[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]
----------
Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.
Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...
----------
[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbangun #01
Sudah lima hari Lingxi berada dalam tidurnya yang panjang. Kulitnya yang semula pucat pasi kini mulai menampakkan rona tipis, meskipun keletihan yang luar biasa masih membekas pada garis wajahnya.
Di lain waktu, Shen Zhengtian justru terlebih dulu bangun dari ketidaksadarannya. Selama ia bangun, hal pertama yang dicari hanya keberadaan seorang gadis dengan kepribadian sulit ditebak itu. Lebih-lebih dengan kesadaran yang sudah terkumpul seratus persen, ia bergegas berlari menemui Kakek Weijie dan Kakek Tianlong untuk menanyakan soal kondisi Lingxi yang bisa dikatakan teruk akibat melindunginya.
Dan karena itu juga, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu agar dapat membalas budi kepada Lingxi.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
^^^Evening, at Tranquility Residence. Room number 8, Yu Lingxi's room^^^
Malam telah larut di Kediaman Ketenangan. Suara serangga malam di kejauhan menciptakan harmoni seperti genangan danau yang menyejukkan hati. Lingxi masih terlelap. Meski rona merah muda mulai kembali menghiasi pipinya, napasnya masih terasa berat—pertanda jiwanya masih berjuang memulihkan diri dari keletihan.
Di lorong yang remang, sebuah bayangan bergerak perlahan. Shen Zhengtian yang baru saja sadar dari komanya sendiri beberapa jam yang lalu, tampak memaksakan langkahnya. Wajahnya masih sedikit pucat, dan ia sesekali menyentuh dinding untuk menjaga keseimbangan. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia memutar gerendel pintu kamar Lingxi.
Krieeet ...
Suara halus kayu yang bergesekan membuatnya menahan napas sejenak, memastikan tidak ada Kakek Weijie atau Kakek Tianlong yang terjaga. Ia menyelinap masuk. Aroma herbal Huang Qi yang khas langsung menyambut indra penciumannya. Shen Zhengtian mendekat ke arah ranjang, menatap gadis kecil yang biasanya sangat cerewet dan sulit ditebak itu kini tampak begitu rapuh dalam tidurnya.
Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah kantung kain beludru berwarna biru tua. Kantung itu terikat sangat rapi dengan tali sutra yang membentuk pita kecil berwarna keemasan yang sudah kusam.
Perlahan, ia meletakkan kantung itu di atas laci kayu di samping ranjang. Suara denting halus terdengar saat kantung itu menyentuh permukaan kayu, menandakan isinya adalah sesuatu yang berharga.
Setelah memastikan pemberiannya aman, Shen Zhengtian menarik kursi kayu di samping ranjang. Ia mendaratkan bokongnya di sana dengan pelan. Ia menopang dagu dengan tangannya, menatap wajah tidur Lingxi dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa bersalah dan kagum.
"Nona, kau benar-benar pembuat masalah," bisik Shen Zhengtian. Ia kembali berbisik, "bagaimana bisa Nona Muda sekecil Anda memiliki keberanian yang begitu sembrono?"
Ia terdiam sejenak, matanya tertuju pada kantung kain yang baru saja ia letakkan. "Di dalam kain itu ada Kristal Roh Embun. Itu akan membantu menstabilkan aliran energimu saat kau bangun nanti," lanjutnya, meski ia tahu Lingxi tidak bisa mendengarnya.
Cahaya bulan masuk melalui celah jendela, menyinari separuh wajah Shen Zhengtian. Sifatnya yang biasanya kaku seolah melunak di hadapan gadis yang telah mempertaruhkan Qi dan Dantiannya.
Tidak lama kemudian, Lingxi mengerang kecil dalam tidurnya. Jemari gadis itu bergerak sedikit di atas selimut. Shen Zhengtian tersentak, punggungnya langsung tegak dan ia bersiap untuk melarikan diri jika gadis itu terbangun. Namun, setelah beberapa detik, napas Lingxi kembali teratur.
"Nona Yu?" panggil Shen Zhengtian halus—ia ingin memastikan bahwa Lingxi masih belum sadar. "Nona Yu Lingxi," panggilnya lagi, namun kini tubuhnya hanya berjarak berapa senti dari telinga Lingxi yang masih tertidur lelap di atas ranjang.
Shen Zhengtian mengembuskan napas lega yang panjang. Ia memandangi Lingxi untuk terakhir kalinya malam itu sebelum bangkit berdiri. "Cepatlah bangun, Nona Yu," gumamnya sambil melangkah mundur menuju pintu. "Kakek Tianlong sangat merindukan Anda."
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
...The next morning, early morning at 3:15 AM...
Di dalam aula utama Kediaman Ketenangan, aroma dupa cendana menenangkan memenuhi ruangan. Cahaya bulan masuk melalui jendela-jendela tinggi, menyinari lantai kayu yang kini bersih tanpa noda. Shen Zhengtian berdiri berhadapan dengan Yu Tianlong. Sosok kakek tua itu tampak berdiri mantap, namun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kelelahan seorang kakek yang mengkhawatirkan cucu tunggalnya.
