Nara harus sedia menjadi pemuas hasrat Kakak tirinya, mewujudkan semua keinginan jahat serta menyiksa dari Noah. Kehidupan Nara yang sempit serta tidak berdaya sangat Noah andalkan untuk membuat Nara menjadi miliknya.
"Hentikan, Kak.. hentikan semua ini!" teriak Nara disaat tubuh Noah terus berpacu menikmati setiap adegan panas yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madumanis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Setelah peringatan sang Ayah tadi semakin membuat Noah kesal saja, secara spontan melempar ponselnya asal. Noah berjalan menuju jendela untuk melihat pemandangan luar Villa dimalam begini. Hujan masih mengguyur Kota Yogyakarta, udara sangat dingin Noah yakin akan sangat menyenangkan jika merokok.
Sialnya Noah baru sadar jika rokok yang biasa selalu ia bawa tertinggal didalam mobil. Ia melihat kearah Nara yang masih tertidur pulas, meninggalkan Nara untuk membeli rokok diluar serta mencari makanan pasti tidak akan menjadi masalah.
Noah berlalu pergi tidak lupa mengunci pintu agar selama dirinya berada di luar Nara tetap aman. Setiap langkah Noah sangat mantap, para wanita terus melihat penuh kagum disaat Noah berjalan dengan tatapan lurus kedepan.
"Siapa pria tampan itu?"
"Andai bisa menghabiskan malam dengan pria itu, aku dengan sukarela memberikan tubuhku ini."
Semua ucapan para wanita murahan itu membuat Noah tersenyum sinis saja. Siapa yang tidak terpesona dengan ketampanan seorang Noah Dawson, sayangnya hati serta perhatian Noah hanya jatuh pada Nara saja.
Tidak pernah pria itu fokus dengan wanita lain, hanya memikirkan tentang Nara dan Nara saja. Bagaimana caranya agar wanita itu tetap ada disisinya, tidak pergi dan tetap masuk dalam penjara hasrat yang Noah miliki.
"Nara ditakdirkan memang untukku, kehidupan dia yang kecil itu sudah ada dalam genggamanku." Itulah prinsip Noah yang tidak pernah padam oleh apapun.
Mungkin hanya dalam waktu setengah jam dari kepergian Noah mencari makanan, Nara sudah terbangun dari tidurnya karena bermimpi buruk. Perlakuan kasar dari preman sore tadi membuatnya seakan terbayang, bisa dikatakan kalau Nara terkena trauma. Ia spontan bangkit dari tidurnya, mata Nara terus mengelilingi area kamar.
"Kak.. kau dimana?!" Nara terus memanggil, tapi tidak ada jawaban sedikitpun.
Nara semakin yakin jika hanya dirinya seorang diri dikamar ini, susah mati ia menahan rasa takut. Semuanya terasa menakutkan, Nara memeluk kedua lututnya sendiri. Air matanya terus mengalir tanpa diminta seakan menyerang Nara dalam satu waktu.
"Kak, jangan tinggalin Nara.. Kak Noah," Nara terus memanggil nama Noah dengan suara bergetar menahan takut.
"Apa Kak Noah pergi meninggalkan aku? Apa aku dibuang sekarang? Astaga, bagaimana kalau sempat Kak Noah benar-benar melakukan itu?" Nara jadi berpikir sendiri, ia semakin panik. Jantungnya berdegup kencang, Nara bingung harus apa sekarang.
Mengikuti keinginan hati Nara ingin pergi mencari keberadaan sang Kakak, ia harus menemukan pria itu. "Kak, jangan tinggalin Nara.." katanya dengan air mata yang mengalir deras, meskipun sedikit terseok-seok Nara berjalan menuju pintu.
Disaat mau membuka pintu ternyata di kunci semakin membuat Nara panik. Tangan Nara terus menerus memainkan knop pintu, menggedor meminta pertolongan dari luar.
"Kak, jangan tinggalin aku.. Nara takut sendiri, Kak.. tolong!" Nara menjerit, ia terus memukul pintu dengan kekuatan penuh.
