NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 GILIRAN PERTAMA: S

Sinta tidak masuk kampus tiga hari.

Grup WA KKN sepi. Cuma centang satu. Chat gue, Rendi, Bayu, Dina, Fajar ga dibales. Ditelfon masuk mailbox.

Hari keempat, gue nekat ke kos Sinta. Bawa Rendi.

Kos putri, jam 10 pagi. Ibu kos galak nahan di depan. “Mau ketemu siapa?”

“Sinta, Bu. Sinta Kurnia. Kamar 12,” jawab Rendi.

Muka Ibu kos langsung berubah. Pucat. “Sinta... udah tiga hari ga keluar kamar. Makan cuma diambilin, tapi ga dibuka. Lampunya mati terus. Kalian temennya?”

Kami angguk cepet.

Ibu kos ngasih kunci cadangan. Tangannya gemeter. “Tolong bujuk. Saya takut. Tiap malem dari kamarnya ada suara... gamelan. Sama orang nyanyi Jawa.”

Gamelan. Lagu Lelo Ledung.

Gue sama Rendi lari ke lantai 2. Kamar 12 paling ujung.

Tok. Tok. Tok.

“Sin. Sinta. Gue. Buka pintunya.”

Hening.

Tung...

Dari dalam, suara kenong. Pelan. Sekali.

Gue merinding. Rendi langsung masukin kunci.

Ceklek.

Pintu kebuka. Kamar gelap gulita. Gorden ditutup rapat. Bau menyan campur apak.

Di kasur, Sinta duduk meluk lutut. Rambut awut-awutan, mata cekung, bibir kering. Dia tidak menoleh. Tatapannya kosong ke tembok.

Di tembok, ada tulisan. Pake lipstik merah. Gede-gede.

“AKHIRNYA PULANG :)”

Tulisan yg sama kayak DM Ardi.

“Sin...” panggil gue pelan.

Sinta noleh. Pelan banget. Kayak robot.

Matanya... tidak fokus. Sebelah kiri normal. Sebelah kanan... putih semua. Kayak mata Mbak Dewi dulu.

“Tinggal 24 hari lagi...” bisik Sinta. Suaranya dobel. Suara dia, ditimpa suara berat. Suara Mbak Dewi. “...dia mau aku jadi Sipir...”

Rendi mundur selangkah. “Anjing... dia kesurupan.”

“Bukan kesurupan,” kata Sinta. Kepalanya geleng-geleng. “Dia di sini. Di dalam. Ardi. Dia bisikin aku terus. Suruh buka gerbang lagi. Suruh gantiin Mbak Dewi.”

Gue maju. Pegang pundak Sinta. Dingin. Dingin banget kayak es.

“Kuat, Sin. Lawan. Lu jangan mau.”

Sinta ketawa. Ketawa Mbak Dewi. Melengking. “Lawan? Kalian yg bawa dia pulang. Kalian yg pecahin lonceng. Kalian yg bikin kontrak baru. GILIRAN KALIAN!”

Tiba-tiba, HP gue bunyi.

Notifikasi kalender.

“Pengingat: Purnama. 24 hari lagi.”

Di bawahnya ada tulisan baru.

“Giliran pertama: Sinta Kurnia. Tempat: Sumur Tua Desa Larangan.”

Sumur Tua? Bukannya udah hilang?

Sinta tiba-tiba kejang. Matanya mendelik. Dia cakar-cakar tembok.

“PAANAAAS! LONCENGNYA PANAS! JANGAN DIPUKUL! JANGAAAN!”

Itu suara Lestari. Sinta lagi lihat memori Lestari.

Rendi nyalain lampu. Cekrek.

Sinar lampu bikin Sinta menjerit. “MATIIN! MATIIN! DIA GA SUKA TERANG!”

Ardi. Ardi ga suka terang. Sama kayak Mbak Dewi.

Gue matiin lampu lagi. Sinta langsung diem. Napasnya ngos-ngosan.

“Dia bilang...” Sinta ngos-ngosan. “Kalau gue ga mau jadi Sipir... dia ambil kalian satu-satu. Dimulai dari yg paling deket sama gue.”

Yg paling deket sama Sinta?

Gue lihat Rendi. Rendi pacarnya Sinta dari semester 3.

Rendi pucat. Dia mundur sampe mentok tembok.

“Jadi... gue selanjutnya?” suara Rendi serak.

Sinta angguk. Air mata darah netes dari mata kanannya yg putih. “Maafin gue, Ren...”

Gue tarik Rendi keluar kamar. “Udah. Kita ke rumah gue. Rapat. Panggil Bayu, Dina, Fajar. Sekarang.”

Di rumah gue, jam 1 siang. Kami berlima kumpul. Sinta gue paksa ikut. Dia diem aja di pojokan, ditutupin selimut.

“Ada 2 pilihan,” kata gue. Tegas. “Satu, kita biarin Sinta... diambil. Terus Ardi pindah ke Rendi. Terus ke kita semua. Mati satu-satu.”

“Ogah!” teriak Bayu. “Pilihan dua apa?”

“Dua, salah satu dari kita... sukarela jadi Kuncen. Gantiin Mbak Dewi. Jaga gerbang 10 tahun. Di Desa Larangan. Sendirian.”

Hening.

10 tahun. Di desa mati. Jadi dedemit. Jaga gerbang.

Siapa yg mau?

“Ga ada pilihan tiga?” tanya Dina lirih. “Kayak... kita lawan Ardi? Kita tutup gerbang selamanya?”

Gue geleng. “Paklik Joyo bilang, gerbang udah tutup. Tapi kutukan Kuncen pertama ga ilang. Harus ada yg nanggung. Itu harga pecahin lonceng.”

Sinta ngomong, pelan. “Gue... gue aja. Salah gue juga. Gue yg ngajak kalian KKN ke sana. Gue yg nawarin Desa Larangan ke dosen.”

“Ga!” Rendi nolak. “Gue aja. Gue cowok. Gue yg harusnya jaga cewek.”

Mereka mulai rebutan. Rebutan siapa yg mati.

Persis kayak Mbak Dewi sama Lestari dulu.

Sejarah muter lagi.

Aku gebrak meja. “DIEM SEMUA!”

Mereka kaget.

“Ga ada yg jadi tumbal. Ga ada yg jadi Kuncen. Titik.” Aku menatap mereka satu-satu. “Kita yg mulai ini berlima. Kita yg akhiri berlima. Caranya?”

Aku belum tau. Tapi harus ada.

“Kita balik,” kataku. “Ke Desa Larangan. Sekarang. Kita cari Paklik Joyo yg asli. Yg buta sebelah. Tanya dia... cara mutus kutukan Kuncen pertama. Pasti ada. Ga mungkin Tuhan bikin takdir yg ga ada jalan keluarnya.”

Rendi berdiri. “Gue setuju. Daripada nunggu mati di sini.”

Bayu, Dina, Fajar angguk. Sinta... Sinta nangis. Nangis beneran. Pake suara sendiri.

“24 hari...” bisiknya. “Kita punya 24 hari... sebelum purnama...”

Di luar, mendung. Langit gelap padahal baru jam 2 siang.

Tung... tung... tung...

Suara kenong. Dari genteng rumah gue.

Ardi denger rencana kami. Dan dia... ikut.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!