Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Pelukan Yang Hangat
Hari-hari setelah lamaran selesai dan mulai mempersiapkan untuk hari pernikahan tidak ada perubahan yang terjadi dari diri Adrian, kedua keluarga sedang sibuk mempersiapkan acara keduanya sedangkan sang calon mempelai masih disibukkan dengan pekerjaan.
Adrian menunjukkan keseriusan ucapannya, setelah melamar Nayara tidak membuat dirinya menjadi lebih cuek, justru yang terjadi Adrian semakin hadir dalam setiap waktu untuk Nayara.
Pagi ini Nayara baru saja keluar dari rumah dengan kedua tangannya yang sudah sibuk memegang segala keperluan pekerjaan, langkahnya seketika terhenti ketika tatapannya bertemu dengan seorang lelaki yang kini tengah mengisi hatinya
Sebuah mobil sudah terparkir didepan rumahnya dengan rapih, Adrian kini telah bersandar santai disampingnya dengan senyuman manis.
" Loh, Mas Mahen?" Nayara sedikit terkejut.
" Selamat pagi, Sayang" Adrian tersenyum tipis dengan langkah kini menghampiri sang calon istri.
" K... Ka... Kamu kesini pagi-pagi?" mendengar panggilan baru dari sang kekasih Nayara merasa sedikit salah tingkah.
" Jemput calon istri dong, Sayang..." Adrian membisikkan ucapannya ditelinga Nayara, dengan tangan yang langsung mengambil alih barang dari kedua tangan Nayara.
" Padahal aku bisa berangkat sendiri, Mas" ucap Nayara yang kini ikut langkah sang kekasih.
" Mas tahu, Sayang. Tapi mas mau memastikan kalau calon istri Mas itu berangkat kerja dengan baik dan tentunya mood nya bagus" Adrian membuka pintu kendaraan untuk Nayara.
" Mas Mahen, apa ini akan terjadi setiap hari?" Nayara merasa hal sederhana seperti ini terasa begitu berarti.
" Iya dong, Sayangku. Mas tahu kamu bisa semuanya sendiri, tapi selama ada Mas pokoknya semuanya kita bareng-bareng dan Mas akan menemani kamu kemanapun" Adrian tersenyum santai dengan tangan kiri menggenggam tangan Nayara lembut.
" Mas... kamu sibuk loh, enggak semua waktu kamu itu milik aku dan enggak semua harus tentang aku" Nayara langsung menatap wajah Adrian yang tengah sibuk emngendar kendaraannya.
" Kamu juga sibuk, Sayang. Kita sama-sama sibuk makannya kita berjodoh hehehe... jadi biar menghemat waktu kita harus bersama makannya aku jemput" Adrian melirik wajah Nayara sekilas dengan senyuman lembut, ibu jarinya mengusap hangat punggung tangan Nayara.
Nayara terdiam tidak bisa membantah ucapan sang kekasih, Ini bukan tentang kewajiban tapi dengan senang hati tetap melakukannya tanpa beban.
Sepanjang perjalanan yang mereka lalui tidak banyak percakapan yang terjadi, tapi suasana terasa lebih hangat ditambah genggaman tangan yang tidak terlepas. Adrian terkadang melirik Nayara diam-diam dengan tersenyum manis.
Sesampainya dikantor Adrian mematikan mesin kendaraan, dan membuka pintu kendaraan milik Nayara.
" Silahkan Sayangku, sudah sampai apakah ada yang tertinggal?" Adrian mendunduk sedikit.
" Mas, malu jangan kaya gitu" Nayara sedikit merapatkan tubuhnya.
" Mas terimakasih banyak ya..." ucap Nayara lagi.
" Terimakasih untuk apa?" Adrian menatapnya lembut.
" Terimakasih sudah hadir untuk aku" Nayara menatap Adrian dengan senyuman yang membuat wajahnya terasa hangat.
" Ini bukan sesuatu hal yang besar, Sayang. Semangat kerjanya yaa, jangan lupa makan kalau terasa berat jangan sungkan telpon Mas ya" usapan lembut dikepala Nayara kini membuat kupu-kupu berterbangan di dada Nayara.
