NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Bunga Desa

Terjerat Pesona Bunga Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss DK

Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.

Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.

Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.

Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengganggu Kecil

Suara ponsel yang terus berdering membuat Edward akhirnya membuka mata bulatnya yang masih mengantuk. Semalam ia tidur larut malam.

Hatinya belum tenang sebelum ia yakin Sherena benar-benar sudah pergi meninggalkan hotel.

Untunglah, receptionist yang bertugas mewakili hotel, segera menelepon semua kamar yang ada di sekitar kamar 1057. Untuk meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi juga menginfo bahwa youtuber gaming terkemuka itu sudah angkat kaki dari hotel.

Barulah hati Edward bisa tenang meninggalkan Lyodra yang sudah tertidur pulas di kamarnya. Lalu Edward kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat lewat connecting door sekali lagi.

Edward menoleh ke arah jendela kamarnya yang tertutup tirai warna putih. Langit masih kelabu, sang surya masih tertidur pulas, belum menampakkan keinginan untuk segera bekerja.

"Siapa yang menelepon sepagi ini?" tanya Edward sembari menjulurkan tangannya ke arah nakas yang ada di samping tempat tidur.

Sederet nomor dengan empat digit terakhir berupa angka 7 di layar ponsel, langsung membuat Edward tersenyum kecil. Siapa lagi pengganggu di subuh hari jika bukan keponakan yang sangat ia manjakan itu, Ethan. Putra tunggal Edgar.

"Good morning, Uncle Edward." Suara imut Ethan terdengar dari seberang.

"Morning, Tuan Pengganggu Kecil. Ada misi khusus yang harus Hamba jalankan pagi ini?" tanya Edward sambil merebahkan kepalanya ke bantal lagi. Mata bulatnya juga setengah ditutup agar kantuknya tidak menguap.

Ethan tertawa gembira. "Hari ini aku berulang tahun. Aku mau Uncle Edward datang ke rumahku dan merayakan party bersamaku."

Edward pura-pura kaget. "Apa? Tuan Pengganggu Kecil hari ini birthday. Oh Tuhan, maafkan Hamba yang hanya menyiapkan sedikit harta karun untuk Tuan Pengganggu Kecil."

Ethan bersorak kegirangan. "Thank you, Uncle. Uncle memang uncle ter the best di dunia ini. Udah ganteng, kaya, pinter, baik hati pula. Sekarang tolong berikan koordinat letak harta karun yang sudah Uncle siapkan untukku."

Edward berdehem. "Bukalah laci kedua meja tulismu, Tuan Pengganggu Kecil. Hamba sudah menggambar peta di secarik kertas. Selamat mencari harta karunnya ya. Uncle mau tidur lagi. Please, next time jangan telpon Uncle kalau masih subuh, okay?"

Ethan tertawa nakal, "Siap, Uncle. Kutunggu kedatangan Uncle di rumah ya. Bye, Uncle."

Ethan memutuskan panggilan telepon dan Edward langsung tertidur pulas lagi hingga matahari terbit di ufuk timur.

Karena semalam gebrakan Sherena membuat jantung Edward ketar-ketir, akhirnya Edward memutuskan untuk menelepon bagian restoran, tempat sarapan pagi tamu hotel. Meminta sarapan paginya dan Lyodra langsung dikirim ke kamar saja.

Tentu saja, semua demi keamanan dan kenyamanan Lyodra dan dirinya.

Lebih baik menghindari konflik daripada menantang masalah. Edward sangat mencintai perdamaian.

Setelah sarapan pagi bersama Lyodra sampai kenyang, Edward segera meminta Lyodra untuk berkemas-kemas.

"Lily, kita akan pulang ke Semarang siang ini. Keponakanku berulang tahun dan dia mengundang kita ke pesta ulang tahunnya." Edward mengajak Lyodra untuk ikut pergi bersamanya.

Lyodra tersenyum dan langsung mengangguk setuju.

"Nama keponakan Kakak siapa? Umur berapa?"

"Ethan. Usianya enam tahun. Dia lucu dan menggemaskan. Kamu pasti menyukainya." Edward mengacak-acak rambut panjang Lyodra

Lyodra memasang tampang cemberut. Ia sudah bersusah payah menyisirnya hingga halus, namun pria jangkung ini memporak porandakan rambutnya dalam hitungan detik.

"Kamu lebih cantik kalau rambutmu acak-acakan." Edward tersenyum mengingat kembali pertemuan pertama mereka. Rambut Lyodra yang panjang basah kuyub berantakan karena hujan badai.

