"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Orang yang Nana tunggu-tunggu sudah tiba, sambil melipat tangan di dadanya, Nana menatap kesal Fio, "Duh, minumnya lama banget, sampe-sampe gue juga kehausan di sini," ucap Nana.
Fio menyengir pelan, "Maaf, tadi ada urusan bentar sama Kak Fallen," balas Fio.
Nana mengangguk pelan, untungnya dia percaya, jika tidak alasan apa lagi yang harus Fio lontarkan.
"Oh iya, Fio. Besok kan UNBK nih, setelah tamat dari sekolah, lo mau lanjut di mana?" tanya Nana.
"Lanjut di kampusnya Kak Fallen," jawab Fio.
Nana mengangguk kembali, tapi, di wajahnya tersurat akan kesedihan. "Mukanya kok sedih gitu? Ada apa, Na?" tanya Fio.
"Gue kuliah di luar negeri," ucap Nana.
Fio tersenyum kemudian menepuk bahu Nana sebelah, "Hei, jangan sedih. Ngejar cita-cita harus semangat. Ada kalanya kita berpisah untuk meraih kesuksesan, tapi ingat, jangan sampai lupa dengan teman seperjuangan putih abu-abu," balas Fio menenangkan Nana.
Nana mengangguk semangat dan memeluk Fio, "Makasih yah, Fio, gue bakalan pulang membawa kesuksesan," ucap Nana.
"Jangan lupa oleh-olehnya," balas Fio.
Seseorang menatap mereka sinis, "Oh, rupanya mereka tengah berpeluk bahagia, tunggu aja hidup kalian bakalan suram, terutama Fio!"
Seorang Rene akan melakukan aksinya nanti malam untuk membalas sakit hatinya, ia juga akan menyelamatkan adiknya dari rumah terkutuk itu, siapa lagi kalau bukan Fahrul.
~~
Waktu semakin berlalu, angin malam semakin terasa, kadang kala ketukan terdengar yang berasal dari kaca jendela, Fio dan Nana tetap mengabaikan bunyi tersebut, tapi, kali ini ketukan tersebut kembali berbunyi.
Nana dan Fio saling tatap kemudian menengok ke arah jendela. "Na, ada yang aneh deh, siapa sih yang ngetuk jendela," ucap Fio dan Nana menggeleng tidak tahu.
Rasa penasaran kembali menyeruak di benak Fio yang membuatnya menuju jendela tersebut, Fio membuka jendela tersebut dan melihat di bawah. Tidak ada seorang pun, lantas siapa yang mengetuknya? Angin? Tidak, mahluk halus? Jangan mengada-ada.
Fio kembali sambil menghela nafas, dan bunyi ketukan tersebut kembali terdengar, tapi, kali ini disertai dengan lampu yang padam.
"Nana! Jangan iseng," ucap Fio mulai ketakutan.
"Paandah iseng? Gue gak ngapa-ngapain."
"Terus siapa sih?" tanya Fio.
Badan Nana mulai bergetar, lampu jalan sedikit menerangi, hingga bayangan seseorang tengah memegang kapak jelas terlihat di tembok.
"Jangan ribut," bisik Nana.
Fio mengangguk pelan, kemudian menutup mulutnya, begitupun dengan Nana.
Ketukan jendela semakin menjadi-jadi, berikutnya, jendela tersebut pecah.
"Jangan teriak," bisik Nana.
Mereka berdua tetap diam menahan isak tangis, sebenarnya siapa orang itu? Apa mereka punya salah terhadapnya?
Apalagi Fallen tidak ada di rumah, cuman mereka berdua, Bibi, Jono, dan Fahrul.
Tunggu, Fio mengingat Fahrul, bayangan seseorang yang tengah memegang kapak tersebut adalah Fahrul? Tapi Fio tidak yakin karena Fahrul tengah terikat di dalam kamar dan badannya penuh dengan luka.
Bayangan tersebut bergerak, dan mendekat.
"Jangan takut, Saya akan membunuh kalian dengan halus, namun rasanya tidak Saya jamin," ucap seorang Pria dengan suara yang serak.
"Di mana kalian? Jangan bersembunyi, ayolah keluar, dan biarkan tugasku menjadi lebih mudah," ucap Pria tersebut.
Perlahan tapi pasti, Nana kenal dengan suara tersebut, dia adalah Gino, sahabat Fallen.
Nana mengepalkan tangannya, Gino ternyata musuh dibalik selimut, ia adalah sahabat Fallen, lantas?
Dan ia mendengar tugas, tapi tugas dari siapa? Sungguh ini terbelit-belit di benaknya.
Dengan keberanian yang kuat, Nana keluar dari tempat persembunyiannya, "Gue tau kalau lo, Gino!" ucap Nana.
Pria itu adalah Gino, dia membuka topeng di wajahnya sambil tersenyum menyeringai, "Ternyata gadisku berada di sini hm?" tanya Gino.
"Gadis lo? Gak ada gadis lo di sini, brengsek!"
"Hush, lembut sekali perkataan-mu, sangat seksi," balas Gino.
"Apa tujuan lo?" tanya Nana.
"Membunuh sahabat-mu, Aku sudah dibayar jutaan rupiah untuk ini, jadi terpaksa Aku harus membunuh-mu juga, daripada Aku mendapat masalah lain nantinya," jawab Gino.
Kapak yang berada di genggaman Gino terangkat, Gino mengarahkannya ke arah Nana.
"Menyingkir sayang, atau Kau kubunuh," ucap Gino.
Nana menggeleng pelan, ia harus berbuat sesuatu, entah ini keburuntungan atau kesialan, jalan di depan rumah mati.
Nana anggap itu keberuntungan, satu-satunya cahaya yang diandalkan oleh Gino adalah cahaya lampu jalan, segera Nana menarik tangan Fio untuk ke luar dari kamar tersebut.
"Di mana kalian?!" teriak Gino.
Geraman kesalnya semakin terdengar, Nana tersenyum miring, "Membunuh atau dibunuh," ucapnya.
"Tidak, lebih baik kita pergi dari sini," ucap Fio.
Kali ini Fio menarik lengan Nana dan menuju kamar-nya dan ia menguncinya dengan erat.
Nafas mereka terengah-engah, segera Fio menelfon Fallen.
"Fallen, tolong angkat lah, jika Kau mencintaiku maka pasti Kau mengangkatnya," ucap Fio yang dianggap konyol oleh Nana.
Perkataan apa itu? Jika Fallen tidak mengangkatnya, berarti Fallen tidak menyintai Fio?
Nana ingin menjitak dahi Fio saat ini.
"Halo?"
Ternyata Fallen mengangkatnya. Dan Nana melongo, ternyata perkataan Istri benar-benar mujarab.
"Kak, jika Kakak datang terlambat, mungkin ini terakhir kalinya Kakak mendengar suaraku," ucap Fio kemudian memutus telfonnya.
~~
Terimakasih, like and coment.
kalau pribadi yimak .membawa like