Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Bau Bawang yang Memualkan dan Ingatan yang Hilang
[Pagi Hari - Kamar Utama Gedung Tengah]
"Hueeeekk!"
Aku berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutku ke dalam baskom kuningan. Rasanya asam dan pahit. Kepala berputar seperti habis naik roller coaster rusak.
"Tantri? Kau kenapa?" Arga mengetuk pintu kamar mandi dengan nada panik. "Kau keracunan? Apa sisa racun Laras masih ada?"
Aku menyiram wajahku dengan air dingin. Napas memburu.
Aku menatap cermin. Wajahku pucat pasi.
"Nggak... aku cuma masuk angin," jawabku lemah, membuka pintu.
Arga langsung memapahku kembali ke tempat tidur. Wajahnya cemas luar biasa.
"Masuk angin apanya? Wajahmu seperti mayat. Aku panggil tabib."
"JANGAN!" teriakku refleks. Terlalu keras.
Arga kaget. "Kenapa?"
Aku menelan ludah. "A-aku cuma butuh istirahat. Jangan panggil tabib istana. Aku nggak percaya mereka setelah insiden kemarin."
Itu alasan yang masuk akal. Tapi alasan sebenarnya adalah ketakutanku.
Sebagai wanita modern berusia 28 tahun, aku tahu tanda-tanda ini.
Mual pagi hari (morning sickness).
Payudara terasa kencang dan nyeri.
Dan yang paling fatal: Tamu bulananku belum datang.
Menurut hitungan kalender Tantri yang kutemukan di laci, seharusnya aku haid minggu lalu.
Berarti... positif?
Tapi bagaimana mungkin?!
Sejak aku (Kirana) masuk ke tubuh Tantri sebulan lalu, aku belum pernah berhubungan intim dengan Arga. Paling banter cuma pelukan di dapur waktu dia mabuk obat perangsang itu. Itu pun nggak sampai gol.
Kecuali...
Kecuali Tantri yang asli melakukan sesuatu sebelum aku datang.
Aku memejamkan mata, menggali memori Tantri yang samar-samar.
Flashback.
Satu bulan lima hari yang lalu.
Malam badai. Arga pulang dari perbatasan untuk melapor ke Raja. Dia mabuk berat karena pesta kemenangan. Dia salah masuk kamar. Bukannya ke paviliunnya, dia masuk ke kamar Tantri (waktu itu belum diasingkan ke belakang).
Tantri yang asli, yang memang cinta mati sama Arga, memanfaatkan kesempatan itu.
Paginya, Arga pergi buru-buru sebelum matahari terbit, mengira itu mimpi, atau mungkin mengira dia tidur dengan selir/pelayan.
DEG.
Jadi... ini anak Arga? Anak sah?
Tapi Arga ingat nggak?! Kalau dia nggak ingat, aku bisa dituduh selingkuh! Hukuman selingkuh di zaman ini adalah Dirajam Batu atau Ditenggelamkan ke Sungai.
Mampus gue.
[Siang Hari - Dapur Utama]
Aku mencoba memasak untuk mengalihkan pikiran. Menu hari ini: Oseng Mercon Daging.
Tapi begitu Sari memasukkan bawang putih cincang ke wajan panas...
Sreeeng.
Aroma bawang goreng yang biasanya surga bagiku, tiba-tiba tercium seperti bau sampah busuk.
"HUEEEK!"
Aku menutup mulut, berlari keluar dapur, muntah di semak-semak bunga mawar.
"Nyonya!" Sari dan Mbok Darmi berlarian mengejar.
Tiba-tiba, sebuah tangan kekar memegang tengkukku, memijatnya pelan.
Arga. Dia pulang cepat (lagi).
"Cukup," kata Arga tegas. "Kau sakit. Wajahmu hijau. Aku sudah memanggil Tabib Kerajaan. Tabib Li, orang kepercayaan Raja, bukan orang Sengkuni. Kau tidak bisa menolak."
Aku lemas. Pasrah.
Kalau memang hamil, ya sudah. Kalau dituduh selingkuh, nanti kuelak pakai logika detektif Conan.
[Sore Hari - Pemeriksaan Tabib]
Tabib Li, pria tua dengan janggut putih panjang ala film kungfu, menempelkan tiga jarinya di pergelangan tanganku. Wajahnya serius.
Arga berdiri di samping ranjang, tangannya bersedekap tegang. Pedangnya bahkan tidak dilepas.
Hening yang menyiksa berlangsung selama dua menit.
Tabib Li melepaskan tangannya, lalu tersenyum lebar. Dia berdiri dan membungkuk hormat pada Arga.
"Selamat, Jenderal Besar Arga. Selamat, Nyonya Besar."
"Selamat?" Arga bingung. "Istriku sakit apa? Apa parah?"
"Sakit? Oh tidak, tidak. Ini 'penyakit' yang membawa berkah," Tabib Li terkekeh. "Denyut nadinya seperti mutiara yang bergulir di atas piring giok. Kuat dan licin."
"Nyonya Tantri sedang mengandung. Usianya sekitar lima sampai enam minggu."
DUAR.
Petir menyambar di siang bolong (dalam kepala Arga dan Aku).
Aku melirik Arga.
Ekspresi Arga... sulit dijelaskan.
Kaget? Jelas.
Senang? Belum kelihatan.
Bingung? Sangat.
Arga menatap Tabib Li, lalu menatap perutku yang masih rata.
"Lima... minggu?" Arga menghitung dalam hati. Alisnya berkerut dalam.
Jantungku berhenti berdetak. Ini momen penentuan. Apakah dia akan teriak "Anak Siapa?!" atau...
