"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab17
Keheningan kembali menyelimuti kamar kos kecil itu. Setelah lama terdiam, masing-masing tenggelam dalam pikiran tentang masa depan dua bayi mungil yang belum diketahui asal-usulnya, Diana kembali memecah sunyi dengan tatapan yang tertuju pada kedua bayi yang masih tertidur pulas.
“Namanya siapa, Mel? Lo udah ngasih nama? Atau udah ada namanya pas lo temuin?” tanya Diana pelan namun penasaran.
Melisa menggeleng pelan, wajahnya tampak kosong sejenak seolah baru tersadar kalau bayi-bayi itu bahkan belum punya identitas sekecil apa pun.
“Belum… Aku belum kepikiran sama sekali. Di dalam kotak juga nggak ada apa-apa, nggak ada tulisan nama, nggak ada secarik kertas pun,” ucapnya pelan. Ada nada bersalah di suaranya—bukan karena lalai, tapi karena ia menyadari betapa kosongnya awal hidup bayi-bayi itu.
“Ya udah, kita kasih nama sekarang aja, yuk!” Diana langsung duduk lebih dekat ke arah dua bayi itu, matanya berbinar penuh semangat. “Sayang banget kalau mereka nggak punya nama. Masa iya bayi lucu begini dibiarkan nggak punya identitas?”
Riki yang sejak tadi duduk menyandar santai, ikut mendekat, ikut-ikutan menatap penasaran.
“Nih ya,” katanya sambil memperhatikan salah satu bayi, “ini beneran bayi, kan? Bukan... jadi-jadian?”
Diana langsung menoleh tajam. “Lo ngaco banget sih, Ki. Jelas-jelas bentuknya manusia. Ada-ada aja!”
“Ya siapa tau kan,” ujar Riki, separuh bercanda. “Anak siluman gitu, muncul di gang tengah malam.”
“Siluman tuh lo!” jawab Diana cepat, malas menanggapi kekonyolan sahabatnya.
“Udah, udah…” Melisa langsung menengahi. “Jangan ribut di sini, nanti mereka kebangun. Lagian ini kosan aku sempit, jangan bikin suasana makin panas.”
Setelah suasana sedikit mereda, Melisa mengalihkan pandangan ke dua sahabatnya.
“Kalau gitu… kalian ada saran nama buat mereka?”
Riki langsung angkat tangan seperti anak sekolah. “Gue punya! Alexander. Biar kebule-bulean, gitu. Keren, kan?”
Diana melirik tajam, lalu mencibir. “Pasaran banget, Ki. Di IG isinya anak bayi namanya Alexander semua.”
Melisa menarik napas dalam-dalam. “Kalau kalian mau ribut lagi, keluar aja deh. Sumpah, aku udah capek banget hari ini.”
Ancaman halus dari tuan rumah itu cukup ampuh untuk membuat keduanya diam sejenak dan mulai berpikir serius. Diana menatap salah satu bayi lalu berkata, “Kalau menurut gue… Aditya bagus. Klasik, tapi tetap bermakna.”
“Terus, yang satunya siapa? Udintya?” timpal Riki, masih setengah-serius.
Melisa menahan tawa kecil, sementara Diana memukul lengan Riki pelan. “Jangan ganggu, napa sih!”
“Kaiden!” kata Riki tiba-tiba, kali ini nada suaranya cukup meyakinkan. “Nama anak zaman sekarang. Keren, modern, dan bisa dipanggil Kai.”
Melisa mengangguk-angguk kecil, mulai mempertimbangkan.
“Aditya itu nama sejuta umat, Mel. Percaya sama gue, Kaiden itu lebih cocok,” bujuk Riki lagi. “Biar nanti pas udah gede mereka sekeren gue.”
“Ya ampun…” Diana memutar bola mata dan langsung pura-pura muntah. “Pede-nya nyampe langit ketujuh.”
“Udah deh,” kata Melisa akhirnya, mencoba menengahi lagi. “Kita gabungin aja dua-duanya. Biar adil dan nggak ada yang berantem. Pake nama Kaiden dan Aditya, dua-duanya.”
Riki dan Diana akhirnya setuju dalam diam, menunggu apa keputusan akhir Melisa.
Setelah terdiam beberapa detik, Melisa menatap kedua bayi itu dengan sorot mata yang lembut. Ada kehangatan, ada keterikatan yang mulai tumbuh—meski ia belum tahu apa arti semua ini, namun memberi nama seperti sebuah pernyataan diam: aku peduli.
