NovelToon NovelToon
Behind The Boss

Behind The Boss

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uma hajid

Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.

Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.

Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkuak

Kiran membuka matanya. Ia sangat terkejut menatap seorang pria yang ada di hadapannya. Mata pria itu tampak sayu dengan kedua kantung mata yang menghitam. Rambutnya tak tersisir rapi seperti biasanya. Bajunya bahkan tampak semrawut, tidak rapi seperti biasanya. Pria itu hanya mengenakan jeans dan kaos oblong.

Tidak! Ini bukan dia, kan?!

Pria itu juga terkejut melihat Kiran yang tiba-tiba membuka mata. Raut wajahnya memancarkan sinar kerinduan. Senyumnya mengembang. Tak lama kemudian semua itu menghilang. Raut wajahnya menunjukkan kebencian dan kemarahan. Senyumannya berubah menjadi seringai yang mengerikan. Tatapan sendunya sudah hilang, beralih menjadi tatapan dengan sorot mata yang juga mengerikan.

"Kamu sudah bangun, Kiran?" tanya pria itu kemudian.

"Rangga? Ini benar dirimu?" tanya Kiran tak percaya. Pria di depannya, yang kini duduk di tepi tempat tidur itu terkekeh.

"Yes, it's me." sahutnya dengan wajah riang yang dibuat-buat.

"Apa kabar, Kiran? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Kamu tidak rindu padaku?" tanyanya lagi sembari tertawa.

"Kamu yang melakukan ini semua?" Kiran masih tak percaya. Kepalanya menggeleng kuat memastikan bahwa pandangannya tidak salah dan ia tidak sedang bermimpi sekarang.

"Seperti yang kamu lihat. Ini aku. Aku yang melakukannya. Mengirim sepuluh orang itu untuk menjemputmu. Bagaimana, kamu suka?"

Kiran membuang pandangannya. Ia ingin menangis sekarang daripada harus membenci pria yang ada di hadapannya.

"Kenapa, kamu tidak suka? Cuma ini caraku agar bisa bertemu denganmu. Aku menghabiskan uang pernikahan kita untuk ini. Bagaimana, kamu senang, kan?!" Rangga terkekeh. Tapi yang Kiran tangkap adalah pria itu semakin menyedihkan. Seperti tanpa tujuan. Hatinya jadi semakin bergetar.

"Kenapa harus seperti ini? Uangmu bisa digunakan untuk yang lain. Kamu bisa melamar gadis lain yang lebih baik dariku. Kamu bisa melamar Sesil. Dia begitu mencintaimu." ucap Kiran lirih menatap lembut Rangga. Pria itu menyeringai.

"Aku bukan sepertimu yang begitu mudah melupakan seseorang!" ucapnya sambil menunjukkan kemarahan. Kiran terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Gadis itu menghela nafas pelan.

"Bukan sebentar waktu yang kuhabiskan untuk mengejarmu...," pria itu tersenyum sinis. Matanya menerawang.

"Sebelas tahun, Kiran. Kamu ingat, kan? Sebelas tahun!" ucapnya lagi.

"Tujuh tahun aku setia menanti jawaban iya darimu. Setelah itu selama empat tahun kita pacaran. Selanjutnya kita membicarakan pernikahan. Kita akan menikah tiga bulan lagi, dan dengan seenaknya kamu bilang hubungan kita telah berakhir. Tidakkah kamu pernah berpikir bahwa bukan cuma kita, tapi ada ibuku, ayahku bahkan saudaraku yang telah merencanakan semuanya. Pernikahan kita yang mungkin kamu anggap sesuatu hal yang sepele." Sirat kekecewaan tampak jelas dalam raut wajahnya.

"Maaf...," hanya itu yang bisa Kiran katakan.

Rangga tersenyum sinis, " Ada beberapa tindakan yang kadang gak cukup dengan kata maaf lalu kita bisa melupakan."

Kiran merasa terpojok. Namun di saat begitu ia menjadi lebih kuat.

"Baik. Aku memang salah. Tapi pernahkah kamu juga berpikir, bahwa aku tidak pernah sekalipun memintamu untuk setia menungguku. Aku juga tidak pernah memberi kamu harapan. Berulangkali aku menyuruhmu untuk tidak menungguku. Untuk tidak pernah mengharapkanku. Tapi kamu sendiri yang memutuskan untuk berdiri di sampingku. Lalu kenapa sekarang seakan kamu letakkan semua kesalahan dipundakku?"

Rangga terkekeh lagi. Kiran merasa bulu kuduknya meremang mendengar kekehan Rangga. Pria itu tampak begitu berbeda.

"Seperti itulah dirimu. Kamu sanggup memutarbalikkan fakta. Kamu mampu membuatku kehilangan kata-kata." cibirnya.

