No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya dibalik Asap Mesiu
Setelah membantai pasukan Divisi Perisai Besi di Lembah Kunlun, Song Yuan bergerak menuju Kota Qinghe,sebuah kota benteng yang menjadi pintu masuk terakhir menuju wilayah inti Ibukota. Namun, Qinghe saat ini tidak seperti biasanya. Kota itu sedang dikepung oleh kelompok pemberontak bayaran yang disewa oleh pejabat korup untuk menjarah warga sipil di tengah kekacauan politik yang dibuat Yuan.
Yuan berdiri di atas dahan pohon tertinggi, mengawasi gerbang kota yang hampir jebol.
“Manusia... kau mau ikut campur?” Ao Kuang berdesis, lidah energinya menjilat udara. “Bau darah mereka sangat menggoda, tapi mereka hanya semut.”
"Aku hanya butuh jalan lewat," jawab Yuan dingin. Ia baru saja akan menarik busur tulang naganya untuk meratakan gerbang beserta penjarahnya, ketika sebuah kilatan cahaya putih perak melesat dari atas tembok kota.
Seorang gadis melompat turun dari ketinggian sepuluh meter dengan keanggunan seorang dewi perang. Ia mengenakan baju zirah perak yang pas di tubuh, dengan jubah biru langit yang berkibar. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tombak panjang dengan ujung berbentuk bulan sabit yang memancarkan aura suci.
Dialah Hua Ning,sang Gadis Pahlawan dari klan Hua yang legendaris.
"Berhenti! Siapa pun yang berani melangkah satu inci lagi ke dalam kota ini, harus berhadapan dengan tombakku!" suara Hua Ning menggelegar, jernih namun penuh wibawa.
Para penjarah itu tertawa. "Hanya seorang gadis? Serang! Tangkap dia dan jadikan budak!"
Hua Ning tidak membuang kata-kata. Tombaknya berputar, menciptakan badai angin yang mencerai-beraikan formasi lawan. Setiap gerakannya penuh dengan perhitungan dan rasa kemanusiaan—ia melumpuhkan, bukan langsung membunuh.
Yuan memperhatikan dari kejauhan dengan tatapan meremehkan. "Bodoh. Dia membiarkan musuhnya bernapas."
“Dia punya Roh Bela diri yang murni, Yuan-er,” bisik Ao Kuang. “Roh Cenderawasih Emas. Sangat berlawanan dengan kegelapan kita. Itu membuatku muak.”
Namun, jumlah penjarah terlalu banyak. Salah satu pemimpin pemberontak melepaskan jaring beracun dari belakang saat Hua Ning sibuk menahan serangan di depan. Hua Ning terperangkap, kakinya tersangkut, dan beberapa pedang sudah terangkat di atas kepalanya.
Crak!
Tiba-tiba, suara denting busur yang berat membelah udara. Sebuah anak panah cahaya hitam meluncur secepat kilat, menghancurkan pedang-pedang para penjarah itu menjadi serpihan kecil sebelum sempat menyentuh kulit Hua Ning.
Semua orang membeku. Aura dingin yang mencekam menyelimuti area gerbang. Song Yuan melompat turun dari pohon, mendarat dengan dentuman yang menggetarkan tanah. Rambut hitamnya menutupi sebagian wajahnya, tapi mata kuning vertikalnya bersinar terang di balik bayangan.
"Siapa kau?!" teriak si pemimpin pemberontak, gemetaran melihat busur tulang naga yang dibawa Yuan.
Yuan tidak menjawab. Ia menarik busurnya lagi. Kali ini, ia tidak membidik pedang, tapi langsung ke jantung mereka.
"Jangan! Jangan bunuh mereka!" teriak Hua Ning, berusaha melepaskan diri dari jaring. "Mereka bisa diadili!"
Yuan melirik Hua Ning sekilas. Tatapannya begitu kosong dan gelap hingga membuat gadis pahlawan itu terdiam kaku.
"Keadilan tidak akan menghidupkan orang mati," ucap Yuan parau.
WUSSS!
Tiga anak panah cahaya hitam melesat secara berurutan. Tidak ada ampun. Tidak ada negosiasi. Dalam hitungan detik, para penjarah yang tadinya mengancam Hua Ning sudah tersungkur dengan lubang di dada mereka yang menghitam terkena racun naga.
Yuan berjalan mendekat, melewati mayat-mayat itu tanpa emosi, lalu berhenti di depan Hua Ning. Ia menarik belatinya dan memotong jaring yang membelit gadis itu dalam satu gerakan cepat.
