NovelToon NovelToon
Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Persaingan Mafia / Sugar daddy
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.

Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.

Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.

Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Keluarga Ducker

Saat tawa itu mereda, Gwen mengubah topik. “Katanya kamu mau ngomong sesuatu.”

“Iya. aku mau kamu pasang alat sadap di kamar Esmond dulu. Kantornya juga, tapi kamar dia prioritas.”

“Okay. Gimana cara aku masuk ke kamarnya? Aku bisa nyelinap pas dia lagi kerja.”

“Selalu ada orang di sekitarnya. Entah pembantu atau anak buah.” Raymon memindahkan berat badannya dari kaki yang cedera, bersandar ke meja. “Aku harus mikirin caranya.”

“Kalau aku gagal gimana?”

“Kamu gak akan gagal.”

Raymon sempat mengangkat tangan seolah ingin menyentuh wajah Gwen, tapi kemudian mengurungkan niatnya dan menarik kembali tangannya.

“Kamu udah kasih tahu orang tua kamu soal pernikahan kita?”

Gwen menegang. “Belum. Harus ya?”

“Iya.”

“Sial. Mama aku bakal bunuh aku. Dia selalu bilang pingin bikin pesta pernikahan besar kalau aku nemu orang yang cukup gila buat nikahin aku. Mungkin aku cukup kirim pesan aja.”

Otot di rahang Raymon menegang. Dia mendekat sampai hidung mereka hampir bersentuhan.

“Kamu gak bisa kasih tahu mama kamu soal pernikahan ini lewat chat, Gwen. Kamu harus telepon dan undang mereka makan malam.”

“Di sini?” Gwen berkedip. “Aku gak bisa ngajak mereka ke sini. Kalau Mama aku lihat semua orang bawa senjata, dia bakal mikir aku nikah sama mafia!”

Alis Raymon terangkat tinggi. “Dan itu memang benar.”

“Iya, tapi bisa gak kita gak bahas detail itu? Dia aja sempat panik waktu lihat piercing hidung aku. Mama aku old school banget. Bahkan handuk aja dia setrika. Aku gak yakin dia bakal nerima kalau aku nikah sama bos kriminal.”

Raymon tertawa kecil sambil menggeleng. “Ya udah. Kita ajak mereka makan di restoran.”

...***...

Raymon memang tidak menyukai mamanya Gwen. Seperti yang sudah diduga, wanita itu terkejut saat Gwen memberi tahu bahwa mereka menikah begitu tiba-tiba, dengan pria yang sama sekali belum pernah ia kenal.

Namun dari cara pandangnya sepanjang makan siang, jelas dia lebih terganggu melihat Raymon yang di kursi roda daripada fakta bahwa putrinya menikah dengan orang asing.

“Kamu hamil, Gwen?” tanyanya santai di sela-sela menyuap kue.

Di samping Raymon, Gwen langsung tersedak anggurnya.

“Ya ampun, Ma,” katanya setelah berhasil mengatur napas. “Enggak lah. Kita baru kenal seminggu.”

“Tapi kita lagi usaha ke arah sana,” ujar Raymon sambil meraih tangan Gwen. “Iya, kan, Babby?”

Gwen berkedip, lalu tersenyum dan mencondongkan tubuh untuk menciumnya. “Iya dong.”

Papa Gwen duduk di seberang meja, hampir tidak bicara sepanjang waktu. Pria itu menghindari tatapan Raymon. Setiap kali mata mereka bertemu, dia segera mengalihkan pandangan dan menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah meja.

Raymon juga tidak menyukai Antonius Ducker. Bukan karena pria itu pernah mencuri uangnya, tapi karena Antonius tahu persis siapa Raymon, dan tetap membiarkan putrinya menikah dengannya demi menyelamatkan dirinya sendiri.

Benar-benar menyedihkan.

Ponselnya berdering di atas meja, menampilkan nama Mason. Jam baru menunjukkan pukul enam sore. Klub belum buka, jadi ini pasti bukan urusan biasa.

Raymon mengangkat panggilan itu.

“Presiden. Kita ada masalah.”

Tentu saja.

