Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Menyebut Nama Tuan Wiyoko
“Anda yakin, Pak Detektif kalau Anda akan mengajak asisten pribadi Anda yang tampak tidak kompeten itu ke Malang? Apa tidak akan menghambat Anda nantinya saat melakukan penyelidikan?” Tony bertanya kepada Sean sambil melirik sekilas ke arah Christaly.
“Kalau saya boleh sarankan, Pak Detektif. Lebih baik Anda pergi seorang diri saja. Karena yang sepertinya asisten Anda juga tidak akan banyak membantu.”
Mendengar perkataan pedas dan menohok dari Tony, Christaly ingin sekali rasanya menampar mulut pria itu. Tapi, dia sama sekali tidak bisa berbuat apa pun selain mengertakkan giginya kuat-kuat dan menelan amarahnya ke dalam perut.
“Yang anda katakan itu memang ada benarnya juga,” sahut Sean dengan santai dia tidak membela Christaly. “Tapi, saya membutuhkan asisten pribadi saya untuk alasan yang lain sama sekali.”
“Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan Anda, Pak Detektif. Saya tidak bisa melarang,” kata Tony dengan nada agak sedikit tidak senang.
“Oh, iya, Pak Detektif. Saya hampir lupa memberitahu. Demi keselamatan pribadi Anda, Tuan Wiyoko meminta agar saya menyampaikan kepada Anda kalau nanti Anda sudah berada di Malang, sebaiknya Anda merahasiakan identitas diri Anda sebagai seorang detektif. Selain itu, Anda juga dilarang keras menyebut-nyebut nama Tuan Wiyoko.”
“Tunggu dulu, kenapa kami tidak boleh menyebut-nyebut nama Tuan Wiyoko? Kalau kami tidak boleh menyebut-nyebut nama Tuan Wiyoko, lalu bagaimana cara kami mencari Alex anaknya yang hilang?” potong Christaly secara spontan.
“Huh! Bisa tidak untuk Anda tidak menyela saya saat saya sedang menjelaskan? Saya belum selesai menjelaskan dan Anda sudah banyak bertanya,” sergah Tony sambil mendengus kesal. Dia menatap Christaly dengan tatapan permusuhan.
“Saya minta maaf. Saya hanya ....”
“Christaly! Jaga sopan santunmu atau kau tidak akan aku izinkan ikut dalam penyelidikan di Malang,” seru Sean dengan tegas dan tandas.
Seketika Christaly menutup mulutnya, tidak berani melanjutkan kata-katanya apalagi menyahut Sean. Takut dengan ancaman dari pria yang sedang menatapnya seperti seekor singa kelaparan yang melihat mangsa.
“Silakan lanjutkan cerita Anda, Tuan Tony,” sambung Sean sambil dia menoleh ke arah Tony. “Saya ingin tahu atas dasar alasan apa Tuan Wiyoko melarang kami untuk tidak menyebut-nyebut namanya saat kami melakukan penyelidikan nanti. Saya yakin, pasti ada alasan yang khusus.”
Tony mengangguk sekilas. “Tepat sekali, Pak Detektif,” ujarnya. “Alasan kenapa Tuan Wiyoko menyuruh agar Anda tidak menyebut-nyebut nama tuan saya itu karena beliau memiliki saingan bisnis di Malang. Kalau sampai saingan bisnis tuan saya tahu beliau mempekerjakan Anda, yang notabenenya detektif swasta dan Anda juga tidak memiliki izin penyelidikan, semuanya pasti akan menjadi rumit, Pak Detektif."
"Saingan bisnis tuan saya pasti akan menjadikan itu sebagai senjata untuk menghancurkan bisnis Tuan Wiyoko. Sebab, jika informasi ini sampai naik ke media, kita semua yang akan hancur dan tamat. Saya yakin Anda dapat mengerti dengan sangat baik sekali maksud saya.”
“Kalau soal itu Anda tidak perlu khawatir. Karena salah satu aturan main saya yang tidak tertulis adalah tidak akan mengungkapkan identitas klien saya sampai akhir. Apa pun yang terjadi dan bagaimanapun situasi serta kondisinya.” Sean menenangkan. “Apalagi, kalau klien saya adalah orang yang penting dan sangat berpengaruh seperti Tuan Wiyoko.”
“Baguslah kalau begitu. Artinya sekarang tugas saya sudah selesai. Kalau begitu saya permisi dulu.” Tony pun bangkit dari tempat duduknya, mengangguk sekilas ke arah Sean dan Vera lalu dia segera berbalik dan keluar begitu saja tanpa memedulikan Christaly yang tidak dipamitinya.
