Ardan, seorang dosen tampan yang menjadi penerus keluarga Adinata sedang menatap pada seorang gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya.
Gaun yang dikenakan olehnya menunjukkan bahu dan leher jenjang milik Sasha, membuat jiwa lelaki Ardan meronta. Namun ia harus menahan segala hasrat yang sedang mencapai puncaknya, karena mengingat akan kontrak pernikahan yang membatasi sentuhan fisik diantara mereka.
Pernikahan mereka yang akan berlangsung dalam beberapa hari tersebut diakibatkan kebohongan yang dilakukan Ardan dan membuat seluruh keluarganya percaya bahwa Sasha adalah kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka dimulai?
Happy reading guys
follow ig author
@kak.ofa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sania Menyusul
Setelah diberi izin untuk beristirahat, Ardan mengajak Sasha untuk pergi ke kamar yang digunakan Sasha.
Di depan kamar Ardan berhenti mematung sejenak kemudian dia berkata "Sha, makasih ya!" Ucapnya.
"Untuk apa?" Tanya Sasha.
"Kamu sudah berperilaku begitu baik pada nenekku, padahal pernikahan tidak seserius itu, tapi kamu mau bersungguh-sungguh meninggalkan kesan yang baik untuk keluargaku" jelas Ardan.
Sasha tak bergeming, ia kemudian langsung meraih koper milik Ardan dan membereskannya.
"Baju bapak belum sempat dibereskan" Sasha mengalihkan pembicaraan.
Entah mengapa Sasha merasa begitu sedih begitu mengingat lagi bahwa pernikahan yang ia lakukan saat ini hanyalah pernikahan kontrak. Padahal ia sudah mulai menyukai kakek dan nenek Ardan walau baru pertama kali bertemu.
"Pak Ardan! Kenapa masih melamun disitu?" Tanya Sasha.
"Aah, tidak! Terima kasih sudah membereskan barangku! Beristirahatlah!" Ujar Ardan lalu pergi meninggalkan Sasha.
*****
Setelah pergi meninggalkan Sasha. Ardan juga beristirahat di depan ruang TV sambil menonton TV.
Vila yang dihuni oleh kakek dan nenek Ardan merupakan vila sederhana. Meskipun kecil namun sebenarnya vila tersebut tak bisa dikatakan murahan. Pasalnya banyak sekali barang antik yang begitu mahal harganya. Juga terdapat beberapa spot khusus yang memang dibangun secara unik.
Kamar di vila ini juga tidak terlalu banyak. Hanya ada lima kamar di vila ini. Satu untuk tempat Kakek Syahid dan istrinya, tiga untuk pelayan, dan satu untuk tamu yang datang berkunjung, seperti Ardan dan Sasha saat ini.
Setelah menyerahkan segala urusan perusahaan pada anak dan cucunya, Syahid memilih untuk hidup tenang di pedesaan.
Dia hanya membawa beberapa pengawal dan pelayan yang setia dan mau tinggal di desa bersama dirinya dan istrinya.
Alasan Syahid pindah ke desa adalah karena ia ingin menikmati masa tua nya tanpa harus dikejar-kejar oleh tugas duniawi. Biarkan saja, urusan yang bersifat materialistis tersebut diurus oleh penerusnya.
Setelah hari menjelang sore, Ardan yang ketiduran pun terbangun. Dia mencari Sasha di kamarnya, dan mendapati gadis itu masih tertidur. Ia memutuskan untuk tidak mengganggu Sasha terlebih dahulu, dia memutuskan untuk sholat, dan kemudian baru membangunkan Sasha.
Setelah sholat, Ardan dikejutkan oleh kegaduhan yang terjadi di luar vila. Ia kemudian menghampiri Kakek dan Neneknya yang sedang mengobrol di gazebo depan vila. Ia agak terkejut ketika melihat Sania berada di antara kakek dan neneknya.
Ardan sebenarnya masih marah terhadap perilaku Sania saat itu, namun ia tak mungkin mengacuhkan gadis yang ia cintai karena sudah datang jauh-jauh kemari.
"Kau datang kemari Sania?" Tanya Ardan.
"Iya, aku rindu pada nenekmu" kata Sania sambil memeluk Dawiyah dengan manja.
Dawiyah membalas pelukan Sania dengan, perilaku mereka seakan seperti seorang cucu dan neneknya yang sungguhan.
"Lihat Ardan! Dia membawakanku matcha kesukaanku, bergabunglah kemari" Ajak Nenek Dawiyah sambil menunjukkan bungkusan teh hijau di tangannya.
Ardan tersenyum lalu menghampiri mereka.
"Mengapa datang jauh-jauh kemari" Tanya Ardan tanpa basa-basi.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu" Sania berkata sambil menundukkan kepalanya. Ia sebenarnya masih merasa malu karena perilakunya tempo hari.
