NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

"Loe... bisa ketawa juga ternyata?"

Suara Bara yang berat dan parau itu terdengar sedikit melunak, seolah-olah guntur yang biasanya menggelegar tiba-tiba berubah menjadi gerimis yang menyejukkan. Aku tersentak, menyadari bahwa bibirku terbuka lebar dan suara yang keluar dari tenggorokanku adalah sesuatu yang sudah bertahun-tahun terkubur di bawah tumpukan caci maki.

Aku tertawa. Sangat lepas. Hingga kacamata tebal yang kupakai sedikit bergeser karena pipiku yang naik.

"Bara, kamu... kamu lucu sekali," ucapku di sela-sela napas yang memburu. Aku harus memegangi perutku yang terasa kaku. "Menikah? Kita bahkan masih pakai seragam sekolah, Bara. Kita masih harus pusing mikirin ujian semester depan, dan kamu... kamu bilang aku bakal jadi istri kamu di depan semua orang?"

Seluruh kantin SMA Garuda mendadak seperti kuburan. Jika tadi mereka diam karena takut akan aura beringas sang Serigala, kini mereka diam karena kebingungan yang luar biasa. Aku, si Aira yang biasanya menunduk seperti bayangan yang ingin menghilang ke dalam lantai, kini berdiri tegak dengan tangan seorang berandal melingkar di bahuku—sedang menertawakan pernyataan paling gila yang pernah kudengar.

"Emangnya kenapa kalau masih pakai seragam?" Bara tidak melepaskan rangkulannya. Ia justru menunduk sedikit, menatapku dengan binar liar yang kini tampak... jenaka. "Seragam ini cuma kain, Ra. Nggak bakal selamanya nempel di badan. Tapi janji gue? Itu permanen."

Aku menggeleng pelan, mencoba menetralkan degup jantungku yang berpacu tak keruan. "Kamu benar-benar aneh, Bara. Orang paling aneh yang pernah aku temui."

"Gue emang aneh. Tapi gue nggak pernah bohong," sahut Bara tajam, matanya berkilat saat melirik sekilas ke arah meja utama di tengah kantin.

*

(POV ALVARO)

Deg.

Duniaku seolah berhenti berputar tepat di detik suara tawa itu pecah. Suaranya nyaring, bening, dan memiliki nada yang terasa begitu familiar di telingaku. Seperti melodi kotak musik tua yang pernah kupunya saat kecil, namun kuncinya telah lama hilang.

Aku terpaku. Sendok di tanganku nyaris terjatuh kembali ke piring. Mataku terkunci pada sosok gadis dekil di pojok sana—Aira.

Selama ini, yang kulihat dari Aira hanyalah punggung yang merosot, wajah yang tertutup rambut kusut, dan mata yang selalu menatap lantai seolah ia memohon pada ubin untuk menelannya. Tapi sekarang... dia tertawa. Wajahnya yang kusam tampak bersinar di bawah lampu kantin. Ada binar di matanya yang selama ini selalu redup.

Kenapa dadaku terasa seperti baru saja dihantam godam besar?

Rasa sakit itu datang tanpa peringatan. Tajam, menyesakkan, dan sangat tidak masuk akal. Rasanya seperti ada sesuatu yang sangat berharga miliku, sesuatu yang selama ini kusimpan di dalam kotak terkunci di sudut hatiku, tiba-tiba dicuri begitu saja oleh orang asing di depan mata kepalaku sendiri.

"Varo? Kamu dengar aku nggak sih?"

Suara Airin di sampingku terdengar seperti dengung lebah yang mengganggu. Aku merasa lenganku diremas pelan, namun fokusku tetap tak bisa lepas dari tangan kasar Bara yang bertengger dengan begitu angkuh di bahu Aira. Jaket kulit hitam yang kebesaran itu membungkus tubuh kecil Aira, seolah Bara sedang membangun benteng agar tak ada satu pun hinaanku yang bisa menyentuhnya lagi.

Kenapa dia tertawa untuk orang itu? Kenapa bukan untukku?

Pertanyaan itu muncul secara otomatis, membuatku muak pada diriku sendiri. Aku menggelengkan kepala pelan, mencoba mengusir pikiran gila itu. Aku menoleh ke arah Airin. Gadis cantik di sampingku ini adalah "Ai". Teman masa kecilku yang menjahitkan sapu tangan untukku. Gadis yang menjadi alasan kenapa aku selalu kembali ke rumah Maheswari.

