Liliana Dupont adalah cewek polos dan introvert. Dia juga tak pandai bergaul dengan teman sebayanya karena dia adalah anak konglomerat. Anak terpandang di sekolah tetapi dia tidak sombong. Hingga akhirnya Roy Alvaro datang di kehidupannya dan langsung mengklaim dirinya bahwa milik Roy seorang.
Roy Alvaro adalah cowok dingin dan tak banyak bicara. Tanpa mereka duga, Roy juga bisa menjadi monster tampan jika itu sudah menyangkut dengan apa yang di miliki nya di sentuh orang lain apalagi Liliana Dupont.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain-sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bad Girl
Sudah siap membaca cerita Roy dan Lily? Lily sebelumnya belum terlalu menderita. Ada yang lebih menderita lagi setelah ini. Bukan fisik tapi batin.
°°°
"Pagi, calon!"
Roy mengabaikan panggilan gadis yang duduk di depan mobil sport samping mobil Roy terparkir.
Gadis itu mendengus. Sudah beberapa hari dia ada Indonesia, cowok itu selalu saja mengabaikannya. Padahal dia ingin sekali dekat dengan Roy seperti dulu—saat SMP dulu.
Gadis itu berdiri di depan Roy. Menutup jalannya dan bersedekap dada.
"Lo kenapa, sih, diam mulu? Lo gak kangen gue?" tanya gadis itu tak berputus asa.
"Minggir!"
"Enggak," ucap gadis itu lantang. "Jawab dulu pertanyaan gue, sayang."
"Minggir, gue bilang!"
Gadis itu menggeleng. "Ayo temenin gue ke kepala sekolah. Mau—"
"Dara!" sentak Roy membuat cewek itu tersenyum. Roy akhirnya terpancing juga. Dia sudah menduganya, Roy tetaplah cowok yang mudah emosi. Buktinya? baru seperti ini saja dia sudah emosi.
Gadis yang bernama Dara Atmira itu tersenyum puas. "Suka deh gue sama lo."
"Gak jelas!"
"Lo emosi banget ya kalau gue ganggu lo. Padahal dulu lo biasa aja kalau gue ganggu kayak gini," ujar Dara terkekeh. "Ternyata Indonesia sama Singapura beda, ya."
Roy tak memperdulikan omongan Dara. Cowok itu terus saja berjalan menuju kelasnya dan bertemu dengan Lily yang tengah berduaan dengan Farrel di ambang pintu.
Emosi Roy meninggi. Sedangkan cewek di belakangnya ini masih saja berucap tak jelas yang tak pernah Roy dengarkan. Mata Lily dan Roy bertemu.
Lily gelisah. Sedangkan Roy sudah menatap Lily tajam seakan ingin menghabisinya.
Lily terdiam. Pasti Roy akan ngamuk lagi. Sudah bisa dia pastikan dan Lily harus siap untuk itu.
Namun sebelum pikiran Lily semakin jauh kemana-mana, seorang gadis yang tak dia kenali tiba-tiba memeluk lengan Roy.
Lily menegang. Seperti ada sengatan listrik yang baru saja menyambarnya. Hatinya remuk. Inikah masa lalu Roy yang membuat mereka harus berpisah seperti ini?
Lily menatap gadis itu dari bawah hingga ujung rambut ikal milik gadis itu.
Cantik. Harus Lily akui, secara penampilan, Lily kalah telak. Gadis di depannya ini sangat elegant dan sangat cocok sekali dengan penampilan Roy yang memang sangat keren.
Lily menatap Roy sambil menahan tangisnya. Roy terdiam. tidak bisa melakukan apa-apa. Memang posisi mereka masih Backstreet.
Ketika melihat Meisya yang baru saja mau masuk kelas, Lily memanggilnya dan mengikuti arah langkah Meisya masuk ke kelas.
"Loh, Farrel kan?" tanya Dara saat Lily baru saja pergi.
"Iya, gue Farrel."
"Wah gak nyangka nih gue ketemu sama lo. Maaf ya, semalam gak hadir. Cowok di samping gue ini nih susah di ajak." Mata Dara mengarah ke arah Roy yang hanya diam menatap Farrel tajam.
"Emang lo di undang?"
"Lo gak ingat gue? Gue Dara temen SMP lo dulu itu yang suka ganggu lo sama Roy pas belajar," ungkap Dara membuat Farrel berpikir keras.
Sepertinya dia mengenalnya.
"Oh, lo Dara Atmita anak Om Wijaya kan?" tanya Farrel heboh.
"Nah iya."
"Ya ampun, gak nyangka gue. Lo apa kabar?" tanya Farrel antusias begitu juga dengan Dara yang kini sudah melepaskan tangannya dari lengan Roy dan bercerita banyak hal pada Farrel di depan kelasnya.
Roy akhirnya bisa tersenyum lega. Inilah saatnya Roy menemui Lily.
°°°
"Lo beneran? Yakin kalau itu cewek yang di maksud Roy masa lalunya?" tanya Meisya ketika Lily menceritakan masalahnya pada cewek itu.
"Gue gak yakin. Cuma pas liat tuh cewek gandeng tangan Roy, kok gue yakin itu cewek emang masa lalunya ya? gue kira Jenny kembali ke sini," ujar Lily sesegukan.
