NovelToon NovelToon
Legenda Api Yang Menghilang

Legenda Api Yang Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:567
Nilai: 5
Nama Author: Absonen

Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 [Dosa yang Menginjak Tanah Manusia]

Malam di Hinomura terasa… salah.

Bukan karena gelapnya.

Bukan karena sunyinya.

Namun karena sesuatu yang hilang.

Angin.

Tidak ada angin.

Daun-daun di pepohonan diam.

Terlalu diam.

Seolah dunia… berhenti bernapas.

Di dalam rumah kecil itu,

Shiranui Akihara membuka matanya.

Tidak ada suara yang membangunkannya.

Namun tubuhnya… sudah tahu.

Sesuatu datang.

Ia duduk perlahan.

Tatapannya langsung tajam.

“…Liora.”

Di sudut ruangan,

Liora Raizen sudah berdiri.

Ia juga tidak tidur.

Matanya mengarah ke pintu.

“Aku merasakannya.”

Suaranya rendah.

Berat.

“…ini bukan seperti sebelumnya.”

Akihara berdiri.

Tidak terburu-buru.

Namun setiap gerakannya penuh kesiapan.

Ia menoleh ke arah bayi yang masih tertidur.

Noa.

Tenang.

Damai.

Seolah tidak terhubung dengan dunia di luar sana.

Namun justru itu yang membuatnya… mencurigakan.

“Masuk ke dalam.”

Akihara menggendong Noa dengan hati-hati.

Liora langsung bergerak.

Menutup jendela.

Mengunci pintu.

Posisi mereka jelas.

Akihara di depan.

Liora di samping.

Melindungi.

Di luar…

Langkah kaki terdengar.

Pelan.

Tidak tergesa.

Tidak berat.

Namun…

Setiap langkah

Membuat tanah retak.

Di jalan desa yang kosong…

Sosok itu berjalan.

Kepalanya sedikit menunduk.

Matanya setengah terbuka.

Seolah… malas.

Namun aura di sekitarnya

Menghancurkan keseimbangan.

Dia adalah

Acedia.

Salah satu dari Tujuh Dosa Besar.

Seekor anjing desa mencoba menggonggong.

Namun suaranya terhenti di tenggorokan.

Tubuhnya gemetar.

Lalu jatuh.

Pingsan.

Tanpa disentuh.

Tanpa dilihat.

Acedia berhenti.

Di depan rumah kecil itu.

Ia mengangkat kepalanya sedikit.

Tatapannya kosong.

Namun tepat.

Mengarah ke satu titik.

“…di sini.”

Suaranya pelan.

Hampir seperti bisikan.

Namun cukup untuk membuat udara bergetar.

Di dalam rumah

Akihara mengepalkan tangannya.

Api muncul.

Kali ini

Tidak kecil.

Tidak ragu.

Liora mengangkat tangannya.

Petir mulai berkumpul.

Cahaya biru menyambar pelan di sekitarnya.

Keduanya…

Sudah siap.

Pintu terbuka.

Perlahan.

Akihara melangkah keluar.

Liora mengikuti di belakangnya.

Dan di sana

Mereka melihatnya.

Untuk pertama kalinya.

Secara langsung.

Acedia menatap mereka.

Tidak tertarik.

Tidak terkejut.

Seolah…

Ia sudah tahu.

“…manusia.”

Satu kata.

Datar.

Kosong.

Liora langsung bergerak.

CRACK!

Petir menyambar.

Cepat.

Tanpa peringatan.

Langsung menuju Acedia.

Namun

Petir itu melewatinya.

Bukan karena menghindar.

Namun karena…

Seolah tidak pernah mengenai apa pun.

Liora membeku.

“…apa-”

Akihara langsung maju.

Api menyala di tangannya.

Lebih panas.

Lebih padat.

Ia menyerang.

BOOM!

Api meledak.

Mengenai tubuh Acedia.

Namun

Tidak ada efek.

Tidak ada luka.

Tidak ada reaksi.

Acedia hanya berdiri.

Diam.

“…ganggu.”

Satu kata.

Ia mengangkat tangannya sedikit.

Tidak cepat.

Tidak kuat.

Namun

CRACK.

Udara retak.

Akihara dan Liora terpental bersamaan.

Tubuh mereka menghantam tanah.

Keras.

Warga mulai keluar dari rumah.

Namun langsung berhenti.

Kaki mereka gemetar.

Beberapa jatuh.

Tidak mampu berdiri.

Tekanan itu…

Terlalu besar.

Akihara bangkit perlahan.

Darah mengalir dari sudut bibirnya.

Matanya berubah.

Lebih tajam.

Lebih dingin.

“…ini bukan makhluk hidup.”

Liora berdiri di sampingnya.

Napasnya berat.

“…ini… sesuatu yang lain.”

Acedia melangkah.

Satu langkah.

Mendekat.

Tanah di bawahnya hancur perlahan.

“…aku hanya mengambilnya.”

Kalimat itu keluar tanpa emosi.

Namun jelas.

Dan langsung

Akihara mengerti.

Ia berdiri di depan rumah.

Api menyala lebih besar.

Lebih panas.

Udara di sekitarnya berubah.

Seperti kembali ke medan perang dua tahun lalu.

“…kalau mau lewat…”

Suaranya rendah.

Namun penuh tekanan.

“…lewati aku dulu.”

Hening.

Beberapa detik.

Acedia berhenti.

Ia menatap Akihara.

Lalu Liora.

Lalu rumah itu.

Tatapannya kosong.

Namun seperti… berpikir.

Untuk pertama kalinya

Ada jeda.

“…menyusahkan.”

Ia menghela napas pelan.

Seperti benar-benar malas.

Namun tiba-tiba

BOOM.

Tekanan meledak.

Bukan ledakan api.

Bukan petir.

Namun tekanan murni.

Akihara dan Liora langsung terhempas.

Tubuh mereka terpental jauh.

Menghantam tanah lagi.

Lebih keras.

Lebih brutal.

Namun

Acedia tidak melanjutkan.

Ia tidak masuk ke rumah.

Tidak mengambil Noa.

Tidak membunuh siapa pun.

Ia hanya berdiri.

Sejenak.

“…belum saatnya.”

Bisikan pelan.

Dan dalam sekejap

Ia menghilang.

Tanpa cahaya.

Tanpa suara.

Tanpa jejak.

Hening.

Total.

Akihara bangkit perlahan.

Napasnya berat.

Matanya tetap tajam.

“…dia… bisa membunuh kita.”

Liora duduk di tanah.

Masih terengah.

“…tapi dia tidak melakukannya.”

Keduanya terdiam.

Dan itu…

Lebih menakutkan.

Akihara langsung berlari ke dalam rumah.

Membuka pintu.

Noa masih di sana.

Tertidur.

Tenang.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Ia menghela napas pelan.

Namun tidak lega.

Tidak lagi.

Di luar

Langit berubah.

Awan bergerak lebih cepat.

Angin mulai kembali.

Namun terasa… berbeda.

Jauh di selatan.

Di tanah berbatu.

Sosok itu muncul kembali.

Acedia.

Ia berdiri diam.

Sendirian.

Di hadapannya

Hamparan luas menuju satu kerajaan.

Kerajaan Mushaf.

Tanah para pejuang.

Tanah Grandmaster Batu.

Tempat di mana kekuatan fisik adalah hukum.

Acedia menatap ke arah itu.

Matanya sedikit terbuka lebih lebar.

Untuk pertama kalinya…

Sedikit ketertarikan muncul.

“…mungkin…”

Ia mengangguk pelan.

Gerakan kecil.

Namun penuh arti.

“…yang ini tidak akan membosankan.”

Angin berhembus.

Membawa bayangan itu ke depan.

Dan tanpa suara

Ia melangkah.

Menuju selatan.

Menuju kehancuran berikutnya.

Sementara itu

Di desa kecil bernama Hinomura…

Dua orang berdiri dalam diam.

Mereka selamat.

Namun mereka tahu.

Ini baru awal.

Dan sesuatu yang jauh lebih besar…

Sedang mendekat.

1
Awkward
flbck kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!