“Huh! Dasar belagu! Padahal cuma jongos tapi belagunya setinggi langit,” geram Christaly setelah Tony meninggalkan ruangan. “Kalau aku bisa menghilang kayak setan jadi-jadian, sudah aku tampar mulut pria menyebalkan itu.”
“Yang menyebalkan itu kamu, Chiristaly!” sembur Sean. “Kamu ini pernah belajar sopan santun nggak, sih? Aku sama sekali nggak masalah kamu mau bertingkah apa. Tapi, kalau di depan klienku, kamu harus bisa menunjukkan sikap yang profesional. Supaya lebih meyakinkan klien. Masa kayak gitu aja kamu nggak tahu, sih?!”
“Ya, mana aku tahu. Kamu nggak bisa nyalahin aku gitu, dong. Seharusnya kamu kasih tahu apa-apa saja yang harus aku lakukan pas lagi ketemu klien. Apa yang harus aku katakan, apa yang nggak boleh aku tanyakan dan bagaimana aku harus bersikap. Bukan nyalahin semuanya ke aku yang nggak berpengalaman,” protes Christaly dengan nada yang lebih tinggi. “Dasar detektif amatir!”
“Jadi kamu nyalahin aku gara-gara aku nggak kasih pengarahan ke kamu dulu?! Yang benar saja! Masa hal-hal remeh temeh begitu aja kamu mesti dikasih tahu dulu, sih?! Kamu itu udah dewasa, bukan anak kecil lagi. Harusnya kamu bisa mengambil sikap dengan bijak di setiap kondisi.” Sean yang tidak mau disalahkan membalas Christaly.
Dia sudah membuku mulutnya dan siap melontarkan makian saat Vera berdehem keras untuk melerai pertengakarannya dengan Christaly.
“Kalian berdua ini, ya, bisa nggak sih nggak berantem?!” ujar Vera. “Dengar, kalian berdua itu saling membutuhkan satu sama lain. Jadi, daripada bertengkar kayak anak kecil begitu, mendingan kalian kerja sama supaya misi pencarian Alex bisa berhasil. Apa kalian lupa yang dipertaruhkan di sini itu nyawa?”
Karena baik Christaly maupun Sean sama-sama takut dengan Vera, keduanya akhirnya diam dan sepakat untuk berdamai. Meskipun jauh di dalam hati masing-masing mereka masih kesal dan mendongkol.
Setelah keduanya akur, Vera kemudian menjelaskan pendapat dan dugaannya terkait kasus penculikan Alex yang sudah hilang selama tiga bulan tanpa jejak.
Menurut Vera, ada kemungkinan kasus penculikan Alex juga melibatkan saingan bisnis dari Tuan Wiyoko yang berada di Malang itu. Tujuannya jelas untuk menghancurkan bisnis Tuan Wiyoko.
Kronologinya, pesaing bisnis Tuan Wiyoko ini bekarjasama dengan organisasi penculikan dan perdagangan anak untuk menculik Alex. Dengan begitu, Tuan Wiyoko yang memang sangat menyayangi anak semata wayangnya itu pasti akan melakukan apa pun agar anaknya bisa kembali. Akan tetapi, karena waktu sudah cukup lama, menurut Vera kecil sekali kemungkinan Alex masih hidup saat ini.
Mendengar analisis tajam dari Vera, Christaly pun kagum sekaligus malu. Sebab, meskipun Sean sudah menjelaskan kasus yang akan mereka tangani bersama dengan cukup detail, sedikit pun dia masih belum memiliki bayangan terkait kasus yang sedang ditanganinya. Apalagi sampai bisa mengalnaisis seperti Vera.
Sekarang Christaly mengerti alasan lain kenapa Sean sangat takut jika hubungannya harus kandas dengan wanita itu. Sebab dia sangat membutuhkan Vera, tidak hanya dalam hal relasi kuasa, tapi juga karena kemampuan Vera sendiri.
Tapi, karena hal itu, Christaly jadi mempertanyakan kemampuan Sean yang sebenarnya. Dia jadi ragu dengen detektif itu, dan malah berpikir kalau sebenarnya Sean tidak lebih dari seorang penipu ulung. Dan sebenarnya orang yang memecahkan kasus-kasus yang dia tangani selama ini adalah Vera. Bukan Sean.