"Slebor banget sih jadi orang?" -Delta
"Emang kayak elo? Udah jalan kek Putri Keraton, muka kayak es batu, mana galak lagi. Gak akan ada cewek yang mau sama lo, gue jamin!" -Alpha
Alpha si cewek slebor dengan bentuk super abstrak. Baju berantakan, rambut diikat asal-asalan dan yang paling penting, dia manusia paling kikir sedunia!
Delta dengan sifat batu dan antisosial, tidak ada yang boleh menyentuhnya karena bisa ditebasnya habis-habisan, wajah dingin dengan aura mencekam di sekitarnya membuat semua orang tidak mau berinteraksi cowok itu.
Hingga Alpha membalikkan semuanya.
"Gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue! Ingat itu baik-baik!" -Alpha
"Ogah." -Delta
Ngalahin Sang Raja Es? Emang bisa?
Ice Breaker started
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 | Luka dan Kecewa
"Yah, Ayah! Mau ke mana? Alpha sama Bintang diajak gak?" tanya seorang gadis kecil pada pria yang penampilannya acak adul tanpa lupa secarik rokok yang senantiasa bertengger di mulutnya.
"Bawa kalian yang ada cuma buat sial! Sana minggir!" hardik Bara menyepak lengan kecilnya hingga terpentok di lemari yang cukup rusak, cuma terdapat beberapa helai pakaian walaupun sama sekali tidak termasuk kategori bersih dan bagus.
"Yah... Jangan mabuk lagi," pinta Alpha memelas di lutut Bara, air menggenang di sudut matanya dengan paksa.
"Anak kecil kayak kamu tahu apa hah?! Cuma tau makan, duduk, terus nyusahin! Kenapa si jalang itu masih mempertahankan anak gak guna kayak kamu, hah?! Sialan!"
Bara melebarkan netra matanya melotot sadis kepada dua anak kandungnya yang tengah ketakutan, Bintang yang baru berusia 7 tahun bersembunyi di belakang Alpha yang 2 tahun lebih tua darinya.
"Bara! Kamu apakan mereka?!" seru Mika penuh emosi, wanita itu memeluk kedua anaknya meski ia masih dalam pakaian mini dressnya.
"Udah selesai jual badannya? Haha, najis. Mana ada laki-laki yang mau nikahin kamu selain aku, cepat! Kasih uangnya!"
"Gak! Ini buat anak kita, kamu pikir udah berapa kali kamu rebut makanan mereka? Makanan tadi malam udah kamu ambil, terus mereka makan apa sampai mau siang gini? Masih punya otak kan? Pikirin anak sendiri!"
"Anak? Memangnya itu anak aku? Bukannya anak laki-laki yang kamu layani? Gak usah sok suci! Mereka bukan darah daging aku! Mana uangnya?!!" hardik Bara dengan mata merah beringas, Mika menggendong Bintang dan menggenggam tangan anak perempuannya ke kamar.
"Duduk di sini ya, apapun yang terjadi jangan keluar, oke?" ucap Mika membuat bola mata kedua anaknya basah walau tidak begitu mengerti apa yang terjadi. Mika membawa kedua anaknya di dalam lemari kecil seperti yang dilakukannya ketika Bara naik pitam.
"Janji Alpha, ya?" tambah ibunya mengacungkan jari kelingking, anaknya masih bergeming hendak menangis.
"Bintang, kamu yang jagain kak Alpha supaya gak keluar dari sini, oke?"
"Bunda..."
"MIKA!!"
Dengan terburu wanita itu menutup lemari kecil tersebut lalu menutupnya dengan tubuhnya. Sedangkan Bara berjalan cepat lalu mengambil paksa uang di dalam dompet Mika, wanita itu tetap bertahan meski beberapa kali tubuhnya harus menabrak dinding.
"Nda..." tangis Bintang di dalam lemari, Alpha menutup mulutnya kuat-kuat.
"Mana uangnya jalang?!!!"