"Gak usah nangis, Ly, bisa-bisa Natasha tahu kalau lo nangis di sini. Lo nangis di rumah aja ya, tahan-tahanin."
Lily menggeleng sesegukan.
"Ly, jangan nangis, Roy dateng tuh," bisik Meisya saat Roy baru saja duduk di bangkunya dan memainkan ponselnya.
Di saat bersamaan, Ponsel Lily berkedip. Lily sudah menduga itu Roy. Roy pasti ingin memarahinya lagi gara-gara kejadian barusan.
"HP lo bunyi tuh," ujar Meisya.
"Biarin aja. Gak penting."
Meisya melihat notifikasi ponsel Lily dan terbelalak.
"Roy! gawat kalo lo gak bales."
"Biarin aja. Udah biasa."
"Ini kayaknya masalah besar kalau lo gak angkat sih. Tuh lo gak liat muka Roy yang udah marah nahan kesel kayak gitu," kata Meisya menunjuk ke arah Roy.
Benar. Pasti Roy emosinya sudah di ubun-ubun.
Lily menghela napasnya. Lalu menjawab panggilan telepon dari Roy.
"Ke gedung sekarang."
°°°
Lily tak pergi ke sana. Melainkan, Lily memilih ke kelas Natasha lebih dulu.
Hari ini ada rapat guru jadi semua kelas dibebaskan.
Lily menatap ke arah pintu kelas Oktober. Natasha ada di sana dengan Varsha. Duduk berdua dan bercanda. Tertawa saat melihat hal lucu di benda pipih warna putih milik Varsha. Bahagia sekali mereka.
Tanpa pikir panjang, Lily masuk ke kelas itu dan di sambut oleh Refan yang juga kebetulan sedang ingin ke luar kelas.
"Lo tumben ke sini. Ada apa?" tanya Refan mengernyit. "Ada masalah lagi sama Roy?"
Lily hanya tersenyum. Refan sendiri paham maksud senyuman itu. Ada kalanya Lily memang harus belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. jadi, Refan pikir Natasha adalah solusinya.
"Gue ke kelas Itto dulu. Lo di sini aja."
Lalu Refan pergi meninggalkan Lily yang masih berdiam diri di ambang pintu. Setelah itu, Varsha melihatnya. Menatap dengan kernyitan yang sama seperti Refan tadi.
"Lily!" panggil Varsha lalu melambaikan tangannya.
Lily masuk ke dalam bersamaan dengan Natasha yang menatap Lily dengan kerutan di alisnya.
"Lo ngapain diam di pintu? mau ngobrol sama kita kan?" tanya Varsha dan di jawab dengan anggukan oleh Lily.
"Ada apa lagi? belum balikan?"
"Belum."
"Alasannya?"
"Itu dia," jawab Lily menjelaskan alasan mereka belum balikan pada Varsha dan Natasha.
Mereka mengangguk paham. Di sini tidak ada yang bisa kita dukung. Roy memiliki banyak alasan untuk menjauh dulu dari Lily agar keberadaan Lily di sekitar Roy tidak mengancam diri Lily nantinya. Itu hanya yang bisa Natasha tangkap dari penjelasan Lily barusan.
Sedangkan di posisi Lily, dia harus minta penjelasan atas hubungan mereka. Karena bagaimanapun juga, kodrat wanita memang menunggu sikap laki-laki yang dia cintai bagaimana.
Jika serius, maka dengan ikhlas Lily menunggunya. Tapi jika hanya main-main saja, lebih baik Lily move on secepatnya.
Lily tidak mau sakit hati karena cowok bernama Roy Alvaro itu. Tapi di sisi lain, Lily juga tidak ingin meninggalkan dan melupakan Roy begitu saja.
Perjalanan panjang yang sempat Lily tempuh demi di notice Roy sangat panjang. Hampir 3 tahun lamanya. Dan sekarang berada di titik dimana dia telah dimiliki oleh Roy. Namun, mungkinkah dia akan mundur begitu saja setelah ada masa lalu Roy yang kembali hadir di hidup Roy sekarang?
Lalu apa arti Lily bagi Roy sekarang? Terkadang pertanyaan itu sempat melintas begitu saja.
"Beri waktu Roy menyelesaikan masalahnya, Ly, lo jangan egois, Roy juga manusia bukan robot yang bisa lo atur semau lo untuk Roy tetap ada di samping lo. Beri dia ruang, jangan pernah lo kekang. Karena kodrat laki-laki memang mengatur wanita bukan wanita yang mengatur laki-laki."
°°°
Halo? Author comeback!!
Jam berapa kalian baca ini? Masih mau mundur gak baca kisah mereka? Kalian perlu tahu, ada beberapa sequel yang bakal hadir di sini. Tapi setelah ini tamat dulu.
Menurut kalian, Dara adalah masalah bagi Roy atau ada masalah lain yang belum terungkap?
Kode Author kali ini belum jelas banget. jadi mohon stay ya.
Author Up setiap hari kok. tenang aja.
see you besok. luv buat kalian;)
Selamat menjalankan ibadah puasa semua.
Salam Literasi
Rain-sya
balik mampir kk
up ajalah