Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?
Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.
Jadi, siapa yang harus dipilihnya?
Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?
Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.
Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...
hihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
addicted
"Six, hari ini tandatangan cafe rossa?" Pak Alex mengirimkan pesan padaku.
"Ya, Bapak. Samantha dan dua orang rekannya baru saja datang."
"Semoga lancar yah, lumayan kita dapat bunga tinggi dalam dua bulan pertama."
"Pak Alex, Pak Andre menanyakan mengenai operasional unit yang mau diterminated hari senin."
"Itu dia cari investor bunganya kemahalan, bisa lebih besar 2% dari kita punya rate kredit. Bilang ke Andre, jangan kebanyakan maen cewek, viagra bisa bikin kerusakan otak."
Aku hampir saja terbahak.
Untung masih bisa ditahan.
"Baik Pak akan saya sampaikan."
"Screenshot saja percakapan kita."
Waduh ga berani aku. Bisa perang dunia aku sama Pak Andre.
Tak berapa lama aku melihat Number Nine keluar dari ruang meeting dan kembali ke Pos nya sambil merengut. Yah, sudah kuduga, Samantha memainkan peranannya dengan baik. Aku sudah bilang kepadanya lewat Whatsap bahwa sebaiknya ia jual mahal diperjanjian ini. Karena Big Boss sudah acc pasti Aria juga akan menjalankan kerjasama sepenuh hati.
Namun tidak semua wanita yang mendekati para playboy kelas kakap ini sekaya Samantha, yang bisa bayar mahal untuk mendekati pria idamannya. Aku sejujurnya kurang setuju Samantha mengejar Aria.
Cara mendapatkan pria idaman dengan menggunakan uang sepertinya bukan ide bagus. Apalagi uang itu tidak masuk ke rekening pribadi Aria dan hanya berguna bagi performanya. Yang penting Samantha sudah diberi kesempatan waktu untuk bertemu Aria lebih sering. Ia harus pandai-pandai mengatur pesonanya.
Aku menghela napas, lalu menatap ponselku.
"Kamu lagi dimana?"
Aku mengetik pesan untuk Lucas..
"Di kantor pusat mau antar kotak yang tadi kamu kasih." Balas Lucas.
"Miss you." ketikku.
Namun ia tidak membalas pesanku, dibaca pun tidak. Sepertinya belakangan ia sibuk. Entah disuruh-suruh apa sama orang pusat.
Padahal banyak yang mau aku ceritakan padanya...
Sekitar setengah jam kemudian Samantha keluar dari ruang meeting, ia langsung menghampiriku.
"Sam, aku atur janji dulu untuk lihat lokasi yah, juga sekalian ke proyek yang baru." sahut Pak Aria
"Jangan kelamaan atur jadwal, penawaran dari Bank lain udah masuk dan lebih menarik dari rate kamu. Aku lebih prioritaskan disini karena kamu..." Samantha diam. Lalu memutar pergelangan tangannya sambil mengernyit seakan sedang berpikir keras. "Apa sih hubungan kita? Teman? Ttm? Fwb? Ah, ngga jelas juga... Sebodo amat lah!" Samantha mengibaskan tangannya. "Bekasan One Night Stand kali yah yang tepat." wanita itu mengangkat bahunya. Aku terbatuk karena hampir terbahak.
Pak Aria menatapnya dengan kesal. Mungkin dia baru kali ini diremehkan wanita.
Good job Samantha.
"Kita atur aja sekarang yah, sambil makan siang." Pak Aria mencoba pendekatan.
"Yah, aku udah janji mau makan siang sama... Mbak Six."
Aku?
Plis deh... Jangan mendadak gini dong.
"Yuk Mbak Six?!" Samantha menyerangku dengan puppy eyes.
"Kita bisa bareng makan siang." timpal Aria.
"Jangan dong... masa kamu mau ikutan girls talk ngomongin PMS, creambath, menipedi?!" Samantha menaikkan sebelah alisnya.
Pak Aria makin jengkel. Lalu menatapku.
"Aku tunggu di bawah yah Mbak Six, mau ke Teller dulu. Yuk Aria, makasih buat hari ini..." Samantha tersenyum manis sambil melenggang pergi. Pak Aria hanya terpaku menatap punggungnya yang menjauh.
Ah, indahnya pemandangan didepanku ini.
Siang harinya, Aku menghampiri Samantha yang melambaikan tangannya dengan antusias menunjukkan keberadaannya. Aku langsung memeluknya. Ia terdengar terkesiap karena kaget, lalu balas memelukku lebih erat.
