NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Semangkuk Ramen dan Hutang Nyawa

Dua hari berlalu dengan cepat.

Kedai Satu Mangkuk kini berdiri dengan wajah baru.

Bukan lagi bangunan sederhana yang nyaris runtuh—melainkan sebuah kedai luas dengan dua bangunan tambahan di sisi kanan dan kiri. Zhao membelinya masing-masing seharga dua ratus tael emas tanpa banyak pikir.

Hasilnya—

Megah.

Lantai baru berkilau, meja dan kursi tersusun rapi, lampu-lampu gantung memberikan nuansa hangat, dan ruang makan kini jauh lebih luas. Bahkan dindingnya dihiasi ornamen kayu yang terlihat mahal.

Di tengah ruangan—

Yueling berdiri dengan mata berbinar.

“Wah…” gumamnya pelan, benar-benar terpukau.

Di sampingnya, Shen Ning juga tidak kalah bersemangat.

“Cantik sekali, Bibi Yueling!”

Mata gadis kecil itu berkeliling tanpa henti, seolah takut melewatkan satu detail pun.

Yueling tersenyum lebar.

“Ayo! Kita lihat dapurnya!”

Tanpa menunggu jawaban—

Dia langsung menarik tangan Shen Ning dan berlari ke arah dapur.

“Eh—tunggu aku!” teriak Shen Ning sambil tertawa kecil.

Zhao hanya bisa berdiri di tempat.

Menatap mereka berdua.

Senyum tipis terukir di wajahnya.

“…Lumayan.”

Dia mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan.

Matanya mengamati detail demi detail.

“Boleh juga para bandit itu…”

Nada suaranya santai.

“Tak kusangka mereka punya bakat sebagai kuli.”

“…”

Suara lelah terdengar dari belakangnya.

“Itu karena kami sudah terbiasa membangun benteng di gunung…”

Zhao menoleh.

Lu Qiang berdiri di sana bersama bawahannya.

Namun—

Kondisi mereka… mengenaskan.

Wajah pucat.

Mata cekung.

Tubuh lemas.

Seolah-olah jiwa mereka sudah setengah keluar dari raga.

Zhao mengangguk pelan.

“Begitu ya…”

Dia melangkah mendekat.

“Jadi berapa total renovasinya?”

Matanya menyapu interior.

“Tidak mungkin hanya empat ratus tael emas, bukan?”

Dengan semua yang terlihat—

Kayu berkualitas tinggi.

Dekorasi mahal.

Struktur yang diperkuat.

Jelas—

Ini bukan renovasi murah.

Namun—

Lu Qiang langsung menggeleng keras.

“Ti-tidak, tuan!”

Dia menelan ludah.

“Semua interior ini… berasal dari benteng kami…”

Kalimatnya berhenti.

Dada terasa sesak.

“…dan semua biaya selain yang tuan sebutkan… sudah kami lunasi… dengan uang simpanan di markas…”

Hening.

Di belakangnya—

Para bandit semakin terlihat lesu.

Seolah-olah mereka baru saja kehilangan separuh hidup mereka.

Zhao menatap mereka.

Beberapa detik.

Lalu—

Senyum tipis muncul.

“Sepertinya uang kalian banyak.”

Nada suaranya ringan.

“Kalian pasti bekerja keras ya?”

Seketika—

Semua bandit menegang.

Keringat dingin mengalir.

Tatapan mereka penuh kewaspadaan.

Namun—

Zhao tiba-tiba tertawa kecil.

“Ha…”

Dia melambaikan tangan.

“Lihatlah wajah panik kalian.”

“Sudah sewajarnya bandit melakukan hal semacam itu, bukan?”

Suasana sedikit mencair.

Lu Qiang tertawa canggung.

“Haha… benar sekali, tuan…”

Namun di dalam hatinya—

Hampir saja jantungku berhenti…

Zhao mengangguk.

“Baiklah.”

Dia berbalik.

“Tunggu di sini. Aku akan kembali.”

Langkahnya santai.

Masuk ke arah dapur.

Klik.

Pintu tertutup.

Dan—

Keheningan langsung turun.

Beberapa detik.

Tidak ada yang berbicara.

Lalu—

Lu Qiang menghela napas panjang.

“…Apa lagi yang monster itu inginkan…”

Nada suaranya penuh kelelahan.

“Aku hanya ingin cepat pulang…”

Dia menatap sekeliling.

Kedai ini indah.

Namun baginya—

“Tempat ini… adalah neraka…”

Beberapa bawahannya mengangguk pelan.

“Bos… aku capek…”

“Kita kerja tanpa henti dua hari…”

“Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir tidur…”

Lu Qiang mendengus.

“Kalian pikir aku tidak capek?”

Dia menunjuk dirinya sendiri.

“Aku yang paling banyak kerja!”

Para bawahannya langsung terdiam.

Lalu—

Salah satu dari mereka berbisik pelan.

“…Bos melakukan itu supaya tidak dikebiri seperti kami, bukan?”

Hening.

Semua mata langsung tertuju pada Lu Qiang.

Wajahnya kaku.

Beberapa detik berlalu—

Dia menatap bawahan itu.

Pelan.

Dingin.

“…Aku akan membiarkanmu kali ini saja.”

Nada suaranya rendah.

“Tapi lain kali…”

Senyum tipis muncul.

“Aku akan menjualmu ke orang penyuka sesama jenis.”

