Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis yang mengalami broken home, sejak ia masih duduk di bangku SMA, lebih tepatnya sejak kls 3 SMA.
Dikarenakan sang ayah berselingkuh dengan wanita lain dan lebih memilih selingkuhannya dibandingkan dengan sang ibu, oleh sebab itu mereka bercerai, dan dari masalah itu pula ibunya meninggalkan dirinya dengan sang nenek.
Lambat laun ia pun bertemu dengan seorang pria yang memiliki sikap dan hati sedingin es.
Ia pun memiliki rencana untuk menaklukkan hati sedingin es itu, mampukah ia menaklukkan hati pria es itu?
Nb: Cerita ini hanya fiksi saja, jika ada kesamaan dalam nama, tempat, alur, dll, itu tidak disengaja 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anowmuri3__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Di pagi harinya, kini Senja tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga suaminya.
Kali ini ia menyiapkan sarapan berupa roti bakar, dan juga membuatkan suaminya itu kopi.
Lantaran suaminya itu tidak terbiasa jika makan nasi di pagi hari, oleh karena itu setiap pagi Senja selalu menyiapkan sarapan William berupa roti bakar, sandwich, dan omlet telur, tak ketinggalan kopi hitam untuk suaminya.
Sebenarnya Senja merasa kurang jika hanya sarapan dengan roti atau omlet telur saja, tapi mau bagaimana lagi.
Saat Senja tengah menata makanan di atas meja makan, ia melihat suaminya itu berjalan ke arahnya, eh bukan, lebih tepatnya ke arah meja makan.
Senja melihat suaminya itu sangat tampan, meski dengan muka bantal dan juga rambutnya yang acak-acakan, ditambah saat ini suaminya itu hanya memakai jubah tidurnya.
"Pagi tuan," sapa Senja, tak lupa dengan senyum manisnya.
"Hm, pagi," balas William, ia pun langsung duduk di kursi.
"Ini saya buatkan roti bakar dan juga kopi nya."
"Hm."
"Huh sabar Senja, sabar. Resiko punya suami es," batinnya.
Setelah itu ia pun duduk di kursi yang ada di hadapan suaminya.
Ia melihat suaminya itu sudah meminum kopi buatannya, dan juga mulai memakan roti bakar yang ia buat.
"Bagaimana rasanya tuan, apakah enak?" tanyanya, ketika suaminya itu sudah menelan makanannya.
"Hm."
Lagi dan lagi, suaminya itu hanya menjawabnya dengan "hm" apakah suaminya itu sedang sariawan atau bagaimana.
Huh, Senja pun hanya bisa menghela nafasnya, kemudian ia pun mulai menyantap sarapannya itu.
"Tuan," panggil Senja, ketika mereka sudah selesai sarapan.
Sementara yang dipanggil hanya menatapnya saja.
Senja yang mengerti dengan tatapan itu pun melanjutkan perkataannya. "Hari ini kan hari weekend, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan. Nonton bioskop misalnya, atau jalan-jalan di mall gitu," ucapnya.
"Anda tenang saja, kali ini aku yang traktir. Kalau hanya nonton bioskop dan makan di mall saja mah aku sanggup buat mentraktir anda," lanjutnya.
Sementara itu William hanya mendengarkan seraya menatap ke arah Senja dengan wajah dinginnya.
Senja yang ditatap pun menjadi bingung sendiri.
"Jadi tuan mau jalan-jalan bareng saya atau tidak?" tanya Senja dengan sedikit kesal.
"Hm."
"Anda bisa jawab saya dengan 'iya' atau 'tidak' jangan hm, hm, hm, saja. Kesal tau!" ucapnya dengan bibir sedikit mengerucut.
Sungguh kesabaran Senja sudah habis meladeni suaminya yang dingin dan irit bicara itu.
Senja pun mulai beranjak dari duduknya, ia pun mulai membereskan alat bekas makan mereka.
"Iya," ucap William tiba-tiba.
Senja pun menghentikan kegiatan nya, lalu ia pun menatap ke arah sang suami. "Iya apa?" tanyanya.
"Iya saya mau pergi sama kamu," jawab William.
"Benar?"
"Iya."
"Nah gitu ke dari tadi jawabnya, jangan hm, hm, hm mulu," gerutu Senja, seraya membereskan piring dan gelas bekas makan mereka.
Lalu ia pun melangkah untuk meletakkan piring dan gelas ke wastafel untuk nantinya dicuci, dengan mulut yang masih menggerutu tidak jelas.
