Mati karena peluru lalu jiwa bertransmigrasi ke dalam raga seorang yang ternyata adalah seorang figuran tanpa nama yang miskin. Anin pun bertekad untuk merubah takdir nya memanfaatkan wajah polos raga barunya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak rapuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 17
Bianca menatap Darian dengan takut-takut. Menyadari pisau yang masih ada di tangannya, Bianca segera membuang itu. Namun mau apa di kata kalau perbuatan nya sudah Darian lihat dari awal.
"Gue udah panggil polisi"ucap Darian menahan emosi
Bianca menggeleng ribut. "Enggak, jangan! A-aku di sini karena Silviana mau rencanain penculikan buat Ara!" kilah nya tak mengaku.
"Kita udah lihat dari awal kali." cibir Julian dengan datar. Lelaki itu menatap malas ke arah Bianca yang panik.
"Kak, Bianca gak ngelakuin ini!"ucap Bianca takut serta panik
Darian tak bergeming dia menatap Silviana yang masih membuka matanya namun dengan nafas yang putus-putus.
"Kenapa lo lakuin ini?" tanya Darian kemudian.
Bianca lagi-lagi menggeleng cepat membantah tuduhan itu. "Enggak! Aku gak ngelakuin apapun!" sentak nya nyaring.
Sirene ambulans dan polisi terdengar. "Kak please percaya sama Bianca, Bianca gak lakuin apapun!!"
"Lo pikir kita buta?!" bentak Marco.
Bugh!
"Akh!"
Bianca terduduk di lantai karena kakinya di tendang oleh Marco. "Sebenarnya gue mau bunuh lo jalang, tapi karena lo adik Darian gue diem aja!" ujar Marco sebelum ia meninggalkan lokasi itu.
Julian menahan lengan Darian yang berniat untuk mengikuti Marco. "Biarin dia sendirian, dia mau nenangin emosi nya." ucap Julian. "Lagian kita harus berurusan sama polisi dulu." sambung nya.
Darian menghela nafas. la dengan cepat mengunci kedua tangan Bianca. Menyerahkan kepada pihak berwajib untuk di proses.
"Orang tua lo gimana?" tanya Julian. Bagaimana pun pasti nya kedua orang tua sahabat nya itu merasakan kesedihan mendengar kabar kalau putri mereka masuk penjara.
"Gue udah kirim pesan," jawab Darian. Lelaki itu terlihat biasa saja di permukaan. Namun Julian tahu sahabat nya itu sama seperti Marco. Menahan emosi agar tidak menyakiti Bianca
"Gue bakal nemenin Silviana, lo ikut aja ke kantor polisi." Darian mengangguk atas usulan Julian.
Raya yang sedang menyuapi Ara dengan puding susu buatan nya itu menatap heran suaminya. "Kenapa, apa terjadi sesuatu lagi dengan perusahaan?" ujar Raya bingung.
Wira menggeleng, ekspresi nya terlihat seperti orang yang marah, kecewa dan sedih sekaligus.
"Bianca ada di kantor polisi bersama Darian." ucap Wira
Trang!
Raya menjatuhkan sendok ke piring membuat mulut Ara yang terbuka menjadi terkatup.
"Mas ayok kita ke sana!"ucap panik Raya, Wira mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun kedua pasutri itu keluar. Dan selang beberapa menit mereka pergi, Marco datang.
"Kak?" tanya Elara
Ara menatap bertanya kepada Marco yang tiba-tiba memeluk perutnya dengan erat. "Kakak kenapa?"
Darius mendengus kasar. Tidak bisakah dia berduaan dengan Ara sekali saja? Perasaan terlalu banyak pengganggu. Haruskah Darius singkirkan? Tapi kalau ia singkirkan nanti Ara akan sedih.
"Kakak merindukan mu," ucap Marco namun Ara tak bisa mendengar itu dengan benar karena wajah Marco benar-benar nempel di perutnya.
"Di mana kak Julian?" tanya Ara.
Apakah lelaki itu ikut ke kantor polisi?
"Menemani Silviana ke rumah sakit."jawab Marco
"Rumah sakit?! Kak Silviana kenapa?Kak antar aku ke sana ayok!"ucap Elara panik
Detik itu juga Marco menyesal mengatakan itu. "Baiklah, pakai jaket dulu." Marco melepaskan jaket miliknya lalu memakaikan ke tubuh Ara. Membuat gadis itu tenggelam dalam balutan jaket yang kebesaran. "Dia bareng gue." tekan Darius.
"Terserah!" cibir Marco.
Mereka pun menuju rumah sakit tentu saja bertanya dahulu kepada Julian, Silviana di larikan ke rumah sakit mana. Ara juga menelpon kedua orang tuanya menggunakan hp Darius.
"Ara kamu gak papa kan sayang?" panik Larasati. Wanita itu mengecek tubuh Ara berkali-kali mencari apakah ada yang luka atau tidak.
"Ara enggak papa kok, tapi kak Silviana.." Ara mengeluarkan air mata buaya nya itu lagi.
"Ssttt... Kak Silviana anak yang kuat, Ara tidak perlu khawatir." hibur Pramudita. Pria itu menggendong Ara agar duduk di pangkuan nya dengan tenang. Larasati juga bersandar di bahu suaminya sambil mengusap-usap punggung Ara.
Sedangkan Darius dan Marco bersandar pada dinding dengan posisi berdiri.
Mereka sedikit khawatir dengan keadaan Silviana. Bagaimanapun, Silviana pernah menjadi bagian dari mereka sebelumnya.
"Aku harap Silviana belum mati, sayang sekali kalau dia tidak melihat ku menikah dengan Arsen nanti." batin Ara
Cklek
"Bagaimana dok?" Larasati langsung berdiri, di susul oleh Ara yang berontak turun dari pangkuan Pramudita.
"Keadaan pasien sangat buruk, tusukan di perut membuat organ dalamnya robek. Lambung, usus dan ginjalnya rusak. Kami tidak bisa menyelamatkan, maaf buk pak." sesal dokter tersebut.
Ara menangis keras sambil mengepalkan tangannya. Netranya berkilat emosi, dia tidak ingin Silviana mati terlebih dahulu agar ia bisa menyiksa mental gadis itu tapi gara-gara Bianca kematian Silviana menjadi lebih cepat.
"Kak Silviana ma... Kak Silviana.." isak Ara. Pramudita memeluk dua perempuan yang in sayangi itu. Membisikkan kata-kata penenang
"Urus adik lo!" bisik Marco dengan tajam. Pemuda itu sebenarnya ingin sekali melayangkan pukulan ke wajah Darius. Namun karena Julian seperti nya peka terhadap keadaan, dia menahan lengan dan menjauhkan Marco dari Darius.
"Lebih baik lo, ke kantor polisi yus susul Darian"ucap Julian
Darius menghela nafas itu adalah bentuk pengusiran halus dari Julian.Terpaksa ia pergi dari sana.
"Om saya mau bicara sesuatu. Ini tentang pelaku pembunuhan Silviana," ujar Julian.
"Tante Larasati sama Ara biar Marco yang antar ke pulang. Ini sudah malam banget," sambung nya Pramudita mengangguk,
"Baiklah Larasati pulang ya. Urusan ini biar aku yang urus sampai tuntas, kamu dan Ara perlu istirahat untuk pemakaman besok." ucap Pramudita dengan berat hati.
"Marco om titip istri dan anak om." ucap Pramudita
"Iya, om mereka bakal aku anterin tanpa lecet sedikitpun."jawab Marco
Mereka pun berpisah Julian dan Pramudita yang pergi ke kantor polisi lalu Marco mengantarkan Larasati dan Ara pulang ke rumah.
"Makasih ya nak udah anterin tante. Makasih juga udah pindahin Ara ke kamar nya." kata Larasati dengan tulus.
Mata wanita itu sedikit bengkak.
"Gak masalah tante, saya gak keberatan sama sekali." balas Marco ia sebenarnya ingin berlama-lama di sini namun tidak enak hati untuk meminta itu kepada Larasati.
"Kamu bisa jagain Ara sebentar? Saya mau mandi buatkan susu untuk Ara dahulu." ujar Larasati
"Ah bisa tante," jawab Marco menyembunyikan rasa senangnya. Larasati tersenyum, "Kalau Ara nanti merengek dalam tidurnya kamu usap-usap saja kepalanya, Saya tidak akan lama" ucap Larasati lagi
Larasati meninggalkan Ara hanya berdua dengan Marco di kamar itu. Marco yang memiliki kesempatan untuk menatap wajah Ara lebih dekat memanfaatkan itu. Bahkan Marco dengan lancang nya menciumi wajah Ara.
"Henggghh.."
Marco terkekeh kecil melihat Ara yang merengek dalam tidurnya. Bibir Ara melengkung ke bawah, Marco pun melakukan apa yang Larasati katakan.
Mengusap kepala Ara agar Ara tidak merengek lagi tapi bibirnya bergerak seperti mencari sesuatu membuat Marco kebingungan.
"Maaf ya nak, ngerepotin."ucap Larasati
"Gak papa tante," Marco tidak mengubah posisinya. la tetap duduk di samping Ara yang berbaring melihat apa yang Larasati lakukan.
Marco speechless melihat Ara yang menerima nipple silikon yang Larasati sumpalkan. Bahkan menghisapnya dengan semangat walau matanya terpejam. Sungguh pemandangan yang sangat indah, lucu dan menggemaskan.
Diam-diam Marco memotret itu. "Saya akan pulang tante, tidak apa-apa kan?"
Larasati yang hampir tertidur terkejut.
"Silahkan, hati-hati di jalan." balas Larasati
Marco mengurungkan niatnya untuk lebih lama di sini. Karena kalau ia melihat Ara yang ngedot itu membuat Marco juga ingin menyedot sesuatu buukan dot nya tapi bibir Ara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambunggggggggggg
semangat buat auto ya 💪💪💪