Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Cahaya matahari pagi yang hangat menyelinap masuk melalui celah gorden, menyinari kelopak bunga-bunga biru yang masih segar dan harum di sekeliling ranjang.
Ambar mengerjapkan matanya, merasakan sepasang lengan kokoh masih melingkar erat di pinggangnya, seolah tak membiarkannya pergi meski sedetik pun.
Baskara masih memejamkan mata, namun senyum tipis terukir di bibirnya saat merasakan pergerakan Ambar.
Ia mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya yang harum.
"Jangan bangun dulu, Ratuku. Dunia bisa menunggu," bisik Baskara dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar sangat seksi.
Ambar tertawa kecil, mengelus rahang tegas suaminya.
"Kita harus sarapan, Bas. Aku sudah meminta pelayan menyiapkan menu spesial di tempat tidur."
Beberapa saat kemudian, nampan perak besar berisi sarapan mewah diletakkan di atas ranjang.
Ambar dengan telaten menyiapkan segelas susu jahe hangat—minuman favorit yang selalu ia buatkan untuk menjaga stamina dan kehangatan tubuh Baskara.
"Ini, diminum dulu susu jahenya," ucap Ambar sambil menyodorkan gelas itu.
Baskara menyesapnya perlahan, matanya tak lepas dari wajah cantik Ambar yang tampak begitu bercahaya pagi ini.
"Enak sekali. Tidak ada yang bisa membuat ini senikmat kamu."
Sambil menikmati sarapan, Ambar menatap suaminya dengan serius.
"Bas, nanti siang aku mau ke butikku. Aku ingin melihat progres renovasi rumah, butik dan mulai mendata beberapa desain baru yang sempat tertunda."
Baskara menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Ia mendukung penuh kemandirian istrinya.
"Tentu, Sayang. Kejarlah mimpimu. Tapi ada satu syarat..." Baskara menjeda kalimatnya sambil meraba laci nakas.
"Setelah selesai dari butik, kamu jemput aku ke perusahaan, ya? Ada rapat pemegang saham, dan aku ingin istriku ada di sampingku saat aku mengumumkan keputusan besar," lanjut Baskara.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah kunci mobil dengan logo kuda jingkrak yang berkilau—kunci Ferrari Purosangue model terbaru berwarna merah marun yang sangat elegan. Ia meletakkan kunci itu di telapak tangan Ambar.
Ambar terbelalak melihat kunci mobil supercar tersebut.
"Bas, ini? Kamu memberikan ini padaku? Mobil ini bahkan baru rilis!"
"Itu milikmu. Aku tidak mau istriku pergi ke butik dengan mobil biasa. Aku ingin semua orang tahu bahwa Nyonya Mahendra memiliki selera yang tak tertandingi," ucap Baskara santai.
Ambar menggelengkan kepala, menatap kunci mewah itu lalu beralih ke suaminya.
"Bas, kamu terlalu memanjakan aku. Pertama butik, lalu rumah Ibu, sekarang mobil ini. Aku takut aku jadi manja."
Baskara menarik tengkuk Ambar, mendaratkan kecupan lembut namun dalam di keningnya.
"Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun mengumpulkan kekayaan ini hanya untuk satu tujuan, Ambar: untuk memanjakan wanita yang kucintai. Jadi, nikmatilah. Karena ini baru permulaan."
Cahaya matahari pagi semakin terang menyusup di sela-sela kelopak bunga Blue Poppy yang menghiasi kamar utama kediaman Mahendra.
Aroma susu jahe yang hangat masih mengepul tipis di atas nakas, namun suasana di atas ranjang king size itu mendadak berubah menjadi elektrik kembali.
Ambar baru saja hendak beranjak untuk bersiap menuju butiknya, namun sebuah tarikan lembut namun bertenaga di pergelangan tangannya membuat ia kembali jatuh ke dalam pelukan hangat Baskara.
Baskara menatap istrinya dengan tatapan yang dalam, seolah tidak pernah puas menyesap kecantikan Ambar yang tampak begitu segar dengan rambut sedikit berantakan.
Ia melingkarkan tangannya di pinggang Ambar, menarik tubuh mungil itu hingga kembali menempel sempurna pada dadanya yang bidang.
"Tapi Sayang, boleh aku minta 'hadiah' lagi sebelum kita melakukan aktivitas masing-masing?" pinta Baskara dengan suara bariton yang rendah dan serak, penuh godaan yang tak terbendung.
