, menunjuk ke atas dengan tangan gemetar. "Mataharinya... hilang! Dimakan langit..!

Matahari yang tadi bersinar terik lenyap begitu saja. Siang berubah menjadi malam total. Tidak ada senja, tidak ada proses alami. Dunia ini dipaksa gelap.

Suasana berubah dramatis. Suara burung lenyap seketika. Angin berubah menjadi desisan halus yang menyayat tulang. Suhu anjlok drastis, udara berubah sedingin batu sungai.

Wuuuuusssshhh...

Angin memikul aroma mawar layu bercampur bau dupa lama yang terlalu tajam dan menyengat. Sehingga mirip terasa seperti bau undangan kematian.

"Ini bukan gerhana," bisik Herman, wajahnya pucat pasi kehilangan semua warna. "Ini... ini pemaksaan. Alam ini seolah sedang dipaksa tidur."

Dan serangan itu datang.

Bukan dari luar. Bukan jelmaan, bukan hantu.

Serangan itu sekali lagi datang dari dalam kepala mereka sendiri.

Tiba-tiba, kepala Sulaiman terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas. Pandangannya kabur. Pohon-pohon di sekelilingnya bukan lagi kayu, melainkan berubah menjadi sosok-sosok manusia raksasa yang berdiri diam mematung. Wajah mereka kabur, tapi tatapan mereka terasa menghakimi.

"Lihat itu... mereka menonton kita," gumam Sulaiman, tangannya mencengkeram kepala hingga kuku seakan ingin merobeknya.

"Siapa Bos?! Tidak ada siapa-siapa! Itu pohon!" jawab Herman panik, mencoba mengguncang bahu Sulaiman.

"TUTUP MULUTMU! MEREKA MENDENGAR!" bisik Sulaiman dengan ketakutan yang jarang terlihat. "Sejak awal kita telah terjebak, kita telah tertelan. Mereka tidak suka cahaya, dan mereka membenci kita yang masih bernapas!"

Deri sudah histeris, air mata mengalir deras. "Aku dengar langkah kaki... banyak sekali... di belakang kita... tapi kalau aku menoleh, kosong! Tapi aku mendengar napasnya tepat di telinga!"

"ITU PENGHUNI PIKIRAN KITA YANG BURUK!" teriak Sulaiman berusaha menguatkan diri sendiri. "Jangan percaya mata! Jangan percaya telinga! Hanya rasakan hati nurani, sentuh dengan jiwa, rasakan tanah di bawah kakimu!"

Namun teror itu semakin ganas. Bayangan hitam berkelebat cepat di sudut mata. Bisikan-bisikan tak jelas bergema di dalam tengkorak mereka, menusuk kesadaran, memerintahkan hal-hal gila.

"Masuk ke sini... cepat... lebih baik dari menunggu mati..."

"Tebas leher temanmu... minum darahnya... hangat..."

"Kau tidak akan pernah pulang... kau akan mati gila di sini..."

"ARGH! DIAM KALIAN SETAN!!!"

Sulaiman mengayunkan parangnya ke udara, membelah bayangan hantu yang sebenarnya tidak ada. "Jalan! Terus jalan! Kalau berhenti, otak kita yang dimakan! JALAN!!!"

Mereka berlari membuta di tengah kegelapan yang seharusnya menjadi siang. Dikelilingi teror tak kasat mata yang jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik.

Hingga kaki mereka tak sanggup lagi, mereka memilih berhenti di sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rumput tinggi.

Kegelapan masih menyelimuti bumi. Bintang-bintang bersinar terang namun aneh, dan bulan purnama menggantung besar dan kuning keemasan tepat di atas kepala mereka.

"Sudah... sudah berapa jam?" tanya Deri terengah-engah, jatuh terduduk. "Pasti sudah tengah malam kan?"

Herman mengangkat tangannya, menatap jam tangan digitalnya. Cahaya hijau itu memancarkan angka yang membuat darah di tubuh mereka membeku.

10:15

"Pukul... sepuluh lewat lima belas menit pagi," suara Herman bergetar hebat, nyaris tak terdengar. "Ini pagi yang sudah menanjak. Matahari seharusnya mulai membakar kulit."

Mereka menatap ke atas. Bulan purnama itu bersinar begitu terang hingga memantulkan bayangan hitam tajam di tanah. Mereka terjebak. Di sini, pagi adalah malam, dan malam adalah selamanya.

"Bo bos... lihat rumputnya..." tunjuk Deri dengan jari gemetar.

Rumput-rumput tinggi di sekitar mereka perlahan bergerak. Bukan karena angin. Mereka melengkung-lengkung seperti cacing panjang, merayap mendekati kaki mereka. Dan dari ujung setiap helai rumput itu, tumbuh mata-mata kecil yang berkedip-kedip, menatap mereka dengan pandangan berisi yang menyimpan pertanyaan.

"JANGAN SENTUH APA-APA!" perintah Sulaiman tegas. "Segala sesuatu di sini sudah mati, dan sebenarnya sangat jauh berbeda."

Waktu berjalan sangat lambat, menyiksa. Detik terasa terhapus. Bulan purnama itu tidak pernah bergeser, tetap di tempat yang sama, mengawasi mereka dengan tatapan dingin.

Hingga akhirnya, sesuatu yang lain terjadi.

Cahaya bulan yang tadinya putih bercampur kuning keemasan, perlahan berubah warna.

Menguning lebih tajam... lalu oranye... merah bata... dan akhirnya menjadi MERAH DARAH yang mengerikan.

WOOOOSSSSHHH!!!

Angin badai langsung bertiup kencang, daun-daun kering berterbangan seperti silet tajam. Suara lolongan panjang terdengar dari kejauhan, bukan serigala, tapi suara manusia yang disiksa, dalam dan menyakitkan jiwa.

"Bulan... bulannya berdarah," bisik Herman tak percaya.

Di bawah cahaya merah itu, seluruh hutan tampak basah oleh pertumpahan darah. Pohon-pohon menjadi siluet iblis yang siap menerkam.

"Kita tidak bisa diam," ucap Sulaiman. Ia berdiri, menyalakan gergaji mesinnya. Suara deru mesin adalah satu-satunya hal yang nyata di dunia gila ini.

Mereka melangkah kembali ke rimba. Tanah di bawah kaki terasa lengket, seakan ada tangan-tangan tak kasat mata yang mencengkeram sepatu mereka, menarik mereka masuk ke dalam perut bumi.

Teror psikis kembali menyerang dengan kekuatan penuh.

Tiba-tiba, Deri berhenti dan menutup telinganya kuat-kuat.

"AAAAAAHHHH!!! JANGAN TERIAK! IBU! TOLONG IBU!!!"

"Deri! Sadar! Ada apa?!" Sulaiman mencengkeram kerah bajunya.

"Suara Ibu saya, Bos! Dia memanggil nama saya! Dia menangis! Dia bilang dia dibakar! Sakit sekali!" Deri menangis sejadi-jadinya, wajahnya hancur oleh air mata dan tanah. "Saya mau pulang... saya mau selamatkan Ibu saya..."

"ITU BUKAN IBUMU! ITU DELUSI!" hardik Sulaiman.

Tapi suaranya goyah. Karena dia juga mendengarnya.

Suara wanita yang tak asing. Itu adalah suara istrinya yang sudah meninggal bertahun lalu. Berbisik tepat di telinganya.

"Kau membunuhku... kau tinggalkan aku sendiri di dalam gelap... kau penebang yang kejam..."

Hawa dingin menyapu lehernya, seakan ada yang menghembuskannya tepat di sana. Sulaiman menoleh cepat, kosong. Tapi rasa itu begitu nyata.

"MUNDUR! SEMUA MUNDUR!" teriak Sulaiman sambil mengayunkan gergaji mesin ke arah angin. "PERGI KALIAN! PERGI KALIAN!!"

Namun hutan tidak peduli. Pohon-pohon di sekeliling mereka mulai berubah. Batangnya membelah, menampakkan mulut-mulut raksasa bergigi runcing tajam seperti kepala buaya yang tertancap berdiri, membuka menghambur tawa mengejek dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.

Mereka bertiga terpaksa berjalan dalam badai teror mental. Tubuh mereka mungkin masih utuh, tapi jiwa mereka sedang dicabik-cabik, dikoyak-koyak perlahan sampai tak berbentuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!