Lama melakukan itu tidak kunjung mendapatkan jawaban, tangan Nara juga sudah mulai sakit dan lelah. Tubuhnya perlahan tidak mampu berdiri lagi hingga terduduk di lantai menghadap pintu masuk. Nara menangis dengan tubuh yang bergetar, terus menyebut nama sang Kakak.
"Kak, jangan tinggalin Nara sendiri.."
"Nara takut.."
"Nara sendirian disini, Ayah, Mama.. Nara takut sendiri disini.."
Pintu kamar tiba-tiba terbuka terlihat Noah yang berdiri dengan tangan menenteng banyak kantong plastik. Langsung Nara merangkak memeluk kaki Noah, ia memeluk sangat erat seolah takut ditinggalkan lagi.
"Kak, akhirnya kau tidak benar-benar pergi meninggalkan aku.." Nara menangis memeluk kaki Noah, ia sangat lega meskipun pada akhirnya ia mungkin saja disiksa oleh Noah. Tapi, melihat pria itu ada di sampingnya membuat rasa lega yang sangat luar biasa.
Tentu saja Noah terkejut melihat Nara sampai seperti itu, padahal hanya di tinggal sebentar saja. Noah perlahan turun, ia memegang pundak Nara mengusapnya dengan sangat lembut. Hingga Nara kembali tenang, ia sudah tidak menangis lagi hanya menyisakan isakan kecil saja.
"Kakak habis pergi cari makanan untukmu," Ucap Noah menatap sangat penuh arti kepada Nara yang menatapnya sendu.
Nara menyadari satu hal yang tidak pernah hilang dari Noah sedari dulu, yaitu ketampanan pria itu. Nara berusaha bangkit dengan dibantu Noah, mereka masuk bersama kedalam kamar. Meskipun tangan Noah memegang berbagai plastik makanan yang baru dibeli, tetap saja menyempatkan untuk bisa memegang tangan Nara.
"Aku kira Kakak pergi meninggalkan aku disini," Ucap Nara dengan sangat sedih, ia menarik tangan Noah untuk duduk disofa.
Noah mengikuti saja kemauan Nara kali ini, ia tersenyum tipis kepada sang adik yang masih saja menatapnya.
"Tidak mungkin Kakak pergi meninggalkan dirimu, Nara. Hal seperti itu tidak akan pernah Kakak lakukan, sungguh." Noah mengelus pipi Nara yang mungkin saja memerah karna perkataannya.
Sangat dalam dan penuh arti, Nara merasa jika dirinya benar-benar pasrah dan mengikuti kemauan sang Kakak pasti akan terus mendapatkan perlakuan manis seperti ini.
"Kemanapun Kakak pergi akan selalu bersamamu, mengertikan?" Noah mengecup bibir Nara, ia mengelus pucuk kepala Nara dengan sangat lembut.
Sampai Nara menunduk malu, ia memeluk Noah sangat erat. Ada Noah membuat Nara merasa sangat aman dan tenang, ia tidak takut apapun jika ada pria itu. Menurut Nara, Noah selalu mampu menolongnya dan selalu bisa menjaga dirinya dengan baik.
"Jangan tinggalkan Nara seperti tadi, Kak. Nara takut.." Pinta Nara dengan ekspresi yang menggemaskan.
Noah mengangguk mantap, ia menaruh berbagai makanan dimeja. Noah membeli mie yang tidak terlalu pedas untuk Nara, ia tahu jika adik angkatnya itu tidak suka dengan makanan yang pedas.
"Nara pasti lapar, jadi Kakak belikan makanan ini untukmu. Makanlah semua agar tenagamu kembali pulih, karna mungkin saja sejam lagi aku menginginkan tubuhmu." Ucap Noah sangat santai, tapi menekan seluruh area pernapasan Nara.
Noah tidak jauh-jauh dari hal mesum jika hanya berdua seperti ini, Nara tidak tahu mengapa Sang Kakak secandu itu pada tubuhnya.
"Kita akan melakukan hal itu lagi disini, Kak?" Tanya Nara dengan ekspresi lugunya, ia menatap tidak percaya kearah tempat tidur yang mungkin saja akan berantakan sebentar lagi.