NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-paruku yang terasa menyempit. Aku melepaskan peganganku pada manekin, menegakkan punggung, dan merapikan blazer abu-abuku dengan gerakan kaku.

"Terima kasih atas sarannya, Pak Farez," ucapku, suaranya terdengar asing—serak dan dingin. "Tapi saya masih sanggup menjalankan tugas saya. Mari kita selesaikan peninjauan ini."

Farez menatapku dengan rahang yang mengeras. Ada kemarahan yang tertahan di matanya, kemarahan karena melihatku menyiksa diri sendiri. Namun, dia tidak lagi mendebat. Dia hanya bergeser sedikit, tetap berdiri di posisi yang menghalangi pandanganku dari foto keluarga di dinding itu.

Tak lama, Bagaskara kembali dengan napas sedikit terengah sambil membawa map dokumen. "Ini berkasnya, Pak Farez. Maaf menunggu lama."

"Tidak masalah," sahut Farez singkat. Suaranya kembali ke mode Direktur yang tak tersentuh. "Lanjutkan penjelasannya, Pak Bagas. Ibu Rana sedang mengejar waktu."

Bagas mengangguk antusias. Kami mulai berjalan menyusuri barisan gaun heritage yang dipajang di manekin kaca. Setiap jahitan, setiap payet, dan setiap tekstur kain di gedung ini seolah berteriak padaku. Aku mengenali gaya jahitan ini; ini adalah gaya yang dulu sering Ayah diskusikan dengan Ibu di meja makan kami yang sederhana. Ayah mencuri ide-ide itu, menyempurnakannya di sini, lalu melabelinya sebagai 'simbol cinta' untuk keluarga barunya.

Rasa mual itu naik lagi, kali ini lebih hebat. Keringat dingin mulai membasahi punggungku.

"Area ini akan menjadi centerpiece," Bagas menunjuk sebuah gaun pengantin sutra putih di tengah ruangan. "Ayah saya sendiri yang memilih kainnya. Beliau bilang, setiap perempuan yang memakai gaun ini harus merasa dicintai seumur hidup, seperti cara beliau mencintai Ibu saya."

Duniaku berguncang. Suara Bagas perlahan meredup, tergantikan oleh suara bising di dalam kepalaku. Kata 'dicintai seumur hidup' terasa seperti ejekan yang paling brutal. Aku merasa oksigen di sekitarku benar-benar habis. Tanganku mulai gemetar hebat, dan kali ini aku tidak bisa menyembunyikannya meski sudah mengepalkan tangan kuat-kuat.

"Ibu Rana? Anda berkeringat banyak sekali," suara Bagas terdengar menjauh.

Aku mencoba menjawab, tapi tenggorokanku seolah terkunci. Pandanganku mengabur. Manekin-manekin di sekelilingku tampak seperti bayangan hitam yang hendak menyergapku.

Tepat saat lututku mulai terasa lemas dan duniaku hampir gelap, sebuah tangan besar dengan cekatan menangkap lenganku. Bukan pegangan yang ragu, melainkan tarikan yang kokoh dan protektif.

"Cukup, Pak Bagas," suara Farez menggelegar di ruangan itu, memecah kabut di kepalaku. "Peninjauan hari ini selesai. Ibu Rana sedang tidak sehat dan saya tidak akan membiarkan rekan bisnis saya pingsan di tempat konstruksi yang tidak aman seperti ini."

"Tapi, Pak Farez, kita belum melihat area produksi di bawah—"

"Jadwalkan ulang dengan asisten saya," potong Farez tanpa kompromi. Tanpa menunggu persetujuan siapa pun, dia merangkul bahuku, membimbingku menjauh dari area display itu menuju pintu keluar.

Aku ingin protes, ingin melepaskan rangkulannya demi profesionalisme yang kubanggakan, tapi tubuhku mengkhianatiku. Aku hanya bisa pasrah saat dia membawaku menuruni tangga. Rasa sesak di dadaku justru semakin menguap menjadi emosi yang tak terkendali saat kami melewati pintu depan dan udara luar yang segar menerpa wajahku.

Farez membawaku menuju mobil putihku yang terparkir tak jauh dari sana. Dia mengambil kunci dari tanganku—entah sejak kapan dia mengambilnya dari saku blazerku—dan membukakan pintu kemudi.

"Duduk," perintahnya lembut namun tegas.

Aku merosot ke kursi kemudi, menyandarkan kepala pada setir. Air mata yang sejak tadi kubendung akhirnya jatuh, membasahi tanganku yang masih gemetar. Semua zirah profesionalisme itu luruh total, meninggalkan Rana yang hancur di tengah kemegahan butik ayahnya.

Farez berlutut di samping pintu mobil yang terbuka, menatapku dengan tatapan yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa tembokku. "Sudah kubilang, jangan dipaksa, Na. Kamu bukan robot. Kamu manusia yang punya luka."

"Aku benci tempat itu, Rez..." bisikku di sela tangis yang pecah. "Aku benci setiap jengkal kain di sana."

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!