Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 18
Arka meremas kasar foto yang di berikan oleh sang Ayah.Dadanya bergemuruh,rahangnya mengeras. Ingin tidak percaya tapi Arka tau Ayahnya tidak pernah main-main apalagi merekayasa sebuah foto.
"Ervina..." Gumamnya. "Beraninya lo mengkhianati gue "
Arka kembali teringat ucapan sang Ayah, betapa bodohnya dirinya percaya begitu saja pada wanita itu.Padahal sang Ayah dan bunda selalu memperingatinya agar menjauhi Ervina.
"Baiklah kalau itu maunya lo, gue akan pastikan lo menyesal udah mengkhianati gue"
Dalam diamnya ia malah teringat sang istri, bayangan wajah Alyana melintas begitu saja di pikirannya.
Arka mengeluarkan hp nya, ia membuka aplikasi pesan. Satu pesan terkirim ke nomor sang istri namun hanya centang satu.Perasaan Arka berubah tak enak, buru-buru ia menghubungi sang istri namun sayang nomornya tidak aktif.
Ia menghela nafas pelan."Apa lo lagi sibuk ya."
Arka kemudian keluar dari ruang kerja sang Ayah.Langkahnya begitu gontai menapaki setiap tangga menuju kamarnya.Kepalanya terasa pusing,ia di khianati Ervina namun yang terbayang dalam kepalanya malah wajah Alyana.Bahkan dalam hatinya justru nama Alyana yang terus ia sebut tanpa sadar.
Arka merebahkan tubuhnya di kasur,baru saja matanya terpejam tiba-tiba sebuah pesan masuk dari client nya yang memintanya untuk bertemu karena ada konsep dari bangunannya yang ingin ia rubah sedangkan pembangunan hampir selesai.
"Anj* ni client banyak banget mau nya..bikin kepala tambah pusing aja." maki nya pada diri sendiri.
Arka kembali menutup matanya dengan lengan,rasa lelah karena perjalanan yang cukup jauh ditambah masalah yang ia dapat membuat kepalanya terasa berdenyut.
Fara membuka pelan pintu kamar sang anak.Matanya menatap sedih sang anak yang nampak kelelahan.
"Arka.." panggilnya lembut.
Arka langsung mengangkat lengannya, kepalanya menengok ke arah sumber suara.Sang bunda yang merupakan wanita cinta pertamanya, sedang tersenyum menatap dirinya.
Ada keteduhan dan ketenangan di wajahnya.Inilah yang paling ia rindukan saat dirinya sedang gundah dan terpuruk.Kehadiran sang bunda.
"Bun.."
Fara berjalan menghampiri sang anak.Ia duduk di sisi ranjang dan tak lama Arka menggeser kepalanya untuk di letakkan di pangkuan sang bunda.
Tangan Fara langsung memijat lembut kening Arka yang terlihat tegang."Pusing?"
Arka hanya mengangguk, matanya terpejam menikmati tangan lembut sang bunda memijat kepalanya.
"Jadi bagaimana? Apa kamu tetap dengan pendirian mu mempertahankan wanita itu?" Tanya Fara dengan suara lembut.
"Arka bingung bun.."
"Apa yang harus kamu bingung kan? Bunda rasa kamu laki-laki cerdas yang akan memilih wanita baik-baik dan sholeha dibanding wanita yang jelas-jelas menghargai dirinya sendiri pun tak bisa."
Arka faham maksud sang bunda,ini tentang penampilan Ervina yang sangat terbuka.
"Arka kecewa tapi entah kenapa hati Arka tidak merasakan sakit." Lirihnya.
Fara terdiam sejenak, setelah itu tersenyum kecil. "Apa kamu sudah percaya kenapa Ayah dan Bunda tidak merestui hubungan mu dengan wanita itu? Tanpa perlu bunda jelaskan lagi kamu pasti sekarang faham kan?"
Arka mengangguk.
"Alhamdulillah. Terus kenapa kamu bingung? Bukan waktunya untuk bingung lagi, tinggalkan wanita itu..jauhi dia."
Arka terdiam.
"Arka memang sudah memutuskan untuk meninggalkan dia.Yang Arka bingung, saat ini bukan Ervina yang ada dalam pikiran Arka namun justru Alya."
Fara tersenyum lebar. "Apa hatimu sudah terpaut padanya?"
"Arka tidak tau bunda, hanya saja saat mengetahui Ervina berkhianat Arka justru teringat Alya. Dan Arka hanya merasa kecewa saja,rasanya di sini tidak ada rasa berat saat Ervina berkhianat." Ucap Arka menunjuk dada nya.
"Apa kamu benar-benar sudah ikhlas menerima pernikahan kalian? "
"Semenjak obrolan singkat dengan Alya kemarin, hati Arka merasa ada yang aneh.Arka merasakan hal yang belum pernah Arka rasakan pada Ervina.
"Arka," ucapnya pelan, "Bunda tahu pernikahanmu terjadi dengan cepat.Mungkin kamu merasa semuanya datang tanpa persiapan, bahkan tanpa rasa cinta di awal. Tapi pernikahan bukan hanya tentang bagaimana ia dimulai,melainkan bagaimana kamu menjalaninya setelah itu."
Fara mengusap lembut rambut Arka."Cinta itu tidak selalu hadir duluan.Kadang justru tumbuh karena tanggung jawab, perhatian, dan kesungguhan. Kalau kamu terus memikirkan bahwa ini terpaksa, maka hatimu akan tertutup. Tapi kalau kamu memilih untuk belajar menerima dan memperjuangkan, insyaAllah rasa itu akan datang."
Ia melanjutkan dengan lembut, "Alya sekarang adalah amanahmu. Dia meninggalkan banyak hal untuk hidup bersamamu. Walaupun awalnya tidak ada cinta, bukan berarti kamu boleh setengah-setengah menjalaninya.Mulailah Fokuslah padanya. Kenali hatinya. Hargai perasaannya. Jangan biarkan dia merasa sendirian dalam pernikahan yang seharusnya kalian jalani berdua."
Fara tersenyum tipis. "Berubah itu bukan karena dipaksa orang lain, tapi karena kamu sadar bahwa ini adalah tanggung jawabmu sebagai laki-laki dan sebagai suami. Jadilah tempat paling aman untuknya. Dari situ, rasa sayang akan tumbuh perlahan."
"Jangan ukur pernikahan dari bagaimana ia dimulai, tapi dari bagaimana kamu berjuang mempertahankannya."
Arka terdiam, mencerna setiap apa yang bundanya ucapkan.
"Bunda benar,mungkin pernikahan ini yang terbaik untuk Arka. Sebagai bukti rasa sayang Allah pada Arka. "
"Alhamdulillah " Ucap Fara penuh syukur. "Ya sudah, istirahatlah..pasti kamu cape"
"Iya bun,Arka istirahat dulu karena besok harus kembali ke Sukabumi."
Bunda mengangguk, memasangkan selimut ke tubuh Arka kemudian meninggalkan sang anak agar bisa istirahat.
Lain di rumah Arka, lain di tempat Alya.
Setelah sedikit tenang, Alya memutuskan untuk tidur di asrama pondok.Ia ingin lebih fokus belajar karena jika di kamar sendiri ia malah kembali teringat masalahnya dengan sang suami.
"Ning," Panggil Marin teman Alya.
"Iya."
"Setelah selesai ujian, rencananya mau apa?" Tanya Marin
"Belum tau,kalau kamu? Jadi pulang?"
"Jadi dong, udah kangen sama mama dan bapak.Udah setahun aku gak pulang." Ucap Marin
Alyana mengangguk." Kalau kamu Vi?" Tanya nya pada Novi
"Aku juga pulang Ning, udah rindu banget sama Ibu, bapak dan adik aku"
Alya berubah sendu."Berarti nanti aku gak ada teman dong.."
"Lah, kan ada suaminya Ning." Ucap Marin
"Hooh...kenapa juga bilang agak ada temen, Ning kan punya suami.Lebih dari teman loh itu."
Alya terdiam, "Ya itu beda, maksud aku kan nanti aku gak ada teman buat rame-ramean..jajan bakso bareng, terus ngerujak bareng."
"Alah Ning..Ning.. alesan aja, kalau mau jajan bakso atau ngerujak mah suami Ning Alya juga pasti siap nemenin."
"Lagian nih ya, justru kalau ada kita..yang ada nantinya kita bakal ganggu terus cuma jadi kambing conge doang.Iya gak Vi." Lanjut Marin.
"Iya betul itu, jadi lebih aman mending kita berdua balik dulu biar gak jadi pengganggu." Ucap Novi menimpali.
Tanpa keduanya tau, hubungan Alya dan Arka sebenarnya tak sedekat itu.Alya merasa hubungannya dengan Arka tak semanis yang di bayangkan kedua sahabatnya.Namun Alya enggan untuk menceritakannya pada orang yang memang tidak berhak mengetahui masalah rumah tangganya.
...🌻🌻🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.