" Mas juga, hati-hati ya dijalannya. Jaga hati dan pikirannya untuk aku" ucap Nayara yang kini mulai terbiasa menunjukkan perasaannya.
Hari itu berjalan seperti biasa diisi dengan rapat, target, dan deadline. Namun disela-sela kesibukannya selalu ada Adrian yang hadir menemani lewat apapun.
Tttrrrriiiiinnngg....
" Sayang, apa sudah makan? Jangan lupa istirahat yaa... Maaf Mas tidak bisa menemani makan siang karena harus meeting sampai sore nanti. Tapi Mas akan menjemput pulang kerja nanti I Love you ❣️"
Mendapatkan pesan dari Adrian membuat Nayara tersenyum hangat, ternyata seperti ini rasanya ditemani. Selama ini Nayara terbiasa melakukan segalanya seorang diri, tapi sekarang Adrian hadir benar-benar menemani setiap waktunya.
Malam ini Adrian sudah berada didepan rumah Nayara untuk menjemput sang kekasih, keduanya memang berencana akan makan malam bersama diluar.
" Capek yaa, hmmm" tanya Adrian saat melihat Nayara.
" Hmmm... Capek banget hari ini" jawab Nayara yang kini menunjukkan sisi manjanya.
" Ayo makan, sudah malam" Adrian tersenyum.
Kini Adrian dan Nayara sudah sampai disebuah restoran yang tidak terlalu ramai, suasananya hangat dengan lampu yang temaram.
" Mas Mahen..." Nayara duduk dihadapan Adrian.
" Hmmmm" jawab Adrian yang kini ikut menatapnya sampai tatapan keduanya bertemu.
" Kenapa kamu enggak berubah? Biasanya laki-laki kalau sudah " Dapat " mereka akan berubah menjadi lebih santai" Nayara menundukkan sedikit kepalanya.
" Sayang... Kalau kamu berpikir seperti itu tidak masalah. Tapi asal kamu tahu kalau aku bukan lagi berusaha mendapatkan kamu" Adrian tertawa pelan.
" Lalu?" tanya Nayara.
" Aku sedang menjaga kamu dengan caraku sendiri" jawab Adrian dan kalimat itu kini langsung sampai ke hati Nayara
Kenapa dia selalu tahu cara membuatku bahagia.
Makan malam berjalan pelan dipenuhi obrolan ringan, tawa kecil, tatapan hangat sampai akhirnya mereka berjalan keluar.
Udara malam terasa sejuk dengan Nayara berjalan disamping Adrian tanpa jarak bahkan semakin dekat.
" Mas, Aku bahagia banget tapi aku takut" ucap Nayara.
" Takut kenapa?" Adrian menundukkan kepalanya.
" Takut kalau ini semua hanya sementara" Nayara menjawab lirih.
Adrian kini membuka tangannya menarik tubuh Nayara masuk kedalam pelukan, mengusap lembut punggung Nayara dengan gerakan naik turun.
Pelukan pertama keduanya namun tidak ada keraguan sama sekali, Nayara memejamkan kedua matanya menikmati pelukan hangat.
" Sayang, kamu bukan sesuatu yang bisa aku anggap biasa, tidak ada alasan yang membuat aku harus berubah jadi buruk...."
" Sayang, kalaupun aku harus berubah itu menjadi lebih baik untuk kamu dan kita." Nayara membalas pelukan Adrian semakin erat.
" Mas... Jangan pernah pergi yaa" Nayara kembali membuka suaranya ditengah pelukan hangat.
" Tidak akan pernah" Adrian langsung menjawab.
Jadi ini rasanya dipeluk tanpa rasa takut?
Adrian maupun Nayara tidak terburu-buru melepaskan pelukannya masing-masing, seolah dunia tengah memberikan waktu untuk keduanya.
Dan malam ini menjadi saksi bahwa cinta mereka bukan hanya tumbuh, tapi juga saling menjaga satu sama lain tanpa paksaan dan tanpa tuntutan.