Seketika—

Semua bandit berkeringat dingin.

“Ma-maaf bos!!”

“Mulutku salah!!”

Suasana kembali sunyi.

Waktu berjalan.

Satu jam.

Dua jam terasa seperti sehari.

Dan saat kelelahan hampir membuat mereka pingsan—

Aroma itu muncul.

Harum.

Hangat.

Kaya akan rempah.

Menyelinap perlahan ke hidung mereka.

“…Apa itu…”

Salah satu bandit mengangkat kepala.

Matanya membesar.

“Aroma apa ini…”

Yang lain ikut menghirup.

“…Aku belum pernah mencium bau seperti ini…”

Bukan sekadar enak.

Itu—

Menggoda.

Seolah-olah memanggil mereka.

Perut mereka—

Serentak berbunyi.

Dan tepat saat itu—

Klik.

Pintu dapur terbuka.

Semua kepala langsung menoleh.

Dan yang mereka lihat—

Membuat mereka membeku.

Yueling.

Dan Shen Ning.

Keluar sambil membawa nampan besar.

Di atasnya—

Mangkok-mangkok ramen panas, mengepul, penuh dengan kuah kental dan topping menggoda.

Namun—

Yang membuat para bandit tidak fokus pada makanan itu—

Adalah…

Yueling.

Senyumnya.

Senyum manis.

Namun di mata mereka—

Itu adalah mimpi buruk.

Seketika—

Semua bandit refleks menutup selangkangan mereka.

Lu Qiang yang melihat itu langsung berkata datar,

“…Bukankah kalian sudah tidak punya apa-apa di sana?”

Hening.

Tidak ada yang menjawab.

Tidak ada yang berani.

Yueling berjalan mendekat.

Setiap langkahnya membuat jantung Lu Qiang berdetak lebih cepat.

Dia berhenti tepat di depan meja.

Lu Qiang menatap ramen itu.

Dan baru sadar—

Aroma menggoda itu berasal dari sana.

Dia menelan ludah.

“Uhm… nyonya…”

Suaranya kaku.

“Ada yang bisa saya bantu?”

Yueling menatapnya.

Lalu—

Dengan suara lembut,

“Duduklah di meja makan.”

Hening.

Tidak ada yang bergerak.

Yueling memiringkan kepala.

Lalu berkata lagi—

Namun kali ini—

Lebih dingin.

“Duduk… atau kupotong lagi sampai ke akarnya.”

Seketika—

Semua bandit bergerak.

Cepat.

Rapi.

Tanpa suara.

Dalam hitungan detik—

Meja-meja terisi.

Semua duduk tegak.

Seperti murid teladan.

Keringat dingin mengalir di punggung mereka.

Yueling dan Shen Ning mulai menaruh ramen di setiap meja.

Satu per satu.

Aroma semakin kuat.

Menggoda.

Namun—

Tidak ada yang berani menyentuh.

Lu Qiang akhirnya membuka suara.

Meski menahan air liur,

“Maaf, nyonya…”

“Kenapa… Anda menghidangkan makanan ini pada kami?”

Yueling menatapnya.

“…”

Lalu—

“Oh?”

Alisnya terangkat sedikit.

“Jadi kalian menolaknya?”

Seketika—

Lu Qiang panik.

“Ti-tidak! Bukan begitu—”

Namun—

Sebelum dia selesai—

Pintu dapur kembali terbuka.

Zhao keluar.

Membawa beberapa teko minuman.

“Istriku…”

Dia berjalan santai.

“Kau terlalu galak pada mereka.”

Yueling mendengus.

“Hmph… aku masih kesal saja.”

Zhao tersenyum tipis.

Dia meletakkan minuman di meja.

Lalu—

Tangannya terangkat.

Mengelus lembut pipi Yueling.

Gerakannya pelan.

Hangat.

“Jangan memendam amarah terlalu lama,” katanya lembut. “Itu akan membuat hatimu gelisah.”

Tatapannya dalam.

“Dan bisa menimbulkan penyakit hati yang parah.”

Yueling membeku.

Pipinya—

Perlahan memerah.

Matanya sedikit berkaca-kaca.

Dia memegang tangan Zhao.

“Maafkan aku… sayang…”

Suaranya pelan.

“Aku… sudah kelewatan…”

“Aku janji… tidak akan mengulanginya lagi…”

Zhao menatapnya.

Beberapa detik.

Lalu—

“Jangan meminta maaf.”

Senyumnya lembut.

“Dan baguslah kalau kau menyadari kesalahanmu.”

Namun—

Di dalam hatinya—

Dan jangan membuat janji yang selalu kau ingkari di lain hari…

Suasana menjadi…

Canggung.

Para bandit menatap ke arah lain.

Tidak berani melihat.

Shen Ning juga menunduk malu.

Yueling yang menyadari itu—

Langsung tersipu.

“Sa-sayang…”

Dia menarik tangannya.

“Jangan di sini… banyak orang…”

Seketika—

Semua orang menoleh ke arah lain.

Lebih cepat dari sebelumnya.

Zhao tersenyum kikuk.

“Ling’er… kau bisa membuat kesalahpahaman…”

1
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
SENJA
aaah payah dong kaisar nya 😤
SENJA
wah punya banyak pegawai baru 🤣
SENJA
dari bandit jadi pelayan 🤣
SENJA
wakakaa hayoloh🤣
Kang Comen
mc cwe ap cwo ???
RDXA: MC nya cowo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!