"Hmmm, ya sudah! Nanti saja kalian bicarakan urusan kalian, sekarang ayo kita makan! Sop tulang kesukaan Ardan sudah masak daritadi, tapi anak nakal itu malah ketiduran" ucap Nenek Dawiyah sambil berdiri dan menggandeng tangan Sania untuk masuk ke dalam vila.
Sania adalah Ardan, seperti Darius. Maka tidak heran jika Sania begitu dekat dengan keluarga Ardan. Saat Kakek dan Nenek Ardan baru pindah ke desa ini, mereka bertiga sering bermain untuk menghabiskan waktu di tempat ini. Namun semenjak Darius menikah, kemudian Sania pergi dan Ardan sudah jarang ke tempat ini karena ia sendiri harus pergi meneruskan studi sekaligus mengurus bisnis di London. Maka dapat dimaklumi, jika Dawiyah merasa sudah diacuhkan oleh cucu-cucunya akibat permasalahan pribadi mereka. Karena ia sudah menganggap Darius dan Sania seperti cucunya sendiri.
*****
Setelah bangun dan sholat Ashar di kamarnya, Sasha kemudia keluar dari bilik tersebut dan mencoba bergabung. Ia sendiri sebenarnya cukup terkejut karena saat ia bangun, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Sudah selesai dengan istirahatmu? Mari makan! Siang tadi kau belum sempat makan" Kakek Syahid yang melihat Sasha langsung mengajaknya bergabung.
"Kau sudah kenal dengan Sasha, Sania?" Tanya Nenek Dawiyah.
Sania menggelengkan kepalanya dan menjawab "Ardan tidak pernah menceritakan calon istrinya sama sekali padaku, aku hanya pernah melihatnya saat pesta kemarin" jawabnya.
"Sasha duduklah!" Ajak Sania.
"Sasha ini tadi habis membantu kakek di kebun untuk menanam bunga, jadi dia kelelahan, sehingga tadi dia beristirahat cukup lama" Kakek Syahid menjelaskan.
"Oh! Kau suka berkebun Sha?" Tanya Sania.
Sasha hanya tersenyum kemudian ia langsung duduk di meja makan, berhadapan dengan Ardan. Karena Sania telah terlebih dahulu duduk di samping Ardan.
"Mari kita makan!" Ajak nenek Dawiyah.
"Aku sering bermain kesini bersama Ardan dulu, dan nenek selalu membuatkan sup ini untuk kita" Sania tiba-tiba berkata saat melihat nenek menghidangkan sup ke atas meja.
Nenek Dawiyah dan Kakek Syahid hanya tersenyum. Sementara Ardan sudah terdiam semenjak kedatangan Sasha tadi. Hatinya merasa tak menentu, melihat gadis yang ia pernah cintai duduk satu meja dengan calon istrinya. Entah mengapa ia malah merasa bersalah pada Sasha dan ingin mengusir Sania. Lidahnya kelu melihat pemandangan di depan matanya.
Mereka berlima pun membuka piring masing-masing. Nenek Dawiyah mengambilkan nasi dan lauk untuk kakek. Terlihat kakek meminta kuah sup yang cukup banyak, tampaknya kakek sangat menyukai sup tulang ini.
Ketika Ardan hendak mengambil nasi untuknya, Sania menghalangi tangan Ardan.
"Biar aku yang mengambil untukmu" ucap Sania.
Ardan hanya terdiam tak menolak, dia menuruti pelayanan yang diberikan Sania.
"Kau mau ini?" Tanya Sania.
"Tidak, aku makan sup ini saja dengan nasi" Ardan menolak seperti sedang tak selera.
"Ayo Sasha, kamu juga ambil ya jangan malu-malu" Sania menyodorkan beberapa piring lauk ke tempat Sasha, seakan dia ingin menunjukkan jika dia lebih akrab di rumah ini dibanding Sasha.
Sasha hanya tersenyum pilu, dia terlihat salah tingkah, tak tahu harus berbuat apa di situasi seperti ini. Dia heran mengapa Sania menunjukkan kemesraannya pada Ardan?
"Ah... aku ingat wanita ini yang waktu itu datang ke kantor Ardan dan memeluknya. Apa dia kekasih Ardan?" Sasha bertanya dalam hatinya sendiri.
Sasha mencoba tak memperdulikan hubungan asmara Ardan. Bukankah dalam kontrak pernikahan mereka, menyatakan bahwa mereka tidak perlu mengurusi percintaan masing-masing.
Selama makan bersama tersebut Sania tak henti-hentinya memperlakukan Ardan dengan begitu mesra. Ardan terlihat tak merespon namun juga tak menolak. Sebenarnya bagaimana suasana hati Ardan saat Sania memperlakukan demikian?
*****
Bersambung...
penokohannya jg pas.
walaupun ini karya perdana sang author,tp novel ini bgs menurut sy.
semoga utk ke depannya KK author lebih sukses lg dgn menghasilkan karya2 trbaiknya.
𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂..