( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Expedition to a fallen kingdom (III)
10 Februari
Perjalanan menuju Peak Cavalry kembali dilanjutkan setelah kemenangan pahit atas monster tinggi yang menghadang mereka sehari sebelumnya. Monster itu memang telah tumbang, namun harga yang harus dibayar tidaklah murah. Tiga prajurit gugur dalam pertempuran, meninggalkan duka yang menyelimuti seluruh anggota ekspedisi.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Leoric memutuskan untuk beristirahat sejenak. Selain memulihkan tenaga, mereka juga harus memberikan penghormatan terakhir kepada ketiga prajurit yang telah mengorbankan nyawa mereka demi keselamatan rombongan.
Sebuah pemakaman sederhana dilakukan di tengah hutan. Tidak ada peti mewah, tidak ada batu nisan indah, hanya gundukan tanah dan doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus.
Saat semua orang menundukkan kepala, Sarioth berbisik melalui telepati.
"Tuan, berpura-puralah berdoa. Dewa yang anda sembah sekarang berbeda dengan tuhan yang anda kenal sejak lahir."
Leoric hanya menghela napas kecil.
"Dewa KnowNot..." gumamnya dalam hati. "Dewa macam apa sebenarnya dia?"
Namun rasa penasaran itu ia simpan untuk nanti. Saat ini bukan waktu yang tepat memikirkan hal-hal semacam itu.
Setelah suasana mulai tenang dan para prajurit berhasil menahan kesedihan mereka, ekspedisi kembali bersiap melanjutkan perjalanan. Batu besar yang sebelumnya menghalangi jalan juga telah berhasil disingkirkan sepenuhnya.
Kereta-kereta mulai bergerak. Kuda-kuda kembali dituntun menyusuri jalur hutan.
Leoric menaiki kuda hitamnya di barisan depan.
Meski begitu, tidak semua orang merasa tenang.
Navigator perjalanan tampak mengerutkan dahinya sejak pagi. Ia beberapa kali melirik peta yang dibawanya, lalu memandang jalan di hadapan mereka.
Ada sesuatu yang terasa salah.
Rute menuju Peak Cavalry yang selama ini ia hafal seakan berubah.
Beberapa penanda alam yang seharusnya ada tidak terlihat. Sebaliknya, beberapa bukit dan jalur kecil yang tidak pernah ia ingat justru muncul di sepanjang perjalanan.
Tetapi setiap kali ia mencoba memastikan, selalu ada hal yang terasa familiar.
Membuat dirinya semakin bingung.
"Tidak... aku tidak mungkin salah."
Ia menggenggam tangannya erat.
"Jika aku sendiri ragu, lalu bagaimana dengan yang lain?"
Akhirnya ia memilih tetap mengikuti jalur yang menurutnya paling masuk akal.
Di tengah perjalanan, Cortinus memanggil kakaknya dari belakang.
"Hei, Kakak."
Leoric menoleh sedikit.
"Apa?"
"Apa kau benar-benar tidak berniat mengirim surat kepada Ayah soal monster kemarin?"
Leoric mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa harus?"
Cortinus mengangkat bahu.
"Itu kan termasuk masalah besar. Bukankah syarat keberangkatan kita adalah kembali jika menemui ancaman yang terlalu berbahaya?"
Leoric menatap lurus ke depan.
"Masalahnya sudah selesai."
"Hanya itu?"
"Ya."
Cortinus tersenyum tipis.
"Iya, iya."
Percakapan itu berakhir begitu saja.
Namun senyum kecil yang muncul di wajah Cortinus membuat Leoric semakin yakin bahwa adiknya sedang memikirkan yang tidak tidak.
Perjalanan terus berlanjut hingga sore hari.
Matahari perlahan turun menuju cakrawala ketika rombongan akhirnya keluar dari wilayah hutan yang panjang.
Di kejauhan, terlihat deretan bukit berwarna abu-abu membentang seperti dinding raksasa.
Gray Hills.
Tujuan berikutnya dalam perjalanan mereka.
Leoric mengangkat tangan.
"Berhenti."
Seluruh rombongan segera menghentikan langkah.
"Kita bermalam di sini."
Tidak ada yang membantah.
Setelah seharian penuh berkendara, semua orang memang membutuhkan istirahat.
Para prajurit mulai mendirikan tenda, menyalakan api unggun, dan menyiapkan makanan malam. Jadwal penjagaan juga segera dibagi untuk menghindari kejadian tak terduga.
Sementara yang lain sibuk bekerja, Leoric memilih duduk sendirian di pinggir perkemahan.
Pandangan matanya tertuju ke arah Gray Hills.
Bukit-bukit itu tampak sunyi di bawah cahaya senja.
Entah kenapa, pikirannya kembali mengarah pada satu orang.
Clarissa.
Apakah dia masih hidup?
Apakah dia berhasil selamat?
Atau mungkin...
Leoric segera membuang pikiran buruk itu.
Malam akhirnya tiba.
Satu per satu anggota ekspedisi mulai tertidur.
Api unggun masih menyala pelan, sementara empat prajurit mendapat giliran menjaga malam itu.
Namun ada satu orang yang tidak benar-benar berniat tidur.
Cortinus.
Perlahan ia membuka matanya dari dalam tenda.
Memastikan tidak ada yang memperhatikannya.
Lalu ia mengeluarkan selembar kertas asing yang di beri wanita berjubah di kamarnya kemarin dari sakunya.
Kertas itu dicelupkan ke dalam segelas air.
Perlahan warna air yang tadinya bening berubah menjadi jingga keemasan.
Persis seperti teh hangat.
Cortinus tersenyum kecil.
Kemudian ia berjalan menghampiri keempat penjaga.
