Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Dua hari setelah eksplorasi pertama, Arka dan Pratama kembali ke stasiun MRT. Kali ini mereka lebih siap. Pratama membawa pistol cadangan, senter cadangan, dan radio komunikasi kecil. Arka membawa pisau taktis yang sudah diasah, dan seutas tali nilon panjang.
Suhu di luar terowongan masih minus delapan belas. Napas mereka langsung berubah menjadi kabut putih yang menggantung di udara dingin. Di atas, langit Jakarta tidak lagi biru. Abu-abu pekat seperti timah, tertutup awan tebal yang tidak pernah bergerak. Tidak ada matahari. Tidak ada bayangan. Hanya abu-abu yang merata, dari timur hingga barat.
Jakarta sudah mati. Bukan hanya sunyi, tapi mati. Gedung-gedung yang dulu menjulang dengan kaca-kaca berkilau kini seperti kerangka raksasa. Kaca-kaca pecah, jatuh, menumpuk di bawah. Dinding-dinding beton retak, ditumbuhi bunga es yang putih dan tajam. Di beberapa tempat, atap-atap rubuh karena tekanan salju yang menumpuk berbulan-bulan. Papan reklame yang dulu terang benderang dengan lampu LED, kini hanya kerangka besi berkarat yang tergantung miring, tertiup angin tipis yang tak pernah berhenti.
Di jalanan, mobil-mobil tertimbun salju setinggi satu setengah meter. Hanya atap-atap yang masih terlihat, seperti batu nisan di kuburan raksasa. Pepohonan yang dulu rindang di taman-taman kota kini menjadi patung-patung beku, ranting-rantingnya patah, batangnya retak karena air di dalamnya membeku dan mengembang. Burung-burung sudah tidak ada lagi. Kucing-kucing liar yang dulu berkeliaran di gang-gang juga tidak ada. Yang tersisa hanya putih, dan dingin, dan sunyi yang menekan.
Arka berdiri di ambang pintu darurat, menatap ke luar sejenak sebelum menutupnya. Di kejauhan, Monas masih berdiri. Tugu itu kini seperti tombak putih yang menusuk langit abu-abu, seluruh permukaannya tertutup es. Di sekelilingnya, lapangan yang dulu ramai dengan pedagang dan wisatawan kini menjadi dataran putih tak berujung. Tidak ada tenda. Tidak ada pusat evakuasi yang disebut radio. Mungkin sudah hancur. Mungkin sudah terkubur. Mungkin yang tersisa hanya siaran rekaman yang terus berulang.
Dia menutup pintu.
Mereka memasuki stasiun melalui pintu darurat yang sama. Udara dingin langsung menyergap. Di dalam, es menutupi lantai dengan lapisan licin setebal dua jari. Dinding keramik yang dulu mengilap kini pecah-pecah, ditumbuhi kristal es yang bermekaran seperti karang di laut mati. Lampu-lampu di langit-langit sudah lama padam. Satu-satunya cahaya berasal dari senter mereka yang menerobos kabut dingin yang menggantung di udara.
Jejak sepatu yang mereka lihat kemarin kini tidak lagi sendiri. Ada jejak baru. Jejak yang lebih segar. Dan jejak itu tidak hanya satu arah. Mereka bolak-balik. Beberapa orang. Mungkin empat atau lima. Mungkin lebih.
“Bukan dari kita,” bisik Pratama. Napasnya keluar dalam kepulan putih.
Arka mengangguk. Mereka berjalan lebih hati-hati. Senter dimatikan satu, hanya satu yang menyala dengan intensitas rendah. Cahaya redup itu cukup untuk melihat lantai, tapi tidak cukup untuk menarik perhatian dari kejauhan.
Stasiun MRT Sudirman tidak lagi seperti yang Arka ingat. Gerbang-gerbang otomatis macet setengah terbuka, seperti rahang yang membeku saat hendak mengunyah. Mesin tiket di dinding tertutup lapisan es tipis yang memantulkan cahaya senter mereka dengan kilau suram. Papan informasi elektronik yang dulu menampilkan jadwal kereta kini hanya layar hitam yang pecah di beberapa tempat. Di sudut, sebuah kereta bayi terbalik, tertimbun salju yang masuk dari celah ventilasi. Tidak ada bayi. Tidak ada siapa pun.
Mereka berjalan melewati lorong menuju gedung perkantoran di atas. Tangga darurat yang menghubungkan stasiun ke lobi gedung sudah setengah hancur. Anak-anak tangganya retak, beberapa hilang, menyisakan lubang yang menganga ke dalam gelap. Dinding-dindingnya dipenuhi coretan—bukan grafiti biasa. Tulisan-tulisan tergesa-gesa, dengan spidol atau arang, dalam huruf kapital yang miring.
TUHAN TOLONG KAMI
MEREKA DATANG MALAM
AIR HABIS
JANGAN PERCAYA SIARAN RADIO
Arka membaca coretan-coretan itu dengan perasaan yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan takut. Bukan sedih. Tapi semacam kepastian bahwa kekacauan yang dia ingat dari kehidupan pertama benar-benar terjadi. Dunia di atas sana memang sudah berubah menjadi neraka.
Di lantai dasar gedung, keadaan berbeda. Ruang lobi yang dulu megah dengan langit-langit tinggi dan resepsionis marmer kini menjadi tempat perlindungan sementara. Tikar plastik digelar di sudut-sudut. Selimut tebal tergulung rapi. Beberapa botol air mineral kosong berserakan, ada yang masih setengah membeku. Di tengah ruangan, ada lubang bekas api unggun—api yang dulu menyala, sekarang hanya abu dan arang hitam yang mengering. Di sekeliling lubang, kaleng-kaleng sarden dan kornet ditumpuk, sebagian sudah terbuka, sebagian masih utuh.
Arka berjongkok. Abu itu dingin. Mungkin sudah beberapa hari. Dia mengambil sekaleng sarden yang masih utuh, memeriksanya. Masih bagus. Mereka tidak membuang makanan. Di samping kaleng, ada sendok plastik yang sudah digunakan. Berarti yang tinggal di sini bukan kelompok besar. Mungkin hanya dua atau tiga orang.
“Ada yang tinggal di sini,” kata Pratama. Suaranya pelan, hampir berbisik. Matanya bergerak cepat mengamati setiap sudut.
Mereka berjalan lebih dalam. Melewati ruang rapat yang dinding kacanya pecah. Di dalam, meja panjang masih utuh, tapi kursi-kursi berserakan. Kaca-kaca di lantai memantulkan cahaya senter dengan kilau tajam. Di dinding, ada peta Jakarta yang sudah robek, garis-garis merah menandai tempat-tempat tertentu. Monas ditandai. Bandara dicoret. Pelabuhan dicoret.
Di atas meja, sebuah buku catatan.
Arka mengambilnya. Sampulnya kusam, pinggirannya basah dan sedikit membeku. Tulisan tangan pria, dengan pulpen yang tintanya mulai pudar. Nama di halaman pertama: Herman.
Dia membuka halaman demi halaman.
*Hari ke-7. Masih hidup. Ibu mulai batuk-batuk. Tidak ada obat. Suhu di luar minus lima belas. Stasiun masih aman. Tidak ada orang lain. Aku temukan sarden di minimarket lantai dua. Cukup untuk seminggu.*
*Hari ke-12. Ibu meninggal. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Tanah beku\, tidak bisa kubur. Aku tinggalkan di ruang genset. Aku tutup pintu. Maafkan aku\, Bu. Aku akan ingat selalu.*
*Hari ke-20. Ada orang lain. Dua orang. Laki-laki dan perempuan. Mereka bilang ada kelompok di Monas. Tapi mereka tidak mau bergabung. Mereka takut. Aku takut juga. Mereka pergi ke arah timur. Tidak kembali.*
*Hari ke-30. Aku dengar suara dari lantai atas. Bukan aku. Bukan yang kemarin. Suara banyak orang. Mereka datang malam. Aku dengar teriakan. Aku lari. Maafkan aku\, Tuhan. Maafkan aku.*
Catatan itu berakhir di situ. Halaman terakhir kosong, hanya ada noda air yang sudah membeku. Mungkin air mata. Mungkin salju yang masuk dari celah.
Arka menutup buku. Meletakkannya kembali di meja. Di sampingnya, Pratama sudah berdiri dengan pistol di tangan. Matanya tidak lagi mengamati ruangan. Matanya tertuju ke langit-langit.
“Ada suara,” bisiknya.
Arka mendengar. Langkah kaki. Di lantai atas. Tidak seperti langkah orang yang sedang berjalan biasa. Lebih berat. Lebih lambat. Seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Seperti orang yang sedang berburu.
Langkah itu tidak hanya satu. Banyak. Sepatu bot di lantai beton. Suara gesekan benda logam. Kadang-kadang suara orang berbicara, pelan, tidak jelas.
“Kita pergi,” kata Arka.
Tapi sebelum mereka bergerak, suara langkah itu berhenti. Keheningan yang tiba-tiba terasa lebih menekan dari suara itu sendiri. Lalu, dari atas, suara laki-laki yang dalam bergema di ruang kosong.
“Turun. Ada jejak baru.”
Arka dan Pratama saling berpandangan. Mereka tidak punya waktu.
Mereka berjalan cepat menuju tangga darurat. Tapi di ujung lorong, dua bayangan muncul dari balik pilar. Senter menyorot ke arah mereka, silau putih yang menyilaukan.
“Berhenti!”