"Aku seneng bangettttt. Aku tadi deg-degan. Hampir aja ngga tahan mau peluk Aria kalo ngga inget Mbak Six..." mata Samantha berkaca-kaca.
"Sabar, Sam... Rencana baru berjalan setengah, bisa jadi gagal di tengah jalan. Apalagi saingan kamu banyak... jangan buru-buru yah. Yang tadi udah bagus, udah luwes. Kamu hebat." pujiku.
Ia terkikik senang.
"Iya makanya tadi aku keluarin aja sekretarisnya. Aku malas lihat penggoda yang lain."
Aku menyulut rokokku sambil memperhatikan orang di sekitar kami. Meningkatkan radarku siapa tahu ada orang yang kukenal sedang menguping pembicaraanku dengan Samantha.
"Mbak Six..." panggil Samantha.
"Hm?"
"Cewek tadi juga..." Samantha menatapku penuh arti. Juga apa? Juga teman tidur Aria?!
"Ya pastinya." desisku. Aku tidak ingin membohonginya.
Samantha langsung muram.
"Seperti apa sih kehidupan Aria?" Akhirnya dia bertanya.
"Buat apa kamu bertanya hal yang jawabannya kamu tahu bakalan bikin sakit hati?" aku balik bertanya.
Ia menghela napas.
"Kalau kamu mbak?" Ia kini bertanya padaku. Aku menatapnya sinis. memangnya aku terlihat nakal yah? atau terlihat putus asa sampai-sampai mengejar pria macam Aria?!
"Samantha... Tidak semua sekretaris ada main sama bossnya. Kamu kebanyakan baca novel romantis." sahutku. "Aku tidak tahu tujuan mereka ngumpulin koleksi cewek tuh buat apa, apa mereka dalam tekanan kerja atau hanya ingin membuktikan kejantanannya, yang jelas kamu itu udah diperdaya. Sekarang kamu coba ingat-ingat lagi, dulu kamu bisa kenal Aria karena apa. Jadi kamu bisa belajar bahwa pertemuan macam begitu dampaknya menghancurkan diri kamu sendiri."
Samantha hanya menatapku dengan seksama. Tak berapa lama air matanya tergenang.
Ia lalu menunduk.
Aku jadi penasaran sebenarnya bagaimana mereka bisa bertemu, sih.
"Yah... Maaf aja kalau aku berpikiran macam-macam mbak. Aku sih cukup pede yah kalau berhadapan sama yang lain, kayak yang tadi tuh yang ikutan meeting, number berapa tuh, yah tampangnya standard... Tapi kalau sama mbak Six..." Samantha bergumam sambil menunduk tapi aku masih bisa mendengarnya.
Aku menyesap rokokku.
Menunggunya berbicara.
Sampai ia siap membuka hatinya padaku.
Sambil berharap kalau ia tidak terlalu lama karena istirahatku hanya satu jam.
"Aria itu... Pintar merayu, mbak." ia memulai ceritanya. "Tapi Rayuannya ngga kentara, sikapnya biasa saja, sabaaar banget. Yah tetap sopan, tetap ngobrol, perhatiannya juga tidak berlebihan dan bukan jenis laki-laki yang romantis. Dia ngga menjanjikan apapun, pendekatannya sabar, hadiah juga hanya sekali-kali Mbak dan bukan yang terlalu mahal. Tau-tau kita jadi terlena sendiri dan ngga sadar udah masuk perangkap! Dan setelah kita semakin akrab, kita jadi tau kalau ia...memiliki addicted yang..." Samantha menggaruk tengkuknya. Aku bisa melihhat lengannya merinding.
"Aku pernah dua hari ngga berhenti mbak. full sampai aku pingsan berkali-kali. Hanya berhenti untuk makan dan ke wc. Kadang dia melakukan sambil makan. Staminanya..."
Tangan Samantha gemetar.
"Setelah itu dia tidak bisa dihubungi. Lost contact sama sekali. Terakhir isi Whatsapnya cuma..." Samantha mengutak-atil ponselnya.
You're worth more than you think.
Aku mengangkat alisku. Gini caranya Aria mutusin cewek? Kau lebih berarti dari yang kau pikirkan. Sama aja anak alay bilang "Kamu terlalu baik untukku". Jadi dia apa? Si Bang**sat, yang ngga pantas tapi nyobain dulu, begitu?!
"Yah... Dia memang... "Aku berusaha mencari kata-kata yang pas. "... Marketing banget."
Ya dia kan memang Direktur Bisnis.
Gimana sih aku.
Pasti ya dia dipilih jadi DirBis karena punya kemampuan itu.