William yang melihat tingkah istrinya itu, tanpa sadar bibirnya tertarik ke atas hingga membentuk sebuah senyuman.
Meski hanya senyuman tipis.
"Cepat bersiap-siap," ujar William, ia pun berdiri dari duduknya kemudian melangkah ke kamarnya.
Senja yang tengah mencuci piring bekas mereka makan tadi pun, buru-buru mencucinya.
Ia takut suami es nya itu akan berubah pikiran, setelah selesai ia pun mencuci tangannya dan langsung pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Kini kedua pasangan suami istri itu pun sudah bersiap-siap, keduanya pun keluar dari panthouse mereka dan menuju basement yang dimana mobil William di taruh.
Hari ini William yang akan menyetir sendiri, keduanya pun masuk kedalam mobil.
Dan William pun mulai menjalankan mesin mobilnya, lalu ia pun mulai menjalankan mobilnya menuju salah satu mall terbesar di kota itu.
Hari ini mereka menggunakan pakaian santai, dengan Senja memakai baju rajut hitam berlengan pendek, dan juga rok pendek diatas lutut berwarna hitam pula, serta sepatu tali berwarna putih.
Sementara rambutnya ia gerai, dan untuk William sendiri, pria itu memakai kaos berlengan pendek berwarna putih, jens pendek berwarna cream, serta sepatu sneaker berwarna hitam, dan tak lupa kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, serta topi hitamnya.
Sungguh penampilan William kali ini berhasil membuat Senja terkesima, bagaimana tidak William yang selama ini dilihatnya hanya memakai baju kantor, namun kali ini pria itu memakai pakaian santai, namun malah menambah kadar ketampanannya.
Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai oleh William pun sampai di salah satu mall terbesar di kota itu.
Keduanya pun turun setelah William memarkirkan mobilnya di basement mall.
Mereka pun masuk kedalam gedung mall itu, dan saat sudah berada di dalam mall, tujuan pertama kali Senja ialah sebuah bioskop.
Setelah berada di sana, Senja pun mengantri untuk membeli tiket film, ia memilih untuk menonton sebuah film horor.
Ia rasa itu sangat pas, dibanding dengan film romantis, lantaran ia dan sang suami tidak seperti pasangan suami istri kebanyakan.
Sementara William ia menunggu di salah satu kursi tunggu yang ada di sana.
Senja yang telah mendapatkan dua tiket untuk dirinya dan suaminya, itu pun segera menghampiri suaminya yang tengah duduk menunggunya.
Karena film yang akan mereka tonton satu jam lagi, Senja pun memilih untuk mengajak suaminya itu untuk berkeliling mall yang ada dilantai itu.
"Tuan. Karena filmnya akan tayang satu jam lagi, bagaimana kalau kita berkeliling liat mall yang ada dilantai ini?" tanya Senja, saat dirinya sudah berada di hadapan sang suami.
William yang tengah memainkan ponselnya pun mendongkak ke arah istrinya.
Tanpa banyak tanya, William pun berdiri, sambil memasukkan ponselnya ke saku celananya, lalu ia pun berjalan lebih dulu, meninggalkan Senja yang masih berdiri itu.
"Astaga ya tuhan, kenapa engkau mengirimkan dia sebagai suamiku," gerutunya.
Senja pun berlari ke arah suaminya yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
"Kau benar-benar suami yang tidak mempunyai perasaan, tuan. Biasa-biasanya meninggalkan istrinya begitu saja," lirih Senja saat ia sudah berhasil menyusul suaminya.
Sementara William tidak menggubris ucapan yang dilontarkan oleh istrinya itu, ia pun masuk kedalam salah satu store yang menjual barang-barang branded.
"Eh kenapa dia masuk ke sini, apa dia ingin membeli sesuatu?" gumamnya, namun Senja tetap mengekori suaminya itu dari belakang.
"Pilihlah," ucap William pada istrinya itu yang kini tengah berdiri di sampingnya.
"Hah?!"
"Pilihlah yang kamu suka, saya tunggu di sana," ujarnya seraya menunjuk ke sudah sofa yang memang berada di sana, guna menunggu.
"Eh tapi ... "
"Cepat, sebelum filmnya mulai!" ucap William yang terus melangkah ke arah sofa.
Mau tak mau, Senja pun mulai memilih tas yang menurutnya bagus dan cocok untuknya.
.
gmna rasanya d selingkuhi enak kan
itu lah yg d rasakan ibu nya senja..