Demi membatalkan perjodohan yang dilakukan oleh papanya, Alea terpaksa harus meminjam uang kepada sang Bos, demi melunasi hutang-hutang keluarganya kepada kakek Will.
Bahkan, Alea juga sampai rela memotong urat malunya, demi meminta sang bos, untuk menjadi kekasih bohongannya.
Akan tetapi, takdir berkata lain, apa yang Alea rencanakan semuanya gagal. Dan malah berujung pada pernikahan serius dengan sang bos-nya.
Padahal, bos-nya adalah orang yang paling dihindari Alea sejak SMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Pernikahan
Waktu berjalan seakan semakin cepat, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, namun Alea masih terjaga. Hatinya semakin gelisah karena tepat besok pai, ia benar-benar akan menikahi bosnya sendiri.
"Ya Tuhan, kenapa takdirku harus seperti ini sih," gumam Alea menggulingkan badannya ke kana dan ke kiri di atas tempat tidur.
"Apa malam ini adalah malam terakhir aku bisa tidur sendiri? ... Ah, rasanya aku ingin menghilang saja dari muka bumi ini," batinnya merasa frustrasi.
Sementara itu, di kamar lain Rey juga sama masih terjaga. Ia masih ke pikiran dengan ucapan Alea sore tadi.
"Dia bilang, aku harus menunggunya siap, baru bisa ...."
"Harus sampai kapan pula aku menunggunya," gumamnya sambil menatap langit-langit kamar hotel.
***
Kini tibalah hari di mana Rey dan Alea akan melangsungkan acara pernikahan.
Alea masih duduk diam di depan cermin besar, seorang wanita di sampingnya masih sibuk merias wajah Alea, sedangkan satu orang wanita lain, sedang sibuk merias kukuk-kukuk tangan Alea agar tampil lebih sempurna.
Sambil memejamkan mata, karena perintah orang yang sedang meriasnya, Alea masih merasa tak tenang. Hari pernikahan yang selama ini tak pernah ia pikirkan, kini sudah tiba.
"Tenanglah Alea, kamu pasti bisa melawati hari ini," guma Alea dalam hati.
"Ah ya ampun, aku lupa ...." Seketika Alea membulatkan matanya, hingga membuat perias yang sedang sibuk merias wajah Alea kaget.
"Ada apa Nona?" tanya Perias itu.
Alea masih membungkam, mulutnya sama sekali tak bergerak sedikit pun. Lalu perlahan ia menggelengkan kepalanya.
"Apa ada sesuatu?" tanya Perias itu. Alea kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak, lanjutkan saja," ucapnya seakan lemas dan pasrah.
"Ya ampun Alea, kenapa baru terpikirkan sekarang. Nanti di altar setelah pengucapan janji suci, aku dan Rey akan berciuman. Oh, tidak! Ini tidak bisa dibiarkan, kenapa aku bisa lupa akan hal ini ... aku harus membicarakannya dengan Rey nanti," batinnya. Jantungnya kini seakan semakin berdetak dengan kencang, hatinya seakan gelisah dan pikirannya sudah melayang-layang melampaui batas.
***
Sementara itu Rey sudah bersiap dengan tuksedo hitam dan rapi yang membalut tubuh sispax-nya itu. Rey berdiam di atas sofa bulat yang ada di kamarnya itu, di temani oleh Tio.
Tio masih sibuk merapikan dasi di lehernya sambil melihat pantulan dirinya di dalam cermin yang ada di hadapannya.
Setelah selesai merapikan dasinya, Tio melangkahkan kakinya mendekati Rey.
"Kak Rey, aku masih belum menyangka, kalau hari ini benar-benar terjadi. Ah... aku sudah tidak sabar melihat Kakak dan Alea nanti di atas altar. Selamat ya Kak, akhirnya Kakak kini sudah tidak akan membujang lagi," tutur Tio sambil mendudukkan tubuhnya di dekat Rey.
Rey masih terdiam. Lututnya seakan terasa bergetar. Entahlah, meskipun ia sudah terbiasa tampil di hadapan orang-orang, tapi untuk acara kali ini rasanya sangat berbeda sekali, ia begitu gugup dan gemetaran.