Tapi kenapa... kenapa tawa Aira barusan terasa jauh lebih mirip dengan "Ai" yang kuingat daripada tawa Airin selama ini?

"Varo, ayo pergi. Aku nggak tahan liat mereka," rengek Airin, matanya mulai berkaca-kaca, menunjukkan kerapuhan yang biasanya selalu memancing insting pelindungku.

Aku menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak aneh di dadaku. "Iya, Ai. Kita pergi sekarang."

Aku sengaja merangkul bahu Airin, menariknya lebih dekat agar semua orang—terutama Aira—bisa melihat. Aku menunduk, membisikkan sesuatu di telinga Airin yang sebenarnya hanya kalimat kosong tanpa makna, hanya untuk menunjukkan betapa dekatnya kami. Namun, meski bibirku bergerak, mataku tetap tidak bisa lepas dari pemandangan di pojok kantin.

Setiap kali Bara mengusap pundak Aira, rasanya ada kuku yang mencakar jantungku. Aku benci perasaan ini. Aku benci fakta bahwa aku merasa cemburu pada gadis yang selalu kusebut sampah. Aku benci kenyataan bahwa tulusnya tawa Aira barusan membuatku merasa... sangat kesepian di samping "Ai"-ku sendiri.

*

(POV AIRA)

Aku berhenti tertawa saat sudut mataku menangkap gerakan di meja tengah. Alvaro berdiri. Dia merangkul Airin dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang memamerkan pada dunia bahwa Airin adalah miliknya. Ia membisikkan sesuatu di telinga kembaranku, membuat Airin tersenyum tersipu sementara matanya tetap mengawasiku dengan sorot kemenangan.

Dulu, pemandangan itu akan membuatku ingin lari ke gudang dan menangis sampai sesak. Tapi hari ini, di bawah beban jaket kulit Bara yang hangat, rasa sakit itu terasa sedikit tawar. Seperti luka lama yang sudah mulai mengering meski bekasnya masih ada.

"Loe sudah puas ngetawain masa depan kita?" tanya Bara, suaranya kembali ke nada datarnya yang dingin, namun tangannya masih tidak bergeser dari bahuku.

Aku menatapnya, mencoba mencari kebohongan di matanya yang liar. "Masa depan apa, Bara? Kamu bahkan nggak tahu apa-apa tentang aku. Kamu nggak tahu betapa rumitnya hidup di rumah itu."

"Gue nggak perlu tahu kerumitannya buat tahu kalau loe pantes dapetin yang lebih baik dari tempat sampah itu," sahut Bara tajam. Ia menoleh ke arah Alvaro yang sedang berjalan keluar dari kantin bersama Airin. Bara menatap punggung Alvaro dengan tatapan seorang predator yang sedang menandai wilayah.

"Ayo keluar. Gue tau tempat yang lebih bener buat sketsa daripada perpustakaan yang dikunci dari luar," ucap Bara tanpa peduli pada tatapan ribuan pasang mata yang masih menghujani kami dengan berbagai spekulasi.

Aku membiarkan Bara membimbingku keluar. Saat kami berpapasan dengan Alvaro di dekat pintu keluar, udara di sekitar kami seolah membeku. Alvaro berhenti sejenak, bahunya tegang, matanya menatap tajam ke arah tangan Bara yang ada di pundakku.

Untuk pertama kalinya, aku tidak menunduk. Aku menatap lurus ke depan, melewati Alvaro seolah dia adalah orang asing yang kebetulan lewat. Aku tidak butuh validasinya lagi. Tidak hari ini.

"Bara," panggilku pelan saat kami sudah berada di koridor yang menuju ke arah taman belakang.

"Apa?"

"Kamu... beneran serius soal yang tadi? Soal melindungi aku?" tanyaku, suaraku hampir hilang ditelan deru angin koridor.

Bara berhenti melangkah. Ia melepaskan rangkulannya, namun ia berpindah posisi tepat di depanku. Ia memegang kedua pundakku, memaksaku untuk menatap langsung ke dalam matanya yang cokelat gelap dan penuh dengan guratan pemberontakan.

