NovelToon NovelToon
Quantum Xuan

Quantum Xuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aditya Jetli

Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.

Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.

Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Perdebatan

Kraaakk! Dum! Dum! Booomm!

"Aaarrrgghh!"

"Lepaskan! Kalau tidak....?"

Brug, Brug, Brug.

Belum juga selesai mengeluarkan ancaman. Tubuh Oka tersungkur ke lantai, begitu juga dengan tubuh tubuh lainnya. Semuanya dibuat pingsan.

Melihat itu Xuan Nindya bergumam. "Untung belum terlambat. Lengah sedikit saja garis darahnya akan bangkit, dan itu bisa menyulitkan ku di kemudian hari."

"Beruntung Quantum Xuan mengingatkanku. Kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku, karena aku bisa melihat kekuatan garis darah tersebut sangat kuat"

"Menyerap kekuatan Songgo Langit saja, inti spiritual ku akhirnya bisa menembus batasan. Sekarang kekuatan spiritualku sudah naik menjadi tingkat enam. 6.000 kekuatan tenaga kuda, dan 3.000 kekuatan gajah."

"Jika begini terus, maka kekuatan puncak ku akan cepat kembali, dan aku tidak akan takut lagi saat berhadapan dengan leluhur Oka, juga leluhur leluhur lainnya" gumamnya.

Lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dimana di sudut kelas dia melihat Xuan Li sedang menggigil ketakutan, karena tekanan kuat yang diberikan oleh Xuan Nindya juga Quantum milik tuannya.

Sementara siswa lainnya berdiri dan duduk kaku di tempatnya masing masing.

Quantum Xuan telah membekukan waktu untuk sementara, dan durasinya hanya tiga menit. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk melakukan sesuatu pada mereka.

"Xuan Li!" seru Xuan Nindya. "Kenapa kau malah berdiri saja disitu. Ayo kesini, dan bantu aku mengamankan mereka" sambungnya.

"Ba ba baik Nona!" jawabnya.

"Kenapa dari tadi kau diam saja, dan kenapa tidak membantuku mengatasi mereka?"

"Maaf Nona. Entah mengapa tiba tiba kekuatanku menghilang, dan tubuhku kaku tidak berdaya?"

"Setelah Nona memanggilku, barulah kekuatanku itu kembali, dan sekarang rasanya aku semakin kuat. Apakah Nona tahu apa penyebabnya?"

"Jangan tanyakan itu. Nikmati saja kemudahan yang telah kau dapat. Lagipula kau itu wakilku. Jadi aku meningkatkan kekuatanmu secara instan. Paham?"

"Paham Nona. Maafkan Lili."

"Bagus! Ayo bantu aku menyingkirkan mereka."

"Siap Nona!"

"Ji Quan. Tolong bantu aku menghapus bekas kekerasan, dan buat yang lainnya tidak menyadari itu, seolah olah tidak pernah terjadi apa apa"

[Baik tuan]

Maka dalam sekejab saja, keadaan kelas sudah kembali seperti semula. Tujuh orang siswa petugas OSIS itu pun sudah tidak ada. Mereka sudah masuk ke kelasnya masing masing. dan sekarang sudah dibawah kendali tuan barunya, Xuan Nindya.

Sementara itu di ruang sidang sana, guru guru sedang berdebat membicarakan tentang nasib 8 orang yang saat ini sedang menjalani hukuman, karena tekanan keadaan.

Mereka juga membicarakan tentang Xuan Nindya juga Xuan Li, yang saat ini masih mereka panggil Nindya juga Kirana.

Dalam Debat itu yang paling vokal adalah Bima, bertindak atas nama kepala sekolah, yang selama tujuh tahun ini disandangnya.

Saat memimpin sidang dia berkata." Keponakanku Raka dan sepupunya Dirman itu, adalah siswa teladan kebanggan yayasan."

"Selama dua tahun ini prilakunya sangat baik, bahkan sering menolong orang orang yang kesusahan."

"Jika kita terus menghukumnya karena tekanan keadaan, aku khawatir pelajarannya akan terganggu dan prestasinya akan menurun."

"Jadi usulku, hapus hukuman mereka, dan buat laporan seolah olah tidak pernah terjadi apa apa." usulnya.

"Maaf pak Bima. saya tidak setuju jika hukuman itu kita cabut, karena masyarakat di luar sana masih terus memantau situasi dan keberadaan mereka."

"Jadi saranku, kita tetap memberlakukan hukuman itu, sambil terus memberikan pelajaran tambahan pada Raka juga pada yang lainnya."

"Dengan aturan itu, saya yakin permasalahan di Yayasan kita akan menghilang secara perlahan, dan masyarakat merasa puas dengan ketegasan kita!" sambungnya.

"Saya setuju dengan pendapat Pak Jaya, karena secara tidak langsung kita telah memberikan pembelajaran pada mereka, tanpa mengintervensi keputusan yang telah dikeluarkan oleh ketua yayasan."

"Jika kita berani melangkahinya, aku yakin posisi kita akan terancam, dan kemungkinan besar kita semua akan kehilangan pekerjaan." ucap guru kimia bernama Vina.

"Pak Jaya dan ibu Vina jangan lupa, bahwa Raka itu adalah keponakanku!"

"Jika kita terus menghukumnya, maka aku khawatir masa depannya akan terancam, dan itu akan mempengaruhi posisiku di keluarga."

"Masa pamannya seorang kepala sekolah, keponakannya dihukum hanya diam saja?" celetuk Bima.

"Aturan tetap aturan pak Bima. Walaupun anda seorang kepala sekolah, tapi kita tidak bisa melanggarnya, karena di atas kita masih ada kekuasaan lainnya, terutama opini masyarakat, dan itu tidak bisa kita redam hanya dengan pendapat saja!"

"Jadi menurutku, kita sudahi saja rapat tidak berguna ini, agar tidak....?"

"Apa yang kalian bicarakan. Kenapa aku datang kalian tidak menyambutku di depan?" ucap seseorang yang tiba tiba masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Oh, Pak Pramana, ketua Yayasan kita. Maafkan kami karena kami tidak menyadari kehadiran anda."

"Mari pak Pram, silahkan duduk di kursi utama." respon pak Bima. mencoba mencari muka pada atasannya.

"Tidak perlu. Kalian dengarkan saja. Aku sudah mendapatkan informasi yang bisa dipercaya, bahwa kejadian yang memalukan itu bermula saat siswa yang bernama Nindya dan Kirana itu masuk."

"Padahal menurut informasi yang aku dengar, mereka sudah meninggalkan sekolah selama kurang lebih 10 hari, tapi begitu masuk, kenapa kalian tidak memanggil dan meminta klarifikasi dari mereka?" jawab Pramana.

"Kami ingin memanggilnya Pak Pram, bahkan kami sudah berusaha untuk menghapus data datanya di sekolah ini. Tapi entah mengapa tiba tiba data tersebut kembali seperti semula, bahkan data data di dukcapil juga tetap ada, tidak bisa di hapus atau dihancurkan." jawab Bima.

"Lalu kenapa tidak kalian panggil sehari sesudahnya atau saat itu juga?" bantah Pramana.

"Walaupun data datanya kembali muncul, bukankah laporan yang aku terima, mereka semua sudah mati karena kecelakaan itu?" tanya Pramana lagi.

"Benar Pak Pram. Tapi kenyataannya mereka masih hidup, dan sekarang sudah belajar seperti semula. Jadi kita tidak bisa memaksanya untuk keluar dari yayasan." jawab Jaya.

"Lalu apa kepentingan mu Jaya. Apakah kau membela mereka, dan berapa keuntungan yang telah kau dapat dari mereka, ha?" ejek Pramana.

"Saya tidak mendukung atau membela mereka Pak Pramana. Tapi demi keadilan juga masa depannya, Saya tidak setuju dengan pendapat Kepala Sekolah juga pendapat yang lainnya."

"Mereka harus tetap sekolah apapun yang terjadi, karena kebenaran itu sekarang sudah terungkap, bahwa mereka masih hidup. Jadi mereka berhak untuk mengenyam pendidikan di sekolah manapun yang mereka inginkan, termasuk di sekolah ini."

"Kamu Jaya Karta bukan, guru yang masuk atas rekomendasi gubernur wilayah ini, yang ilmunya masih diragukan?" tanya Pramana tiba tiba.

"Saya memang Jaya Karta pak, dan apa yang anda katakan itu benar. Saya masuk memang atas rekomendasi dari Bapak Gubernur. Tapi kalau masalah ilmu yang bapak ragukan, silahkan diadu."

"Cari lawan yang sebanding dengan ilmu saya, maka saya akan menghadapinya dengan senang hati." jawab Jaya cukup jumawa

"Kurang ajar! Apakah kau sudah bosan untuk mengajar di sekolah ini, ha?"

"Sebagai ketua Yayasan, aku berhak untuk memecatku apapun reaksi dari Gubernur panutanmu itu!" respon Pramana murka.

"Silakan kalau itu yang bapak inginkan. Tapi yang jelas, jika anda meragukan ilmuku, maka aku akan melawan!" balas Jaya Karta mengejutkan mereka semua.

1
azka aldric Pratama
saking bagusnya,gk bisa komen apa2👏👏👏👏
azka aldric Pratama
hadir moga bagus
irawan muhdi
lanjut thor 👍
Lely Riza U
ceritanya sangat menarik👍
Bambang Widono
mantab lanjut Thor👍🙏🙏🙏💯💯💯💯💯👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Aditya Jetli: Terima kasih Kak. Baru kali ini buat Novel yang MC nya Perempuan. Dukung terus ya kak. biar tambah semangat
total 1 replies
Aditya Jetli
Tinggalkan jejak setelah membaca ya. walau hanya like saja. Itu sudah jauh lebih baik dari tidak sama sekali. Ditunggu kebaikannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!