“Aku dengerin.”

“Orang Ukraina ada di sini. Vladimir mau nego ulang.”

“Suruh dia hubungi Darius. Itu urusan dia.”

“Mereka udah ketemu pagi tadi. Tapi Vladimir bilang dia gak mau negosiasi lagi sama dia.”

Hening sejenak di ujung sana, lalu Mason melanjutkan.

“Darius coba motong tangan dia.”

“Bagus banget.”

Raymon memijat pangkal hidungnya dan menghela napas.

“Kamu di mana? Di Ural?”

“Iya.”

“Aku sampai dalam dua puluh menit.”

Raymon memasukkan ponselnya ke saku, lalu menoleh ke Gwen. “Aku harus pergi. Grimm bakal tetap di sini, nanti dia anterin kamu pulang.”

“Semua aman?” tanya Gwen.

“Iya.” Raymon mengangguk dan menciumnya. Lalu, melihat cara Mama Gwen memperhatikan mereka, dia menambahkan dengan santai, “Pakai sesuatu yang seksi dan tunggu aku. Aku gak bakal lama.”

Gwen mengikuti Raymon dengan tatapannya saat pria itu berjalan menuju pintu keluar, tempat Grimm berdiri bersandar di dinding. Mereka berbicara pelan, lalu Raymon pergi.

Ada apa sebenarnya?

Kelihatannya serius.

“Kamu yakin ini keputusan yang benar, Gwen?” tanya mamanya.

Gwen menoleh menatapnya. “Maksud Mama?”

“Nikah sama pria itu, cuma setelah dua hari kenal.” Mamanya menatapnya dengan campuran kesal dan jengkel. “Maksud mama, mama sih gak heran. Dari dulu kamu selalu ngelakuin semuanya sesuka hati kamu. Tapi tetap aja.”

Gwen memutar mata. “Pria itu punya nama. Dan kita saling cinta. Kenapa harus nunggu?”

“Aku ngerti kenapa kamu jatuh cinta sama dia. Dia lebih tua, kaya, berkelas. Dan sangat tampan.”

“Nah, itu dia.” Gwen tersenyum dan bersandar santai di kursinya. “Mimpi mama akhirnya kejadian. Aku kira mama bakal senang.”

“Dia pakai kursi roda, Gwen.”

“Virginia!” desis ayahnya dari seberang meja sambil melirik ke arah Grimm di dekat pintu. “Diam.”

“Jangan nyuruh aku diam, Antonius. aku cuma mau yang terbaik buat anak aku dan aku berhak khawatir.”

“Simpan kekhawatiran kamu buat diri kamu sendiri, Ma,” potong Gwen tajam.

Ibunya condong ke depan di atas meja. “Apa yang terjadi sama dia? Kecelakaan mobil?”

“Iya.” Gwen melemparkan serbetnya ke piring. “Dia cedera parah di kaki beberapa bulan lalu. Udah cukup jelas?”

Ibunya mengatupkan gigi, menatapnya dengan mata menyipit.

“Dia masih bisa jalan?”

Gwen menatap balik tanpa gentar. “Aku baru aja bilang. Aku nikah sama dia karena aku cinta. Kenapa itu jadi masalah?”

Aneh juga betapa mudahnya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

“Kenapa?” Ibunya membelalak, lalu menoleh ke suaminya. “Kenapa kamu diem aja? kamu udah tahu ini, Antonius?”

“Virginia, demi Tuhan, diam.”

Ibunya sama sekali tidak menggubris. “Ini semacam pemberontakan ya, Gwen? Fase kamu lagi?”

Sudah cukup.

Gwen meraih ponselnya dari meja, berdiri, lalu berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih duduk di meja.

1
Agnes💅
kalo udah nikah kuras harta nya aja sekalian🤣
Agnes💅
wah seru cerita nya 😍
Neng Anne
lanjut thoooorrrr
Neng Anne
Padahal ceritanya bagus. susunan kata-katanya, bahasanya dan tentu ceritanya. tetap semangat thor,,, jangan menyerah... aku padamu😘🫶🫰
Na-Hyun: terimakassi kk 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!