Lyodra mengerucutkan mulutnya lebih lama. Jemari tangannya bergerak cepat menyisir rambut di pucuk kepalanya yang acak adul. "Bohong! Jauh lebih cantik kalau rapi."

Edward terkekeh senang berhasil menggoda Lyodra hingga ngambek.

"Aku suka kamu apa adanya. Mau berantakan, mau rapi, kamu selalu cantik di mataku," gumam Edward.

Suara Edward yang begitu lirih tidak terdengar jelas oleh Lyodra.

"Ngomong apaan, Kak? Suaranya kecil banget."

"Ada deh. Rahasia ah." Edward memilih berlalu pergi sebelum ia berkata i love you pada Lyodra

Sore hari, mereka berdua sudah berada di depan sebuah rumah mewah yang ada di bagian Semarang atas. Rumah bergaya Santorini. Dindingnya berwarna putih dengan ornamen pintu dan jendela dicat warna biru. Menurut orang Yunani, warna biru adalah warna penangkal kejahatan.

Lyodra yang selama ini tinggal di desa yang berhawa sejuk, tentu jarang sekali melihat arsitektur rumah dengan nuansa laut Mediteranian.

Bibirnya tak berhenti berdecak kagum terus memuji keindahan rumah yang ditinggali Rose dan Ethan.

Rose adalah istri Edgar, ibu Ethan yang sangat amat menyayangi dan memanjakan Ethan. Itu semua karena Rose pernah punya masalah dengan kandungannya saat ia masih gadis belia.

Dan konon, katanya lewat program bayi tabung yang ke lima kalinya, Rose yang usianya sudah kepala empat, baru berhasil mengandung dan melahirkan Ethan.

"Uncle Edward!" Seorang anak laki-laki berparas rupawan tiba-tiba muncul dari balik pintu utama warna biru. Menghambur ke arah Edward. Dan Edward langsung membuka kedua buah lengan tangannya lebar-lebar agar anak laki-laki itu bisa memeluknya dengan erat.

"Thank you so much, Uncle. Harta karun pemberian Uncle benar-benar luar biasa. Ethan sangat menyukainya," ucap Ethan berseri-seri.

Sebuah program games baru ciptaan Edward yang belum dilaunching ke pasaran. Keponakannya dan teman-temannya adalah anak pertama yang terpilih untuk memainkannya.

Edward mengangkat dagunya dengan bangga. "Siapa dulu dong? Uncle Edwarddd!"

Lyodra tertawa kecil menertawakan kesombongan Edward yang dibuat-buat.

"Teman-temanku sangat menyukainya, Uncle. Mereka sampai tak berhenti memuji Uncle sebagai God of Gaming." Ethan makin membuat Edward besar kepala.

"Tapi ingat, jangan lupa belajar dan membuat PR ya. Uncle tidak mau, Kak Rose dan mami-mami temanmu marah-marah karena kalian kecanduan games buatan Uncle."

Ethan menegakkan tubuhnya yang berisi dan memberi hormat pada Edward. "Siap, Uncle. Kami berjanji untuk mengutamakan belajar daripada main games."

"Good boy." Edward mengelus lembut rambut Ethan.

Ethan tersenyum bangga lalu memandang gadis belia yang sejak tadi ada di samping Edward.

Gadis belia itu sangat cantik. Mata bulat, kelopak mata ganda, hidung mancung alami bukan hasil operasi plastik seperti mami-mami kawan baiknya. Wajahnya sangat halus seperti giok. Bukan hasil suntik botox, derma filler atau skin booster.

"Siapa kakak peri yang cantik ini, Uncle? Pacar Uncle ya?" tanya Ethan sambil menggandeng tangan Lyodra dengan ramah.

Edward yang melihatnya sampai terharu. Secepat itu, Ethan tersihir oleh kecantikan Bunga Desa Wonosobo hingga langsung sok akrab sok dekat dengan Lyodra.

Lyodra tergagap bingung bagaimana menjelaskan statusnya pada Ethan.

Saudara kembar Edward?

Ah, malah bikin bingung anak kecil berusia 6 tahun yang ganteng, putih dan montok ini.

Lyodra - Edward juga belum pasti saudara kembar karena hasil tes DNA baru keluar beberapa hari lagi.

"Doakan ya. Doa anak kecil saat dia berulang tahun biasanya sangat ampuh. Segera terkabul," ucap Edward sambil mengedip mesra ke arah Lyodra.

Lyodra terpaksa tersenyum dengan otot pipi yang kaku. Bingung harus menanggapi apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!