"Dengerin gue, Aira. Gue emang berandal. Gue emang sampah di mata orang-orang kayak si Pangeran Kodok itu," ucapnya rendah, namun setiap katanya terasa sangat solid. "Tapi gue nggak pernah main-main sama apa yang gue bilang. Gue bakal jadi benteng buat loe. Dan kalau suatu saat nanti loe siap, kata-kata gue soal 'istri' itu... nggak bakal cuma jadi gertakan di kantin."

Jantungku berdegup dengan irama yang benar-benar baru. Di tengah dunia yang selalu menuntutku untuk menjadi sempurna atau lenyap, ada satu orang yang berdiri di depanku, mengakui keberadaanku dengan segala kekuranganku, dan berjanji untuk tetap di sana.

Mungkin dia memang seorang Serigala. Liar dan berbahaya. Tapi bagiku yang selama ini tersesat di tengah hutan kemunafikan keluarga Maheswari, dialah satu-satunya rumah yang pintunya selalu terbuka—tanpa syarat, tanpa topeng, dan tanpa kebohongan.

Di kejauhan, aku bisa melihat Alvaro menoleh sekali lagi dari balik pilar koridor. Ia berdiri di sana, mengabaikan tarikan tangan Airin, menatap kami dengan ekspresi yang sangat sulit kujelaskan—perpaduan antara kemarahan yang meluap dan kesedihan yang coba ia sembunyikan rapat-rapat.

Aku membuang muka. Biarkan dia terjebak dalam kebohongannya sendiri. Biarkan dia memeluk "Ai" palsunya. Karena mulai hari ini, aku bukan lagi Aira yang akan menangis memohon perhatiannya. Aku adalah Aira yang telah menemukan pelindungnya sendiri.

1
Ma Em
Aira seharusnya keluar saja dari rumah itu untuk apa Aira bertahan dirumah seperti neraka itu karena Aira tdk diharapkan dan selalu direndahkan tanpa Aira Airin hanya tong kosong hanya sampah Aira msh mau saja dibodohi .
Aletheia
gak semudah itu kak,kan nunggu Aira dewasa atau lulus SMA dulu
Allea
sampai bab ini masih mempertahankan kebodohannya ckck aira aira dah pergi aja sih,selama ada kemauan jalan selalu ada pergilah menjauh dari keluargamu buktikan kamu hebat
Ma Em
Semangat Aira buktikan kalau Aira bkn anak yg bawa aib bkn anak yg bawa sial tapi sebaliknya Aira anak yg berprestasi dan sangat bersinar buat ayah , ibu dan Airin menyesal dan bongkar semua kebohongan dan keburukan Airin didepan Alvaro dan bilang pada Alvaro bahwa teman masa kecilnya bkn Airin tapi Aira , Airin cuma ngaku2 saja jadi Aira , jgn mau memaafkan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu Aira .
Ma Em
Aira jgn takut dgn Alvaro , lawan dia kalau Aira takut Alvaro makin berani menghina Aira , semoga saja kebenaran tentang Airin yg ngaku2 teman Alvaro waktu kecil segera terungkap .
Ma Em
Aira bangkitlah lawan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu , bongkar semua keburukan dan kelicikan Airin agar kedua orang tuamu tau bahwa yg bodoh itu Airin bkn Aira , Aira jgn mau dipermainkan dan dimanfaatkan lagi sama Airin balas lah perbuatan mereka padamu Aira jgn takut ada Barra yg akan menjadi pelindungmu Air 💪💪💪.
Ma Em
Makanya Aira kamu hrs bangkit jgn mau diperalat sama Airin , buat Airin membayar semua perbuatan nya padamu Aira buat kedua orang tuamu menyesal juga Alvaro tunjukan pada mereka keahlianmu yg sebenarnya bkn Airin yg pintar tapi otak Aira yg digunakan Airin untuk mengelabui orang mereka .
Aletheia: sabar ya kak,kita buat supaya Aira bisa teguh jika nanti harus meninggalkan keluarganya☺️
total 1 replies
Ma Em
Bagus Aira bangkitlah dan balas semua perbuatan mereka yg sdh menyakiti dan memfitnah mu Aira terutama Airin jgn diberi maaf juga Alvaro buat dia menyesal .
Ma Em
Heran ya ada orang tua berat sebelah sama anak sendiri dijelek jelekan didepan orang lain hanya untuk dapat perhatian dari Alvaro , tunggu saja saat waktu sdh tiba dan kebenaran akan terungkap siapa Airin dan siapa Aira .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!