Hua Ning berdiri, menatap Yuan dengan campuran rasa terima kasih dan kengerian. "Terima kasih atas bantuanmu, tapi... caramu terlalu kejam. Siapa kau sebenarnya? Aura ini... kau bukan pendekar biasa."
Yuan menyampirkan kembali busur naganya di punggung. "Aku hanya seorang musafir yang sedang menagih utang. Jangan halangi jalanku, Gadis Tombak."
“Hehehe, dia menarik juga, Partner,” Ao Kuang tertawa di dalam kepala Yuan. “Ayo kita lihat berapa lama 'Cahaya' miliknya bisa bertahan di samping 'Kegelapan' milikmu.”
Yuan mulai melangkah masuk ke gerbang kota yang kini sunyi, meninggalkan Hua Ning yang masih berdiri terpaku, menatap punggung sang pemanah naga dengan penuh tanda tanya. Pertemuan antara sang penuai nyawa dan sang pahlawan baru saja dimulai.
Yuan terus melangkah, bayangannya memanjang di atas tanah Kota Qinghe yang kini berbau amis darah dan debu. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman lonceng kematian bagi siapa pun yang berani mengintip dari balik jendela rumah yang tertutup rapat. Di lengannya, tato Ao Kuang bergetar, memberikan sensasi hangat yang aneh—sebuah reaksi terhadap aura suci yang baru saja ia temui.
"Tunggu!" teriak Hua Ning. Suaranya bergema di jalanan kota yang sepi, menghentikan langkah kaki Yuan sejenak. "Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah menumpahkan darah sebanyak ini. Nama klan Hua tidak akan membiarkan seorang pembunuh berkeliaran tanpa identitas!"
Yuan tidak berbalik. "Klan Hua... klan yang katanya menjaga kedamaian dengan kata-kata manis?" Yuan tertawa dingin, suara yang lebih menyerupai geraman naga. "Di mana klanmu saat Desa Songjia dibakar tujuh tahun lalu? Di mana tombak suci itu saat teriakan anak-anak kecil dibungkam oleh pedang kaisar?"
Hua Ning tertegun. Cengkeramannya pada tombak bulan sabit itu sedikit melonggar. "Desa Songjia... jadi kau... kau adalah—"
"Aku adalah apa yang tersisa dari dunia yang kalian biarkan hancur," potong Yuan tajam. Ia perlahan menoleh, menunjukkan sebelah matanya yang bersinar merah darah—tanda kontraknya dengan Ao Kuang yang sedang aktif. "Jangan bicara soal keadilan padaku, Gadis Tombak. Keadilanmu hanyalah selimut bagi mereka yang takut untuk mengotori tangan dengan darah."
Hua Ning menatap mata itu dan merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia telah menghadapi banyak monster, tapi pemuda di depannya ini adalah sesuatu yang berbeda. Ia adalah perwujudan dari rasa sakit yang telah mengkristal menjadi kehancuran.
"Biarkan dia bicara, Yuan-er," bisik Ao Kuang, suaranya dipenuhi kelicikan. "Aku ingin melihat apakah cahaya Cenderawasih-nya akan meredup jika dia tahu bahwa klan pahlawannya pun memiliki noda hitam di masa lalu."
Yuan kembali melangkah menuju pusat kota, namun sebelum benar-benar menghilang di tikungan jalan, ia berhenti sekali lagi. "Kaisar akan mengirim Unit Elang Pusat yang lebih kuat ke kota ini dalam dua hari. Jika kau benar-benar ingin menjadi pahlawan, siapkan kuburan yang luas bagi mereka. Karena jika aku yang menemukan mereka lebih dulu, tidak akan ada satu pun tubuh yang tersisa untuk dikuburkan."
Hua Ning berdiri terpaku di depan gerbang, memandangi sosok hitam yang perlahan tertelan kegelapan malam. Ia merasakan firasat buruk. Kedatangan pemuda ini bukan hanya akan membawa pertumpahan darah, tapi juga akan mengguncang fondasi kepercayaan yang selama ini ia pegang teguh.
Di langit malam Qinghe, seekor elang pengintai dengan mata mekanik berputar-putar tinggi di atas sana, mengirimkan gambaran visual langsung menuju ruang singgasana Ibukota. Di sana, seorang pria dengan jubah emas melihat bayangan Song Yuan dan tersenyum tipis.
"Akhirnya... naga itu telah terbangun," bisik sang kaisar, suaranya dingin dan hampa. "Biarkan sang Pahlawan Cenderawasih dan sang Iblis Pemanah Naga berdansa sejenak. Aku ingin melihat siapa di antara mereka yang akan pertama kali mematahkan jiwanya."