"Bukan seperti itu, Rangga. Aku hanya menyampaikan apa yang menurutku benar." desis Kiran pelan. Rangga terkekeh lagi.

"Bagaimanapun aku tetap mencintaimu. Hatiku begitu bodoh sehingga tak bisa membencimu dan tak bisa mencintai orang lain selain dirimu." Kiran tersentak, terpana. Rangga terkekeh lagi, kemudian tersenyum menyeringai.

"Aku tidak bisa membuatmu menikah denganku secara baik-baik, maka akan kujadikan kamu pengantinku secara paksa." lanjutnya lagi.

Kiran masih belum memahami maksud perkataan Rangga. Hingga kemudian Rangga menarik paksa jilbab gadis dengan kasar lalu membuangnya ke sembarang arah. Kiran menjerit seketika. Jantungnya berdebar kencang. Nafasnya sesak. Air mata yang sedari ditahannya tumpah.

"Apa yang kamu lakukan, Rangga? Ini tidak benar!" pekiknya sembari menggelengkan kepala.

Rangga tak menghiraukannya. Tangan pria itu beralih pada rambut Kiran kemudian mengelusnya pelan.

"Bukankah selama ini kamu begitu pelit, Kiran? Kita sudah berhubungan selama 11 tahun, namun tidak pernah kamu biarkan aku untuk menyentuhmu. Bukankah itu keterlaluan? Setidaknya minimal kita pernah berciuman...," ucap pria itu sinis.

"Rangga... Please, sadar. Semua ini tidak benar!"

Rangga melengos kemudian membuka kaos oblongnya lalu membuangnya ke lantai. Kiran tersentak kaget kemudian menutup matanya agar tak melihat tubuh bagian atas pria itu yang sudah terbuka. Rangga merangkak naik ke tempat tidur. Kemudian mengurung Kiran di bawahnya.

"Sekarang aku akan meminta ciuman itu darimu. Akan kurenggut paksa juga apa yang seharusnya menjadi milikku." Meletakkan kedua tangannya pada sisi wajah Kiran, memaksa gadis itu untuk menatapnya. Kiran meringis ngeri.

Sejurus kemudian Rangga menghujani wajah Kiran dengan ciuman. Ia menyapukan bibirnya pada wajah Kiran dengan menggila. Tangannya yang mengekang wajah Kiran, memudahkannya melakukan itu semua. Kiran meronta, berteriak memohon, namun pria itu tak menghiraukannya.

Bibir Rangga kini menyergap bibir Kiran. Memberinya sebuah lum*tan kasar. Kiran mengatupkan bibirnya dengan mata terpejam. Membuat Rangga semakin menggila mencoba membuka mulut gadis itu dengan lidahnya. Pria itu mengecup, menghisap, dan menggigit bibir kecil Kiran dengan kasar.

Hati Kiran sangat sedih sekarang. Rangganya yang begitu lembut berubah menjadi begitu kasar dan mengerikan. Sungguh tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kiran berhenti meronta. Ia menegang. Hanya air mata yang meluncur deras turun melalui pelipisnya.

Rangga terkejut ketika merasa tak ada lagi penolakan dari Kiran. Ia menghentikan ciumannya. Nafas pria itu memburu dengan sorot mata yang menampakkan gairah disertai kemarahan.

Rangga menatap Kiran yang memandangnya nanar. Air mata gadis itu menyadarkannya. Perasaan bersalah menghinggapinya. Ia bangkit kemudian duduk kembali di tepi tempat tidur.

Rangga bergerak lagi. Membuka ikatan di kedua tangan dan kaki Kiran. "Maafkan aku." katanya lirih sembari duduk kembali di tepi tempat tidur. Kepalanya tertunduk.

Kiran bangkit dan duduk menyandar pada kepala tempat tidur dengan menekuk kedua lututnya. Wajahnya ia sembunyikan di antara kedua lutut dengan tangan memeluk kaki. Matanya memejam, bahunya berguncang dengan keras. Tangisnya pecah.

Rangga merasa bersalah. Ia mundur ke belakang melihat isak tangis Kiran. Bahunya menyender ke belakang tempat tidur. Ia merasa lemas sekarang. Ia sudah menyakiti Kiran. Bahkan ia tak sanggup melihat air mata gadis itu. Bagaimana mungkin ia akan mengambil mahkotanya secara paksa?

"Sudah. Aku takkan melakukannya. Kamu jangan takut. Aku takkan menyentuhmu lagi." katanya pelan. Ingin sekali ia peluk tubuh gadis itu. Namun tentu saja ia tak bisa melakukannya, mengingat apa yang baru saja ia lakukan.

"Maaf... Maafkan aku...," ucap Kiran di sela isak tangisnya. Gadis itu mengangkat wajahnya yang dipenuhi air mata menatap Rangga.

