" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian di Balik Kesuksesan
Kesuksesan Kios "Bumbu Ibu Arumi" mulai menjadi buah bibir di Pasar Baru. Bumbu racikannya yang praktis dan segar disukai oleh ibu-ibu rumah tangga hingga pemilik katering kecil. Namun, wangi kesuksesan selalu mengundang lalat.
Pagi itu, seorang pria berbadan tegap dengan jaket kulit kusam berdiri di depan kios Arumi. Ia bukan pembeli. Matanya menyisir laci uang Arumi dengan rakus.
"Dagangan laris ya, Bu Arumi?" tanya pria itu sambil memainkan korek api gas di tangannya.
Arumi tetap tenang. Ia sudah terbiasa menghadapi berbagai tipe orang di pasar. "Alhamdulillah, Pak. Ada yang bisa saya bantu? Mau pesan bumbu rendang atau opor?"
"Saya tidak butuh bumbu. Saya butuh 'uang keamanan'. Pasar ini ada aturannya, dan kios sebesar ini harusnya bayar lebih," ucapnya dengan nada mengancam.
Arumi menghentikan aktivitasnya menimbang merica. Ia menatap pria itu lurus-lurus. "Saya sudah bayar retribusi resmi ke pengelola pasar setiap bulan, Pak. Saya tidak kenal uang keamanan tambahan."
Pria itu tertawa sinis, menunjukkan deretan giginya yang kuning. "Pengelola pasar itu urusan legal. Kalau urusan 'lapangan', itu urusan saya. Jangan sampai besok pagi kios ini berantakan atau ada bau busuk yang tidak enak, ya?"
Di saat yang sama, Baskara rupanya masih memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat pria berjaket kulit itu mengintimidasi Arumi. Ada dorongan di hati Baskara untuk maju membela, namun kakinya terasa berat. Ia teringat dirinya yang sekarang—lemah, kurus, dan tak punya kuasa.
"Mas... Mas kenal orang itu?" tanya seorang kuli panggul yang lewat di dekat Baskara.
Baskara hanya menelan ludah. "Itu... mantan istriku."
"Wah, hebat ya istrimu. Dia sendirian hadapi preman itu. Kalau aku jadi suaminya, sudah kuhajar preman itu," sahut si kuli panggul sambil berlalu.
Baskara tertunduk lesu. Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat hatinya. Ia ingin menjadi pahlawan, tapi ia sadar ia bahkan tidak bisa menjadi pahlawan bagi perutnya sendiri.
Tiba-tiba, Tante Sari muncul dari arah belakang kios membawa payung besar. Melihat pria berjaket kulit itu, Tante Sari langsung berteriak.
"Heh! Kurang kerjaan ya kamu ganggu keponakanku?! Mau saya panggilkan polisi di pos depan?!" teriak Tante Sari lantang.
Preman itu mendengus, lalu meludah ke lantai. "Urusan kita belum selesai, Arumi." Ia pun melangkah pergi.
Arumi menghela napas panjang. Tangan yang tadinya stabil kini sedikit gemetar. Tante Sari langsung merangkulnya.
"Kamu tidak apa-apa, Rum? Jangan takut, ada Tante."
"Aku tidak takut, Tante. Aku cuma sedih... di saat aku berjuang seperti ini, aku sadar betapa sunyinya berdiri sendirian tanpa sandaran yang benar-benar bisa melindungi," bisik Arumi.
Tanpa mereka sadari, Baskara masih berdiri di sana, tersembunyi di balik tiang beton. Ia mendengar kalimat Arumi. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ada rasa sesak yang sangat dalam di dada Baskara. Bukan karena lapar, tapi karena rasa malu yang akhirnya benar-benar ia rasakan.
Ia melihat Arumi kembali melayani pelanggan dengan senyum yang dipaksakan. Baskara berbalik, berjalan menuju gang sempit di belakang pasar, memegang perutnya yang keroncongan sambil menangis tanpa suara. Ia adalah pria yang kalah, di dunia yang terus berjalan tanpa menunggunya.