"Kak, apa kau baik-baik saja?" tanya Tio ketika melihat lutut Rey yang sedikit bergetar.
"Hah? ...." Rey menoleh ke arah Tio.
"Kau melamun?" tanya Tio heran. Rey hanya menggelengkan kepalanya, sambil mengembangkan senyuman kakunya.
"Tenanglah Kak, meskipun ini adalah yang pertama dan terakhir untuk Kakak, tapi ingat, Kakak harus tampil sesempurna mungkin nanti di altar, jangan sampai grogi dan gemetaran seperti ini," ujar Tio.
"Apa gemetar? Siapa yang gemetar," sangkal Rey, mencoba menenangkan diri.
"Ha ha, kau ini, lihatlah lututmu saja sedari tadi bergetar, belum lagi ini ... lihatlah dahimu berkeringat, padahal ruangan ini di AC dan tidak panas sama sekali."
Rey yang baru menyadari dahinya berkeringat ia segera beranjak pergi mengambil tisu di atas nakas, dan segera mengeringkan keringat di dahinya itu.
Sejenak Rey memandangi dirinya di pantulan cermin. "Tenanglah Rey, semuanya pasti akan berjalan dengan lancar," gumamnya.
***
Para tamu undangan, baik keluarga, kerabat maupun rekan-rekan bisnis dan jemaat gereja, semuanya sudah memasuki aula gereja yang sudah dihias sebegitu megahnya.
Semua orang sudah duduk di bangku masing-masing, bersiap untuk menyaksikan pernikahan eksklusif dan teristimewa, karena tak sembarang orang bisa hadir di acara pernikahan cucu dari keluarga William Denillson itu.
Rey sudah berdiri di tengah altar di temani dengan seorang pendeta yang nanti akan memandu mereka untuk melakukan pengikatan janji suci.
Alea kini di bawa keluar oleh Deri. Dari ruang riasnya. Seluruh tamu undangan dan jemaat, begitu terpesona melihat pengantin wanita yang kini tengah berjalan menuju altar. Gaun putih yang mengembang membalut tubuh mungil Alea, riasan yang begitu sempurna ikut merubah penampilan Alea hingga terlihat sangat berbeda, bahkan wajah imut Alea kini terlihat lebih dewasa, cantik dan bersinar.
Dengan langkah kaki yang cukup gemetar, Deri membawa anaknya itu kepada Rey yang sudah menunggunya di depan.
Rey pun seakan terpesona dengan kecantikan Alea hari ini. Dan hal ini tentunya tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Dengan perasaan berat hati, antara suka cita, sedih dan bangga, Deri sebagai seorang Ayah ia harus merelakan anaknya untuk lelaki yang kini ada dihadapannya.
Setelah menyerahkan Alea kepada Rey, Deri turun meninggalkan altar dan duduk di kursi barisan paling depan di samping istrinya.
Rey pun menggandeng Alea untuk menaiki mimbar panggung altar mereka.
Prosesi satu persatu sudah di mulai, hingga kini tibalah di acara pengucapan janji suci dan di lanjutkan dengan pemasangan cincin di kedua mempelai. Dan lanjut ke acara yang paling menenggangkan, horor, dan bikin jantungan.
Yaitu, proses di mana Rey akan mencium Alea. Rey perlahan membuka veil putih yang menutupi wajah Alea.
Bukan hanya Alea yang merasakan sport jantung, tapi Rey pun juga sama, karena detik-detik inilah, ia benar-benar akan memberikan ciuman pertamanya untuk seorang wanita, yang kin sudah sah menjadi istrinya.
"Rey, jangan terlalu lama," ucap Alea cepat, ketika Rey mencondongkan wajah untuk menciumnya.
Dan, cup ....
Satu kecupan mendarat di bibir Alea. Kini bibir mereka berdua pun saling bersentuhan.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa **like, komen dan vote yang banyak ya wkwkwk.
follw ig author @dela.delia25**
ha ha ha
ha ha ha