"Aku tidak bisa tidur," katanya santai.
Keempat prajurit langsung berdiri hormat.
"Pangeran."
"Tenang saja."
Cortinus menyerahkan gelas-gelas itu satu per satu.
"Minumlah. Anggap saja hadiah kecil."
Para prajurit awalnya menolak dengan sungkan.
Namun begitu Cortinus menyebutnya sebagai perintah, mereka tidak punya pilihan selain menerimanya.
Satu per satu mereka meminum teh tersebut.
Tepat sekitar semenit kemudian...
Bruk.
Satu orang jatuh.
Disusul yang kedua.
Ketiga.
Dan keempat.
Seluruh penjaga ambruk tidak sadarkan diri.
Tatapan Cortinus berubah dingin.
Tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Ia melangkah pergi memasuki hutan.
Di saat yang sama, di dalam tendanya, Leoric perlahan membuka mata.
Ia memang tidak pernah benar-benar tidur.
Sejak awal Sarioth telah diperintahkannya untuk membuntuti Cortinus menggunakan bayangan.
Kini semua yang dilihat Sarioth juga bisa ia dengar.
Cortinus berjalan cukup jauh ke dalam hutan.
Sekitar belasan menit kemudian, ia berhenti.
Seseorang telah menunggunya.
Seorang wanita berjubah hitam.
Wanita yang sama seperti yang pernah muncul di kamarnya.
Melalui telepatinya dengan Sarioth, Leoric mendengar percakapan mereka dengan jelas.
"Kenapa kalian tidak menyerang hari ini?" tanya Cortinus.
"Kalian seharusnya bergerak setelah monster itu berhasil melemahkan kami."
Leoric langsung duduk tegak di dalam tendanya.
Rahangnya mengeras.
"Jadi monster itu memang ulah mereka..."
Wanita itu menghela napas.
"Kami mengubah rencana."
"Kenapa?"
"Kami mengamati kakakmu sepanjang hari."
Wanita itu melanjutkan.
"Kemampuannya jauh melampaui perkiraan kami."
Cortinus mengerutkan dahi.
"Karena pedang itu?"
"Ya."
Wanita itu mengangguk.
"Pedang hitam miliknya lebih menarik dari yang kami kira."
Cortinus tersenyum sinis.
"Kalau begitu aku ambil saja malam ini."
"Tidak."
Jawaban wanita itu tegas.
"Kau terlalu tidak sabaran."
Cortinus tampak kesal.
Wanita itu melanjutkan.
"Pemimpin kami sudah memberikan perintah baru. Kita mulai bergerak besok."
"Pemimpin?"
"Ya."
"Dan siapa dia?"
Wanita itu tersenyum tipis.
"Tuan Laios."
Nama itu kembali muncul.
Leoric mencatatnya dalam pikirannya.
Laios.
Orang yang tampaknya mengendalikan seluruh kelompok ini.
Cortinus mendecih.
"Hah. Jadi kalian juga masih diperintah orang lain."
Seketika ekspresi wanita itu berubah kesal.
"Kau tidak akan pernah mengerti."
Ia meletakkan tangan di dadanya.
"Saya, Leona, bersumpah setia kepada Tuan Laios. Apa pun yang terjadi."
Cortinus hanya memutar matanya malas.
Baginya semua itu terdengar konyol.
Namun satu hal yang pasti.
Besok akan menjadi hari penting.
Setelah percakapan selesai, Cortinus kembali menuju perkemahan.
Sementara itu Leoric tetap terjaga.
Kini ia memiliki lebih banyak jawaban.
Namun juga lebih banyak pertanyaan.
Siapa sebenarnya Laios?
Kenapa mereka mengincar Sarioth dalam wujud pedangnya?
Dan janji apa yang membuat Cortinus bersedia mengkhianati keluarganya sendiri?
Leoric memejamkan mata.
Lalu berbisik pelan.
"Siapa pun yang menghalangiku..."
Tatapannya berubah dingin.
"...akan kubunuh."
Bahkan jika orang itu adalah adiknya sendiri.
Cortinus Nightvale.
Keesokan paginya, perkemahan langsung dibuat geger.
Empat prajurit yang seharusnya berjaga ditemukan masih terbaring tidak sadarkan diri.
Mereka bahkan tidak sempat membangunkan kelompok penjaga berikutnya.
Akibatnya seluruh rombongan tidur nyenyak sepanjang malam tanpa penjagaan sama sekali.
Leoric segera mengendalikan situasi.
Ia memerintahkan para prajurit membawa keempat korban ke tempat yang lebih nyaman dan membubarkan kerumunan.
Tidak lama kemudian, sarapan pagi mulai dibagikan.
Cortinus yang baru bangun langsung mengambil makanannya tanpa curiga.
Ia tidak menyadari bahwa Leoric telah memerintahkan Sarioth menanamkan sihir tidur ke dalam mangkuk miliknya.
Beberapa menit setelah makan, kepala Cortinus mulai terasa berat.
Pandangannya berkunang-kunang.
Lalu...
Bruk.
Ia tertidur.
Leoric menangkap tubuhnya sebelum jatuh dan mengangkatnya ke salah satu kereta.
Para prajurit yang sejak tadi ia tugaskan melakukan persiapan khusus juga telah menyelesaikan pekerjaan mereka.
Perkemahan dibersihkan.
Perlengkapan dirapikan.
Kuda-kuda kembali disiapkan.
Leoric menaiki kuda hitamnya.
Matanya menatap ke arah Gray Hills.
"Berangkat."
Kereta mulai bergerak.
Pasukan ekspedisi Nightdoom kembali melanjutkan perjalanan.
Menuju bukit abu-abu yang diam menunggu mereka di kejauhan.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.