Di dalam hatinya yang paling dalam, Song Yuan merasakan kehadiran ribuan mata yang mengawasinya. Ia mencengkeram Busur Kerangka Naga lebih erat. Malam ini di Qinghe hanyalah permulaan. Badai yang sesungguhnya sedang terbentuk di ufuk timur, membawa serta rahasia-rahasia tua yang siap menghancurkan siapa pun yang terjebak di dalamnya—termasuk dirinya sendiri.
Setelah keributan di gerbang kota mereda, Song Yuan memutuskan untuk mencari informasi di sebuah kedai minuman di pinggiran Qinghe. Baru saja ia duduk dan meletakkan busur raksasanya, tiga orang wanita penghibur dengan pakaian sutra minim mendekat. Mereka tidak tahu siapa pemuda di balik tudung hitam itu; yang mereka lihat hanyalah postur tubuh yang tegap dan misterius.
"Tuan Pendekar, kau tampak sangat lelah," ucap salah satu wanita sambil mencoba menyentuh bahu Yuan dengan jari-jarinya yang harum bedak. "Kenapa tidak membiarkan kami menghangatkan malammu yang dingin ini?"
Yuan tetap diam. Matanya yang kuning vertikal menatap cangkir tehnya dengan dingin. Di dalam kepalanya, Ao Kuang tertawa terpingkal-pingkal. "Hahaha! Partner, sepertinya daya pikatmu lebih tajam dari panahmu. Haruskah aku keluar dan memakan mereka agar kau bisa minum dengan tenang?"
"Diam, Naga Bodoh," batin Yuan datar.
Wanita lainnya semakin berani, ia duduk tepat di samping Yuan dan berbisik manja, "Senjata raksasa di punggungmu ini... pasti sangat berat, ya? Bagaimana kalau—"
SRET!
Sebuah ujung pedang perak tipis tiba-tiba menyelinap di antara wanita itu dan Song Yuan, hanya berjarak beberapa milimeter dari leher si wanita penggoda.
Hua Ning berdiri di sana dengan wajah yang lebih dingin dari salju Kunlun. Aura Roh Cenderawasih-nya meledak kecil, membuat suhu di kedai itu mendadak turun drastis.
"Dia sedang dalam perjalanan suci. Pergi, atau ujung pedangku yang akan menghangatkan leher kalian," ucap Hua Ning dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Wanita-wanita itu menjerit ketakutan dan lari tunggang langgang. Kedai pun mendadak sunyi. Hua Ning kemudian mengarahkan pedangnya tepat ke dagu Song Yuan, memaksanya untuk mendongak.
"Dan kau, Pemanah Naga," desis Hua Ning, matanya berkilat penuh emosi yang bahkan ia sendiri tidak pahami. "Jika kau membiarkan sembarang wanita menyentuh auramu lagi, aku sendiri yang akan memastikan busurmu patah sebelum kau sampai di Ibukota. Paham?"
Yuan menepis ujung pedang Hua Ning dengan jarinya yang dilapisi energi hitam. "Kau terlalu ikut campur, Gadis Tombak. Aku tidak butuh pelindung moral darimu."
"Aku tidak melindungimu," sahut Hua Ning ketus sambil menyarungkan pedangnya dengan kasar. "Aku hanya tidak ingin cahaya hidup yang aku cari tercemar oleh bau bedak murahan."
Ia berbalik dan duduk di meja seberang, terus mengawasi Yuan dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus jantung. Yuan hanya mendengus, kembali meminum teh pahitnya sementara Ao Kuang terus mengejek di dalam pikirannya soal "istri yang posesif".
... Kasta Jenderal Menurut Aturannya :...
...1.Kasta 1 : Jenderal Besar (Grand Marshal)...
...Status : Pemegang segel militer tertinggi.Biasanya cuma ada 1 orang....
...2.Kasta 2 : Jenderal Pelindung Ibukota ...
...Status :Penjaga gerbang istana dan keamanan Kaisar....
...3.Kasta 3 :Jenderal Penakluk...
...Status : Panglima Garis depan yang kerjanya menghancurkan desa dan pemberontakan....
...4.Kasta 4 : Jenderal Perbatasan...
...Status : Penjaga benteng luar Kekaisaran...
...5.Kasta 5 : Jenderal Muda (Vanguard)...
...Status: Pemimpin pasukan Elit Kecil....
...Song Yuan belum memiliki status jenderal,baginya menjadi Pemanah bayangan adalah tugas utamanya saat ini....
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