Shen Zhengtian merendahkan tubuhny, menekuk pinggang dalam posisi hormat yang sempurna. Ia mengangkat tangan kiri, mengepalkan sedikit dan menempelkannya tepat di atas jantung.
"Dia belum sadarkan diri, Penatua. Aku gagal melindunginya dari beban yang seharusnya tidak ia pikul sendiri," tutur Shen Zhengtian dengan rasa bersalah.
Yu Tianlong melepaskan hela napas berat yang menderu lambat. Guratan di dahinya semakin dalam, menciptakan bayangan kesedihan yang nyata di wajah tuanya yang bijaksana.
Yu Tianlong menatap nelangsa ke arah pintu ruangan tempat Lingxi berbaring. "Begitukah? Baiklah ...," sahutnya dengan perasan hati gundah.
Kakek tua itu kemudian menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung, mencoba menopang tubuhnya sendiri agar tetap terlihat tegar. Namun, melihat penghormatan tulus dari Shen Zhengtian, seorang pemuda yang biasanya dikenal kaku—membuat sebersit kehangatan menyelinap di lubuk hati Yu Tianlong.
Ia melangkah maju, namun memberi jarak antara mereka. Dengan penuh kehati-hatian, Yu Tianlong mengulurkan tangannya yang kasar dan penuh bekas luka pertempuran, lalu menepuk halus pundak Shen Zhengtian.
"Sekarang, angkatlah kepalamu. Kau tidak perlu sungkan-sungkan kepadaku, Anak Muda."
Shen Zhengtian tetap diam sesaat, masih merasa bersalah. Tetapi, Yu Tianlong sedikit menekan pundaknya, seolah tahu bahwa anak muda ini tengah melawan rasa bersalah yang mendalam.
"Dan jangan memanggilku Penatua, Anak Muda," titah Yu Tianlong dengan nada penuh penekanan.
Mendengar perintah tegas dari seorang kultivator veteran yang sangat disegani di wilayah sekitar, Shen Zhengtian tidak berani lagi bersikap terlalu kaku. Ia perlahan menengadahkan kepalanya, menatap langsung ke mata Yu Tianlong, dan memperbaiki posisi tubuhnya menjadi tegak sempurna.
Meskipun Yu Tianlong berusaha tegar, matanya terus melirik ke arah tirai dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Shen Zhengtian yang menyadari hal itu, segera angkat bicara.
"Anda tidak perlu khawatir, Kakek Yu. Nona Yu adalah gadis yang luar biasa. Dia telah melampaui batas kemampuannya demi menolong saya," suaranya jauh lebih lembut dan meyakinkan. "Dia hanya butuh waktu untuk beristirahat. Dia akan segera pulih, saya menjamin itu dengan nyawa saya," tambahnya dengan tekad yang kuat.
Yu Tianlong menatap Shen Zhengtian cukup lama, mencari kejujuran di mata pemuda itu. Akhirnya, ia mengangguk pelan, sedikit merasa lega mendengar keyakinan pemuda di depannya.
Yu Tianlong tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. "Kau benar. Dia memang mewarisi keras kepala orang tuanya. Terima kasih, Anak Muda," tuturnya sebelum berjalan memasuki ruangan nomor delapan—tempat cucunya beristirahat.
Di dalam ruangan, bulan masih memancarkan sinar indahnya yang tiada tara. Garis-garis cahaya itu melintas hingga mengenai sedikit wajah gadis yang masih terlelap dalam mimpi. Derit lantai kayu yang sudah berumur sedikit membuat Yu Tianlong risih. Kakek tua tidak ingin membangunkan cucunya, tapi ingin melihat keadaannya—terpaksa harus mengendap-endap agar dapat melihat dengan jelas.
Sesampainya di samping kasur kayu berlapiskan selimut hasil rajutan dari bulu domba, Yu Tianlong meraih kursi yang tidak jauh dari posisinya. Kemudian dengan perlahan ia mendapatkan bokongnya ke atas kursi tersebut.
Untuk beberapa menit, Yu Tianlong menatap wajah manis cucunya yang terbaring lemah di atas kasur. Perasaannya bercampur aduk—lega, sakit, senang, puas, semua menjadi satu.
Deru napas gusar terdengar lirih, menyatu dengan keheningan malam. "Cucuku, kapan kau akan bangun?" tanya Yu Tianlong. Ia menarik napas panjang-panjang, sebelum akhirnya kembali membuka suara, "Sudah lima hari lamanya, kau ... kau tertidur pulas seperti ini."
Yu Tianlong mencengkram halus telapak tangan Lingxi yang hangat. Secara bertahap, ia mengelus-elus punggung tangan gadis itu dengan halus—berharap pergerakan kecil ini dapat sedikit membangunkan cucunya. Tapi, hasilnya tetap nihil.
Pada akhirnya, dengan hampa ia beranjak dari kursi dan melangkah keluar dari ruangan. "Kakek harap, esok kau bisa sadar, Naga Kecil."
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
...…To Be Continued…...
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/