“Yang ini…” ujarnya sambil menunjuk bayi yang berada di sebelah kiri, “namanya Ethanio Kaiden Aditya.”
Ia lalu menoleh ke bayi satunya. “Dan yang ini… Evandra Kaiden Aditya.”
Diana tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.
“Ethanio dan Evandra. Keren. Kedengeran kayak nama anak penting.”
“Yoi, kayak anak sultan,” timpal Riki setengah bercanda, tapi kali ini tanpa nada mengejek.
Melisa menatap mereka berdua. Dalam hati ia bersyukur—karena di tengah kebingungan dan ketakutan, ia tak benar-benar sendiri.
“Eh iya, Mel…” suara Riki tiba-tiba memecah keheningan. Ia memandang Melisa dengan serius, sesuatu yang cukup langka darinya. “Kalau lo beneran niat ngurusin mereka… terus kuliah lo gimana? Lo nggak mungkin berhenti, kan?”
Melisa terdiam. Pertanyaan itu menghantam tepat di bagian yang sedang ia pikirkan juga. Ia menunduk, menatap dua bayi yang kini mulai mengeluarkan suara pelan dalam tidurnya. Wajahnya diliputi kebingungan dan kecemasan.
“Aku juga bingung, Ki. Nggak mungkin aku tinggalin mereka di kosan sendirian pas aku kuliah,” ujarnya lirih. “Tapi kalau aku ajak, aku pasti nggak bisa fokus. Aku juga nggak mau kuliahku berantakan…”
Kamar kembali hening. Kali ini hening yang lebih berat—penuh pikiran, penuh beban yang tiba-tiba terasa nyata bagi mereka bertiga.
Diana menatap langit-langit sebentar, lalu menoleh ke arah Melisa. “Gimana kalau dititipin ke tempat penitipan anak aja? Nanti pas lo pulang kuliah, lo jemput. Setidaknya mereka aman, nggak sendiri, dan ada yang ngawasin.”
Usulan itu masuk akal. Tapi Melisa tetap tak langsung menanggapi. Wajahnya masih terlihat ragu. Ia tahu, penitipan anak berarti biaya tambahan—dan untuk bertahan hidup saja, ia sudah harus menghitung uang receh.
Melisa menggigit bibir bawahnya pelan.
Riki, yang memperhatikan ekspresinya, langsung menepuk ringan bahunya. “Tenang aja, Mel. Kalau soal biaya, gue bantu. Serius.”
“Iya, Mel. Lo nggak usah mikir sendirian. Kita bantu bareng-bareng,” tambah Diana dengan nada tegas namun hangat.
Melisa menatap mereka berdua, ada air yang mulai menggenang di sudut matanya. Ia menggeleng pelan.
“Tapi aku… aku nggak enak. Rasanya nyusahin kalian terus. Aku cuma pengen jaga mereka, tapi aku juga nggak mau ganggu hidup kalian…”
Diana langsung bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Melisa, menatapnya dalam-dalam. “Melisa Wulandari, denger ya. Kita temen. Dan temen itu udah semestinya saling bantu. Apalagi lo udah ngelakuin hal besar dengan nyelametin dua bayi. Itu bukan hal kecil, Mel. Itu luar biasa.”
“Iya,” Riki mengangguk. “Dan lo harus ingat, lo nggak sendirian. Kita di sini bukan cuma buat ketawa bareng, tapi juga buat jalanin hal berat bareng. Jadi, jangan pernah mikir lo ganggu kita.”
Melisa tertunduk. Air matanya menetes perlahan, namun bibirnya mengulas senyum kecil.
“Terima kasih… Aku beneran nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kalian. Kalian… lebih dari sekadar sahabat,” ucapnya dengan suara parau.
Diana mendekat dan memeluknya erat. “Kita ini keluarga, Mel. Keluarga yang dipilih, bukan ditentukan dari darah.”
Riki yang tak mau kalah, ikut melingkarkan lengannya di punggung keduanya. “Udah, yuk pelukan bertiga. Tapi jangan lama-lama, nanti gue baper.”
Melisa tertawa di sela tangisnya. Tangis yang tak lagi penuh cemas, tapi hangat—karena ia tahu, ia tak harus menghadapi semuanya sendirian.