"Aku mana terima mbak, cuma dikirimin beginian. Oke lah, dia ngga janjiin apa-apa ke aku, tapi ya sakit hati tetap ada mbak! Mbak ngerti, kan?!"
Ya bukannya ngga ngerti, tapi yang paling aku pertanyakan adalah hanya segitu kemampuan kamu, Samantha?! Wanita yang diluar galak, judes, menggonggong, tapi dalamnya malah naif. Memangnya laki-laki disekitar kamu ngga ada yang lebih baik dari Aria?! Dia kan cuma menang ganteng doang.
Aku mati-matian menahan untuk mengeluarkan isi hatiku. Kurang bijak kalau kita malah menghina orang yang butuh teman bicara. Bukannya membantu malah bikin tambah sakit, nanti.
"Samantha..." kataku. "Kali ini tolong jangan terlalu terlena."
"Maksudnya Mbak?"
Aku mencondongkan tubuh. "Number Nine itu, walaupun lebih cantik kamu dan otaknya tidak terlalu pintar, tapi staminanya bisa mengimbangi Aria."
mata Samantha terbelalak.
"...Sam, kita tidak tahu apa yang dipikirkan para addicted. Apa yang mereka cari, apakah mereka bisa berkomitmen akan cinta? Kamu hati-hati... Itu sudah jadi penyakit mental, Sam... Kecuali kamu jenis orang yang sama yah saya ngga akan banyak komentar..." Aku mengangkat bahuku dan kembali menyandarkan tubuhku.
"Mak...maksudnya...mereka sudah...kecanduan untuk..." ia tergagap.
Aku mengangguk.
"Yang namanya cinta kan kan seharusnya tidak menyakiti. Kamu dua hari nonstop apa dia peduli dengan kondisi badan kamu? Bagaimana kalau kamu lagi sakit? Atau lagi haid pas dia pingin, apa yang akan dia lakukan?!"
Samantha tersentak.
Aku merasa saat ini ada bagian dari logikanya yang tersadar kalau ia pernah dalam bahaya.
"Mungkin Aria waktu itu akhirnya tersadar waktu ngeliat kamu pingsan kalau kamu tidak akan kuat menghadapi kekurangannya sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan kamu. Saya pribadi setuju dengan isi pesannya. You deserve more than him. Dan yang namanya penyakit mental tidak akan sembuh hanya dengan cinta. Harus terapi puluhan kali, Sam. Kalau perlu dia harus cari lawan seimbang yang ngga perlu komitmen. Dan kamu bukan orang yang pantas untuk keadaan itu."
"Maksudnya... dia mutusin aku karena..."
Aku mengangguk. "Bisa jadi dia ngga puas sama service kamu, dia belum keluar kamunya udah pingsan, atau bisa jadi dia sadar kalo dia paksa kamu bisa mati."
Eh kata-kataku berlebihan yah?! Yah biarlah, toh jenis orang seperti Samantha memang harus ditakut-takuti baru mau mundur.
"Astaga!!" serunya kemudian. Tangannya gemetaran. Dia kali ini ketakutan.
Aku tersenyum dan menggenggam tangannya, menenangkannya. "Sam, kali ini bicarakan baik-baik dengannya. Kamu punya banyak kesempatan di banding perempuan lain. Kamu akan kehilangan banyak uang kali ini, apakah itu seimbang dengan perasaan kamu? Kalau Aria luluh dengan perjuangan kamu, kamu harus bisa dampingi dia di masa sulitnya. Urusan ranjang, maksud saya. Tapi kalau ia tidak bisa mengendalikan kecanduannya, kamu harus pikir pakai logika karena tetap diri kamu yang lebih penting."
Aku pikir pria macam Aria malah belum pernah jatuh cinta, jenis yang seperti itu biasanya menganggap wanita diciptakan untuk pembuangan birahinya.
Namun, sekian lama mengenalnya, aku menganalisa kalau ia punya keinginan terpendam terhadap seseorang yang tidak bisa ia miliki sampai sekarang, sampai ia bisa mendapatkan orang itu, ia akan melakukan pelampiasan untuk melakukan hal-hal yang merugikan, baik itu untuk dirinya maupun untuk orang lain.
Akhirnya Samantha dan aku mengakhiri perbincangan kami. Dia bilang akan maju untuk sementara, karena ia ingin memahami Aria. Ia tampaknya sudah mencintai Aria sekemampuannya. Tapi ia berjanji padaku akan berhenti kalau ia tidak kuat.
malah mantan😉
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️
balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.