"Hiks... Hiks..." Bintang semakin sesak melihat pertengkaran kedua orangtuanya, dulu saat ia masih dalam ayunan hanya Alpha sendiri yang mendengar teriakan Mika setiap kali Ayah menagih uang karena utang perjudiannya.
"Oh... Aku tahu, Bintang! Kemari kamu atau Ayah pukul?!"
"Bara! Jangan bawa-bawa mereka!" Mika menyela cepat tanpa memerdulikan tetes darah yang mengalir segar di pelipisnya. "Bintang! Kamu mau Ayah pukul pakai rotan HAH?!"
Alpha mencoba menahan Bintang supaya tidak menuruti perintah laki-laki jangkung itu, walaupun Bintang menurut pasti ada saja yang membuat punggung mereka didera rasa sakit luar biasa ketika menjadi pelampiasan kemarahan Bara.
"Jangan Bintang! Kamu mau Bunda pergi?!" ancam Mika semakin membuat tangis Bintang pecah, jauh di lubuk hatinya, Mika bahkan tidak rela meninggalkan dua buah hatinya itu.
"Bunda... Hiks..." kini Alpha yang sesenggukan, Mika menyesal telah membuat mereka dalam situasi yang hancur seperti ini, bukan sebuah keluarga harmonis yang penuh canda tawa. Tapi keluarga yang hancur oleh masalah uang.
"Sialan kalian! Kamu sama anakmu sama aja, gak ada bedanya!" cerca Bara semakin naik pitam, mata pria itu semakin merah menyala hingga sebuah balok telah dibawanya menuju tempat Mika menyembunyikan kedua anaknya.
"BARA! HENTIKAN!"
"Mana kalian, HAH?!!"
BRUUAAK!!!
"BUNDAAAA!!!"
Balok yang harusnya menghantam pintu lemari kini menghantam kepala Mika membuat wanita itu tak sadarkan diri sedangkan pusat vital tubuhnya cidera parah setelah mengenai balok tersebut.
Alpha memangku Bundanya membuat pakaian lusuh yang ia pakai merah terkena hamburan darah, Bintang menangis di dada Mika. Tatapan Bara yang tadinya beringas kini berganti dengan penyesalan.
Laki-laki itu pergi meninggalkan rumah, kedua anaknya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan selain menunggu Mika bangun, hingga dua minggu Bara tidak pulang.
Dan Mika tidak pernah bangun meski anaknya meneriaki namanya, tubuhnya membusuk dan para masyarakat membantu menguburkan jasad Mika lalu menitipkan kedua anaknya di panti asuhan.
"Bunda..."
"Al!"
"Kamu mending lukanya cuma lecet doang!"
"Terus mau kamu apa?! Sana, sana, gak usah bicara!"
"Ish... Coba kamu yang jadi aku. Kamu sakit gini aja Papa Mama kamu udah heboh terus undang semua teman kamu."
"Mereka datang cuma pas aku lecet aja, pas hari biasa paling sibuk sama diri sendiri."
"Aku gak punya Mama sama Papa, semua orang gak mau berteman sama aku, makanya aku datang ke sini siapa tahu ada yang ngerasain hal yang sama kayak aku."
"Sama kayak gimana?"
"Sama-sama gak dianggap. Kamu gimana?"
"Sama, gak dianggap juga. Yaudah deh hari ini kita temenan oke?"
"Yeeey! Alpa punya temen!!"
"Oh nama kamu Alpha?"
"Iyah! nama kamu?"
"Nama aku --- kapan-kapan ketemu lagi ya!"
"Nama... "
"ALPHA WOI GEMPA OIT GEMPAAA!" teriak Adiba di telinga Alpha yang berhasil membuat empunya terkejut bukan kepalang.
"Woi!!! Gempa oi gempa selamatkan semvak kitaaa!!!"
Semua mata menatap heran hingga tawa pecah di selingi tepukan keras di meja, Saga yang tadinya tertidur malah ikut bangun, namun tidak berani untuk ikut tertawa seperti teman-temannya.
"Lo gak apa-apa 'kan, Al?" batin Saga.
¢¢¢
Sukses selalu thor
tapi gila keren kak karya mu👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️