Arka tidak berhenti. Dia mendorong Pratama ke samping, masuk ke ruangan kecil di sebelah. Ruang server. Gelap. Penuh dengan rak-rak besi yang roboh, kabel-kabel berserakan di lantai seperti ular mati. Server-server yang dulu berdengung dengan data kini diam, dingin, tertutup lapisan es tipis.
Mereka bersembunyi di balik rak server yang paling besar, di sudut paling gelap. Napas mereka ditahan. Arka merasakan dinginnya lantai menembus jaketnya, dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Langkah kaki mendekat. Dua orang. Mungkin lebih.
“Pasti ada di sini. Lihat jejaknya.”
“Biar. Kita cari nanti. Bos mau semua dikumpulkan malam ini. Yang penting pintu keluar dijaga.”
“Mereka tidak bisa kemana-mana. Di bawah juga sudah kita jaga.”
Arka mendengar suara itu. Suara laki-laki, parau, seperti orang yang sudah lama berteriak di tengah badai. Di sela-sela kata, dia mendengar suara lain. Suara gesekan logam. Senjata. Mereka membawa senjata.
Pratama di sampingnya sudah memegang pistol, siap. Tangan Arka sendiri mencengkeram gagang pisau di pinggangnya. Di antara rak server yang roboh, mereka hanya punya sedikit ruang untuk bergerak. Jika ditemukan, mereka tidak bisa lari.
Tapi langkah itu menjauh. Suara-suara itu menghilang ke arah lain. Mungkin ke lantai atas. Mungkin ke ruang rapat. Mungkin mencari ke tempat lain.
Mereka menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Setiap detik terasa seperti satu jam. Dingin merayap masuk ke dalam jaket, ke dalam sepatu, ke dalam setiap celah. Jari-jari Arka mulai mati rasa. Napasnya tidak lagi terlihat karena suhu ruangan sudah hampir sama dengan suhu tubuhnya.
Pratama berbisik, “Kita harus lewat jalur lain.”
Arka mengangguk. Dia ingat denah gedung ini. Di sisi timur, ada tangga darurat lain yang terhubung ke lorong bawah tanah. Lorong itu mungkin masih mengarah ke stasiun, tapi di ujung yang berbeda. Jauh dari pintu darurat yang mereka gunakan tadi.
Mereka merangkak di antara puing-puing. Melewati ruangan-ruangan yang gelap. Di satu ruangan, Arka melihat sesosok tubuh terbungkus selimut, tidak bergerak. Mungkin Herman. Mungkin orang lain. Tidak ada waktu untuk memeriksa. Tidak ada waktu untuk berpikir.
Tangga darurat timur masih utuh. Mereka turun, melewati lantai demi lantai. Di setiap anak tangga, es yang membeku membuat kaki hampir tergelincir. Di lantai tiga, mereka mendengar suara dari atas. Teriakan. Bukan teriakan marah. Teriakan perintah. Seseorang memimpin mereka.
Di lantai dasar, lorong bawah tanah membentang gelap. Dinding-dindingnya dipenuhi pipa-pipa besar yang membeku, air di dalamnya sudah lama menjadi es. Kadang-kadang, pipa-pipa itu mengeluarkan suara letupan kecil—air yang mengembang, memecahkan logam dari dalam.
Mereka berjalan cepat. Suara dari atas masih terdengar, tapi semakin jauh. Lorong ini panjang dan berliku, seperti usus raksasa yang membeku. Setiap sepuluh langkah, Arka berhenti, mendengarkan. Tidak ada yang mengejar. Tidak ada langkah kaki. Tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Perasaan bahwa mereka sedang diamati.
Setelah apa yang terasa seperti satu jam, mereka sampai di pintu besi yang mengarah ke stasiun. Pratama membukanya pelan-pelan. Di seberang, tidak ada siapa pun. Lorong stasiun kosong. Es di lantai masih utuh, tidak ada jejak baru.
Mereka masuk, menutup pintu, dan berjalan cepat ke pintu darurat yang menghubungkan ke terowongan bunker. Tidak ada yang mengejar. Tidak ada suara. Hanya sunyi.
Setelah pintu darurat tertutup rapat dan mereka berada di dalam terowongan, Arka baru bisa bernapas lega. Tapi lega itu hanya sesaat. Di terowongan yang sempit dan gelap, dia merasakan sesuatu yang tidak dia rasakan sebelumnya. Ketakutan yang berbeda. Bukan takut mati kedinginan. Bukan takut kelaparan. Tapi takut pada manusia.
“Mereka sudah tahu ada orang di sini,” kata Pratama. Napasnya masih memburu. “Dan mereka menjaga pintu keluar. Mereka tahu cara berburu.”
“Mereka akan kembali,” kata Arka.
“Ya. Mereka akan kembali.”
Mereka berjalan dalam diam. Setiap langkah di tanah yang beku terasa berat. Di ujung terowongan, cahaya redup dari bunker menunggu. Cahaya yang hangat. Cahaya yang aman.
Tapi Arka tahu, aman itu hanya sementara.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