Ambar tertegun sejenak, lalu tawa kecilnya pecah.
Ia menatap wajah suaminya yang biasanya terlihat dingin dan tegas di depan orang lain, namun kini tampak begitu manja dan penuh gairah hanya di hadapannya.
"Bas, ini sudah siang. Katanya ada rapat penting di perusahaan?" goda Ambar sambil merapikan sisa-sisa rambut yang menutupi dahi Baskara.
Baskara menyeringai nakal, ia mencium ujung hidung Ambar dengan gemas.
"Rapat itu bisa menunggu sepuluh atau dua puluh menit. Tapi keinginanku untuk memelukmu lebih lama tidak bisa ditunda lagi. Poin ketiga itu, sepertinya aku ingin melakukannya setiap saat jika itu bersamamu."
Ambar menggelengkan kepalanya perlahan, namun tangannya justru melingkar erat di leher suaminya.
Ia memajukan wajahnya, hingga napas mereka kembali beradu di udara yang harum.
"Suamiku memang yang paling nakal, tapi aku suka," bisik Ambar tepat di depan bibir Baskara sebelum ia sendiri yang memulai kecupan manis untuk menyambut permintaan suaminya.
Maka, rencana untuk segera berangkat pun tertunda.
Di bawah siraman cahaya pagi dan dikelilingi ribuan bunga biru yang mahal, pasangan itu kembali larut dalam kemesraan yang intens.
Kali ini lebih lembut, lebih penuh perasaan, seolah sedang mengukir janji bahwa sesibuk apa pun dunia luar nanti, kamar ini akan selalu menjadi tempat mereka pulang ke dalam pelukan satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, dengan napas yang masih sedikit terengah dan senyum kepuasan di wajah masing-masing, Ambar akhirnya benar-benar bangun untuk bersiap.
Baskara memperhatikannya dari atas tempat tidur dengan tatapan bangga, melihat istrinya kini telah bertransformasi menjadi wanita yang penuh percaya diri.
"Hati-hati di jalan, Nyonya Mahendra. Dan jangan lupa, Ferrari merah itu menunggumu di lobi," ucap Baskara sambil mengedipkan mata saat Ambar melangkah menuju kamar mandi.
Matahari sudah agak tinggi ketika rutinitas pagi yang intim itu usai.
Ambar dengan telaten menyelesaikan tugasnya, memandikan Baskara dengan air hangat yang dicampur minyak esensial cendana, lalu membantunya mengenakan setelan jas kerja yang kaku namun elegan.
Tidak ada lagi kecanggungan; setiap sentuhan Ambar adalah bentuk pengabdian yang tulus.
Sebelum melangkah keluar, Ambar menyempatkan diri ke dapur.
Ia menyiapkan kotak bekal berbahan porselen premium yang berisi menu sehat favorit Baskara—potongan salmon panggang dengan asparagus dan sedikit nasi merah—agar suaminya tetap menjaga energi di tengah rapat-rapat panjangnya.
Ambar menghampiri Baskara yang sudah duduk rapi di kursi rodanya di lobi utama.
Ia meletakkan kotak bekal itu di pangkuan suaminya, lalu mengecup kening Baskara dengan lembut.
"Bas, aku berangkat dulu ya. Bekalnya jangan lupa dimakan saat jam istirahat," ucap Ambar dengan senyum manis yang membuat wajahnya tampak berseri.
"Sampai bertemu sore nanti di kantor. Aku mencintai kamu, Bas."
Baskara meraih tangan Ambar, menahannya sejenak untuk mengecup telapak tangannya dalam-dalam.
Tatapannya yang biasanya dingin kini mencair, penuh dengan kehangatan yang hanya ditujukan untuk istrinya.
"Aku juga mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu," balas Baskara dengan suara bariton yang mantap.
"Hati-hati saat mengendarai mobil barumu. Jangan mengebut, ingat, aku menunggumu menjemputku sore nanti."
Ambar mengangguk patuh. Ia melangkah keluar menuju pelataran parkir di mana Ferrari Purosangue merah marun itu sudah terparkir gagah.
Deru mesin mobil supercar itu terdengar halus namun bertenaga saat Ambar menyalakannya.
Dengan satu lambaian tangan terakhir ke arah Baskara yang memperhatikannya dari balik pintu kaca, Ambar memacu mobilnya keluar dari gerbang kediaman Mahendra.