Rangga tercekat melihatnya. Menyadari sesuatu kemudian mencarinya. Beranjak dan memungut sesuatu yang tadi dilemparnya secara kasar. Jilbab Kiran!

Ia dekati Kiran lalu dengan tangan gemetar memakaikan jilbab itu kembali di kepala Kiran. Gadis itu kemudian membetulkan jilbabnya sekedarnya. Selanjutnya ia kembali menatap Rangga.

"Memang aku yang bersalah. Sedari awal aku yang bersalah...," tangis Kiran kembali pecah. Ia tutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Rangga menatapnya bingung.

"Kalau saja kamu tahu yang sebenarnya sedari awal, tentu kamu tidak akan begini..., maafkan aku Rangga.... Maafkan aku...," gadis itu masih menangis. Matanya memejam menahan gejolak emosi yang menderanya.

Rangga menatapnya dengan bingung sekaligus heran. Bukankah seharusnya dia yang meminta maaf? Perasaan bersalah menggerogoti hatinya.

"Kiran, kenapa kamu malah berkata seperti itu? Aku lah yang bersalah. Tidak seharusnya aku memperlakukanmu begini. Aku khilaf, Kiran. Aku begitu merindukanmu. Aku tidak ikhlas kamu menikah dengan orang lain. Kerinduanku dan cintaku padamu membuatku jadi kehilangan kendali. Aku ingin memilikimu walau dengan memaksa. Maafkan aku."

Kiran menatap Rangga nanar. Kemudian tangisnya kembali pecah. Ia memeluk kaki, membasahi lututnya dengan air mata. Tubuhnya berguncang hebat.

"Kiran... Jangan begini. Aku kan sudah berjanji tidak akan menyentuhmu. Aku sudah berjanji dan itu tidak akan kuulangi lagi. Sudah, kamu jangan menangis lagi." ucap Rangga lirih.

Tangisan Kiran bukannya surut malah berubah semakin kencang.

"Kiran, aku...," ucapan Rangga terpotong.

"Aku sudah tidak suci lagi!" pekik Kiran. Rangga terkesiap.

"A-apa... A-apa yang kamu katakan?" tanya Rangga terbata.

Kiran mendongakkan kepalanya. Mengusap wajahnya yang penuh air mata, menatap dengan sorot mata ketegasan.

"Ya, aku sudah tidak suci lagi. Kamu dengar, aku sudah tidak suci lagi. Aku tidak pantas untukmu!"

Air mata Kiran meluncur kembali dengan deras. Tangisnya kembali pecah. Rangga terdiam membisu.

1
nurhayati sataral
endingnya tidak menarik, jadi malas bacanya
Tangsah Jagad
ceritanya bagus,di tunggu kisah Kiran dan Radit
nobita
serasa nonton drama.. author ku ini bisa membuat para readersnya masuk dan hanyut dlm alur ceritanya... wow wow... jd nyesek dan pengen nangis berjamaah
nobita
ya ampun ya ampun... aku gk kuat bacanya klo Radit sama Kiran berpisah... piye yo iki? saran aja thor pertemukan Ari dg cewek lain... selain Kiran...
nobita
gk bosan bosannya aku baca karyamu ini thor.. trs ku ulang ulang... emang is the best
nobita
tulisannya rapi... alurnya apik.. mengalir apa adanya... kerenn
nobita
author kesayangan ku ini banyak pengalaman... dan berwawasan luas tentunya...
nobita
Ari tipikal cowok yg usil. humoris, tengil.. sedangkan Radit cowok serius.. pilih yg mana ya?? dua duanya ku suka... karna sama nilainya... hahahah
Fitri Nuryani
siip
Nur Ismawati
segera up lagi ya,,kami tunggu
Dela
jrengggg... jrenggggg pada nungguin kan..penasaran dong.. nyok kita lanjutin bacanya.. untungnya saya nemuin novel ini udah end.. jadi tinggal lanjut baca nuntasin penasaran d dada... emang jempol kamu thor.. pinter banget ngadukin hatil readersmu yg setia...semen kali d aduk
Hj Mia Mubin
akhirnya author kehabisan ide.... tamat sdh. 🤭
🌻Ruby Kejora
Aku mampir kak dan fav novelnya
Edi Candra
setuju lw kiran sama radit..
Mom Dee🥰🥰
terakhir update bulan 4 ini sdh bln 12 thor 🥲
🌻Ruby Kejora: Mungkin masi cari ide kak author nya ato sibuk
total 1 replies
sabila 78
kutunggu selalu karyamu ... please lanjutkan
sabila 78
lanjutkan kakak novelnya
chui
kok cerita y gantung Thor
Sumi
apa Uda tamat Thor ??? ko g up jg si
Quinn ATIFAH 2 👑
daan sekarng sudah END 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!