"Lima minggu lalu..." gumam Arga pelan. "Itu saat aku pulang sebentar melapor soal pemberontakan di Timur. Malam itu badai..."
Matanya melebar. Ingatan samar itu kembali.
Aroma melati. Tubuh yang hangat. Suara desahan yang dia kira mimpi basah.
Jadi itu nyata? Dan itu Tantri?
Arga menatapku. Kali ini tatapannya intens, mencari kebenaran.
"Tantri... Malam itu... Itu kau?"
Aku mengangguk pelan, memasang wajah sedih dan tersakiti (akting mode on).
"Kau mabuk berat, Arga. Kau masuk kamarku. Kau... sangat kasar tapi juga sangat rindu. Paginya kau pergi begitu saja tanpa pamit. Aku kira kau tidak mau mengakui..."
Aku menunduk, air mata (buatan) menetes satu.
"Kalau kau tidak percaya ini anakmu... bunuh saja aku sekarang."
Arga terhenyak. Rasa bersalah menghantam dadanya seperti gada besi.
Dia pikir dia tidur dengan siapa? Dia bahkan tidak ingat. Dan istrinya menyimpan rahasia ini sendirian, menanggung aib sendirian?
Arga berlutut di samping ranjang. Dia menggenggam tanganku erat-erat.
"Jangan bicara bodoh," suaranya bergetar. "Aku ingat. Samar-samar, tapi aku ingat aromamu. Maafkan aku... Maafkan aku karena melupakanmu."
Dia mencium tanganku, lalu beralih mencium perut rataku dengan takzim.
"Anakku... Ini anakku. Pewarisku."
Tabib Li tersenyum haru. "Saya akan resepkan obat penguat kandungan. Nyonya harus banyak istirahat. Jangan stress, jangan angkat berat."
[Malam Hari - Berita Menyebar]
Kabar kehamilan Istri Utama Jenderal Arga menyebar lebih cepat daripada wabah kolera.
Seluruh kediaman Jenderal berpesta. Para pelayan sujud syukur (berharap dapet bonus). Sari dan Mbok Darmi menangis bahagia.
Tapi tidak semua orang bahagia.
Di Paviliun Teratai Putih, Laras yang baru sembuh dari diare, kembali lemas mendengar berita itu.
"Hamil?! Bagaimana bisa?! Jenderal tidak pernah menyentuhnya!" teriak Laras sambil melempar bubur ke tembok.
"Kata Tabib, usianya lima minggu, Nona," lapor pelayan. "Itu saat Jenderal pulang sebentar bulan lalu."
Laras menjambak rambutnya sendiri.
"Sialan! Sialan! Tantri menang mutlak! Kalau dia melahirkan anak laki-laki, posisinya tidak akan tergoyahkan selamanya! Aku akan jadi selir abadi yang terlupakan!"
Sementara itu, di Kediaman Perdana Menteri Sengkuni.
Sengkuni menyesap teh pahitnya. Matanya menyipit licik.
"Hamil, ya? Waktunya sangat pas. Terlalu pas."
"Tuan, apa kita sebarkan rumor anak haram?" tanya asistennya.
"Jangan dulu. Arga sudah mengakuinya. Kalau kita serang sekarang, kita melawan Arga dan Raja," Sengkuni tersenyum jahat. "Kita tunggu. Kehamilan itu masa yang rentan. Wanita hamil itu emosional, mudah sakit, dan... mudah 'gugur'."
"Cari bahan yang bisa melunturkan janin tapi tidak terdeteksi sebagai racun. Nanas muda? Rumput Fatimah? Apapun. Kita punya 9 bulan untuk menyingkirkan pewaris Arga."
[Kamar Utama - Tengah Malam]
Arga tidak bisa tidur. Dia terus-menerus mengelus perutku, seolah takut isinya hilang kalau dia lepaskan.
Aku juga tidak bisa tidur karena... lapar.
"Arga..." bisikku.
"Ya? Kenapa? Sakit? Mau panggil Tabib?" Arga langsung siaga 45.
"Nggak. Aku... aku mau makan."
"Makan apa? Bubur? Sup?"
"Aku mau... Mangga Muda dicocol Sambal Terasi."
Arga melongo. "Sekarang? Tengah malam?"
"Iya. Sekarang. Harus mangga curian dari pohon tetangga sebelah. Nggak mau mangga pasar."
"Tantri... kita punya mangga sendiri di kebun."
"Nggak mau! Maunya mangga tetangga! Rasanya beda!" Aku mulai merengek (efek hormon atau memang Tantri yang asli sifatnya manja?). "Kalau nggak diturutin, nanti anakmu ileran!"
Jenderal Besar Arga, Iblis Perang Utara yang ditakuti ribuan musuh, menghela napas panjang.
Dia bangkit dari kasur, mengambil jubah hitamnya.
"Baiklah. Demi anakku."
Malam itu, Jenderal Arga melakukan misi penyusupan paling konyol dalam karir militernya: Memanjat pagar tembok tetangga (yang kebetulan rumah Menteri Keuangan yang pelit) hanya untuk mencuri dua butir mangga muda demi istrinya yang ngidam.
Aku mengintip dari jendela, menahan tawa sampai perutku kram.
Rasain. Selamat datang di dunia calon bapak, Jenderal.
Tapi di balik tawa itu, aku sadar.
Ada nyawa di dalam perutku.
Nyawa yang harus kulindungi dari Laras, dari Sengkuni, dan dari kejamnya politik istana.
Anak ini... akan menjadi perisai terkuatku, atau kelemahan terbesarku.
"Bertahanlah, Nak," bisikku sambil mengelus perut. "Ibumu ini mantan Chef. Kamu bakal dapet gizi terbaik. Kita lawan mereka semua."
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal